
"Kok Asha gak kasih tau orang tua, Asha, si?"
Di atas kasur empuk, dan di soroti oleh cahaya mentari yang terbilang masih pagi ini, Asha duduk dengan gemetar.
Ini memanglah salahnya, dan ia tak ingin ada orang lain yang menjadi tersangka karena ulahnya.
"Em... Gapapa tante. Eh... Asha,,
Asha terlupa." Asha menundukkan kepalanya. Ia berbohong.
Tia mengelus pucuk kepala Asha dengan lembut.
"Jika ada sesuatu yang ngeganjel hati Asha, cerita aja ama tante. Tante selalu di sisi Asha kok." Tia berusaha membujuk Asha agar berbicara sejujur-jujurnya. Ia tak ingin ada kebohongan diantara keduanya.
Asha menganggukkan kepalanya tanpa menatap atau pun mengangkat wajahnya. Sorot matanya tertuju ke bawah. Sungguh, ia sulit untuk menutupinya.
"Terus, gimana sama kertas kelulusannya? Kok bisa si ibu sama bapa Asha gak tau menau soal ini?"
"Asha salah. Asha sudah terlupa buat ngasih kertas itu ke bapa sama ibu."
Dengan usaha keras Tia mencoba, tapi jawaban Asha selalu sama. Terlupa.
__ADS_1
Tia pun memutuskan untuk mengalah. Bagaimanapun juga ia tak memiliki hak untuk tau apa yang terjadi di keluarga Asha. Karena notabenenya Asha bukanlah siapa-siapanya selain anak dari sahabat dekat dirinya. Dan setiap keluarga memiliki privasi masing-masing, bukan?
Tia bangun dari duduknya. Kemudian berjongkok di hadapan Asha. Ia juga meraih dagu Asha agar menatapnya. Kemudian menggenggam hangat tangan Asha.
"Asha sayang... Tante tu berharap, gak akan ada rahasia diantara kita. Tante juga berharap, Asha selalu menganggap Tante adalah ibu Asha. Kita bagi semuanya. Sukanya, maupun dukanya. Apapun yang Asha rasakan, ayo di bagi. Anggap tante adalah ibu Asha juga.
"Asha tau kata pepatah? Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh?" Asha menganggukkan kepalanya. "Maka dari itu. Tante gak mau Asha maupun keluarga kita hancur karena tidak saling terbuka dan saling menguatkan. Tante ada untuk Asha, dan Asha selalu ada di hati tante."
Bulir bening lolos dari pelupuk mata Asha. Gurat wajahnya mulai melukiskan kesenduan. Maniknya terus menatap manik Tia yang sama sama menatapnya dengan penuh cinta. Sungguh, Asha baru merasa ini adalah cinta keduanya. Walau ia tak tau siapa yang mengambil cinta pertamanya.
Hal yang untuk kedua kalinya ia rasakan setelah sekian lama.
Asha mulai mengingat-ingat apa yang Diah perlakukan padanya. Sedikit saja cinta dari Diah tak pernah ia rasakan. Rasa peduli pun sepertinya tak bisa Asha rasakan dari Diah. Batinnya juga sering terluka karenanya.
Tia yang melihat Asha menangis segera menenggelamkan tubuh Asha ke dalam pelukannya. Merengkuhnya dengan hangat. Tapi itu membuat air mata Asha semakin deras.
"Asha,, tolong jangan menangis lagi sayang. Tante gak mau liat Asha nangis lagi." Ujar Tia.
Mendengar itu, Asha mulai menghentikan tangisnya. Ia juga tidak ingin melihat Tia menangis.
Asha menceraikan pelukannya, kemudian mengusap air mata yang membasahi wajah indah miliknya.
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
"Mama sama papa lama banget. Emang ngapain dulu si mereka? Katanya jam tiga juga pulang. Ini udah setengah empat. Mana ada pertemuan di kafe."
Seorang laki-laki bertubuh tegap dan tinggi serta berparas tampan sedang berdiri bulak balik. Menunggu kedatangan keluarganya yang sedang membuat janji. Yap, Tian.
Tian melirik jam tangan di lengannya yang menunjukkan pukul 14.47. Jika bisa, ingin sekali ia pergi dari rumah untuk segera ke kafe. Tapi ucapan sang ibu membuatnya terikat di rumah besar milik sang ayah.
Flashback on.
Sebelum benar-benar pergi, Tia menyempatkan dirinya untuk berbicara dua mata bersama sang putera. Tia menghampiri Tian yang sedang duduk di sofa sembari menatap layar laptop.
"Tian..." Panggil Tia dengan lembut hingga membuat kefokusan Tian buyar.
"Ada apa ma?" Tanya Tian.
Tia pun duduk di samping Tian. Kemudian ia berkata, "sayang,, mama sama papa kan mau pergi, kamu di rumah aja ya sampe mama dan papa pulang. Kita gak akan lama kok."
"Tapi jam setengah tiga Tian ada meeting."
"Tenang aja. Kita gak lewat dari jam setengah tiga kok."
__ADS_1
Tian berpikir sejenak hingga akhirnya ia menyetujui permintaan sang ibunda. Tia dengan lega berangkat ke rumah Asha.
Flashback off.