Berjuang Dalam Diam

Berjuang Dalam Diam
Eps 23


__ADS_3

Kibasan kibasan kecil nampak elok di rambutnya. Rambut yang tergerai ikut terombang-ambing dengan lariannya. Berlari sembari mengibas ngibaskan kertas di tangannya. Dan sebelah tangannya lagi menjinjing sebuah buku tebal.


"KAK MUURR!! ROOOY!!!" Teriak Asha dengan lantangnya.


Angin bertiup kencang hingga kertas yang ia pegang pergi melayang.


"Astaghfirullah!" Guman Asha.


Asha mengejar kertasnya yang terbang. Kertas itu sangat penting baginya. Ia berlari sekuat tenaganya. Matanya hanya tertuju kepada kertas yang terbang tanpa memedulikan di depannya.


Tiba-tiba sebuah tangan terangkat dan membuat kertas terbang itu jatuh di tangan tinggi itu. Asha tercengang dengan sebuah tangan yang tinggi sekali. Melebihi tinggi tangannya ketika terangkat.


Tanpa memedulikan di depannya..


BRUGH!!


Asha menabrak seseorang yang membuat dirinya dan orang itu terjatuh.


Wajah Asha jatuh tepat di dada orang itu. Sedangkan bukunya melayang dan menimpuk kepala orang yang Asha tabrak. Dengan menyesal Asha bangkit dan meminta maaf. Sedangkan pria itu masih berbaring di tanah dengan buku tebal di kepalanya.


Asha menundukkan kepalanya sembari memejamkan matanya. Ia berdiri menghadap orang itu dengan penuh penyesalan.


Orang itu melihat wajah penyesalan Asha. Ia juga melihat raut wajah Asha yang sedikit... Menggemaskan dimatanya.


"Huufftt... Ini tidak sepenuhnya salahmu. Ini salahku juga. Aku tidak sekuat power ranger buat nahanin kamu." Suara dingin dan nada ngebass ala pria membuat Asha terkejut.


P, pria?. Batin Asha tergagap gagap.


Pria itu bangun, kemudian memberikan kertas milik Asha yang tadi ia genggam. Tak lupa juga ia memberikan buku tebal yang menimpuk wajahnya. Asha tak berani menatap wajah pria itu lantaran malu.

__ADS_1


Asha pun menerima kertasnya tanpa menatap sama sekali.


"Makasih. Dan,,, maaf soal tadi. Aku tidak sengaja. Kepalamu pasti sakit."


Orang itu hanya tersenyum serasa berkata, "sepertinya bukan hanya wajahku yang sakit. Seluruh badanku pegal pegal."


Suara yang dingin itu mampu mengangkat bulu kuduk Asha. Tapi suara itu terasa tak asing di telinganya.


"Ah.. maaf ya." Asha tersenyum kecut lalu pergi tanpa mendengar jawaban dari pria yang misterius di matanya.


"Tunggu!" Pria itu menghentikan langkah Asha. Dan Asha berhenti tepat dilangkahnya yang ketiga.


"Kau tau rumahnya bapak Edi dan ibu Diah?"


Asha menyeritkan dahinya mendengar nama kedua orang tuanya di sebut.


"Kenapa? Apa bapa dan ibu punya hutang?"


Pria itu mendekatkan dirinya ke tubuh Asha. Lalu menyodorkan sebuah amplop dari belakangnya. Asha yang melihat amplop di depannya semakin tegang.


Apa mungkin bapa dan ibu punya hutang?. Batin Asha bertanya tanya.


"Ini! Berikan pada orang tuamu. Ini bukanlah sebuah tagihan. Tapi masalah orang tuamu memiliki hutang atau tidak aku tidak tau. Yang jelas ini bukanlah amplop penagihan hutang."


Suara lembut menelisik yelinga Asha. Lembut dan menyejukkan. Suara itu berhasil memikat Asha.


Asha pun mengambilnya. Ia tetap berdiri mematung di sana. Hatinya masih menikmati suara yang indah itu. Suara dingin berubah menjadi lembut dan indah serta menyapu telinganya.


Pria itu juga masih berada di belakang Asha. Ia mendekatkan mulutnya tepat di telinga Asha. Dengan lembut ia membisikkan.

__ADS_1


"Anak gadis tak baik marah marah."


Asha terpaku. Apa yang ia maksud sebenarnya? Asha membalikkan tubuhnya. Tapi terlambat. Pria itu sudah lima langkah di depannya. Ia tak bisa melihat wajahnya.


Asha hanya melihat pria itu memakai Hoodie hitam yang kotor di punggungnya. Celana panjang dan tangan yang ia masukkan ke kantong. Dan tinggi sekitar 188 cm.


Asha pun pulang dengan kecewa.


Sesampainya di rumah, Asha memberikan amplop yang tadi di berikan oleh pria asing itu kepada sang ayah. Dan lanjut berjalan ke kamarnya.


Asha bergegas menaruh tasnya, berganti pakaian dan berlari ke kamar Roy.


Roy yang sedang asik belajar di meja belajarnya di kagetkan oleh Asha.


"Roy!!" Panggil Asha sembari menggebrak meja belajar.


"Astaghfirullah! Syaiton!" Umpat Roy.


"Heh! Anak anak ngomongnya kasar banget."


"Jangan kasar kalo gak mau dikasarin."


Asha tak mengidahkan ucapan Roy. Ia segera menunjukkan kertas yang bertuliskan 'LULUS'.


"Wah wah... Lulus dengan nilai yang tinggi. Hebat! Ini baru kakak ku. Kak Asha yang paaaaallliiiinggg--" roy tak meneruskam ucapannya.


Asha tersenyum melihatnya. Tapi lanjutan ucapan Roy membuat senyumnya berubah 360°.


"Jelek." Lanjut Roh dengan enteng.

__ADS_1


Wajah Asha memerah menahan amarah. Mengapa adiknya ini senang sekali menggodai sang kakak? Padahal di saat yang membahagiakan ini?


__ADS_2