Berjuang Dalam Diam

Berjuang Dalam Diam
Eps 7


__ADS_3

Asha keluar dari kamarnya dengan berseragam lengkap. Ia menyalami kedua orang tuanya dan juga kakak-kakaknya. Tadi malam, sekitar pukul 23.45 Edi pulang dari kota. Karena sebenarnya jarak dari kota ke rumah Asha tidak jauh.


Selepas itu, Asha menciumi seluruh wajah Roy. Dan berlalu pergi.


Baru keluar rumah, Asha mendapati Moza yang tengah menungguinya di depan rumah. Asha langsung pergi dengan menggandeng tangan Moza tanpa berkata apapun. Mereka berjalan ditemani keheningan. Sakit hatinya Asha masih terasa, dan itu membuatnya bungkam.


Melihat sahabatnya diam tak seperti biasanya, Moza akhirnya buka suara memecah keheningan.


"Kamu kenapa?".


Asha tersenyum seraya berkata, "Tidak apa apa".


Jawaban Asha membuat hati Moza berdesir. Dengan mendengarnya ia bisa tahu, bahwa Asha sedang tidak ingin berbicara.Dan sebenarnya, apa yang moza ketahui tentang Asha itu hanya seperempat dari ceritanya. Jadi moza juga kurang memahami Asha dari lubuk hatinya.


Sedangkan di rumah, Roy berada di kamarnya sendiri, sedang bersiap siaga untuk membalas Hiana. Ia menyiapkan kain putih, bedak bayi dan seutas tali. Ia juga menyiapkan pewarna makanan berwarna merah. Malam nanti adalah puncak dari rencananya.


Tapi kali ini, Roy nampak sibuk dengan kain putih itu. Ia menjahit dengan tangannya sendiri untuk membuat baju, walaupun memang tidak terlalu nyata dengan ekspektasi. Anak umur 7 tahun itu sudah bisa menjahit sendiri, dan itu tak luput dari ajaran Asha.


"Demi kak Asha aku harus rela mengerahkan keringatku". Gumam Roy.


Roy berusaha sebisa mungkin untuk membentuknya. Akhirnya, setelah ratusan menit ia lewati, bajunya pun selesai. Roy mengambil bola miliknya di dapur, lalu mengambil kayu panjang di belakang rumahnya. Tak lupa ia mengambil pisau.


Roy kembali ke kamarnya dengan menjinjing bola, dua buah kayu dan pisau.


Ia melubangi bola itu dengan pisau, kemudian menancapkan salah satu kayunya , lalu mengencangkannya. Kemudian ia mengambil satu kayunya lagi dan memasangkannya di kayu yang menancap pada bola dan merekatkannya dengan tali, hingga membentuk orang-orangan.

__ADS_1


Karena Hiana juga sedang sekolah, maka Roy segera pergi ke kamar Hiana untuk memasangnya. Roy membawa kain putih yang sudah menjadi baju itu, pewarna makan serta bedak yang dibungkus kedalam plastik dan juga orang-orangan dari bola dan kayu.


Sampai di kamar Hiana, Roy membeberkan baju putih itu. Kemudian ia cipratkan pewarna makanan berwarna merah hingga terkesan seperti darah.


Bukan hanya bajunya, Roy juga menuangkan pewarna itu di bolanya. Untung bolanya amat mendukung dengan warnanya yang putih. Setelah menuangkan pewarnanya, Roy juga menaburi bedak diatasnya. Roy mulai memasangkan baju putih itu di orang-orangan yang telah ia buat. Kemudian ia menaiki meja belajar milik Hiana dan menggantungnya di dekat jendela. Bayangannya sudah bagai sesosok orang yang sedang gantung diri. Tak cukup sampai di situ. Roy kembali menuangkan pewarna merah itu di ujung bola hingga menetes ke kain putih.


Selepas itu ia keluar dari kamar Hiana dan duduk di sofa depan TV, memastikan tak ada seorangpun yang dapat masuk ke sana.


Kembali ke Asha.


Kini wanita itu tengah duduk di ruangan kesukaannya. Apalagi kalau bukan perpustakaan. Ia juga di temani sahabatnya itu.


"Asha! Aku rencana mau SMA ke SMAN Nuansa". Seru Moza.


"Oh iya. Aku belum cerita ya?!".


Asha mulai menceritakan kejadian dimana ia bertemu dengan Nik dan Tia. Ia juga menceritakan tentang dimana ia ingin dibiayai sekolah oleh mereka.


Moza tercengang oleh cerita Asha. Langka sekali orang zaman sekarang ingin membiayai sekolah anak orang dengan cuma-cuma.


"Terus kamu percaya?". Tanya Moza.


"Ya gapapa lah. Itung-itung buat ringanin biaya sekolah aku". Jawab Asha.


"Terserah kamu sih". Moza mengambil buku yang ada didepannya, kemudian membacanya. Sebenarnya bukan membaca, hanya melihat lihat saja. Karena hatinya sedang tidak selera berbuat apa-apa.

__ADS_1


Sedangkan Asha yang tahu bahwa sahabatnya tengah ngambek, langsung memeluknya dari samping.


"Aku tahu, kamu khawatir. Kamu takut orang itu memperdaya aku kan?! Gak usah khawatir Oza. Aku juga bakal cerita ke bapa ibu kok. Tante Tia dan om Nik juga mau ke rumah dulu". Tutur Asha.


Moza tersenyum mendengarnya. Kemudian ia membalikkan badannya menghadap Asha, lalu membalas pelukannya.


"Ya udah, masuk yuk. Kita ambil buku persiapan ujian aja". Ujar Asha dan Moza mengangguki.


Di depan pintu kelas, ia dihadang oleh seorang pria. Pria itu memang tampan dan baik. Dia ketua osis di sekolah Asha.


"Asha abis ambil buku ya?". Tanyanya.


"Minggir, Aldi". Usir Asha.


Aldi Leando. Ia adalah sesosok pria yang kerap kali mengganggu Asha. Bukan mengganggu semacam bully, tapi sering mengganggu atau mengusiknya. Aldi pernah cerita pada Asha, bahwa ia memiliki rasa untuknya, tapi sayang sekali, Asha tak pernah meresponnya.


Aldi dan Asha beda kelas. Dan itu membuat Aldi amat sesak. Asha adalah incaran para pria di sekolahnya, termasuk ketua OSIS tampan ini.


Kebetulan, Asha ikut organisasi untuk menjaga perpustakaan. Jadi Aldi bisa beralasan menemui Asha dengan mengambil buku di perpustakaan.


"Aku kan cuma nanya loh". Ucap Aldi.


"Aldi! Tolong! Pergi!". Asha kembali mengusir Aldi.


"Oke. Aku pergi. Aku cuma mau bilang kalooo... I love you".

__ADS_1


"But, I hate you". Jawab Asha. Tapi Aldi tak pernah menanggapi jawaban Asha.


Makin kesini, Asha makin merasa risih dengan Aldi. Hingga suatu hari, dimana Aldi mengatakan bahwa ia mencintai Asha untuk yang kesekian kalinya, Asha menjawab bahwa ia membencinya. Tapi tak pernah membuat Aldi berhenti menyatakan cintanya.


__ADS_2