
Dan Hiana? Jangan tanya apa yang ia rasakan. Senang dan tenang. Itu jawabannya.
Akibat mempermainkan seorang Hiana!. Batin Hiana menyeringai.
Sampai pukul 18.30, Diah tak kunjung melepas guyurannya di tubuh Asha.
"Kamu tuh yang baik jadi kakak! Masa adik sendiri kamu jahatin? Kamu kelewatan Asha". Ujar Diah.
"Tapi Asha tidak melakukan apapun ibu. Asha baru pulang sekolah...". Jawab Asha.
"Iya! Karena itu, kau menyuruh Roy yang melakukannya. Dan agar kau memiliki alasan mengilak". Sanggah Hiana.
"Enggak!".
Dikamar mandi hanya terdengar guyuran air shower dan keran serta isak tangis. Bukan suara Asha yang menangis, tapi Roy. Asha hanya berkata di matanya, tanpa suara. Dan karena guyuran air, buliran air mata Asha jadi menyatu dengan air dan membuatnya menjadi tak nampak.
Sampai kedatangan Murfazan menghentikan guyuran itu.
Ketika Murfazan melangkahkan kakinya ke rumah, ia mendengar derasnya air mengalir, serta isak tangis dari belakang.
Murfazan bergegas ke sana. Ia meletakkan tasnya di sofa, lalu berjalan cepat.
Sampai di belakang, ia terkejut dengan pemandangan yang ia dapat di depan kamar mandi. Ia pun berlari ke arah kamar mandi.
"Ibu! Hentikan! Apa yang ibu lakukan? Ibu ingin membunuh adikku?". Teriak Murfazan sembari meraih selang ditangan ibunya dan mematikan shower yang sedari tadi airnya bergerayang di tubuh Asha.
"Dia telah melakukan kesalahan Mur! Jadi dia harus diberi pelajaran!". Jawab Diah.
"Memang kesalahan apa yang Asha lakukan hingga ibu menyiramnya sampai bertubuh pucat?". Tanya Murfazan.
__ADS_1
"Dia telah membasahi kamar Hiana! Maka dari itu ibu memberinya pelajaran". Jawab Diah.
"Apakah kita harus menggigit anjing yang sudah menggigit kita?!". Murfazan segera merengkuh Asha dalam pangkuannya.
"Berhenti Mur! Ibu belum selesai". Ujar Diah.
"Ibu tahu? Aku belum pernah melihat seorang ibu sekejam dirimu. Ternyata kamar Hiana lebih penting daripada darah daging!". Balas Murfazan.
Asha di bawa ke kamarnya, lalu di baringkan di ranjang. Roy yang mengikuti di belakang segera membantu Murfazan yang sedang membaringkan Asha dari pangkuannya.
Sedangkan Diah masih berdiri di depan kamar mandi.
Memangnya aku salah, menghukum anak yang telah berbuat salah?. Batin Diah bertanya tanya.
Tiba tiba...
"Ibu!". Hiana menggerakan tubuh Diah yang masih melamun. Diah pun terbangun.
"Kok ibu biarin kak Murfazan bawa kak Asha sih?".
"Biarin aja!". Jawab Diah sedikit acuh tak acuh, kemudian berlalu bergi.
________
"Asha! Kamu gak apa?". Murfazan bertanya.
"Gak apa-apa kak. Asha baik baik aja kok. Kakak gak usah khawatir". Jawab Asha sembari tersenyum.
"Memang salah kamu apa? Sampe ibu hukum kaya gitu?".
__ADS_1
"Biarin aja kak!". Asha kembali tersenyum.
"Dek! Ambilin baju kak Asha". Pinta Murfazan pada Roy.
"Iya". Roy pun berjalan ke arah lemari Asha dan mengambilkan pakaian baru untuk Asha.
Ibu jahat! Awas loh kak Hia. Liat aja, apa yang bakal Roy lakuin!. Gumam Roy dalam hati.
Roy mengambil sweater Asha dilemari, kemudian memberikannya pada Asha.
Setelah di beri sweater, Asha bangkit dari ranjangnya dan ke kamar mandi di belakang. Karena memang kamar mandi hanya satu di rumah itu. Murfazan membiarkan Asha pergi sendiri ke belakang, dan itupun karna permintaan Asha.
Di belakang, ternyata masih ada Hiana yang sedang duduk di meja makan. Asha melewati Hiana tanpa sedikit lirikan pun. Benar benar seperti melewati seonggok batu.
Hiana yang merasa dilewati begitu saja oleh Asha tak tinggal diam. Hiana berlari dan menghadang Asha di depan pintu kamar mandi. Asha berusaha menerobos, tapi Hiana tak membiarkan itu.
"Minggir!". Ujar Asha dengan wajah datar dan nada suara yang dingin.
"Jika tidak mau, kau mau apa?". Tantang Hiana.
Asha yang geram menatap tajam manik Hiana sembari berkata, "Cepat minggir. Jangan sampai kau merasakan didihan air panas menggerayang di tubuhmu".
"Sayang sekali. Tapi aku tidak takut!". Hiana melontarkan senyum menantang.
"Jangan main main denganku Hiana!". Ancam Asha dengan penuh penekanan.
"Tapi rasanya sayang bila melewatkan permainan denganmu!".
Karena posisi kamar mandi itu bersebrangan dengan dapur, dan di sisi tembok yang tak jauh dari Asha ada termos air panas, tanpa tanggung tanggung Asha meraihnya dan menyiramnya ke kaki Hiana.
__ADS_1
"Akkhh!". Jerit Hiana.
Asha menaruh kembali termosnya. Kemudian kembali berucap dengan penuh penekanan. "Sudah ku bilang! Jangan main main denganku".