
Selepas kepergian keluarga Nik, Diah, Edi dan Asha beserta Roy kembali pulang ke rumah.
Sampai di rumah, Edi meminta Asha duduk di sofa ruang tamu. Asha pun menurutinya. Sedangkan Roy memilih untuk bermain di kamarnya. Dan Diah ikut duduk bersama Edi dan Asha.
"Asha mau sekolah bareng Nia?" Tanya Edi.
"Udahlah. Asha gak usah sekolah. Ngebebani orang aja bisanya." Bukan Asha, tapi Diah yang menjawab.
Mendengar ucapan sang ibu, Asha hanya bisa tersenyum kecut. Sedangkan Edi yang menyaksikannya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Bu! Asha juga masih harus sekolah. Dan gak seharusnya ibu bilang kaya gitu sama Asha." Tegur Edi.
"Biarin pak. Kalo semisalnya Asha gak boleh sekolah juga Asha terima kok." Jawab Asha.
Asha tahu, dirinya sudah amat merepotkan. Jadi ia melihat sisi positif dari ucapan Diah. Mungkin Diah ingin Asha beristirahat saja di rumah agar ia cepat sembuh hingga pengeluaran uang tidak sebanyak sebelumnya. Karena jika Asha sekolah, pasti biayanya lebih banyak dari sebelumnya. Secara kini Asha naik tingkat sekolah. Yang padahal, Nik telah menawarkan diri untuk menyekolahkan Asha.
"Enggak Asha... Ini kesempatanmu selagi ada orang baik yang menawarkan diri untuk membiayainya."
Diah sedikit kesal dengan jawaban Edi yang seolah-olah membela Asha. Dia memutuskan untuk pergi setelah mengatakan, "Silahkan saja sekolahkan dia. Tapi jangan buat aku repot dengan biaya serta kebutuhannya kelak." Lepas itu, Diah benar-benar pergi dari hadapan mereka.
Asha menatap punggung Diah yang hampir menghilang dengan sendu. Kemudian ia menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya.
Edi tau yang dirasakan oleh Asha. Kemudian ia berkata, "Kamu boleh sekolah nak. Bapak gak masalah kamu sekolah. Semoga kamu nanti betah. Satu lagi. Jangan repotin om Nik dan tante Tia."
Asha mengangguk seraya berkata, "iya pak."
Selepas itu, Edi pergi ke kamarnya meninggalkan Asha yang masih duduk dengan menundukkan kepalanya.
3 menit lamanya, dan akhirnya Asha memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Tak lupa ia mandi dan mengganti bajunya yang sempat tertunda karena kedatangan keluarga Nik.
Selepas mandi dan berganti pakaian, Asha merebahkan dirnya di kasur. Lalu bangkit sebentar untuk mengambil ponselnya yang ada di atas meja belajar. Ia pun mulai menuangkan pikirannya melalui tulisan yang berbentuk novel itu.
__ADS_1
Asha membuat novel yang sedikit mirip dengan kondisi dirinya. Jadi, apa yang Asha rasakan, pasti akan ia tuang pada karyanya itu.
________
Pagi ini Asha bangun pagi-pagi sekali. Ini adalah hari Jum'at. Hari di mana ia akan bangun pagi-pagi sekali, dikarenakan ada kultum di sekolahnya.
Asha bergegas ke sekolah setelah melaksanakan shalat subuh tentunya.
Singkat cerita, kini jarum jam telah menunjukkan pukul 06.39. Sudah waktunya Asha ke sekolah. Ia keluar dari kamar dan mendapati ibunya yang tengah memasak. Dan di ruang tamu ada Edi yang sedang membaca koran. Asha menyalami ibu dan bapaknya sebelum berangkat ke sekolah.
"Assalamualaikum."
Setelah itu Asha benar-benar pergi dari sana.
Asha berjalan menuju rumah Moza. Karena seperti biasa, mereka pasti akan ke sekolah bersama setiap paginya. Kecuali ketika Asha merasakan sakit dihatinya.
Di depan rumah Moza, baru saja Asha ingin mengetuk pintunya. Tapi Moza lebih dulu membuka pintunya. Asha membuat wajahnya seakan-akan sedang kesal pada Moza, karena ia belum sempat mengetuk, tapi Moza sudah membukanya lebih dulu.
"Heyyo!! Sahabatku kok ngambek. Gitu aja ngambek." Goda Moza.
Asha melepaskan pelukan Moza, lalu menatapnya dengn lekat. Raut wajah Asha tiba-tiba berubah menjadi serius. Teramat malah.
"A,, ada a,, apa?" Tanya moza dengan gugup.
"Cepat pakai sepatu. Gak lucu, kan, kalo ketos kesayangan kamu itu liat kamu telat?"
Moza sebal dengan jawaban Asha. Ia sudah berpikir bahwa Asha akan mengatakan hal serius padanya. Ternyata Asha malah balik menggodainya.
Melihat wajah Moza yang kesal, Asha berlari sebelum Moza mengejarnya. Moza yang belum memakai sepatu, dengan terpaksa menundanya. Ia menjinjing sepatunya sembari berlari mengejar Asha. Moza tak ingin kehilangan jejak Asha.
Asha berlari begitu cepat, hingga tak terasa mereka sudah sampai di sekolah. Asha berhenti tepat di depan gerbang. Ia menatap jijik kepada seseorang yang kini tengah berdiri di hadapannya sembari membawakan makanan kesukaan Asha. Cokelat.
__ADS_1
Dugh!
Moza yang sedang berlari sengaja menabrakkan dirinya ke tubuh Asha. Ia tak sadar bahwa ada Aldi yang sedang berhadapan dengan Asha.
"Kau!"
Baru mengucapkan sepatah kata, Moza tiba-tiba bungkam seribu bahasa. Ia malu terhadap ketua OSIS tampan di depannya ini.
"Kak,, kak Aldi?!" Ucap Moza.
Baru saja ia ingin tersenyum senang karena paginya diawali dengan ketampanan Aldi, tapi cokelat ditangan Aldi membuat Moza mengurungkan niatnya.
Wajahnya sendu. Ia tahu apa yang akan Aldi lakukan pada cokelat itu.
Asha yang paham akan mimik wajah Moza segera menarik lengannya. Asha tak ingin Moza menyaksikan sesuatu yang akan membuatnya terluka.
"Ayo ke kelas. Sebentar lagi kultum dimulai." Ujar Asha. Tapi Moza tetap diam sembari menatap tangan Aldi yang sedang memegang dua buah cokelat.
Terpaksa Asha merariknya dengan lebih kuat hingga membuat Moza hampir terjungkal dan sepatu Moza hampir terlempar dari genggaman Moza.
Asha menarik Moza sampai ke depan kelas. Kemudian ia melepaskannya. Asha pula menatap wajah Moza yang terlihat tpa jiwa. Asha menaruh kedua telapak tangannya di bahu Moza. Kemudian memegangnya dengan kencang.
"Moza! Dengarkan aku! Bila kamu tersakiti karena itu, maka cari kebahagianmu dengan yang lain. Jangan membuat dirimu bertahan dengan duka. Kalo kamu tetep pengen begini aja, apa yang akam terjadi sama kehidupanmu nanti?"
"Tapi aku gak bisa Sha! Gak bisa! Cinta monyet ini terlalu dalam." Jawab Moza dengan lirih.
Asha kesal dengan jawaban Moza. Dia langsung melepaskan pegangannya di bahu Moza dengan kasar.
"Kenapa? Kenapa gak bisa? Atau gini aja. Kamu bilang sama dia kalo kamu yang cinta sama dia. Bukan aku!! Bilang sama dia!!" Bentak Asha.
Moza menatap mata Asha seraya berkata, "kamu pikir mudah kek gitu?"
__ADS_1