Berjuang Dalam Diam

Berjuang Dalam Diam
Eps 12


__ADS_3

"Emang kenapa si Oza???"


Bukannya menjawab, Moza melengos begitu saja. Bahkan niat untuk memakai sepatunya pun tak ada.


Moza berjalan dengan perasaan hampa serta tatapan kosong. Ia masuk ke kelas tanpa menunggu Asha. Ia membiarkan Asha di luar sembari berdiri. Lepas itu, dia duduk di kursinya. Ia melepas sepatunya, mengangkat tangannya dan menjadikannya sebuah topangan untuk kepalanya.


Asha yang dari tadi di luar akhirnya masuk. Ia berlari kecil dan memeluk sahabatnya. Memeluknya dengan erat.


"Maaf!"


Sebuah kata dari lisan Asha yang berhasil membuat mata kosong Moza mengeluarkan air mata.


Tiga menit lamanya, hingga akhirnya Moza juga membalas pelukan Asha. Sedangkan murid-murid yang lain hanya menganggapnya acuh tak acuh.


"Maaf!" Asha kembali berucap.


"Gak apa apa Sha."


________


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 Sudah waktunya bagi murid dari sekolah yang Asha tempati pulang.


Dibukanya pintu gerbang sekolah dan alhasil menciptakan membludaknya para siswa dan siswi. Dipunggung mereka tergantung tas yang berisikan buku. Mungkin makeup pun ada dalam salah satu tas seorang siswi di sana.


Berbeda dengan siswa dan siswi lainnya, kelas Asha dan juga jejeran kelasnya (kelas 9) masih berada di dalam ruangannya masing-masing.


Apalagi kalo bukan membahas perihal ujian.


"Anak-anak! Ujian akan diadakan dalam seminggu lagi. Mohon dipersiapkan dengan matang." Ucap bu Rika. Wali kelas Asha.


Setelah di rasa beres, bu Rika mempersilahkan murid-muridnya untuk pulang.


"Oza! Besok, kan hari libur, bisa gak kamu temenin aku ke perpustakaan desa?" Tanya Asha.


Pasalnya, Asha ingin sekali nilai ujiannya maksimal. Dan ia ingin menjadi juara umum di ujian tahun ini. Yang padahal, semua orang sudah meyakini bahwa Asha yang akan menjadi juara umum Ujian tahun ini. Guru sekalipun.


Dan ya, di desa tempat tinggal Asha di sediakan perpustakaan. Masyarakat sekitar amat memedulikan pendidikan. Jadi di sana disediakan perpustakaan.


Bahkan setiap sebulan sekali akan diadakan les gratis di sana. Pengajarnya adalah guru sekolah yang tinggal di situ juga. Ia dengan suka rela mengajar anak-anak yang ingin belajar secara gratis.


Kadang kala, Asha juga ikut mengajar anak-anak kecil. Seperti anak TK dan SD kelas 1 sampai 3. Dan itu tak luput dari keinginan para warga sekitar.

__ADS_1


Kembali ke Asha dan Moza.


Setelah mengiyakan keinginan Asha untuk menemaninya ke perpustakaan desa, seperti biasa, mereka akan berpisah di gerbang sekolah.


Moza pulang ke rumahnya, sedangkan Asha bekerja di Uzi krong cafe.


Maaf Za. Batin Asha.


Bukannya Asha tak tahu, Asha teramat tahu malah, bahwa Moza ingin sekali pulang bersamanya. Moza ingin datang dan pergi bersama. Datang berdua, maka pergi pun berdua.


Seperti biasa, Asha berjalan ke Uzi krong cafe sembari membaca buku. Di tangannya selalu tersimpan buku. Rasanya tak afdol bila tangannya tak menggenggam benda yang menyimpan berbagai ilmu pengetahuan tersebut.


Tak terasa, kini Asha telah sampai di Uzi krong kafe. Ia menyimpan buku dan juga tasnya di loker pegawai. Tapi tiba-tiba matanya tertuju pada sesosok manusia yang sedang berdiri dengan indahnya. Tubuhnya tinggi dan gagah.


Seorang pria. Batin Asha.


Asha benar-benar dibuat terpana oleh pria itu. Pasalnya, pria itu menyugar rambutnya dengan penuh pesona. Sayang, wajahnya tak sepenuhnya nampak oleh Asha. Sebab arah wajahnya menyamping dari posisi Asha.


Jujur, ini pertama kalinya bagi Asha merasakan ini. Rasa yang... Entahlah, tak bisa ia ungkapkan. Yang jelas ia terpesona oleh sosok pria itu.


Asha melamun membayangkan wajah sang pemilik tubuh tinggi serta gagah itu. Namun, tiba-tiba panggilan seseorang membuyarkan lamunannya.


"Asha!" Teriak Felis.


Tapi di sisi lain, seorang pria sedang menatap punggung Asha. Ia mendengar seseorang memanggil nama Asha. Dan entah kenapa hatinya ingin dirinya melihat sosok Asha itu.


"Tak nampak." Gumam pria itu.


Dengan kecewa akhirnya ia memutuskan untuk mengerjakan kembali aktifitasnya.


_______


Waktu terus berjalan, dan sebentar lagi adalah waktunya untuk Asha pulang. Tapi Asha meragukan dirinya untuk pulang. Pasalnya, bukannya kafe ini semakin sepi karena hampir malam, justru kafe ini semakin padat. Dan itu berhasil membuat pekerja di sana keteteran.


"Asha. Ini sudah waktunya kamu pulang, pulanglah." Ujar Kalila, salah satu karyawan di sana.


"Tapi ini lagi rame loh, kak."


"Gak papa Sha. Kamu balik aja. Tapi aku minta tolong anterin ini dulu ke meja nomor enam belas." Kata Kalila sembari memberikan sebuah nampan yang berisikan dua cangkir kopi.


"He'em." Asha pun menjawabnya dengan deheman, lalu mengambil nampan itu dari tangan Kalila.

__ADS_1


Asha bergegas mengantar kopi itu ke meja nomor 16. Tapi karena ia terlalu tergesa-gesa, ia tak sadar bahwa di depannya ada seseorang. Dan akhirnya...


Dugh!


Kopi yang Asha pegang terjatuh dan tumpah di baju seseorang. Asha segera menaruh gelas dan nampan itu di lantai. Kemudian ia mengambil tisu di atas meja pembeli. Lalu berjongkok, bergegas membersihkan baju seseorang yang ia tumpahi kopi. Karena baju itu adalah kemeja putih, jadi sulit bagi Asha untuk membersihkannya.


"Astaga,, saya minta maaf." Seru Asha tanpa menghentikan gerakan tangannya.


Asha kembali meminta maaf, tapi orang itu tak kunjung bicara. Orang itu hanya diam mematung. Karena Asha pikir orang itu amat marah padanya, ia menghentikan aktifitas membersihkan baju itu. Ia merapatkan kedua tangannya dan berdiri tegak. Kepalanya menunduk.


"Maaf!" Seru Asha.


Karena orang itu masih diam, Asha kembali meminta maaf.


"Maaf."


Kali ini orang itu tidak diam. Ia menceraikan tangan Asha yang saling berpautan itu. Kemudian berkata. "Tidak apa. Kau pasti tak sengaja."


Belum Asha mengucapkan terima kasih, orang itu langsung pergi meninggalkan Asha.


Asha hanya terpaku di tempat. Asha juga menatap punggung orang itu sembari bergumam, "seorang pria."


Diposisi lain...


"Haduh... Tian mana sih? Kok belum datang juga?"


Tia sedang resah menunggu anak sulungnya yang tak kunjung datang. Anaknya telah berjanji untuk datang pukul 17.30, tapi sampai jarum jam menunjukkan pukul 17. 50 , puteranya itu belum datang.


"Mama,, kak Tian kan sibuk ma. Dia bukan pria remaja pada umumnya. Dia juga memiliki cafe yang harus ia kelola." Nia berusaha menenangkan sang ibu.


"Iya juga si."


Tak lama kemudian, terdengar suara mobil berhenti tepat di depan rumah. Nia dan Tia sudah menduga bahwa itu adalah Tian, putera pertama dari Tia dan Nik.


Nia dan Tia segera menghampirinya. Dan benar saja, sesosok pria tampan keluar dari mobil dengan jutaan pesona.


"Astagfirullah... Kakak tuh, di rumah aja tebar pesona mulu." Keluh Nia saat melihat Tian yang keluar dengan kerennya.


"Hey adik! Memangnya aku pria seperti apa yang suka menebar pesona!" Jawab Tian seraya menoyor kepala Nia.


Sedangkan Tia? Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anaknya ini. Nia dan Tian susah sekali untuk akur. Ada saja hal yang membuat mereka bertengkar dan bergaduh.

__ADS_1


"Hufftt... Sudah sudah..." Lerai Tia yang diawali dengan helaan napas.


Tia menggiring Nia dan Tian untuk masuk ke dalam. Setalah sampai di dalam, Tia menyuruh Tian untuk mandi dan membersihkan tubuhnya. Sedangkan Nia diminta untuk membantunya menyiram tanaman di kebun belakang rumah.


__ADS_2