
Penolakan Asha membuat tiga pegawai lainnya membelalakkan matanya. Mereka tahu, Felis tak suka dibantah. Ia akan menampar, menendang dan menjambak bila diperlukan. Padahal tiga karyawan lainnya itu lebih tua dari Felis, tapi sepertinya tidak ada yang berani untuk membantah.
"Lalu tuhan menciptakan dirimu untuk apa jika tidak dipergunakan seperti ini?!" Jawab Felis.
"Tuhanku menciptakanku agar membuatmu sadar dengan sikap bossy mu itu amat merugikan orang lain. Tuhanku juga menciptakan diriku untuk membantumu mengetahui fungsi organ tubuhmu. Dan sekarang aku jelaskan. Tanganmu difungsikan untuk bersedekah dan mengambil sesuatu yang kau butuhkan, bukan untuk menampar orang lain dan dipergunakan dengan hal-hal yang tidak berfaedah. Kakimu difungsikan untuk berjalan, bukan menendang orang lain. Mulutmu difungsikan untuk berbicara hal baik dan juga memproses makan sebelum masuk ke perut, bukan untuk mencibir serta memerintah orang lain sesukan hati. Lalu hatimu. Hatimu diciptakan untuk memberikan kasih sayang serta keibaan pada orang lain. Hatimu juga difungsikan untuk memproses perasaan. Tapi anehnya, perasaan yang kau proses itu tidak ada dalam daftar yang seharusnya. Bahkan sepertinya kau tak ada hati untuk menjaga perasaan orang lain. Seharusnya sudah cukup mengerti bukan, dengan fungsi organ-organ yang aku sebutkan? Jangan terlalu jauh, yang dapat dirasa dan dilihat saja dulu." Tegas Asha.
Felis bungkam seribu bahasa. Entah apa yang ia pikirkan untuk membalasnya. Mulutnya hanya menggeratkan gigi.
"Kenapa kau diam? Apa kau sekarang tak ingin bertanya mengapa aku diciptakan dengan bisa bersuara? Heuh?!" Lanjut Asha.
{Asha hebat. Masa kita kalah sih sama bocil?!}
{Asha best banget!!!}
{Anak muda penerus bangsa}
{Asha cakap bicaranya. Belajar dari mana dia?!}
{Cantik, solehah, solehot, dan cakap. Idaman memang}
{Gue jodohin ah sama adek gue. Umurnya keknya sama dah}
{Emang adek lo mau?}
{Mau lah}
{Emang Asha-nya mau?}
{Kira-kira mau gak?}
{Lah, nanya balik dia. Stress lo}
Kurang lebih itulah yang ketiga pegawai itu bicarakan, hingga membuat kuping Felis memanas dan memutuskan pergi dari sana.
Selepas Felis pergi, ketiga pegawai yang sedari tadi menonton menghampiri Asha.
"Keren Sha!" Ujar salah satu pegawai.
"Makasih. Ya udah kita lanjut kerja." Sahut Asha.
__ADS_1
Waktu terus berjalan. Hingga tak terasa kini pukul 15.34. Asha pamit lebih dulu kepada pegawai lainnya. Kemudian ia mengambil tasnya di loker, dan berlalu pergi. Tapi sebelum benar-benar pergi dari kafe, ia mengambil buku di tasnya.
Baru beberapa langkah keluar dari kafe dengan sembari membaca buku, hujan turun dengan deras secara tiba-tiba. Mau tidak mau ia kembali masuk ke dalam kafe. Felis yang melihat Asha kembali masuk tak tinggal diam. Ia menghampirinya, kemudian mengusirnya secara tidak langsung.
"Heh. Ini bukan tempat neduh." Ujar Felis.
"Terus?"
"Ya lu harus apa kek. Beli apa kek gitu buat jadi formalitas. Oh iya gue lupa, lo kan kerja disini. Jadi,, mana ada punya duit. Udah, mending lu lanjut kerja aja sono."
"Tapi sift saya cuma satu jam setengah."
"Ya daripada lu gak guna di sini, mendingan kerja, kan?"
Tak ingin membuat kegaduhan, Asha memutuskan untuk pergi. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, ia melontarkan sebuah kalimat tajam pada Felis.
"Mengalah bukan berarti kalah. Justru itu adalah cara untuk menang dalam bertanding dengan orang bodoh."
Asha mengibaskan rambut panjangnya di depan wajah Felis kemudian mengambil buku di atas meja, dan berlalu pergi, dan itu juga membuatnya panas.
Issshhhh,,,. Geram Felis dalam hati.
"Orang kaya gitu emang harus dikasih pelajaran." Gumam Asha.
Asha masih memegang bukunya. Berdiri di depan pintu kafe. Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Kemudian seorang wanita keluar dari mobil itu dengan memegang sebuah payung.
Ia menatap Asha sembari tersenyum.
"Tante Tia." Gumam Asha.
"Asha lagi apa di sini?" Tanya Tia.
"Asha mau pulang tante, tapi hujan." Jawab Asha dengan sedikit gugup.
Tia menatapnya heran. Bagaimana bisa seorang anak SMP pulang selarut ini.
"Ko malem banget? Asha gak di cariin?" Tia kembali bertanya.
"Emm,, anu tante,, Asha,, Asha,, Asha a,,abis belajar." Jawab Asha sedikit berbohong.
__ADS_1
Tia masih menatapnya tak percaya. Kenapa habis belajar, tapi seragamnya terlihat lusuh? Bukunya saja kehujanan. Jika ia belajar sedari tadi, masa bukunya harus sebasah itu. Seharusnya ia sudah menyimpan bukunya di tas. Pikir Tia.
Ah, mungkin tadi ia sempat belajar dijalan dan kehujanan di jalan. Dan masalah baju, inikan hari Kamis. Pasti sudah kotor seperti itu. Hati Tia berfikir husnudzon.
"Ya udah. Mau bareng gak?" Ajak Tia.
"Loh, emang gak apa apa tante?" Asha bertanya balik.
"Gak apa apa dong sayang. Oh iya, di dalam ada anak tante. Nanti dia yang akan sekolah bareng kamu. Itupun kalo kamu setuju sekolahnya dibiayai sama tante dan om." Seru Tia.
Sedangkan Asha hanya membalasnya dengan senyum kecut.
Tiba-tiba mobil yang berada di depan Asha itu membunyikan klaksonnya. Lalu muncullah kepala seorang pria. Dan berhasil membuat Tia dan Asha meliriknya. Pria itu berteriak. "Gosipnya di dalem aja. Nia-nya bete tuh. Kelamaan.". "Oh iya. Sebentar."Jawab Tia.
Tanpa aba-aba, Tia langsung menarik Asha masuk ke mobil dengan bantuan payung agar terhindar dari tetesan air hujan. Mau tidak mau, Asha pun mengikuti.
Teryata, sedari tadi Felis masih berdiam diri di sana. Ia masih menyaksikan Asha yang masuk ke sebuah mobil mewah.
"Asha sialan." Umpat Felis.
Felis tahu mobil siapa yang Asha masuki. Dan itu membuat hati Felis dongkol. Iya menggebrak meja yang ada didekatnya, dan berhasil menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana.
"Awas lo."
Felis pun memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya. Walaupun dengan penuh amarah.
Kembali ke Asha...
Kini wanita cantik itu tengah duduk diantara dua wanita. Yang satu sudah menikah, dan yang satu lagi seumuran dengannya.
"Hai. Namaku Nia. Aku anaknya nini Tia dan aki Nik." Sapa wanita yang seumuran dengan Asha. Ia menyapa dengan sedikit gurauan.
"Hey bocah. Anakku baru dua. Kau sebut aku aki? Putraku saja bahkan masih SMA dan lajang." Ujar Nik dengan gurauan.
"Tau kau ini. Dikira ibumu yang cantik membahana ini nini nini? Memangnya sekeriput apa ibumu, hingga kau berani mengatakan nini?" Sanggah Tia.
"Ish. Mama sama papa tuh, gak bisa di ajak bercanda. Ya kan kak--"
"Asha. Namaku Asha."
__ADS_1
"Iya. Kak Asha. Mereka tuh gak bisa di ajak becanda kan?" Lanjut Nia. Dan Asha hanya tersenyum geli.