Berjuang Dalam Diam

Berjuang Dalam Diam
Eps 10


__ADS_3

"Bener ya kata mama. Rambut kak Asha emang panjang." Seru Nia.


"Gak usah panggil kak. Kata tante Tia, kita seumuran. Ya kan Tante?" Asha melirik Tia dan Tia pun mengangguk sembari tersenyum.


"Oh iya Asha, rumah kamu dimana?" Tanya Nik.


"Nanti di depan ada pertigaan, lurus. Abis gitu ada perempatan, belok kiri. Nanti kalo udah ada gang kecil, berenti."Jawab Asha.


"Oh, ok. Lanjutin lagi ngobrolnya. Tapi jangan ngomongin duren. Enek." Ucap Nik.


"Loh. Om gak suka duren?" Tanya polos Asha.


"Ish. Buat apa om suka duren. Dikira om gay apa?!"


"Loh. Emang yang suka duren harus gay?" Asha kembali bertanya.


"Aduh Asha.... Maksud papa tuh, duda keren." Jelas Nia. Dan Asha hanya membalsnya dengan mulut berbentuk huruf 'o' sembari manggut-manggut.


"Tapi... Emang duda itu keren?" Asha kembali bertanya dengan polosnya. Dan semua orang yang ada di sana hanya bisa menepuk kening masing-masing.


Asha pun tersenyum kikuk.


Singkat cerita! Sekarang mobil Nik sudah berhenti tepat di gang kecil yang Asha sebutkan tadi.


"Abis ini kemana?" Tanya Nik pada Asha.


"Abis ini Asha jalan sekitar Sebelas meter. Nanti sampe." Jawab Asha.


"Loh kok jalan? Kenapa gak dianterin aja?" Protes Nia.


"Emm,, ini kan gang kecil. Mana muat mobil masuk ke sana."


"Ya udah. Kita ikut jalan." Usul Tia.

__ADS_1


"Iya. Sekalian kita mau ketemu sama orang tua kamu. Kita mau izin pasal kamu yang mau sekolah dengan biaya dari kami." Lanjut Nik.


Walaupun sedikit tak enak hati, tetapi Asha pun membolehkan.


Nik memakirkan mobilnya dipinggir jalan. Setelah letak parkirnya pas dan tepat, Asha, Nik, Tia dan Nia keluar dari mobil. Asha juga menuntun Nik, Tia dan Nia menuju rumahnya. Tidak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah Asha.


"Assalamualaikum". Sapa Asha sembari memutar knock pintu.


"Om, tante, Nia, silahkan duduk". Asha mempersilahkan tamunya untuk duduk. Dan mereka pun mematuhinya.


"Sebentar ya, Asha panggil ibu bapa dulu". Pamit Asha dan dibalas dengan anggukan oleh Nik, Tia dan Nia.


Setelah sekitar tiga menit menunggu, muncullah Asha dengan sepasang suami istri dan juga seorang bocah laki-laki. Di tangan Asha ada sebuah nampan berisikan tiga gelas air mineral. Kemudian Asha menaruhnya di atas meja.


"Silahkan diminum". Ucap Asha.


"Oh iya. Makasih". Jawab Nik mewakili mereka bertiga.


"Nik!". Seru Diah dan Edi bersamaan.


Nik pun ikut menatap kearah mereka. Begitu terkejutnya Nik bahwa pasutri di depannya ini adalah sahabat sekolahnya dulu.


Diah dan Edi kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi Nik, Tia dan Nia.


"Astaga... Ternyata takdir mempertemukan kita kembali". Sahut Nik.


"Kalian saling kenal?". Tanya Asha yang merasa aneh. Dan Nik pun menjawab dengan santainya, "iya. Dulu kita sahabatan".


"Asha ketemu sama mereka dimana?". tanya Diah.


Asha mula menceritakan awal pertemuan mereka hingga sampai di sini. Diah dan Edi menyimaknya dengan baik, hingga satu jam kemudian...


"Emm... Begini. Aku dan isteriku ingin membiayai Asha sekolah. Aku ingin ia akrab dengan anak perempuanku (melirik Nia). Jadi biar mereka akrab, aku ingin Asha satu sekolah dengan putriku. Bagaimana? Kalian setuju?" Usul Nik.

__ADS_1


Diah dan Edi kemudian saling pandang,lalu pandangannya tertuju pada Asha. Asha yang merasa dirinya tengah dipandang oleh kedua orang tuanya segera menundukkan pandangannya ke bawah. Lepas itu Diah dan Edi kembali menatap Nik yang sedang memasang wajah serius.


"K,,kau,, serius Nik?" Tanya Edi tak percaya.


"Aku serius Edi. Untuk apa aku main-main?!"


Jawaban Nik berhasil membuat Edi terharu. Ia memegang lengan sahabatnya itu, kemudian berkata, "terima kasih. Kau sudah ingin baik terhadap keluargaku. Aku berhutang budi padamu."


Nik pun melepaskan tangan Edi, kemudian memeluknya layaknya seorang keluarga.


Singkat cerita.


Karna sudah terlalu Malam. Nik beserta keluarganya memutuskan untuk pamit pulang dari rumah Asha. Tentu setelah sholat Maghrib dan banyak perbincangan mereka lalui.


Edi, Diah, Asha dan Roy menemani Nik beserta keluarganya sampai di mobil. Sesampainya di sana, Nik, Tia dan Nia memasuki mobil. Kemudian berpamitan dari balik kaca jendela mobil.


"Kami pamit." Ujar Nik yang mendapatkan anggukan kecil dari Edi.


Sedangkan Nia melambaikan tangan kepada Asha. Dan tentu saja Asha membalas lambaian itu.


"Asha baik banget deh. Nia suka ama kak Asha." Ucap Nia.


Di mobil, Nia tak henti-hentinya memuji Asha dengan bakat serta kecantikannya. Bukan hanya kecantikan fisik, tapi juga batin. Sedari Nia di rumah Asha tadi, Asha juga memperlihatkan novel yang ia buat di aplikasi online. Nia membacanya dengan seksama.


Karena Nia menyukai novelnya Asha, Nia memilih untuk menginstal aplikasi yang dipakai oleh Asha untuk membuat novel online. Dan kini ia sedang memperlihatkannya kepada Tia.


"Mama baca deh. Itu bagus banget loh."


"Memangnya ini dapet bikin siapa?" Tanya Tia.


"Itu kak Asha yang membuat." Jawab Nia.


Mengetahui itu buatan Asha, dengan senang hati Tia membacanya.

__ADS_1


__ADS_2