
Binar datang dipesta itu, dengan gaun yang diberikan Raka. Binar melihat sekeliling rumah yang sudah terhias itu, sangat cantik menurutnya. beberapa teman kantornya sudah datang, mereka membawa Binar untuk masuk dan mereka mulai mengobrol. sampai seseorang datang membuat Binar tertegun, Raka yang sangat tampan dan juga rapi turun dari tangga menyapa beberapa tamu. jas Raka sangat mirip dengan gaun yang ia pakai, dan itu juga sudah disengaja oleh Raka. Binar melihat Raka yang juga melihatnya, Binar berjalan setelah Raka mencoba memanggilnya.
"wah siapa dia, aku tidak pernah melihatnya? " ucap seseorang, Raka tersenyum dan mencoba memperkenalkan Binar.
"dia adalah sekretaris ku, namanya Binar! " dengan sopan Binar menyapa, kemudian pria itu mengulurkan tangan dan langsung disambut senyuman oleh tangan Binar. Raka tidak menyukai hal itu, ia mencoba menatap Binar agar segera melepas tangan tersebut. Binar yang paham Raka seperti itu, langsung melepas tangan pria itu dan tersenyum canggung. Binar berdiri disamping Raka, dengan bosan ia melihat Raka yang terus menyapa seorang tamu. "pergilah kekamar itu, bawa nenekku kemari! " bisik Raka tepat ditelinga Binar, dengan mengangguk Binar pergi sesuai instrusi Raka.
Binar berjalan santai untuk mencari nenek Raka, sampai ia menemukan seseorang yang berdiri dengan cantik. ia berpikir itu nenek Raka, tapi ternyata nyonya tua lansia yang bertemu dengannya kemarin. Binar berjalan kearah wanita itu, dan ia tidak tahu kalau wanita itu sebenarnya memang nenek Raka. Binar menyapa wanita itu, dengan senyuman wanita itu menanggapi Binar.
"nyonya disini, pasti nyonya adalah teman neneknya RV! " ucap Binar, nenek Raka hanya tersenyum dan mengangguk. "saya sedang mencari nyonya besar, tapi saya bingung dimana dia karena dikamar beliau tidak ada! "
"pasti ada di sekitar sini! " ucap nenek Raka yang terus ingin menggoda Binar, dengan mengeluh Binar menghela nafasnya. "boleh aku bertanya sesuatu? "
"tentu saja, tanyakan semuanya! " saut Binar, nenek Raka tersenyum kemudian membawa Binar untuk dengan dengan pagar balkon. disana mereka berdiri diatas para tamu, dan pandangan Binar ke arah Raka yang berdiri menyapa tamu.
"ada hubungan apa kau dengan bosmu? " seketika Binar terdiam dan menoleh kearah nenek Raka, Binar tidakmenyangka sebuah pertanyaan itu ditanyakan kepadanya. Binar menggelengkan kepala dan tersenyum.
"tidak ada hubungan apapun diantara kami! " saut Binar tersenyum, nenek itu mengangguk kemudian masih tidak menyerah untuk membuat Binar bicara dengannya.
__ADS_1
"tapi aku tidak pernah melihat dia seperti itu, yang kutahu dia adalah pria yang pendiam, arogan dan juga egois. tapi melihat dia bersikap khawatir padamu kemarin, sepertinya kalian mempunyai hubungan! " ucap nenek itu lagi, Binar semakin bingung dibuatnya.
"tidak, mungkin dia hanya khawatir melihat sekretarisnya seperti itu. tapi ya meskipun dia menyebalkan, dia orang yang baik.hanya saja dia terlalu egois, dan juga arogan! "
"apa yang sedang kalian bicarakan? " entah sejak kapan Raka berdiri disana, Binar dan neneknya menoleh melihat Raka. ia berjalan melewati Binar, dan memeluk sangat nenek dengan sayang. "ini pestamu, kenapa kau malah berdiri disini dengannya! " ucap Raka yang membuat Binar terkejut, karena baru terungkap kalau wanita yang selama ini ia ajak bicara adalah nenek Raka. Binar tersenyum malu dengan menggaruk rambutnya yang tidak gatal, nenek Raka tersenyum kemudian menggandeng tangan Binar.
"baiklah kamu sudah tahu siapa aku, jadi kamu harus temani aku! " ucap nenek itu, Binar tersenyum malu dan mengangguk kemudian. setelah turun dari atas, pesta pun dimulai. beberapa teman nenek Raka datang hal itu membuatnya senang, begitu juga dengan Raka dan Binar yang mengatur sebelumnya. mereka saling tersenyum dari kejauhan, Binar mengacungkan jempolnya pada Raka.
beberapa saat kemudian Binar sedikit menjauh dari nenek Raka, ia lelah ketika mendengar sapaan parah wanita tua. bahkan banyak yang mengira kalau Binar adalah istri dari Raka, Binar lelah menyangkal dan lebih memilih duduk di sebuah meja yang penuh dengan makanan. Binar mengambil makanan yang menurutnya akan membuat kenyang, Binar menikmati setiap hidangan disana. sampai seorang pria datang duduk di sampingnya, Binar tersenyum ketika pria itu menyapanya
"hay aku Irfan, kau? "
"maaf Pak Irfan, saya butuh sekretaris saya! " ucap Raka membawa Binar tanpa jawaban dari Irfan, Binar mengikuti tarikan dari Raka. langkahnya pun tertatih karena Raka yang menariknya, sampai seorang pelayan lewat dan Binar menabrak pelayan itu. Raka menarik tubuh Binar, tapi terlambat sebuah makanan yang terbuat dari saus mengenai gaun Binar. "apa kau tidak bisa jalan dengan benar! " bentak Rana pada pelayan itu, Binar langsung menarik bahu Raka.
"kenapa anda membentak nya, ini kesalahan anda yang terus menarik saya tanpa melihat! " ucap Binar bersungut, Raka menatap Binar dan langsung menghela nafas. ia tidak ingin membuat keributan disana, sampai membuat perintah untuk cepat membereskan kekacauan itu. "saya akan pulang, baju saya sudah kotor! "
"tidak perlu! Farel bawa dia kekamarku, dan minta seseorang membawa gaun lain! " ucap Raka pada asistennya, sang asisten pun langsung menuruti perkataan Raka dan menuntun Binar berjalan tanpa ada persetujuan Binar. Farel membawa Binar masuk ke kamar Raka, Binar masuk kedalam kamar yang cukup besar itu dan bernuansa seorang pria. segera Binar masuk kamar mandi dan memakai piyama mandi disana, ia menunggu gaun yang akan diberikan Raka.
__ADS_1
"cukup luas, tapi kamar ini sangat membosankan! " ucap Binar duduk dikasur, ia memainkan kasur yang empuk itu. kemudian tersenyum sendiri, Binar melihat lihat kamar tersebut dan membuka lemari besar yang membuatnya penasaran. lemari besar itu tersusun rapi didalamnya, mulai dari kemeja, jas, celana, sepatu dan juga dasi. tapi hanya ada warna hitam putih dan juga biru, tidak ada warna lain selain itu. sampai Binar tersadar kalau dirinya lancang, ia segera merapikan semua itu kembali. sebuah kertas putih terjatuh entah dari mana, Binar yang akan mengambil itu terkejut ketika Raka yang sudah berdiri di hadapannya. "saya terkejut, bisakah anda tidak selalu membuat kejutan! "
"didepan ada seseorang mencarimu, wajahnya persis denganmu! " ucap Raka yang sudah tahu siapa yang ia maksud, karena siapa lagi wajah yang mirip dengannya kalau bukan Bintang. dibelakang Raka Bintang menghampiri Binar, ditangannya membawa sebuah paperbag.
"Binar maaf aku datang, karena dia yang memanggilku! " ucap Bintang menunjuk Raka, Binar tersenyum kepada Bintang.
"iya tapi bagaimana bisa? "
.
"aku menelfonmu tapi bosmu yang angkat, dia memintaku untuk datang dengan satu set gaun! " jelas Bintang, ia memberikan gaun itu pada Binar dan langsung dibawanya kedalam kamarandi dan berganti pakaian. Bintang melihat kearah Raka yang terdiam, Bintang merasa ada sesuatu hal yang tidak bisa ia ungkapkan. tapi entah apa itu, dan ia berpikir mungkin hanya perasaannya saja.
"Terima kasih sudah datang! " ucap Raka, Bintang tersenyum dengan ramah.
"kenapa sungkan seperti itu, dia adikku tentu saja aku akan melakukannya! " ucap Bintang ramah, Raka tersenyum dan mengangguk. "tidak kusangka kita bertemu lagi, dan tentang waktu itu Terima kasih! "
"tidak perlu sungkan, lain kali jangan pernah lewat jalan yang sepi apalagi ketika malam. kau seorang perempuan, itu sangat berbahaya! " jelas Raka, Bintang tertawa dan mengangguk. malam setelah mengantar Binar, Raka perjalanan pulang. tidak disangkanya ia akan bertemu Bintang yang sendirian dijalan sepi, tidak hanya itu ada beberapa seorang preman yang mengikutinya. belum sempat preman itu datang pada Bintang, Raka langsung menawarkan bantuan pada Bintang dan akhirnya diantarlah Bintang sampai dirumah. semenjak itu Bintang mengingat wajah Raka, tanpa tahu siapa pria yang membantunya.
__ADS_1
"oh iya perkenalkan namaku Bintang, aku dan Binar saudari kembar! " ucap Bintang lagi mengulurkan tangan, Raka menerima uluran tangan itu dan tersenyum.
"semua orang mengenalku RV, jadi panggil saja aku Rv! " saut Raka, Bintang tersenyum dan mengangguk. mereka langsung akrab disana, obrolan yang panjang mereka bicara. tanpa mereka sadari Binar yang sudah berganti pakaian, memperhatikan mereka tanpa bicara. Binar menatap wajah Raka yang tersenyum bahkan tertawa bersama Bintang, wajah yang tidak pernah ditunjukkan itu kini ditunjukkan saat bersama kembarannya. sejak kapan mereka akrab.