
hari kembali berjalan seperti biasa, tiap jam tiap menit dan tiap detik semua orang kembali bekerja. Binar merasa Raka menjauhinya, bagaimana tidak. semenjak hari dimana Raka menyatakan perasaan nya, Raka merasa malu bertemu Binar. ia tidak bisa menunjukkan mukanya kepada Binar, rasanya ia ingin pergi ke bulan saja dari pada bertemu Binar. Raka menyibukkan diri didalam ruangannya, ia lakukan sendiri tanpa bantuan dari Binar. sang Sekretaris itu juga merasa aneh, karena yang biasanya memanggil tidak memanggilnya sama sekali. Binar hanya duduk dikursinya berjam jam, tanpa berdiri sekalipun. biasanya Binar akan berdiri jika mendengar panggilan Raka, dan itu setiap jam nya perhari.
sampai sudah tengah siang, Binar melihat jam di dinding. jam menunjukkan pukul dua belas dan waktunya untuk makan siang. Binar melihat ruangan Raka yang belum terbuka, pada akhirnya Binar memberanikan diri dan masuk tanpa mengetuk pintu. dilihatnya Raka yang masih asik dengan laptopnya, Binar terus berjalan hingga berdiri di hadapan meja Raka.
"RV, sudah waktunya makan siang! " ucap Binar, Raka hanya mengangguk tanpa menjawab. Binar berpikir Raka marah padanya, bahkan Raka tidak mau melihatnya sedikit pun. "sepertinya anda sangat sibuk, saya akan membawakan makan siangnya kemari! "
"uhuk. ... uhuk... tidak perlu! " ucap Raka dengan terbatuk, Binar terkejut mendengar suara Raka yang serak dan batuk.
"apa anda sakit, saya akan bawakan obat! "
"tidak perlu, saya tidak sakit! " ucap Raka dengan tegas, Binar terkejut karena untuk pertama kalinya Raka bersuara dengan kasar. entah apa yang dirasakan Binar, ia sangat kecewa dengan sikap Raka yang berubah dalam sekejap.
"baik RV, saya akan bawakan makan siangnya! " ucap Binar kemudian pergi dari sana, Raka yang merasa pusing tidak bisa mencegah kepergian Binar. Raka demam akibat berdiri beberapa jam dibawah derasnya hujan, karena sebuah penolakan dari Binar, Raka menangis dan membiarkan hujan mengguyur tubuhnya agar tidak siapapun mengetahui dirinya sedang menangis. alhasil dirinya sakit setelah berada dirumah, karena ditambah dirinya yang tidak bisa makan teratur. meskipun seperti itu, ia tetap pergi bekerja walaupun sedang demam tinggi. Raka menutup laptopnya, ia ingin berhenti sejenak dan menutup mata untuk tidur di kursinya.
sampai beberapa menit Binar datang, lengkap dengan makan siang dan juga obat dinampan yang ia bawa. Binar meletakkan nampan itu dimeja sofa, kemudian ia berjalan kearah Raka yang sedang tidur. Binar mendekat untuk membangunkan Raka, tapi tangan Binar malah terulur untuk menyentuh dahi Raka yang terasa panas. belum Binar membangunkan Raka, tiba tiba mata Raka terbuka dan melihat Binar yang berada di hadapan nya. Raka langsung mendirikan tubuhnya, tapi rasa sakit kepala itu menyerang hingga Raka harus duduk lagi.
__ADS_1
"saya akan membantu Anda! " ucap Binar memgang lengan Raka, tapi Raka menggeleng dan mengibaskan tangan Binar pelan.
"saya baik baik saja, apa yang kamu lakukan disini! " ucap Raka pelan, Binar merasa kesal karena Raka terus menolak kebaikannya yang ingin membantu.
"anda demam RV, saya sudah bawa obat disana. tapi sebelum itu, makanlah untuk mengisi perut! " ucap Binar terdengar memaksa karena khawatir, Raka melihat makanan yang dibawa Binar. benar adanya ia ingin makan, karena tidak tahu kapan terakhir ia makan. Raka akhirnya mendirikan tubuhnya dengan memegang kursinya, Raka tidak menerima bantuan yang Binar tawarkan. Raka menguatkan diri untuk berjalan perlahan, tapi lemah sudah tubuhnya. Raka terhuyung hingga berepegangan pada rak buku, Binar langsung berlari dan menopang tubuh Raka. "saya sudah bilang RV, saya akan bantu anda untuk berjalan! " ucap Binar, Raka akhirnya menyerah dan membiarkan Binar membantunya.
Raka duduk disofa, kepalanya semakin berat saat harus berdiri. akhirnya Raka memutuskan untuk tidur saja, Binar melarang Raka untuk tidur. karena makanan yang ia pesan sudah siap untuk dimakan, dengan terpaksa Raka memasukkan sesuap demi suap kedalam mulutnya. setelah suapan terakhir, Binar memberikan susu kepada Raka dan yang terakhir obat demam. Raka merasa mengantuk setelah meminum obat, Binar membaringkan tubuh Raka dan menyelimuti Raka. tidak lupa Binar mengecilkan suhu AC ruangan disana, hingga sedikit terasa hangat.
"gue akan manggil dokter sekarang, ternyata orang ini bisa sakit juga! " ucap Binar melihat Raka yang sudah terlelap tidur, tapi saat ingin pergi Raka memegang tangan Binar dengan erat. Binar menoleh dan melihat Raka yang terlelap tidur, tapi tangan itu menggenggam dengan erat dan sedikit gemetar disana.
"RV saya ingin memanggil dokter, tenang saja anda pasti sembuh! " ucap Binar kemudian berlari mengambil HP nya, Binar menelfon dokter dan meminta dokter untuk datang dengan cepat. kemudian Binar berjalan keluar untuk mengambil alat kompres, ia mengambil kain dan mengompres dahi Raka untuk memberikan pertolongan pertama.
beberapa menit kemudian seorang dokter datang, dokter langsung memeriksa Raka yang masih tidur. Binar terkejut saat dokter mengatakan Raka demam tinggi, bahkan kekurangan makan sehingga daya tubuhnya menurun. dokter pergi setelah memberikan resep, kemudian Binar memberikan resep itu kepada asisten Raka yang bernama Farel.
"saya sudah katakan pada tuan, tapi ia tidak mendengarkan saya! " ucap Farel, Binar menoleh dan tidak mengerti maksud dari Farel. "malam itu hujan sangat deras, tuan berdiri ditengah hujan itu semalaman. bahkan saat kembali kerumah beliau tidak mau makan, bahkan beliau tidak tidur dengan nyenyak! " ucap Farel lagi, Binar terkejut dan langsung meneteskan air matanya. itu benar kesalahannya, karena ia menolak perasaan Raka hingga melakukan hal itu. dan sekarang Raka sakit, dan merugikan Raka sendiri. Binar berjalan kearah Raka, dan duduk dilantai dekat Raka yang sedang tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
"kenapa anda melakukan ini, itu akan merugikan anda sendiri! " ucap Binar menangis, ia menunduk dilengan Raka yang masih tidur. "aku tidak bisa menerima perasaanmu, aku tidak bisa RV! " ucap Binar disela tangisnya, ia bahkan tidak tahu perasaannya. Binar bingung dengan hatinya, sesaat ia memiliki perasaan aneh pada Raka, di saat lain ia memiliki seseorang dihatinya. Binar bingung, ia dilema dalam perasaan yang tidak ia mengerti sama sekali.
...****************...
entah berapa lama Raka tidur, ia membuka mata ketika merasa tenggorokannya haus. Raka merasakan kain di dahinya dan ia menyingkirkan kain itu, disaat Raka ingin mendudukan dirinya ia melihat Binar yang tertidur di sampingnya. Raka langsung mendudukan dirinya dengan pelan, berniat agar tidak membiarkan Binar bangun. Raka terkejut Binar yang duduk dilantai, saat akan bangun dari duduknya Raka terbatuk dan hal itu membuat Binar terbangun. Binar langsung berdiri melihat Raka terbatuk, Binar mengambil air dan memberikan air yang sudah ia siapkan. Raka mengambilnya dan meminum air itu sekali teguk, dan kemudian mengatur nafasnya. Raka melihat Binar yang menatapnya, kemudian Raka memijat kepalanya yang masih sedikit pusing.
"apa yang terjadi? " ucap Raka melihat sekantung kresek obat, Binar mengulas senyuman pada Raka.
"saya memanggil dokter tadi, dan itu Farel yang beli atas resep dokter tersebut. anda demam RV, butuh istirahat yang cukup dan makan yang teratur! " saut Binar, Raka hanya berdehem pelan.
"saya baik baik saja, sekarang saya ingin sendiri. pergilah dan lakukan pekerjaanmu, jangan masuk jika saya tidak membutuhkan! " ucap Raka yang terdengar dingin, hati Binar langsung merasa kecewa. mendengar Raka yang bersuara dingin, membuatnya kecewa dan juga sedih. air matanya jatuh tanpa diminta, ia tetap berdiri tanpa bergerak sekalipun. "apa tidak punya telinga, sampai tidak mendengar perkataan ku? " ucap Raka lagi, Binar mengelap air matanya dan kemudian menarik nafas.
"kenapa anda menjaga jarak dengan saya, kenapa anda seperti tidak ingin mendapat bantuan ataupun melihat saya. kenapa malam itu membuat jarak diantara kita, kenapa semuanya berubah karena malam itu! " ucap Binar kesal, ia berusaha menahan air matanya. Raka berdiri dari duduknya, ia membenarkan jasnya seperti biasanya dan kemudian menatap Binar.
"kamu adalah sekretaris saya, dan saya adalah atasanmu. kamu bekerja untuk saya, dan saya membayar atas pekerjaanmu. lalu kamu mau bagaimana menjadi seorang sekretaris, dan memang seharusnya kita menjaga jarak. agar tidak menjadi salah paham dihadapan orang lain, dan tidak mengganggu seseorang yang didalam hatimu. karena itu bersikaplah sebagai seorang karyawan, lakukan pekerjaanmu dan saya melakukan pekerjaan saya! " tegas Raka dengan dingin, runtuh sudah pertahanan Binar. ia merasa sakit hati ketika Raka mengatakan hal itu, tidak pernah ia sangka Raka akan mengatakan hal kasar seperti padanya.
__ADS_1
"maaf RV atas kelancangan saya, saya mengerti dan akan memperbaiki dalam bersikap! " ucap Binar kemudian pergi dari sana, Raka menghela nafasnya yang merasa sangat kesal. Raka melempar obat yang ada diatas meja, ia kesal telah membuat air mata gadis itu jatuh. pengecut, kau pengecut Raka.