
hari berjalan begitu cepat, tapi Binar dan Raka masih bungkam atas hubungan mereka. sampai pada akhirnya kebungkaman itu membuat penyesalan bagi Binar, pertunangan Raka diumumkan. pertunangan itu akan dilaksanakan dalam waktu dekat, bahkan tamu undangan juga sudah dibuat oleh dua keluarga. Binar hanya meratapi nasibnya dari jauh, melihat Bintang dan Raka yang sedang membicarakan tunangan keduanya. Raka bahkan tidak bicara padanya sejak lima hari, karena pertengkaran terakhir mereka yang membuat Raka akhirnya tidak peduli lagi pada Binar.
dengan santai Binar duduk diruang tamu, ia memakan camilan dan menonton TV. matanya melihat TV, tapi pikirannya sedang ada di hal lain. sampai beberapa menit Binar melirik kedatangan Raka, terlihat Raka membawa bunga yang turun dari mobil. Binar berusaha tidak peduli, karena Raka datang pasti untuk Bintang. Bintang sendiri tidak ada dirumah, Bintang sedang pergi mengajar karena pekerjaan barunya sebagai guru. dirumah pun tidak ada orang, hanya ada Binar dan satu pembantu rumah itu. sontak Binar yang teringat tidak ada siapapun, langsung kelagapan dan hendak pergi kedalam kamar. tapi ia terlambat, Raka sudah melihatnya.
Raka menatap Binar yang menggunakan daster, bahkan dengan daster pendek itu Binar terlihat cantik. Raka hanya diam melihat Binar, kemudian memandangi sluruh rumah itu.
"Bintang tidak ada dirumah, semua orang juga pergi. hanya gue yang dirumah, sama mbok min! " ucap Binar dingin, ia kembali duduk melihat TV kemudian memakan cemilannya lagi. Raka hanya tersenyum dan kemudian meletakkan benda yang ia pegang, kemudian menarik kaki Binar yang diangkat diatas kursi hingga menggantung dikursi. hal itu membuat Binar terkejut, hingga camilan yang ia bawa dilemparkan dan mengenai Raka yang ada didepannya.
"seorang wanita harusnya duduk dengan benar, apalagi kau sedang memakai daster! " ucap Raka kemudian mendudukan dirinya di sofa, Binar hanya berdehem pelan kemudian melipat kakinya dan menoleh kearah Raka.
"buat apa lo kesini, gue kan cuti! "
"kenapa kamu gak ada hormat hormat nya sama atasan, saya masih atasan kamu! " ucap Raka dengan tegas, Binar terkejut karena Raka yang bicara formal padanya. hal itu membuat Binar terluka, tapi kemudian membuang mukanya.
"iya kalau dikantor lo atasan gue, kalau dirumah gue lo calon saudara ipar gue! " saut Binar dengan membuang muka, Raka tersenyum tipis dengan itu. sebenarnya hatinya sama terluka, apalagi hubungannya dengan Binar semakin menjauh. Raka memberikan sebuah kotak pada Binar, dengan heran Binar melihat kotak itu. "apa ini? " tanya Binar dengan penasaran, Raka mengambil camilan yang dimakan oleh Binar kemudian memakannya.
"baju, mami memberikan baju itu untuk kamu pakai waktu acara tunangan kami! " serasa jantung Binar lepas ke udara, tidak ia sangka ucapan Raka menembus sampai hatinya yang paling dalam. Binar menghela nafas, ia mencoba tenang meskipun dirinya sekarang sedang gundah..
__ADS_1
"oke, bilang sama mami. makasih dari gue, aslinya gak perlu repot repot! " ucap Binar tersenyum, Raka ikut tersenyum dan menatap Binar. dengan perasaan serba salah, Binar memutuskan pergi dari sana. tapi saat akan pergi, Raka menarik tangan Binar untuk mencegah Binar pergi. dengan terkejut Binar hanya terdiam, ia tidak menoleh kearah Raka.
"Binar apakah sudah terlambat? " ucap Raka, ia berharap ada kesempatan untuk memutuskan hubungan dengan Bintang. dan memulai kembali dengan Binar, tapi melihat kekerasan Binar Raka tidak berharap akan itu semua. "Binar kita seharusnya bilang pada Bintang, kalau kita punya hubungan. aku hanya mencintaimu, dan masa depanku aku ingin hanya kamu dan selalu kamu. bukan orang lain, apalagi Bintang!" Binar melepaskan tangan Raka, kemudian menoleh dan tersenyum melihat Raka.
"Raka kita sudah bahas ini sebelumnya, gue sama lo ditakdirkan menjadi saudara.jadi gue mau lo atau kita gak bakal ungkit ungkit tentang kita lagi, kita bisa mulai persahabat kita kayak dulu! " jelas Binar, Raka tersenyum miris pada Binar. tapi saat Raka ingin bicara, mereka mendengar suara benda jatuh. mereka menoleh secara bersamaan, ternyata bukan benda jatuh melainkan Bintang yang jatuh pingsan disamping pintu. sontak membuat Binar dan juga Raka berlari, menghampiri Bintang yang tiba tiba pingsan. "Bintng, bangun Bintang! " ucap Binar, ia panik sama juga dengan Raka dengan cepat Raka menggendong tubuh Bintang, dan kemudian meletakkan Bintang diatas sofa. "gue telfon dokter! "
"tidak ada waktu memanggil dokter, kita harus bawa kerumah sakit! " ucap Raka kemudian mengangkat tubuh Bintang, setelah sampai dimobil Raka meninggalkan rumah itu menuju rumah sakit. Binar menggosok telapak tangan Bintang, tapi Bintang tidak membuka matanya sama sekali.
sampainya dirumah sakit Bintang dibawa diruang ICU, Binar dan Bintang benar benar panik. tidak mungkin Bintang pingsan tanpa penyebab, karena memang Bintang tidak pernah sakit sebelumnya. Raka melihat Binar yang terlihat khawatir dan juga cemas, sesekali pria itu ingin menempatkan tangannya pada pundak Binar. tapi Raka ragu, ia tidak ingin terluka saat Binar menolak sentuhannya.
"Raka apa Bintang mendengar perkataan kita? " ucap Binar khawatir, yang ia khawatirkan juga adalah ia takut Bintang mendengar pembicaraan nya dengan Raka sebelumnya. belum Raka menjawab dokter keluar dari ruang ICU, Binar dengan cepat menghampiri dokter itu. "bagaimana dokter, apa yang terjadi? "
"kenapa kalian membawa ku kerumah sakit? " ucap Bintang pertama kali saat Binar dan Raka masuk, Binar tidak menyangka orang yang dikhawatirkan terlihat baik baik saja.
"ya lo ngapain pingsan didepan pintu, ngegetin kita aja! " ucap Binar duduk dengan cepat disofa, Raka duduk disamping Bintang. sesaat Bintang menatap mereka berdua, Binar khawatir Bintang mendengar pembicaraan mereka. tapi tidak dengan Raka, ia ingin Bintang mendengar semuanya. agar dirinya terlepas dari belenggu ini, agar ia bebas untuk mencintai Binar.
"iya ketika aku pulang, aku lihat mobil Raka. dan lihat kalian ngobrol, mau aja ngagetin kalian. eh malah perutku sakit banget, dan gak sadar deh tiba tiba pingsan dipintu! " ucap Bintang tersenyum, Binar yang mendengar itu menghela nafas. ia lega, entah apa yang membuatnya lega.
__ADS_1
"iya selamat, lo udah buat gue dan Raka kaget! " ucap Binar kerus, Bintang tertawa pelan kemudian melihat Raka yang tersenyum padanya. Bintang memegang tangan Raka, dan Raka pun membalas itu dengan senyuman.
"kita bakal tunangan minggu depan, jangan sampai kamu sakit! " ucap Raka tersenyum, Bintang sangat bahagia Raka peduli padanya. Bintang memasang senyum terbaiknya, Raka sendiri tersenyum pada Bintang. lalu mereka membicarakan hal yang tidak diketahui Binar, ia hanya duduk jauh dari mereka menatap mereka berdua yang asik bicara.
...****************...
hari yang ditunggu telah tiba, acara pertunangan Raka dan Bintang diselenggarakan. banyak tamu dari keluarga Raka datang, bahkan teman teman Raka juga datang. begitu pun sebaliknya, keluarga Binar dan juga temannya ikut serta merayakan. Binar yang melihat keramaian itu ikut bahagia, ia ikut menyapa dan menyambut teman temannya serta keluarganya. Binar melihat Bintang yang sudah cantik dikamar mandi, Binar memeluk Bintang dari belakang.
"cantik sekali kembaranku ini! " ucap Binar memeluk Bintang, senyum Bintang terlihat jelas. ia tersenyum pada Binar, dan kemudian mengusap pipi Binar.
"kamu juga cantik! " saut Bintang, Binar tersenyum dan mengangguk. Binar membawa Bintang turun ke aula acara, disana Raka menunggu dengan beberapa orang lainnya atau tamu undangan. Raka sedikit terpukau dengan kecantikan Binar, dengan gaun berwarna merah muda yang cocok ia pakai. sedangkan Bintang yang salah mengira Raka menatapnya, Bintang tersenyum dengan malu. Bintang tidak kalah cantik dengan Binar, Bintang yang menjadi peran utama acara itu sangat cantik dan juga menawan, dengan berwarna keunguan yang sangat indah. acara telah dimulai, Raka dan Bintang segera bertukar cincin. sangat meriah dan juga membahagiakan, Binar yang melihat dari jauh merasa ikut bahagia. kini dirinya akan benar benar merelakan Raka, merelakan cintanya pergi demi bersatu dengan saudarinya. demi orang yang dicintainya, demi membuat saudarinya bahagia. Raka mendekati Binar ditengah acara, Binar yang sedang asik mengobrol tidak sadar Raka ada disampingnya. sampai Rak mendekat ditelinga Binar, hal itu membuat terkejut tapi terdiam sejenak.
"selamat Binar, selamat kau telah melukai tiga hati sekaligus. dua hati orang yang saling mencintai, dan satu hati yang tidak mengerti apapun! "
...****************...
__ADS_1
Binar cantik bgt😬 jgn lupa Like komen dan juga vote kalian.