
rumah sakit dibuat heboh oleh kecelakaan yang terjadi, kecelakaan dua orang gadis sekaligus. kecelakaan tunggal membuat Bintang dan Binar harus menjalani masa kritis, keduanya terluka parah akibat benturan yang keras. keluarga mulai berkerumun dirumah sakit itu, rasa duka orang tuanya sulit untuk diartikan. Raka sendiri menyetir mobil secara ugal ugalan setelah mendengar kecelakaan itu, ia sempat mendengar telpon suara keributan yang tidak pernah ia bayangkan itu adalah kecelakaan.
Raka berlari kearah ruang ICU yang menjadi keberadaan kedua gadis itu, dilihat gadis itu sangat parah dengan bersimbuh darah ditubuhnya. Raka mendelik terkejut, saat ia ingin masuk dokter dan perawat melarangnya masuk. tatapannya melihat kearah sikembar, gadis itu sangat parah darah banyak ditubuhnya. Raka ditenangkan oleh ayah Si kembar, tapi Raka malah menangis dalam diamnya dipeluk ayah Adrianto.
"bagaimana ini terjadi, bagaimana! " ucap Raka sedih, kedua orang tua itu menggelengkan kepalanya. orang tua Raka juga sudah hadir disana, mereka melihat untuk pertama kalinya putra mereka menangis dihadapan semua orang.
dua gadis itu saling berjuang untuk nyawa mereka, Bintang masih sedikit membuka mata tapi tidak dengan Binar yang menutup mata. Bintang ingat gadis itu memeluk dirinya saat kecelakaan terjadi, tubuh gadis sampai terbentur berulang kali yang diingat Bintang. wajah Binar bahkan penuh dengan lumuran darah, Bintang menangis dengan rasa perih yang ia rasakan. gadis itu memegang tangan Binar, dan menggenggam dengan kuat tangan itu. suaranya tercekat ditenggorokan, wajahnya juga terluka karena serpihan kaca yang mengenai dirinya. perawat membawa tangan Bintang untuk tidak menyentuh Binar, dan keduanya diberikan jarak. dokter menangani keadaan Binar yang kritis, sampai Bintang juga merasakan sesak dalam nafasnya dan akhirnya menutup mata. kini keduanya dinyatakan dalam keadaan kritis, dokter dan perawat masih mengusahakan keduanya selamat meskipun hanya sedikit kemungkinan.
sudah hampir berjam jam berlalu, dokter akhirnya keluar dari ruang operasi. mereka yang sudah menunggu begitu lama, langsung berjalan mendekati dokter. mereka bertanya bagaimana keadaan keduanya, pernyataan mereka hanya dijawab ketenangan oleh dokter.
"keduanya terluka sangat parah, serpihan kaca ditubuh mereka susah untuk dibersihkan. salah satu dari mereka terluka sangat parah, dan dalam keadaan koma. saya tidak bisa membedakan keduanya, mungkin kalian yang keluarganya bisa mengenali keduanya! " ucap dokter kemudian mempersilahkan semuanya masuk, mereka masuk dengan ketenangan dan menatap dua gadis yang terbaring diatas ranjang rumah sakit.
__ADS_1
mereka menangis melihat dua gadis itu, perban terbalut ditubuh dua gadis tersebut. bahkan wajah mereka hampir seluruhnya tertutup, hanya terlihat mata hidung dan mulut mereka. ibu sikembar menangis dalam pelukan suaminya, ia tidak kuat melihat kedua putrinya seperti itu. Raka tidak tega melihat keduanya, ia hanya bisa diam tanpa berkata.
"luka lebih banyak terjadi pada satu pasien sebelah kiri, tapi tidak membuat dirinya dalam keadaan koma. dan pasien sebelah kanan mengalami luka dalam, yang mau tidak mau dirinya harus kehilangan kesadaran! " ucap dokter itu, dokter memberikan sebuah cincin pada orang tua sikembar. dokter menjelaskan cincin itu berada di dalam genggaman salah satu mereka, dan terjatuh ketika perawat membersihkan luka salah satunya. semua orang disana masih tidak bisa memastikan, siapa Binar dan siapa Bintang.
...****************...
kecelakaan itu membuat pernikahan yang harusnya terjadi dalam waktu tiga hari itu, diundur karena keadaan Bintang yang tidak terkondisi. Raka menemani mereka berdua didalam ruangan, dua hari Raka menemani mereka yang setia dengan tidurnya. Raka terus bersumpah tidak akan menikah sebelum kedua gadis itu benar benar sembuh, tidak peduli dirinya harus menikah dengan siapa. sampai saat ini ia tidak bisa mengenali mana Binar dan mana Bintang, karena memang keduanya masih belum terlihat dan dikenali. sampai salah satu dari mereka menggerakkan tangannya, pergerakan itu dilihat oleh Raka. pria itu bingung siapa yang sedang bergerak itu, ia bahkan tidak bisa memanggil nama mereka jika salah.
"air... " hanya itu yang terdengar, dengan cepat Raka memberikan air di atas meja. Raka membantu gadis itu untuk minum, hingga selesai gadis itu membuka mata menatap pria yang ada disampingnya. Raka sendiri memanggil dokter dan perawat disana, sedetik kemudian gadis itu diperiksa oleh Dokter.
"ia hanya luka diluar tidak terlalu parah, akan cepat sembuh dalam waktu dekat. anda tenang saja tuan, dia akan pulih secepatnya! " ucap dokter itu tersenyum, Raka pun mengangguk dengan senyum. mereka melihat kearah sikembar lain, dengan begitu banyak kabel infus yang dipasang. gadis itu lebih parahparah hingga kritis sampai sekarang tidak ada keinginan membuka mata, dokter mengatakan pemilihannya lebih lama untuk luka dalam yang dialami. dokter keluar setelah menjelaskan kesehatan kedua gadis itu, Raka membiarkan kearah gadis yang sempat sadar dan memberikan senyum terbaiknya.
__ADS_1
"bagaimana keadaanmu? " ucap Raka mengusap rambut gadis itu, dengan lemah gadis itu tersenyum. Raka menatap luka yang separuh melukai wajah gadis itu, meskipun wajahnya terluka masih terlihat ia tersenyum manis.
"gue baik baik saja! " Raka terkejut mendengar suara itu, logat dan kebiasaan bicara itu sama dengan Binar yang biasanya bicara dengannya. Raka tersenyum dan langsung memeluk tubuh lemah gadis itu, dengan lemah gadis itu memukul Raka. "kenapa... lo meluk gue sih, ini sakit luka gue! " ucap gadis itu lemah dan lirih, Raka tersenyum dan mencium tangan gadis itu dengan senang.
"maafkan aku, aku begitu senang kamu sudah bangun! " ucap Raka lirih, gadis itu tersenyum. kemudian menoleh kearah gadis yang masih terbaring sedikit jauh, gadis itu meneteskan air matanya melihat itu. Raka mengusap air mata gadis itu, mencoba memberikan ketenangan yang hangat.
"harusnya gue gak ngajak ribut Bintang, pasti kecelakaan ini gak akan pernah terjadi! " ucap gadis itu dengan menangis, Raka menenangkan gadisnya yang terus menangis.
"kenapa kalian ribut didalam mobil, apakah tidak ada tempat lain? lagi pula kalian kan tidak pernah bertengkar, lalu kenapa? " ucap Raka penasaran dengan apa yang terjadi, tapi ia tidak bisa memaksa gadis itu untuk bicara. ia tahu gadis itu masih sangat lemah, tidak akan bisa bicara banyak.
beberapa menit kemudian orang tuanya datang bersamaan orang tua sikembar, ibu gadis itu memeluk tubuh gadis itu dengan pelan. tubuhnya masih lemah karena terluka, bicara pun hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Raka mengatakan gadis yang sudah sadar itu adalah Binar, dan yang sedang terbaring kritis tidak berdaya adalah Bintang. sampai dokter meminta mereka semua keluar, agar dua pasien bisa istirahat dengan tenang.
__ADS_1
gadis itu membuka matanya saat ia merasa keadaan sudah sepi, ia menoleh kearah gadis disebelah ranjangnya. masih ada sisa tangisan dimata nya, ia bahkan tidak bisa berdiri sendiri menghampiri saudarinya itu.
"maaf kan aku..."