
keesokan harinya Binar pergi kerumah sakit, dengan tenang Binar datang dan melihat Raka yang sudah bangun. Raka duduk dengan melihat arah luar jendela, Raka tidak menyadari kehadiran Binar. dengan perlahan Binar meletakkan sarapan Raka ditas meja, hal itu baru disadari Raka dan langsung menoleh kearah Binar. Raka yang sudah tahu kalau Binar sedang marah padanya, Farel menceritakan semua yang terjadi hingga Farel memberikan KTP pada Binar. Raka sempat kesal karena Binar akhirnya tahu siapa dirinya, tapi ia tidak bisa mencegahnya lagi karena itu semua sudah terjadi.
Binar melakukan tugasnya untuk merawat Raka, dengan tenang ia tidak ingin membahas hal yang tidak ia inginkan. sampai Raka memegang tangan Binar, karena merasa Binar mendiamkannya. Binar melepaskan tangan itu dan mengambil air, ia membantu Raka meminum air itu dan kembali meletakkan gelas diatas meja.
"Binar... " panggil Raka saat Binar akan keluar, suara itu terdengar lemah membuat hati Binar lemah. Binar tidak menoleh dan hanya diam di tempatnya, Raka tersenyum melihat itu. "kupikir kamu hanya membenci Raka saat kecil, tapi ternyata kamu masih membenci Raka sampai sekarang! " ucap Raka, Binar meneteskan air matanya dan mengelapnya sekilas.
"iya gue baru tahu kalau lo ternyata Raka, dan kenapa lo sembunyiin itu dari gue? " ucap Binar yang menjadi sosok Binar sebenarnya, Raka tersenyum sebelum menjawab.
"karena aku takut kamu membenciku, seperti sekrang saat kamu tahu aku Raka, kamu membenciku dan tidak melihatku! " ucap Raka, Binar kesal hingga tubuhnya gemetar disana. Binar pergi tanpa bicara apapun, Raka yang melihat itu hanya diam karena merasakan sakit pada kepalanya. Binar masuk kedalam toilet, ia menangis sejadi jadinya disana. tangis yang sudah ia tahan sejak dirumah, Binar meluapkan tangisannya agar hatinya merasa lega.
"kemarin gue pikir bakal nerima perasan lo, tapi kenapa itu harus lo. kenapa itu harus elo Raka, kenapa!!! " ucap Binar menangis menatap dirinya dicermin, hatinya merasa sakit ketika tahu kalau bosnya adalah Raka. sesaat Binar menyadari perasaanya pada bosnya, tapi sesaat kemudian ia tahu kalau perasaannya untuk Raka. Binar sudah menyimpan perasaannya untuk Raka, ia mencoba untuk membuka hati untuk bosnya. mana pernah ia sangka kalau bosnya adalah Raka, mereka satu orang sama. bahkan ada hati yang menyukai Raka, dan ia tidak bisa menyakiti hati orang itu dengan keegoisannya.
sudah tiga hari Raka dirumah sakit, tugas Binar yang bekerja berganti menjaga Raka yang sedang sakit. Raka terus mencari perhatian Binar, tapi Binar sendiri seakan tidak peduli dengan Raka dan hanya melakukan tugasnya untuk merawat Raka. dengan kesal Raka menarik tangan Binar, ia menarik Binar hingga mendekat ke tubuhnya yang sedang duduk diatas kasur rumah sakit.
"apa yang kau lakukan? " tanya Binar memberontak, Raka memeluk Binar tanpa ijin. hal itu membuat Binar terkejut, ia membalakkan matanya merasakan pelukan Raka.
"Binar maafin aku, maaf sudah bohong sama kamu. aku Raka, aku Raka Virendra sahabatmu. tolong jangan diamkan aku Binar, bicaralah padaku! " ucap Raka saat memeluk Binar, ia tidak memperdulikan Binar yang terus memberontak. "salahkah aku jika menyukaimu, aku menyukaimu bukan hanya sekarang!"
"tapi aku tidak menyukaimu, lepaskan jaga sikapmu! " teriak Binar mendorong tubuh Raka, segera Binar berjalan cepat keluar dari ruang inap Raka. dengan hati terluka Raka mengehela nafas, ia tahu Binar juga menyukainya. hanya saja Binar masih belum menerima kalau dirinya Raka, Raka yang sempat Binar benci saat kecil dulu. Binar sendiri bukannya menjaga jarak pada Raka, ia hanya tidak ingin memeliki perasaan pada Raka. ia ingin menghilangkan semua perasaannya pada Raka maupun pada bosnya, bisa tidak bisa ia harus tetap bisa.
__ADS_1
...****************...
Hari kembali normal, Raka kembali bekerja meskipun kepalanya masih terbalut dengan perban putih. sekarang pikirannya kacau, kepala nya sakit melanda. ketika melihat surat pengunduran diri Binar, tidak ia sangka gadis itu sangat membencinya hingga mengundurkan diri dari pekerjaannya. dengan kepala berat Raka meambggil Binar melalui telfon ruangannya, beberapa menit kemudian Binar datang dan berdiri di hadapan Raka. dengan kasar Raka membuang surat pengunduran diri itu, Binar mengambil kertas itu dan memberikannya kepada Raka lagi.
"apa maksudnya, apa kamu ingin pergi dari saya? " ucap Raka terdengar frustasi, Binar menghela nafasnya dan mengangguk.
"setelah saya memikirkannya dengan mantab, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan ini! "
"kenapa, apa karena saya Raka jadi kamu mengundurkan diri? " Binar terdiam, ia memalingkan wajahnya ketika Raka menatapnya. Raka berdiri dan mendekat kearah Binar, dengan gusar Binar berjalan mundur ketika Raka terus maju untuk mendekat. "seberapa benci kamu sama saya, sampai kamu melakukan hal ini. katakan Binar, katakan seberapa benci kamu padaku! " ucap Raka memegang erat bahu Binar, sampai gadis itu merasa kesakitan dan mendorong tubuh Raka.
"aku tidak mau banyak bicara, mending anda setujui surat itu dan kemudian selesai. saya akan pergi dari sini, silahkan cari sekretaris lain! " ucap Binar, Raka yang sudah lelah dengan semua itu mengangguk. Raka keluar dari ruangan itu, dengan heran Binar menatap kepergian Raka. Binar akhirnya mengikuti langkah Raka, dengan cepat Raka masuk kedalam lift dan meninggalkan Binar yang belum masuk. Binar berlari kearah lift lain, ia bingung apa yang dilakukan Raka hingga berhenti dilantai atas. setelah lift terbuka Binar berlari mengikuti langkah Raka, kini mereka berada di paling atas gedung perusahaan milik Raka.
. "aku tanya padamu Binar, kenapa kau begitu membenciku sampai ingin jauh dariku? " ucap Raka lagi dengan berjalan muncur, Binar yang tidak ingin membahas itu sangat kesal.
"Bintang, dia mengharapkanmu kembali. setiap saat, setiap waktu dia berharap Raka sahabatnya kembali. dan ternyata Raka yang ia tunggu sudah bertemu dengannya, sudah ia kenal sebelumnya. hanya saja pria itu tidak bicara kalau dirinya adalah Raka, dia berbohong hingga mulus dan lancar! " cerita Binar yang tidak masuk akal, Raka tersenyum dengan itu.
"lalu kau, apa kau tidak mengharapku kembali. apa kau... tunggu dulu, aku tanya siapa pria yang ada didalam hatimu? " suara itu menggema di telinga Binar, pria yang ada didalam hatinya adalah Raka sendiri. "aku tahu sekarang, kau membenciku karena Bintang yang menyukaiku. kau ingin membenciku hingga aku membencimu juga, dan saat itu juga kau memberikan cintamu kepadamu Bintang. iya kan, apa benar seperti itu? "
"bagaimana jika iya, iya aku melakukan untuk itu! " Raka berjalan mundur di setiap langkahnya, Binar menedelim melihat itu. karena dibelakang Raka adalah jalan raya, dan gedung tinggi itu bisa mengahcurkan tubuh Raka menjadi serpihan dibawah sana. "apa yang anda lakukan RV, berhenti disana! "
__ADS_1
"untuk apa aku hidup Binar, bertahun tahun aku menangan siksaan untuk bertemu denganmu. aku berusaha menjadi sukses, agar aku bisa pergi kemana pun yang aku mau. tapi untuk apa aku hidup sekarang, jika yang aku mau itu tidak menginginkan aku. Binar tolong sekali saja bilang padaku, bukan hanya Bintang yang yang mengharap aku kembali. tapi juga kau, kau juga mengharap aku kembali! " Ucap Raka yang terus mundur, tubuhnya semakin dekat dengan pinggiran gedung itu.
"tolong berhenti RV, anda tidak bisa mundur terus seperti itu! " ucap Binar yang khawatir, Raka tersenyum tidak memperdulikan Binar.
"katakan kau mencintai Raka, katakan kau mengharapkan Raka kembali dan mencintaimu. katakan Binar, aku ingin mendengarnya darimu! "
Binar tidak bisa mengatakan semua itu, mulutnya keluh kakinya kebas. bayangan bayangan Bintang berada dimatanya, Bintang yang sangat mengharap Raka kembali terlihat jelas dimatanya. tapi kini yang di hadapan nya dengan nyata, pria yang ia harapkan pria yang selalu ada dihatinya sedang bermain dengan nyawanya. hanya ingin mendengar ia mengatakan cinta, pria itu rela membunuh dirinya jika tidak mendengar kata cinta dari nya. Raka yang menatap Binar terdiam akhirnya tersenyum, karena ia merasa langkahnya sudah sangat dekat untuk melangkah turun dari gedung itu. itulah takdirnya, membunuh dirinya demi mendapat sebuah cinta dari Binar.
"iya aku mengharapkanmu, aku selalu mengharapkanmu kembali! " teriak Binar dengan cepat, Raka yang sempat menutup mata langsung membuka matanya. kakinya berhenti untuk melangkah, ia melihat Binar yang tersenyum padanya. "aku selalu berharap kamu datang, karena kamu selalu ada dihatiku. beberapa hari ini aku menyadari kalau aku sangat mencintai RV, tapi aku juga mencintai Raka didalam hatiku. sampai aku tahu ternyata mereka orang yang sama, mereka satu orang! "
"gue suka sama lo sejak lama Raka, dan gue cinta sama lo RV. kasih tahu gue, kasih gue arahan gimana gue harus bersikap! " teriak Binar kemudian menangis, gadis itu merosot dan duduk disana dengan tangisan pilu. Binar tidak ingin menyakiti Bintang, dan tidak juga membunuh Raka. dengan berlari Raka memeluk tubuh Binar, tangis Binar pecah dalam pelukan Raka. "gue gak bisa lihat lo terluka, kenapa lo harus maksa gue dan lakuin hal itu. gue takut Raka, gue takut kehilangan lo! " ucap Binar lagi dengan tangisannya, Raka tersenyum memeluk tubuh Binar.
"aku tahu kamu punya perasaan yang sama kayak aku, aku tahu itu Binar. orang yang selalu aku cintai adalah kamu Binar, aku menyukaimu sejak pertama kali kita dulu berteman. bahkan aku mencuri fotomu diam diam, karena kamu akan marah jika aku mengambil foto itu! " ucap Raka yang masih memeluk Binar, dengan menangis Binar tersenyum mendengar itu. Raka menagkup wajah Binar, diusap nya air mata Binar yang terus mengalir. "aku tidak peduli dengan perasaan orang lain, yang aku tahu hanya aku mencintai Binar Andriana. bertahun tahun aku ingin bertemu dengan Binar, bukan dengan orang lain! " ucap Raka penuh dengan cinta, Binar menangis kemudian memeluk Raka dengan erat.
"iya aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu!"
"siapa yang kau cintai Binar, RV ataukah Raka? " ucap Raka menggoda Binar, Binar tertawa disela tangisnya.
"keduanya, aku mencintai Raka dan juga RV! " ucap Binar tertawa meskipun terdengar menangis, Raka ikut tertawa dan langsung memeluk erat Binar. hatinya benar benar bahagia, ia telah mendapatkan hati dari gadisnya. Binar sendiri merasa lega telah mengatakan segalanya, Binar akan memikirkan tentang Bintang nanti. yang terpenting sekarang ia menyelamatkan seseorang yang ia cintai, dan menyelamatkan perasaannya.
__ADS_1