
setelah membersihkan diri, Binar masuk kedalam ruang inap Bintang. dengan tubuh yang sudah bersih, Binar menaikkan selimut Binar hingga ke leher. Binar telah menghubungi keluarganya, Binar meminta mereka untuk tidak khawatir dan meminta mereka untuk tidak datang. karena memang hari sudah malam, banyak pasien yang ingin istirahat begitu juga dengan Bintang yang sudah menjadi pasien. Binar menoleh kearah Raka yang tertidur disofa, wajahnya tidur dengan tenang dan nafas yang teratur. Binar teringat sempat berteriak pada Raka, ia mendekat kearah Raka dan duduk didekat Raka. dengan tidak sadar Raka menggeliatkan tubuhnya, dan beralih memeluk Binar yang ada disampingnya.
"Raka maafkan aku! " ucap Binar pelan, Raka yang sudah terbangun hanya tersenyum.
"kenapa minta maaf, kamu tidak salah apapun! " ucap Raka serak khas orang bangun tidur, Binar merasa bersalah sempat membentak pria itu. bahkan pria itu dengan setia menemani nya hingga pagi, tanpa harus mengeluh dan terus memasang senyumnya.
"aku berteriak tanpa alasan! "
"cukup tidak perlu dibahas lagi, aku ingin mencuci muka sekarang! " ucap Raka kemudian berjalan pergi, ia sudah malas membahas kejadian sebelumnya. entah kenapa Raka hanya kesal jika ada yang membahas itu lagi, apalagi Binar yang membahasnya.
Raka keluar dari kamar mandi, sebuah satu set pakaian tersedia di meja. Raka mengenal baju itu, dan memang baju itu adalah pakaian untuk Raka. ia berpikir memang Binar yang menyiapkan nya, Raka tersenyum kemudian hendak masuk lagi kedalam kamar mandi. belum sempat melangkahkan kakinya, Raka mendengar suara keluhan disana. siapa lagi kalau bukan suara Bintang, karena hanya mereka berdua disana. Raka berjalan ke arah Bintang, terlihat Bintang menggerakkan kepalanya dan langsung membuka mata.
"Bintang kau sudah bangun? " ucap Raka senang, Bintang mengerjapkan matanya dan kemudian menatap Raka. "aku akan memanggil dokter! "
"Raka! " panggil Bintang dengan suara serak, Raka yang akan pergi kembali menoleh kearah Bintang. suara pertama yang dikeluarkan Bintang, adalah menyebut namanya. "Raka... kau Raka... " ucap Bintang lagi, Raka akhirnya tersenyum dan mengangguk.
"iya aku Raka, apa kabarmu? " ucap Raka tersenyum, Bintang yang hanya bisa bicara seadanya menangis disana. ia menyentuh tangan Raka dengan tangan kirinya, tangisnya pecah saat itu. "apa ada yang sakit, aku akan panggil dokter! "
"kenapa kau tidak bilang padaku, kenapa kau berbohong padaku! " ucap Bintang lagi, Raka hanya tersenyum dan mengusap air mata Bintang.
"hanya menunggu waktu yang tepat, maafkan aku! " ucap Raka lagi, Raka memegang tangan Bintang dengan sayang untuk menenangkan gadis itu. tanpa disadari Raka dan Bintang, berdiri lah Binar didekat pintu. Binar melihat mereka dengan seksama, ada rasa tidak rela jika sesuatu menyentuh miliknya.
"iya Bintang, dia keterlaluan! " ucap Binar mengusap air matanya, Raka dan Bintang menoleh kearah Binar yang datang. "ternyata bos yang menyebalkan ini, adalah Raka. ya Tuhan gue kerja sama Raka selama ini, dan gue juga baru tahu! " ucap Binar terlihat ceria, Bintang tersenyum mendengar itu. tatapannya menatap Raka, Binar bisa melihat tatapan itu penuh dengan cinta. tanpa Binar sadari juga, Raka tidak menyukai perilaku Binar saat ini. "gue akan panggil dokter sekarang, untuk periksa keadaan lo! " ucap Binar, ia langsung berjalan cepat dan memanggil dokter.
__ADS_1
beberapa saat kemudian dokter memeriksa keadaan Bintang, gadis itu sehat dengan cepat. hanya saja tangan dan kakinya terkilir, itu akan berjalan waktu hingga beberapa waktu. tapi tidak masalah bagi Binar, karena nyawa Bintang lebih berharga. Binar ada untuknya, ia bisa menjadi kaki dan juga tangan Bintang.
Bintang terlihat senang melihat Raka, ia tidak hentinya tersenyum melihat Raka. Bintang sendiri tidak menyangka, Raka yang ditunggu nya beberapa tahun kini ada dihadapannya. Raka sendiri hanya tersenyum sekilas, ia senang Bintang sudah bangun tapi Raka tidak suka saat Bintang menatapnya.
"aku akan kembali bekerja! " ucap Raka, Bintang memegang tangan Raka yng hendak pergi.
"apa kau akan kembali kesini nanti? " ucap Bintang memelas seperti anak kucing, Raka yang tidak tega akhirnya mengangguk. kemudian ia melihat Binar yang berdiri membelakanginnya, Raka ingin memanggilnya tapi suaranya tercekat ditenggorokannya. pada akhirnya Raka pergi tanpa mengatakan apapun pada Binar, Bintang yang melihat itu menatap mereka berdua bergantian. "Binar kamu masih benci sama Raka? " tanya Bintang, Binar yang mendengar itu tersenyum dan mendekat kearah Bintang.
"iya apalagi dia bos gue, hadeeuhh! " ucap Binar tertawa, Bintang tertawa mengikuti Binar. mereka berdua memakan buah apel yang Binar kupas, pikiran Binar terus berputar wajah Raka.
...****************...
Binar datang ke perusahaan setelah merawat Bintang, hal yang pertama ia lakukan adalah mencari Raka. untuk membicarakan hal yang belum selesai, entah apa yang membuat mereka menjauh, Binar merasa Raka sedikit mendiamkannya. Binar membuka pintu ruangan Raka tanpa mengeruk pintu, menampilkan Raka yang sibuk dengan laptopnya dan hanya melihat Binar dengan sekilas. Binar meletakkan teh diatas meja, kemudian berjalan mendekat kearah Raka dengan perlahan.
"apa kita sepasang kekasih? " tanya Raka menopang dagunya, Binar sendiri tidak tahu apa hubungan mereka. tapi yang Binar ketahui ia mencintai Raka, dan Raka mencintai Binar. "kenapa kau tidak bilang pada Bintang kalau kita saling mencintai, bagaimana... "
"apa maksudmu, aku tidak bisa mengatakan itu. Bintang sangat mencintaimu, dan aku... "
"itu membuatnya akan semakin berharap, dengan dia yang tidak tahu tentang kita. padahal aku sama sekali tidak tertarik pada Bintang, bagaimana jika dia lebih tahu aku tidak tertarik. itu akan semakin melukainya, hatinya akan lebih terluka! " tegas Raka, Binar hanya diam tidak bisa berkata apapun. "aku kecewa padamu, bukankah kita baru saja membuat komitmen. kau ataupun aku, tidak akan mengatakan siapa Raka sebenarnya. tapi kau mengingkari komitmen itu... " ucap Raka lagi, ia berdiri dan membenarkan jasnya yang sedikit berantakan. Binar menarik tangan Raka yang baru saja akan pergi, Raka yang ditarik tangannya menoleh kearah Binar.
"lalu aku harus bagaimana Raka, bagaimana? " ucap Binar, Raka melepas tangan itu dengan senyuman.
"entahlah Binar, kita ikuti saja alur waktu yang berjalan! " ucap Raka kemudian pergi dari sana, Binar hanya terdiam karena memang sudah marah dibuat oleh nya..
__ADS_1
...****************...
Binar terus mencari perhatian Raka, agar Raka mau memaafkannya dan juga tidak mendiamkannya. berbagai cara ia lakukan, tapi Raka tetap mendiamkannya dan tidak melihatnya sama sekali. Raka sendiri hanya malas untuk menanggapi Binar, ia berusaha menyibukkan dirinya hingga tidak melihat Binar.
keesokan harinya Binar datang dengan ceria, ditangannya membawa sebuah kotak makan. Binar memasak pagi hari untuk membuatkan sarapan untuk Raka, dengan semangat ia membawa agar Raka mungkin akan memperhatikannya. Raka hanya mmelirik sekilas, tapi pandangannya diperlihatkan sesuatu yang membuatnya terbelalak. Raka langsung berdiri dan menghampiri Binar, dengan terkejut Binar ditarik Raka hingga mepet dengan dirinya. Raka meletakkan kotak makan yang dibawa Binar, kemudian melihat jari dan telapak tangan Binar. ia menyusuri setiap tangan Binar, penuh dengan luka memar dan merah disana. terutama jarinya, jari itu terbalut plaster disetiap jarinya.
"apa ini? " tanya Raka, Binar tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.
"aku memasak sarapan untukmu, dan ini terkena minyak panas! " saut Binar, Raka merasa kesal dengan itu. Raka membawa Binar duduk disofa, dan ia mengambil kotak obat diatas rak buku. Raka mengeluarkan sebuah salep disana, tertulis salep untuk luka bakar.
"apa kau tidak bisa diam, kenapa harus memasak untukku!" kesal Raka yang terus mengoceh, Binar hanya menatap Raka yang terus telaten mengobati tangannya.
"aku hanya ingin merayu, dari kemarin anda mendiamkan aku!" ucap Binar tanpa dosa, Raka menatap wajah tanpa dosa itu kemudian menghela nafasnya.
"aku tidak mendiamkanmu, aku hanya sibuk! " sela Raka, Binar menggelengkan kepalanya.
"bohong, kau marah padaku! " ucap Binar matanya berkaca kaca, Raka langsung menangkup wajah Binar kemudian menberikan senyum terbaiknya.
"aku jujur sayang, aku tidak marah padamu. jangan pernah melakukan apapun yang tidak aku perintahkan, karena aku tidak ingin kau terluka dengan hal yang kau lakukan! " ucap Raka tersenyum, Binar langsung mengangguk setuju kemudian tersenyum. Raka yang merindukan gadis itu, langsung memeluk gadis itu untuk membuatnya senang. Binar yang dipeluk sayang, membalas pelukan itu dan tersenyum bahagia.
"Raka aku mencintaimu! " bisik Binar, Raka tersenyum kemudian mencium pundak Binar.
"aku juga mencintaimu! "
__ADS_1