Binar Dan Bintang

Binar Dan Bintang
tidak berjodoh.


__ADS_3

Binar termenung didalam kamarnya, ia menekan tombol on-off lampu dekat kasurnya. air matanya sudah terbendung dimatanya, tapi Binar tidak bisa meluapkan air mata itu. Binar tidak ingin banyak pertanyaan kenapa ia menangis, Binar memilih untuk tetap diam dan menyimpannya. sebuah perjodohan yang sempat ia tolak, ternyata malah hal yang harusnya ia Terima. ia tidak tahu bagaimana akan melanjutkan hubungan dengan Raka, setiap kali ia ingin menetang semua itu kembali juga ia membayangkan wajah Bintang yang terlihat bahagia. bagaimana tidak, Bintang yang selalu berharap pada Raka tentu akan bahagia dijodohkan dengan Raka. tidak mungkin Binar menghancurkan kebahagiaan dan impian Bintang, karena sama saja menghancurkan Binar yang melihat Bintang terluka. Binar memutuskan memejamkan mata untuk tidur, ia tidak tahu bagaimana akan menghadapi Raka. ia tidak siap bertemu Raka, ia tidak siap untuk bicara dengan Raka.


pagi hari Binar bersiap untuk pergi ke kantor, ia sudah rapi dengan rambut yang ia gerai. rambut lurusnya berwarna hitam dengan wangi bunga disana, tidak lupa Binar memakai make up seadanya. Bintang yang melihat itu tersenyum, kemudian berjalan pelan kearah Binar. pandangannya beralih ke satu hal, yaitu benda yang berada dimeja dekat cermin.


"cincin siapa ini? " ucap Bintang mengambil cincin di meja, cincin itu adalah milik Binar. dengan terkejut Binar mengambil cincin itu, kemudian memasukkannya kedalam tas kerjanya.


"ini cincin teman kantor ku, kemarin aku meminjamnya dan lupa mengembalikan nya! " ucap Binar terbatah, Bintang menggelengkan kepalanya.


"kenapa kau ceroboh Binar, kembalikan itu terlihat sangat mahal! " omel Bintang, Binar yang mendengar itu hanya tersenyum dan kemudian memeluk Bintang.


"iya Bintang sayang, gue kembalikan hari ini! " ucap Binar, Bintang tersenyum dengan itu. "boleh gue tanya sesuatu? " ucap Binar lagi, Bintang hanya mengangguk pertanda setuju. "lo bahagia? " tanya Binar, Bintang menatap pantulan Binar dari cermin dihadapan mereka.


"tentu saja aku bahagia, apalagi mendapatkan hal yang selalu aku bayangkan dari dulu. aku benar benar bahagia Binar, sangat bahagia! " ucap Bintang dengan senyum merekah, Binar yang mendengar itu ikut tersenyum bahagia. meskipun hatinya merasa teriris, tapi ia tetap bahagia melihat Bintang bahagia.


"gue berangkat dulu, doa in gue ya! "


"do'ain apa? " tanya Bintang yang penasaran, Binar tersenyum.


"semoga temen gue gak marah, soalnya gue ngembaliiin nih cincin! " ucap Binar tersenyum, Bintang menggelengkan kepala kemudian mengangguk. Binar langsung pergi dari sana, ia berniat untuk mengakhiri semuanya dengan Raka. keputusannya sudah bulat, ia ingin Bintang bahagia. dalam perjalanan Binar terus mengucapkan doa, ia tahu bahwa Raka tidak akan menerima itu tapi tetap Raka harus menerima nya.

__ADS_1


sampai nya dikantor Binar berjalan dengan semua lamnunannya, bahkan ia mengabaikan setiap sapaan yang menyapanya. sesekali Binar menabrak seseorang, tapi Binar acuh dan hanya terdiam. sampai tangan seseorang menariknya dengan kasar, Binar terkesiap dengan tarikan itu. ditatap nya siapa yang berani menariknya dengan kasar, ternyata yang menariknya adalah Raka sendiri. Raka menarik tangan Binar hingga masuk kedalam lift, Raka tidak memperdulikan tatapan orang lain bahkan mengabaikan penolakan Binar. sampai pintu lift tertutup, Raka memojokkan Binar dipinggir lift. Raka menatap Binar dengan tatapan sayu, tapi Binar hanya biasa menatap pria itu.


"kenapa Binar, kenapa kau diam saja? " ucap Raka yang kemudian bersuara, Binar hanya diam kemudian menatap kearah lain. "jangan melihat kearah lain, lihat aku! " teriak Raka mencengkram bahu Binar dengan kuat. hingga membuat gadis itu meringis kesakitan, "andai kau mengatakannya dari awal, ini semua tidak akan terjadi! "


"Raka kau menyakitiku! "


"kau lebih menyakitiku! " teriak Raka kembali, Binar yang terus tersentak akhirnya menangis. pintu lift terbuka, Raka menarik kembali tangan Binar hingga masuk kedalam ruangannya. Raka melepas tangan Binar dengan kasar, Raka kesal dan memukul tembok disana. "aku sudah bilang padamu, katakan semuanya katakan kepada Bintang. tapi apa, kau tidak mengatakannya sampai terjadi hal seperti ini! "


"apa yang harus aku katakan Raka, keadaan Bintang tidak memungkinkan untuk aku yang harus mengatakannya! " ucap Binar mulai terisak, Raka kembali mencengkram bahu Binar.


"itu kesalahanmu, kesalahanmu adalah kau terlalu menyayangi Bintang. kau sangat egois pada kasih sayangmu, bahkan Bintang tidak memperdulikan dirimu! " ucap Raka dengan mata yang berkaca, ia menahan marah pada Binar yang mulai menangis. untuk menangis pun sekarang percuma, semua sudah terjadi pada mereka. dengan menangis Binar mengeluarkan cincin didalam tasnya, ia menarik tangan Raka dan meletakkan cincin itu ditangan Raka.


Binar sendiri kembali kemejanya, tangisnya pecah saat itu juga. Binar yang tidak ingin menangis sejak awal, tapi pertahanannya luntur bersamaan dengan air mata yang keluar dari matanya. ia luapkan semua tangisannya, dan untung saja ruangan itu belum ada orang sama sekali karena memang hari masih pagi untuk berangkat kerja.


sudah setengah hari, Binar enggan masuk kedalam ruangan Raka. banyak berkas numpuk dimejanya, berkas itu butuh tanda tangan Raka hari itu juga. tapi Binar tidak mempunyai keberanian untuk bertemu Raka, sampai tiba tiba pintu ruangan Raka terbuka. menampilkan Raka khas orang bangun tidur, kemudian tatapan Binar mengarah ke tangan Raka. tangan itu terdapat luka dan darah kering disana, sontak membuat Binar berdiri dan langsung berlari kecil ke arah Raka.


"darah, kenapa bisa tanganmu berdarah! " ucap Binar memegang tangan itu, tapi Binar kemudian terdiam ketika Raka menampis tangan Binar dengan kasar.


"kau tidak perlu tahu, ini bukan urusanmu! " saut Raka dengan nada dingin, ia berlalu pergi dan berniat untuk ke toilet membersihkan tangan nya. sampai beberapa saat Raka kembali, Binar masih berdiri diruangan Raka. kali ini Binar membawa kotak obat, ketika melihat Raka hatinya sakit Raka mengabaikan dirinya. Binar mengikuti Raka masuk ruangan itu, Binar terkejut ruangan Raka yang berantakan. kertas kertas berserakan dimana mana, bahkan meja dan sofa tidak tertata rapi. Binar menata rapi semuanya, ia mengembalikan semua barang pada tempatnya. ia bahkan membersihkan meja Raka, ada pecahan gelas dengan noda darah disana. Binar memungut pecahan gelas itu, malangnya tangannya tertusuk pecahan itu hingga membuatnya meringis kesakitan. mendengar suara Binar yang kesakitan, sontak membuat Raka tersadar dan berjalan kearah gadis itu. dilihatnya jari Binar yang mengeluarkan darah, Raka langsung menarik tangan itu.

__ADS_1


"apa kau bisa tidak usah melakukan apapun, kau hanya bisa melukai dirimu. aku tau kau tidaak sayang dirimu, tapi kumohon jangan lukai dirimu dengan hal yang disengaja! " ucap Raka dengan jengkel, ia menghisap darah yang keluar dijari Binar. dengan tatapan sayu Binar menatap Raka, hatinya benar benar sakit melihat Raka yang seperti itu. Binar melepas jarinya yang terus dihisap, ia memegang tangan Raka dan membawanya duduk disofa.


"kamu juga tidak sayang dirimu, kamu melukainya dengan sengaja. bahkan membiarkan darahnya sampai kering, kalau infeksi gimana! " ucap Binar dengan nada setenang mungkin, ia mengobati tangan Raka yang bengkak akibat terlambat diobati. Raka sesekali meringis kesakitan, Binar dengan pelan mengobati lukanya hingga membalut nya dengan perban. selesai sudah acara pengobatan itu, Binar membereskan semuanya dan siap pergi dari sana. langkahnya terhenti ketika Raka menarik tubuhnya, dipeluknya Binar dari belakang yang sedang duduk dipangkuan nya. entah perasaan Binar saja atau bagaimana, dirasakannya tubuh Raka yang gemetar.


"jangan sakiti aku Binar, kumohon jangan. aku tidak bisa menikahi Bintang, tidak bisa! " ucap Raka menangis, Binar yang merasakan tangisan Raka langsung meneteskan air mata. "aku hanya mencintaimu Binar, dari dulu sampai sekarang. hanya mencintaimu, bagaimana bisa kau melepas ku begitu saja! " ucapnya lagi, tangis Binar pecah karena memang ia tidak bisa berbuat apapun. "Binar katakan padaku, apa kau ingin aku menikah dengan Bintang? " ucap Raka, Binar terdiam tanpa menjawab. dengan paksa Raka mendirikan tubuh Binar, ditatap nya Binar lekat lekat.


"iya, aku ingin kau menikah dengan Bintang! " ucap Binar menatap mata Raka, seketika Raka tertawa dan mengusap wajah kasarnya. Binar tahu tawa itu tawa menyakitkan, tawa yang seharusnya tidak ingin ia dengar.


"sayang sekali Binar, kau mengatakan itu. andai saja kau bilang tidak, maka aku akan membawamu pergi ke orang tuaku dan mengatakan semuanya. tapi ternyata kau menginginkan itu, dan aku tidak bisa menolak nya. kau juga tahu, aku tidak pernah bisa menolak permintaanmu! " ucap Raka dengan nada dingin, Binar yang ingin berucap langsung terhenti ketika Raka menunjuk nya dengan jari telunjuk Raka. "keluar, aku tidak ingin melihatmu! " ucap Raka dingin, Binar hanya diam tidak menyangka Raka akan mengusirnya. "Binar aku tidak ingin mengulang kata kataku, keluar dari sini! " Binar akhirnya mengangguk dan keluar, tapi sebelum keluar Binar menoleh kearah Raka yang tidak melihatnya sama sekali. Raka terus tertawa di ruangannya, sebenarnya Raka menangis tapi mulutnya tertawa untuk menutupi semuanya.


"maafkan aku Raka, ternyata kita tidak berjodoh! "


"kita tidak berjodoh haha, tidak berjodoh Binar! "


...****************...


JANGAN LUPA BACA CERITA BARU AKOOOHHH!!!


SUAMIKU SI MAFIA KEJAM

__ADS_1



__ADS_2