
dengan was was Binar berdiri di depan meja, menunggu pria itu bicara yang ia yakini sebagai bos nya. ia menoleh dan menoleh tapi tidak juga kunjung bicara, rasanya kakinya sangat pegal yang sudah berdiri sejak lama. rasanya ia ingin duduk dan memanjangkan kakinya, tapi sungguh ia tidak bisa dan tidak mau sampai ia dipecat untuk hari pertamanya.
"Binar Indriana! " panggil pria itu, Binar langsung berdiri tegak dan mengangguk. kursi itu berbalik kearah Binar, tampak jelas seorang pria duduk dengan gagah dikursi itu. Binar sedikit menganga melihat pria itu, pria dengan elegan duduk dan memilah milah sebuah dokumen ditangannya, Binar meremas roknya karena tidak pernah melihat pria tampan sebelumnya. "lulusan administrasi, dan baru lulus? " tanya pria itu dengan suara meledek, Binar yang mendengar itu kesal dan ingin memukul mulut pria itu. kalau gue gak butuh kerjaan, gue pukul mulut lo.
"em... iya Pak, saya baru lulus bulan ini! "
"beruntung sekali kamu, baru lulus langsung keterima bekerja disini. apalagi menjadi sekretaris saya, itu hal yang tidak terduga dengan kamu yang baru lulus! " ucapnya dengan suara meledek, Binar yang sudah kesal menahan kekesalannya masih dengan senyuman nya.
"iya saya sangat bersyukur, tapi disini sepertinya ada kekeliruan. sepertinya saya ingat tidak melamar sebagai sekretaris, tapi menjadi salah satu karyawan administrasi anda! " ucap Binar dengan sekali nafas, pria itu membalikkan sebuah kertas dan menunjukkan pada Binar.
"disini tertulis kalau anda melamar sebagai sekretaris wakil presdir, apakah saya yang salah baca? " Binar akhirnya memilih diam, jika saja pria itu kakaknya sudah habis mati matian dibantah Binar. tapi Binar tetap menenangkan diri, dan mengulas senyumnya. pria itu akhirnya berdiri dari duduknya, pria itu berjalan kearah Binar dan memberikan sebuah buku pada Binar. "itu adalah semua rangkaian tugas saya, sekretaris sebelumnya sudah menulis jadwal saya sesuai jam. dan lagi dibelakangnya terdapat penjelasan tugas yang harus kamu lakukan, pelajari itu saya ingin anda menghafal nya dalam seminggu! " Binar terkejut mendengar itu, Binar yang tidak mudah menghafal mana mungkin hanya diberi satu minggu. dan dalam hati nya terus menahan kekesalan dan juga sumpah serampah yang ingin ia keluarkan.
__ADS_1
"baik Pak, saya akan berusaha! "
"RV! saya tidak suka dipanggil pak, jadi panggil saya RV! " sela si RV itu, Binar langsung mengangguk dan tersenyum. "mau kemana? " tanya RV saat Binar akan melangkah keluar, Binar sontak menghentikan langkahnya dan berbalik melihat RV.
"saya akan pergi pak eh RV, katanya di suruh mempelajari ini! "
"memangnya saya mengijinkan kamu keluar? " Binar dengan cepat menggelengkan kepalanya. "ingat, jika saya belum menyuruh anda keluar, maka jangan pernah sekali sekali melangkahkan kaki anda dari hadapan saya! " ucap RV, Binar langsung langsung mengangguk mengerti tanpa menjawab. "punya mulut? "
"baik Pak eh RV, saya mengerti! " ucap Binar, RV mengangguk kemudian menatap Binar dari atas kebawa. wah mau mesum nih orang, kenapa ngeliatin gue.
"baik RV akan saya perbaiki, bolehkah saya keluar? " ucap Binar berharap mendapatkan jawaban iya, tapi ternyata tidak saat RV menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"tidak, sementara tidak ada ruangan untukmu karena masih dibersihkan. silahkan duduk disofa sana, dan pelajari itu. lagian anda kerja untuk saya, jadi wajar jika anda berada disini! " ucapnya kemudian duduk di kursinya, Binar bahkan tidak sempat menolak saat RV membalikkan kursinya untuk menghadap kebelakang. dasar pria arogan, makanya sekretaris nya mengundurkan diri. senyum aja nggak, gue do'ain cepet tua lo.
Binar berjalan kearah sofa tidak jauh dari meja RV, ia duduk dan sedikit memijat kakinya yang pegal karena terus berdiri. RV melihat kegiatan yang dilakukan Binar, saat binar fokus membaca dan juga meminta kakinya. Binar sendiri kadang melirik meja RV, pria itu tidak bergerak sama sekali dari duduknya. terus duduk dan fokus dengan pekerjaan, padahal sudah duduk berjam jam disana. Binar yang duduk disofa nyaman saja terasa pegal, apalagi pria itu yang sedari tadi dikursi hitam itu.
"apa anda mau kopi? " tanya Binar dengan basa basi, RV hanya diam dan tetap fokus. Binar bergumam sendiri, ia menyesali perbuatannya telah menanyakan hal yang tidak berguna.
"saya tidak suka kopi, saya sukanya teh pahit! " satunya kemudian, Binar memutar dua bola matanya malas. pantesan saja sikapnya begitu, orang suka teh pahit.
" pak eh .. RV boleh saya mengangkat kaki? " ucap Binar memecah keheningan, RV yang terus fokus langsung menoleh menatap Binar. sedetik kemudian RV fokus pada laptopnya lagi, tanpa juga menjawab. Binar yang sudah berharap ada jawaban, terdiam dan dalam hatinya sangat kesal. meskipun hatinya sedikit takut.
"terserah! " ucap RV tiba tiba, Binar langsung tersenyum dan meluruskan kakinya disofa. Binar membuat dirinya nyaman di sofa tersebut, sambil membaca Binar sedikit bersenandung.
__ADS_1
beberapa jam kemudian RV itu merenggangkan ototnya, ia melihat jam ditangannya. waktu menunjukkan siang hari, itu waktunya dirinya istirahat dan makan siang. ia teringat gadis yang duduk tidak jauh dari sana, RV langsung berdiri dan menghampiri Binar. terlihat Binar tidur dengan nafas teratur tidak lupa buku diatas dadanya, Binar tidur seperti seorang bayi bayi kecil. RV berlutut dihadapan Binar, ia menatap Binar yang sedang tidur dengan sedikit mengigau kecil disana. ada rambut yang menganggu tidur Binar, RV pun menyingkar rambut tersebut dan membuat senyuman diwajahnya.
"Hai Binar, ini aku Raka! "