Binar Dan Bintang

Binar Dan Bintang
salah siapa.


__ADS_3

dihari yang sama, mereka berdua masih diatas gedung tinggi itu. Raka duduk dengan Binar dalam pelukannya, karena menangis Binar lelah hingga tertidur. Raka yang tidak ingin membangun gadis itu, ikut tidur dan duduk di sebuah tembok dekat pintu. sampai hawa dingin yang tiba tiba dirasakan, Binar membuka matanya. ia terkejut karena hari sudah sore, bahkan dirinya masih berada dipelukan Raka. Binar menatap Raka yang tertidur, ia tersenyum sekilas kemudian memegang pipi Raka. Binar terkejut ketika tiba tiba Raka mendekat, jarak wajahnya dan wajah Raka hanya berjarak satu inci saja. kemudian Raka membuka mata dengan senyuman, ditatap nya wajah Binar yang memerah. wajah gadis itu sangat kacau, karena tangisan yang berlangsung lama beberapa saat yang lalu. Raka mengusap pipi Binar, kemudian mencium dahi Binar tanpa ada penolakan dari Binar.


"kamu tahu, aku pernah bilang kalau aku tidak suka melihatmu menangis! " ucap araka, Binar langsung mendorong tubuh Raka dan berdiri.


"lo yang bikin gue nangis, ngapain juga lo jalan mundur kayak gitu tadi! " ucap Binar yang kelepasan, Raka tertawa dan kemudian ikut berdiri. "Raka gue gak suka lo kayak gitu, kalau terjadi apa apa sama lo gimana? " Raka menutup mulut Binar, dengan cepat Binar terdiam dan menatap Raka.


"selama kamu ada didekatku, tidak akan terjadi apapun padaku! " ucap Raka, ia memeluk Binar yang masih ingin dipeluk. "Binar, apa kamu bilang ke Bintang kalau aku Raka? " tanya Raka, Binar menggelengkan kepalanya. karena memang ia belum sempat cerita pada Bintang, Raka menangkup pipi Binar dengan cepat. "jangan, jangan cerita apapun pada Bintang! "


"kenapa? " Raka menangkup wajah Binar, dengan senyuman Raka menempelkan hidung Binar dan hidungnya sekilas.


"kau tau perasaan Bintang padaku kan, kalau kau mengatakan tentang diriku pada Bintang bagaimana dengan dirimu? " Binar melepaskan tangan Raka, pria itu tahu jawaban Binar dan tahu kalau Binar tidak bisa berbohong pada Bintang. Raka menarik Binar dan kembali menangkup wajahnya lagi. "Binar sekali saja, kau egois dengan hidupmu. demi aku Binar, demi cinta kita! " Binar menatap Raka, dan pada akhirnya Binar mengangguk setuju. Binar berpikir untuk menuruti Raka kali ini, untuk selanjutnya ia akan memikirkan hal itu nanti.


...****************...


hari sudah malam, Raka masih sibuk dengan pekerjaannya. senyummya selalu terukir setiap memikirkan Binar, tidak pernah ia sangka ia mendapatkan Binar seperti itu. bahkan tidak terasa pekerjaannya telah selesai, sebuah langkah berjalan terdengar ditelinga Raka. Binar berjalan dengan senyuman, ia sudah siap pulang dengan tas yang ia bawa. Raka menyipitkan matanya ketika melihat yang dibawa Binar, sebuah tumpukan kertas ditangan Binar.


"apa yang mau bawa? " tanya Raka, Binar tersenyum dan meletakkan kertas itu dimeja Raka.


"ini kertas yang harus anda tanda tangani, harus selesai hari ini! " ucap Binar, Raka menghela nafas kemudian berjalan mendekat kearah Binar.


"lalu kenapa kau membawa tas, apa kau tidak mau menemaniku? " ucap Raka lagi, Binar tersenyum dan memundurkan langkahnya kebelakang.


"tentu saya akan pulang, anda harus lembur disini! " ucap Binar dengan santai, tentu Raka tidak setuju. Raka menarik tangan Binar hingga mendekat kearah nya, Binar mencoba melepaskan tubuhnya dan berusaha mendorong tubuh Raka. "jangan deketin gue, lo masih belum gue maafin! " ucap Binar mengancam, Raka akhirnya melepaskan tubuh Binar dan melipat tangannya. Binar merasa heran melihat itu, kenapa dengan Raka yang terlihat merajuk.

__ADS_1


"jangan pakai lo gue, aku gak suka! " ucap Raka yang membuat Binar terkejut, kebiasaan Binar yang sedari dulu seperti itu mungkin tidak bisa hilang. Binar tersenyum kemudian mendekat kearah Raka, dipeluk nya Raka dari belakang oleh Binar.


"oke Raka, aku pulang dulu ya kamu lembur disini! " ucap Binar tersenyum, Raka tersenyum sekilas kemudian menggelengkan kepalanya.


"kamu harus temani aku, apa iya kamu ninggalin aku gitu aja? " saut Raka, Binar akhirnya tersenyum dan mengangguk. tapi keinginan Binar memang seperti itu, tidak bisa meninggalkan Raka sendirian dikantor sendirian. Binar hendak pergi ke sofa besar disana, tapi tangannya ditarik oleh Raka. Binar tersentak kaget, saat Raka membuatnya duduk diatas pangkuan Raka. Binar yang ingin berontak, Raka semakin mengeratkan pelukannya. "jangan banyak bergerak, tidak ada kesempatan lain yang seperti ini! " bisik Raka tepat ditelinga Binar, dengan tubuh yang bergidik Binar akhirnya menikmati pelukan yang diberikan Raka.


...****************...


hari minggu yang cerah, Binar dan Bintang sedang melakukan lari pagi bersama. dengan berpakaian olahraga Binar berlari dengan Binar yang dibelakangnya, mereka berdua terlihat bahagia bersama. Bintang yang melihat Binar lebih cerah, menjadi terheran heran dan tersenyum sendiri. sampai Binar menyadari itu, Binar langsung menyenggol tubuh Bintang.


"kenapa lo senyum senyum? " tanya Binar, Bintang menggelengkan kepala dengan tersenyum.


"ada yang beda aja dari kamu, apa terjadi sesuatu? " tanya Bintang, Binar terkejut dan langsung menggelengkan kepalanya. Bintang yang melihat itu tidak mudah percaya, Bintang menatap wajah Binar yang langsung melihat arah lain. "bohong, pasti ada seuatu! " ucap Bintang memegang perut Binar, tentu saja Binar merasa geli dan langsung membalas Bintang. jadilah mereka saling mengejar, Binar menggelitiki perut Bintang yang terus mengejeknya. tangan Bintang yang ditarik Binar, membuat gelang yang ia pakai terlepas dan terlempar jauh. Bintang dan Binar terkejut, mereka langsung berlari kearah gelang yang terlempar itu.


"itu gelang Raka, harus ketemu! " ucap Bintang, Binar yang mendengar itu merasa bersalah dan kemudian melihat gelang itu berada di tengah jalan. secara bersamaan Bintang juga melihatnya, Bintang berlari untuk mengambil gelang itu. tapi secara bersamaan sebuah mobil melaju dari jauh, Binar berteriak memanggil Bintang. tapi teriakan itu terlambat, mobil itu menabrak Bintang hingga jatuh terpental dijalan.


"Bintang! " teriak Binar, ia berlari dan kemudian memangku kepala Bintang yang mengeluarkan darah. "tolong panggilkan ambulan, Bintang bertahanlah! "


"mobilnya kabur, dia tidak bertanggung jawab! "


"gue gak peduli sama mobilnya, gue minta tolong panggilan ambulan cepat! " teriak Binar yang penuh dengan tangisan, ia menangis melihat darah itu dan melihat Bintang yang menutup mata. sampai beberapa menit ambulan membawa mereka menuju rumah sakit, Bintang dilarikan kerumah sakit dan mendapat perawatan kritis disana. Binar merasa khawatir, ia mondar mandi diluar ruang operasi. baru saja kemarin ia menangis karena Raka yang terluka, dan sekarang malah saudarinya uang terluka. Binar merasa frustasi, Binar menangis dengan menguspa wajahnya kasar.


sampai seorang pria berlari kearah Binar, siapa lagi kalau bukan Raka. ia menelfon Binar untuk menanyakan kabar kekasihnya, tapi malah mendengar tangisan Binar dari seberang telfon. Raka langsung menuju ketempat Binar, dan dilihatnya Binar sedang menangis sendirian. Binar yang melihat Raka langsung berlari kedalam pelukan pria itu, Binar menangis sejadi jadinya.

__ADS_1


"Raka... Bintang di dalam, aku takut Raka! " ucap Binar menangis, Raka mengelus pundak gadis itu. kemudian menangkup wajah Binar, dilap nya air mata Binar oleh Raka.


"Bintang akan baik baik saja, kamu jangan khawatir sayang! " ucap Raka tersenyum, Binar mengangguk meskipun ia masih tidak tenang dan masih menangis. Raka kembali memeluk gadis itu, mencoba memberikan ketenangan.


"ini salahku, kalau aku tidak menarik gelang nya dia tidak akan lari ke jalan itu! " ucap Binar lagi, Raka tetap mencoba menenangkan gadisnya itu. sampai tiba tiba dokter keluar dari ruang operasi, Binar melepas pelukan Raka dan beralih kepada dokter itu. "dokter bagaimana keadaan Bintang, apa semuanya baik baik saja? " dokter tampak cemas, hal itu membuat Binar semakin merasa frustasi.


"kami sudah berusaha, tapi dia tetap tidak selamat!" jantung Binar berhenti berdetak, suara dokter itu menggema di telinganya. sedetik dua detik tiga detik kemudian, Binar berteriak mendorong dokter itu dan masuk menemui Bintang.


"Bintang bangun! gak mungkin lo ninggalin gue, Bintang buka mata lo sekarang! " teriak Binar menggoyang tubuh Bintang, tangisnya pecah di dalam terdengar sangat pilu. bagaimana tidak, ketika saudari yang separuh


uh hidupnya, dinyatakan tidak bernyawa begitu saja. "kita selalu bareng kan, kenapa sekarang lo ninggalin gue sendiri. bangun Bintang, gue bilang bangun. siapa yang bakal bangunin gue tiap pagi, siapa yang akan ngasih gue uang Bintang. bangun pliss bangun Bintang, bangun! " rancau Binar merosot dilantai, bahkan Raka tidak bisa berbuat apapun. Raka hanya merasakan pilunya tangisan Binar, ia memeluk sangat kekasih yang tengah menangis histeris. Binar sendiri tidak peduli dengan siapapun, ia menangis saat melihat Bintang yang tidak bergerak. Binar menyentuh tangan Bintang, tangan itu masih menggenggam erat gelang kesayangannya. kemudian Binar menatap Raka, dan melihat Bintang secara bergantian. "Bintang lo tau nggak, Raka disini! " ucap Binar yang berusaha membangunkan Bintang, entah ide darimana itu membuatnya berharap Binar akan bangun. Binar menarik tangan Raka, dengan bersikap seolah olah Bintang mendengar dan melihat Raka disana.


"ini Raka, Raka yang lo tunggu sudah balik. jadi bangun Bintang, lihat Raka datang! " tidak ada jawaban dari Bintang, Binar menoleh kearah Raka dan kemudian menangis lagi. Raka yang tidak mendengar tangisan itu lagi, akhirnya ia memegang tangan Bintang demi Binar.


"Bintang ini aku, aku Raka. kenapa kamu tidur, apa kamu tidak ingin melihatku! " ucap Raka, tapi tetap tidak ada jawaban dari Bintang. Raka yang geram akhirnya mendirikan Binar yang lemas dilantai, ia mencengkram kedua bahu Binar dengan kasar. "dia sudah tiada, seberapa besar usahamu pun tidak akan membuat dia kembali! "


"dia masih hidup, dia gak boleh ninggalin gue! " teriak Binar melepaskan tangan Raka, sampai beberapa detik kemudian dokter yang melihat pertengkaran itu beralih melihat Bintang. komputer menunjukkan tanda kehidupan Bintang, dokter memeriksa denyut nadi gadis itu dan benar nadinya normal kembali.


"tolong kalian keluar sebentar, saya akan memeriksa dia kembali! " ucap dokter itu, Raka membawa Binar keluar. Binar mulai tenang ketika melihat dada Bintang yang bergerak, karena itu menandakan Bintang telah bernafas kembali. sampai beberapa saat dokter keluar, terlihat dokter tersenyum kepada Binar. "kalian benar benar memiliki ikatan batin, saudarimu lewat dari mautnya. semua berjalan lancar, kalian hanya tinggal menunggunya sadar! " ucap dokter itu, Binar langsung merasa lega dan bersyukur. Binar menangis bahagia, ia memeluk Raka yang sedari tadi diam dan juga ikut tersenyum.


"aku sudah bilang kan, dia baik baik saja. tidak akan terjadi apapun pada Bintang! " ucap Binar memeluk Raka, dengan senyuman Raka membalas pelukan itu. ada sesuatu hal yang mengganggu pikiran Raka, dan pikiran itu tidak bisa ia ungkapkan untuk situasi sekarang. Raka memiliki perasaan tidak enak, dengan Binar yang mengungkap dirinya pada Bintang. menurutnya salah, tidak seharusnya Binar membawa dirinya dalam hal ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE KALIAN. INGET YA LIKE DAN KOMEN <3


__ADS_2