Binar Dan Bintang

Binar Dan Bintang
badai yang besar.


__ADS_3

Raka kesal di pagi hari, ia kesal dengan ayah dan juga sang ibu. hal yang diberitahukan ibunya adalah tentang sebuah perjodohan, itu sangat tidak ia sukai. perjodohan adalah hal bodoh yang ia pikirkan, Raka kesal dan sedikit membanting pintu ruangannya. bahkan ia tidak melihat Binar yang sudah duduk di meja, tentu saja Binar terkejut pada Raka yang bersikap seperti itu dipagi hari. dengan gerakan cepat Binar membawa teh untuk Raka, tanpa mengetuk ia masuk kedalam ruangan yang masih gelap itu. Binar menyalakan lampunya karena tahu Raka sedang marah dipagi hari, dan Raka hanya terdiam karena tahu siapa yang melakukan itu dan pastilah Binar.


Binar mendekat kearah Raka setelah meletakkan teh hangat itu, hampir saja dirinya matin terkejut ketika Raka tiba tiba menarik tangannya. Raka membawa Binar kedalam pangkuannya, dipeluk nya Binar dengan erat dan mencium tengkuk Binar disana. Binar yang diperlakukan seperti itu, hanya bergidik ngeri dan merinding ditubuhnya.


"apa yang kau lakukan Raka? " ucap Binar yang merasa Raka terus menggodanya, Raka sendiri langsung memasang wajah serius dan membawa wajah Binar untuk menghadapnya.


"aku hanya kesal! " ucap Raka seperti anak kecil yang meminta permen, Binar tersenyum kemudian menangkup wajah Raka.


"katakan padaku, ada apa denganmu dipagi hari ini? " ucap Binar, Raka menghela nafasnya kemudian memeluk Binar lagi.


"sangat kesal padamu, kau cuti begitu lama tanpa mengabari aku!" ucap Raka, Binar menggelengkan kepalanya.


"aku sudah menghubungi mu, tapi kau terlalu sibuk untuk mengangkat telfonku! " saut Binar membuang mukanya, Raka yang melihat itu terkekeh pelan dan mencubit pipi Binar dengan gemas.


"kenapa kau yang marah sekarang, harusnya aku yang kesal! " ucap Raka dengan terkekeh pelan, Binar menampis tangan Raka dan mendirikan tubuhnya.


"sekarang aku sudah tidak cuti, mari kita kembali bekerja RV! " ucap Binar menunduk melirik Raka dengan menahan tawa, ia ingin menggoda Raka yang terlihat kesal disana. Raka yang kesal langsung mendirikan tubuhnya, dihampiri nya Binar yang tengah berdiri tapi kemudian berjalan mundur. Binar tahu apa yang akan dilakukan Raka, Binar berlari menuju pintu untuk keluar. tapi gerakannya kalah cepat, Raka sudah menarik pinggangnya dan digelitili oleh Raka.


"mau kemana kau, beraninya kau menggodaku seperti itu! " ucap Raka menggelitiki perut Binar, dengan mata berkaca kaca Binar tertawa minta dihentikan. tapi Raka terus menggelitiki Binar, bahkan mengejar Binar yang lepas darinya.


"Raka stop, aku akan mengacak acak ruanganmu! " ancam Binar yang berada dibalik sofa, ia melemparkan bantal sofa dan juga benda seadanya disana. Raka hanya tertawa dan tenang kemudian ditariknya tangan Binar, dan mereka terjatuh disofa bersama. Raka tertawa disambung dengan Binar tertawa, mereka jadi tertawa bersama dengan Raka yang berani mencium pipi Binar.


"ayo kita pergi! "


"kemana? " ucap Binar membenarkan posisinya, Raka tersenyum kemudian mencium tangan Binar.

__ADS_1


"jalan jalan, tidak peduli kemana yang penting kita jalan dulu! " ucap Raka, Binar menggelengkan kepalanya.


"Raka ini masih jam kerja, tidak boleh seperti itu! " ucap Binar berdiri, Raka sendiri langsung berdiri dan membenarkan jasnya dengan benar.


"hei aku bosnya, apa ada masalah! " ucap Raka dengan sombong, ditariknya tangan Binar keluar dari ruangannya, membiarkan Binar yang terus mencibir nya. Raka tertawa dan tidak memperdulikan omelan Binar.


setelah masuk mobil, Binar dan Raka pergi dari sana. entah kemana Raka membawa Binar, yang dibawa pun hanya terdiam dan mengikuti keiinginan Raka. sampai beberapa menit Binar merasa heran dengan sebuah tempat yang Raka membawanya, sebuah rumah besar dengan beberapa orang yang masih merenovasi nya. Raka tersenyum dan mengulurkan tangannya, Binar dengan heran menerima uluran tangan itu.


"dimana ini? " ucap Binar heran, Raka tersenyum dan mencium tangan Binar lagi.


"masa depan kita! " saut Raka tersenyum, Binar langsung mengerti perkataan Raka. Binar menghentikan langkahnya, ia melihat Raka yang terlihat senang dengan tersenyum. Raka menatap Binar yang menghentikan langkahnya, ia merasa heran kenapa Binar melamun dan menatapnya.


"aku belum melakukan apa yang kau suruh Raka! " ucap Binar kemudian, Raka sempat terdiam dengan itu. Raka bahkan tidak sempat menanyakan hal itu, karena memang ia lupa. Raka berjalan mendekat kearah Binar, ia mengakup wajah Binar agar menatap dirinya.


Raka membawa Binar berkeliling di rumah besar yang hampir jadi itu, Raka menunjukkan setiap sudut disana. semua letak yang ada di rumah itu, Binar berpikir itu bukanlah rumah. tapi sebuah istana, sangat besar dan juga didesain indah seperti favoritnya. Binar masuk kedalam sebuah kamar yang cukup luas, kemudian terletak ruangan kecil disana. Binar melihat ruang kecil itu, ia penasaran untuk apa ruang kecil tersebut. Raka yang melihat Binar, langsung memeluk gadis itu dalam pelukannya. Binar terkejut dengan Raka yang tiba tiba memeluknya dari belakang, apalagi Raka yang meletakkan dagu dibahunya.


"Raka ruangan apa ini?" tanya Binar, Raka tersenyum kemudian mencium tangan Binar.


"setelah menikah tentu saja kau akan hamil, dan ini akan menjadi kamar anak kita! " saut Raka, Binar membalakkan mata dan tidak menyangka Raka sampai kearah sana memmikirkan masa depan mereka. Raka membalikkan tubuh Binar untuk menghadapnya, kemudian tersenyum melihat Binar yang tersipu malu. "Binar apa kau mau menikah denganku? " Binar semakin terkejut mendengar itu, ia mendorong tubuh Raka untuk menutup wajah malunya.


"mana ada... orang melamar seperti itu, tidak ada romantisnya sama sekali! " ucap Binar menghadap kearah lain, Raka tersenyum kemudian menarik tangan Binar keluar dari sana. membawa Binar keluar dari rumah itu, dan pergi menuju sebuah taman yang terletak disamping bangunan tersebut. Binar yang masih terkejut, ditbah lagi ketika Raka yang berlutut dihadapannya. kemudian Raka mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya, dibuka nya kotak itu menampilkan sebuah cincin berlian yang sangat indah.


"Binar Andriana, maukah kau menikah denganku? " ucap Raka tersenyum, ia berlutut dihadapan Binar yang terdiam melihatnya. Binar sendiri terkejut, ia berpikir Raka hanya main main dengan ucapannya. Binar meneteskan air mata dan menutup mulutnya, ia menangis dengan senyuman diwajahnya. Raka yang melihat itu langsung berdiri, ia mengusap air mata Binar dengan merasa heran. "kenapa kau malah menangis, aku melamarmu bukan menyakiti mu! " ucap Raka, Binar tersenyum dan kemudian menggelengkan kepalanya.


"tidak Raka, aku tidak menangis! " ucap Binar tersenyum, Raka kembali tersenyum kemudian memasang cincin di jari manis Binar. sangat pas dan cocok dijari Binar, dengan senyuman Raka mencium tangan Binar.

__ADS_1


"mau tidak mau kau harus menikah denganku, karena aku sudah memasang cincin nya! " ucap Raka, Binar tertawa dan kemudian mengangguk.


"iya aku mau menikah denganmu! " ucap Binar membuat Raka tersenyum, dipeluk nya Binar dengan erat oleh Raka. entah kebahagiaan yang tidak pernah dibayangkan oleh Binar, dilamar oleh orang yang dulu Binar tidak sukai. benar adanya, hal yang selalu tidak kita sukai akan menjadi hal yang kita sukai suatu saat nanti.


...****************...


Raka membawa Binar pulang setelah beberapa jam mereka jalan jalan, mereka membuat keputusan untuk mengatakannya pada Bintang agar tidak terjadi kesalahan pahaman lagi. dan Raka akan meminta Binar kepada orang tua Binar secara bersamaan, mereka menuju rumah Binar yang cukup jauh. setelah beberapa jam mobil Raka berhenti didepan rumah Binar, tapi ia heran ketika melihat sebuah mobil yang ia kenali.


Binar turun dari mobil ketika Raka membuka pintu mobil untuknya, Binar melihat mobil yang sebelumnya datang kini datang lagi. iya itu mobil Raimon dan juga Erika, dan itu menjadi kesempatan Binar pikirnya. kedatangan Raka akan membuat mereka tidak memilih Binar, karena Binar akan memperkenalkan Raka sebagai kekasihnya. Binar sangat senang memikirkannya, ia menggandeng tangan Raka untuk masuk kedalam rumahnya.


didalam rumah keempat orang tua itu saling berbincang, mereka sesekali tertawa karena membahas masa lalu. Bintang yang juga ikut gabung disana, sampai suara Bintang yang melihat Raka dan Binar membuat orang tua itu menoleh kearah Binar dan Raka.


"Raka! " ucap Bintang dengan senang melihat Raka, sangking senangnya Bintang tidak melihat Binar yang sedang menggandeng llengan Raka.


"mami papi, kalian disini? " ucap Raka ketika melihat Erika dan juga Raimon, suasana dirumah itu menjadi suasana penuh keterkejutan. bagaimana tidak Bintang dan Binar terkejut bahwa Raimon dan Juga Erika adalah orang tua Raka, dan orang tua Raka terkejut karena anak mereka telah mengenal keluarga itu.


"jadi kau kenal dengan putraku? " ucap Erika, Bintang mengangguk tanpa Bicara. Erika langsung terlihat senang begitu juga dengan Raimon, ditarik nya Raka hingga membuat Binar melepas lengan Raka. "Raka sayang dia gadisnya, dia yang mami maksudkan tadi malam. Bintang Indriana, mami ingin kamu menikah dengannya, bagaimana! " bagai ada badai dirumah itu, tapi badai itu hanya dirasakan oleh Raka dan juga Binar. hati mereka bergemuruh petir, terutama Binar yang langsung merasa keluh di lidahnya. matanya mulai panas, air mata sudah terbendung didalam kantung matanya. sesaat ia sangat bahagia dengan Raka, tapi kebahagiaan itu hancur seketika. kenapa itu terjadi. berbeda dengan Bintang, ia tersenyum bahagia dengan menatap ayah ibunya. awalnya ia tidak mau jika dijodohkan dengan orang lain, tapi saat mengetahui jodohnya Bintang tidak menolak sama sekali.


"kenapa tidak, mereka saling kenal satu sama lain. pasti mereka sudah tahu kepribadian masing masing, usia mereka sudah cocok untuk menikah! " ucap Raimon, kedua orang tua Bintang dan Binar tersenyum dan mengangguk.


"kami terserah apa keputusan mereka, yang penting mereka bahagia kami juga bahagia! " ucap Adrianto, Diana mengangguk dengan itu. restu terus terucap didalam ruangan itu, lidah Binar semakin keluh kemudian ia menahan air matanya dan memasang senyum terbaiknya.


"Bintang! " panggil Binar berlari kearah Bintang, ia memeluk Bintang dan kemudian mengusap air matanya yang sempat menetes. Binar tersenyum melihat Bintang yang tersenyum. "aku bahagia untukmu, ternyata jodoh untukmu adalah Raka! " ucap Binar senang, Bintang tersenyum dan mengangguk. tidak ada yang tahu hati Binar sedang teriris, ia jatuh kedalam lubang yang sangat dalam. "Raka adalah bosku dikantor, sekarang akan menjadi saudara iparku! " ucap Binar menatap Raka, dengan tidak peduli ucapan Binar Raka menatap Binar dengan lekat. "setelah ini aku akan mengundurkan diri, dan aku tidak mau bekerja disana lagi! " ucap Binar, semua orang tertawa karena merasa lucu.


"Binar dan Raka tidak pernah akur sejak dulu, dan sekarang mereka akan menjadi saudara! " ucap Adrianto, semua orang tertawa. tanpa mengetahui hancurnya hati Raka dan Binar, dengan senyuman Binar berjalan membelakangi Raka. tangannya berusaha melepas cincin yang sempat dipakaikan oleh Raka, sekarang impian dan mimpinya hancur bersama cincin yang sudah terlepas dijarinya. Raka juga tidak mengatakan apapun, itu pertanda Raka menyetujui perkataan orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2