Binar Dan Bintang

Binar Dan Bintang
hati siapa.


__ADS_3

keesokan harinya Binar terbangun dari tidurnya, ia melihat Bintang tersenyum padanya dan memeluk dirinya dengan sayang. Bintang menanyakan keadaan Binar, dan dijawab baik baik saja. sebenarnya Binar hanya terkejut semalam, karena terkejut ia menjadi menangis ketika menyadari pria itu menyentuh bokongnya. semalaman Binar menangis karena terkejut, pagi ini wajahnya kusut dan juga bengkak akibat menangis. berulang kali Binar mencuci muka, tapi tetap mukanya belum kembali normal. Binar teringat pada Raka yang marah, ia berpikir siapa yang menenangkan Raka malam tadi. Binar menjadi khawatir karena Raka yang marah, ia takut Raka menghancurkan sesuatu karena marah.


Binar keluar dari kamarnya, beberapa temannya menyapa dan menawarkan sarapan. Binar hanya tersenyum, pandangannya melihat semua orang dan tidak melihat Raka. sampai Bintang yang melihatnya bingung, Bintang menghampiri Binar.


"ada apa? " tanya Bintang, Binar menoleh dan masih melihat yang lain.


"dimana RV, aku harus bicara dengannya! " ucap Binar, Bintang tersenyum dan menunjuk kearah pantai yang tidak jauh dari vila itu. Binar langsung berlari kearah Raka, karena terlihat Raka sedang duduk menatap luasnya pantai. "RV! " teriak Binar berlari, seketika Raka menoleh dan menatap Binar yang berlari. tanpa melihat Binar berlari menginjak pasir disana, dan kakinya terhuyung ketika menginjak sebuah pasir yang tidak bisa menopang kakinya. dengan sigap Raka menangkap tubuh Binar, kemudian mendirikan Binar dengan benar.


"apa kau tidak bisa berjalan saja, kenapa harus berlari? " ucap Raka, Binar menghela nafas kemudian tersenyum. Raka melihat wajah Binar yang masih bengkak akibat menangis, Raka mengelus pipi itu dengan lembut. "apa kamu baik baik saja? " tanya Raka, Binar tersenyum dan mengangguk.


"kemarin saya hanya terkejut, jadi karena itu saya menangis! " saut Binar, Raka tersenyum dan langsung memeluk Binar. entah keberanian dari mana Raka memeluk Binar, karena Raka sudah semalaman mengkhawatirkan gadis itu. hatinya lega ketika melihat gadis itu tersenyum lagi, bahkan bicara lancar padanya. Binar yang dipeluk mendadak terkejut, ia hanya diam dan merasakan tubuh Raka semakin erat memeluknya.


"saya tidak bisa melihatmu menangis, tolong jangan menangis lagi! " ucap Raka memeluk erat Binar, dengan perlahan Binar membalas pelukan itu. terasa nyaman saat Raka memeluk nya, Binar menikmati setiap pelukan yang diberikan Raka. sampai keduanya sadar apa yang mereka lakukan, laku melepaskan diri masing masing dan merasa canggung. "maaf! "


"kenapa anda sangat marah kemarin, seharusnya anda tidak marah dan memukuli nya. dia tidak sengaja, dan dia sudah minta maaf! "


"enteng sekali kau mengatakan itu, dia membuatmu hampir saja terjatuh. kemudian dia menyentuh bokongmu, apakah akhirnya harus diam saja! " saut Raka, Binar terdiam menatap Raka yang terlihat marah. "tentu saja membuatku marah, aku tidak bisa melihat orang yang... " perkataannya terhenti, ketika akan mengatakan hal yang tidak ingin membuat Binar tahu. tapi bukan Binar namanya jika bukan ingin tahu, ia menatap Raka yang tiba melihat kearah lain.


"orang apa? " tanya Binar menuntut jawaban, bahkan Binar membalikkan badan Raka untuk menghadapnya. belum sempat Raka bicara, Bintang memanggil Binar dan berjalan kearah mereka. Raka langsung duduk ditempatnya, begitu juga Binar yang langsung melihat Bintang.


"ayo sarapan, mereka sudah masak banyak! " ucap Bintang, Binar dan Raka mengangguk. mereka bertiga berjalan menuju Vila, dan memulai sarapan bersama sama. sesekali Binar melihat Raka, ia masih penasaran kenapa Raka tidak meneruskan Perkataannya.


...****************...

__ADS_1


siang harinya Raka duduk dibawah pohon kelapa, ia melihat Binar yang ceria bermain voli. perasaannya sudah sangat tenang, melihat senyum Binar hingga tawa Binar. sampai pandangannya terhenti ketika bola Voli mengenai wajah Binar, Raka mulai panik lagi dan langsung berlari kearah Binar. kepanikan terjadi disana, saat melihat darah keluar di hidung Binar. Raka menggendong tubuh Binar untuk membawa Binar masuk, membuat semuanya tertegun melihat kekhawatiran Raka yang terulang lagi


"Bintang ambil kotak obat! " ucap Raka, Bintang langsung mengangguk dan berjalan cepat mengambil kotak p3k. Raka mendudukan Binar dengan memegang hidung gadis itu, sampai Bintang datang dengan segala obat. "aku rasa kau tidak cocok dengan liburan ini, kau lebih cocok dengan bekerja! " ucap Raka, ia membersihkan hidung Binar dengan hati hati dan pelan.


"aku juga merasa seperti itu, Binar tidak ditakdirkan untuk liburan! " saut Bintang tertawa, Raka tersenyum menatap Binar yang kesal.


"sakit banget, pusing! " ucap Binar, Raka memberikan obat dan air untuk Binar. kemudian pria itu membaringkan tubuh Binar dan menyelimutinya, seketika Binar mencoba menutup mata untuk tidur.


"itu obat tidur, agar tidak pusing kau harus tidur beberapa saat! " ucap Raka, Binar mengangguk pelan kemudian terlelap tidur. Raka keluar dari sana bersama Bintang, mereka sesekali mengobrol.


"jadi siapa namamu, kenapa kau lebih suka dipanggil RV! " tanya Bintang, Raka tersenyum dan melihat Bintang.


"ya... semua orang memanggil namaku RV, karena aku tidak suka dipanggil pak. aku ini masih muda, jangan panggil pak! " saut Raka tertawa, Bintang juga tertawa mendengar itu. Bintang teringat seseorang setelah mendengar perkataan Raka, ia teringat seseorang yang sangat mirip dengan perilaku Raka.


"jangan panggil aku mas atau kakak, panggil saja namaku Raka. karena aku masih muda, seumuran dengan kalian! "


"aku ingat temanku dulu, dia sangat persis denganmu! "saut Bintang, Raka tersenyum dan memalingkan wajahnya. mereka berjalan menuju tempat permainan, sambil mengobrol dengan asik saat berjalan. ia tidak tahu kalau Binar mengintip mereka, kemudian Binar kembali ke kasurnya dan kembali tidur.


malam harinya adalah malam terakhir mereka semuanya liburan, mereka mulai membereskan barang pribadi masing masing. setelah selesai mereka mulai memasak makan malam, Binar membuat minuman untuk mereka semua. tiba tiba seseorang mencari dirinya, Binar terkejut melihat pria yang sempat dipukuli Raka. Binar menjatuhkan gelas yang ia pegang, membuat keheningan. Raka baru saja keluar, langsung berdiri dihadapan Binar.


"aku datang hanya ingin minta maaf, kumohon! (bahasa asing) " hanya Raka yang mengerti bahasa itu, semua orang disana hanya diam dan menatap mereka berdua.


"tidak perlu, pergi dan tidak usah muncul di hadapan kekasihku. untung saja aku tidak membunuhmu malam itu, jika tidak kau ahanya akan tinggal nama! " ucap Raka dengan bahas orang itu, semua nya masih diam dan tidak bersuara. sampai pria itu berpamitan pergi dari sana, Binar melihat Raka yang tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"kenapa kalian menggunakan bahasa itu, kenapa tidak bahas Inggris saja." ucap Binar, Raka tersenyum kemudian mengetuk dahi Binar dengan pelan.


"makanya belajar, jangan ng game mulu! " ucap Raka, Binar yang tidak Terima melempar es batu ke arah Raka. semua orang tertawa disana, mereka tidak menyangka kepada Binar. ia bisa membuat Raka tersenyum bahkan tertawa, bahkan sifat Raka berubah tidak seperti dulu yang suka marah.


...****************...


Binar duduk dipinggir pantai, ia melihat dan merasakan angin yang berhembus dimalam hari itu. Binar mengeluarkan sesuatu didalam kantongnya, sebuah kalung berbentuk bulan. Binar membuka liontin berbentuk bulan sabit itu, dan menampilkan foto masa kecilnya. bukan hanya fotonya, bahkan ada foto Raka kecil disana. Binar tersenyum melihat kalung itu, ia teringat pernah membuang gelang Bintang pemberian Raka. sedang dirinya masih menyimpan kalung itu tanpa sepengetahuan Bintang, egois yang dirasakan Binar karena memang Binar tidak suka jika Bintang mengingat Raka.


"apa yang kau pikirkan? " ucap Raka yang mengejutkan Binar, dengan cepat Binar memasukkan kalung itu dan menoleh kearah Raka. dengan senyuman Raka duduk disamping Binar, dan ikut merasakan angin yang berhembus. "kenapa kamu tidak tidur, malah duduk disini sendirian. ingat besok kita akan kembali, liburan sudah selesai! "


"iya saya ingat, karena itu saya disini ingin merasakan angin yang berhembus. mungkin saya tidak pernah kembali kesini! "


"siapa bilang! " ucap Raka, Binar menoleh dan menghentikan ucapannya. "kita bisa kesini kapanpun, jika kau mau katakan saja, maka kita akan berangkat bersama! " ucap Raka lagi, Binar tersenyum untuk itu.


"tidak, kita tidak bisa kesini. karena aku tidak beruntung disini, selalu saja ada yang membuatku terluka! " saut Binar tertawa, ia mendirikan tubuhnya dan membersihkan pasir yang menempel dikakinya. "kalau begitu saya pergi dulu, saya akan istirahat anda juga harus istirahat! " belum sempat Binar pergi, Raka memegang tangan Binar. Raka memegang tangan itu dan kemudian menoleh kearah Binar, dengan tidak mengerti Binar terdiam melihat Raka.


"ada sesuatu yang ingin saya katakan! " ucap Raka berdiri, tangannya masih memegang tangan Binar. "jangan terluka, saya berharap kamu tidak terluka disini maupun dimana saja. saya tidak ingin melihatmu terluka, hal itu membuat saya marah! " ucap Raka lagi, Binar masih diam dan menatap Raka yang berwajah melas dihadapannya. "jangan jauhi saya, dari kemarin saya merasa kamu menjauhi saya ... ."


"kenapa? " ucap Binar, Raka terdiam dan menatap Binar. "kenapa anda tidak bisa jauh dari saya, kenapa anda merasa menyedihkan? " tanya Binar lagi, Raka menatap Binar tanpa menjawab. dan akhirnya Binar melepaskan tangan Raka, kemudian berjalan pergi dari sana. Binar sudah tidak mau bicara lagi, karena Raka yang tidak menjawab perkataannya.


"karena saya menyukai kamu! " Binar menghentikan langkahnya, ia terkejut dengan suara Raka yang terdengar berulang ulang ditelinganya. "tidak tahu sejak kapan, tapi aku menyukaimu. sangat menyukaimu, benar benar menyukaimu! " ucap Raka lagi, Binar menoleh dan menatap Raka yang tersenyum. Raka berjalan kearah Binar lagi, ia memegang tangan Binar lagi. "Binar kamu adalah sekretaris terbaik yang pernah ada, sampai aku jatuh cinta sama kamu. aku tidak tahu kapan itu terjadi, tapi setiap kali melihatmu hatiku sangat tenang, hatiku begitu damai. aku ingin mengatakan semua ini sejak lama, tapi aku tidak mempunyai keberanian untuk itu. Binar bisakah aku memberikan hatiku padamu, apakah kamu... "


"tidak, saya tidak memiliki perasaan yang sama pada anda! " ucap Binar melepas tangan Raka, dengan perasaan sakit Raka menyentuh tangan itu lagi.

__ADS_1


"kenapa, aku melihat itu dimatamu, kamu tidak bisa berbohong! " ucap Raka, Binar melepas tangan itu dan berjalan cepat. Binar tidak mendengarkan Raka, padahal Raka terus berjalan mengikutinya dan mengatakan terus tentang perasaannya. "Binar aku mencintaimu! " Binar mengehentikan langkahnya, ia memejamkan matanya dan kemudian menoleh kearah Raka.


"saya tidak bisa menempatkan anda dihati saya, karena dihati saya sudah ada seseorang sebelum anda! " ucap Binar kemudian berlari dengan cepat, ia tidak menyangka bos nya yang arogan itu menyatakan perasaannya. dan perasaan itu tidak bisa ia Terima, karena hanya ada satu orang didalam hatinya. Raka yang mendengar itu hatinya merasa hancur, tidak pernah ia sangka Binar memiliki seseorang dihatinya. bahkan cuaca sama dengan hati Raka, hujan deras mengguyur tubuhnya. Raka hanya diam ditempat, dan merasakan setiap guyuran hujan yang mengenai tubuhnya. siapa, siapa yang ada dihatimu Binar.


__ADS_2