Binar Dan Bintang

Binar Dan Bintang
kesal.


__ADS_3

perjalanan pulang Binar dan Bintang menaiki sebuah mobil, Binar menatap Bintang yang fokus dengan komputernya. Binar sangat ingin bertanya kepada Bintang, sejak kapan gadis itu mengenal Raka sampai akrab seperti itu. Bintang yang sedari tadi merasa ada yang melihatnya, ia menoleh kearah Binar yang masih melihatnya. Bintang tersenyum dan mencoba memberikan kata kenapa, Binar menggelengkan kepala dan melihat kearah lain.


"eh Binar, kamu ngerasa gak sih kalau pernah lihat bosmu! " ucap Bintang, Binar memutar bola matanya dengan malas.


"iya pernah, orang gue lihat dia setiap gue kerja! " saut Binar malas, Bintang tertawa pelan lalu menggelengkan kepalanya.


"bukan itu, maksud aku kayak pernah lihat sebelumnya gitu loh! " ucap Bintang lagi, Binar memejamkan matanya dan tidak memperdulikan Bintang. "pas banget ya, sudah ganteng, kaya, tinggi, mancung sukses duh, siapa yang gak mau sama dia! "


"gue, gue gak mau sama dia! " saut Binar cepat, Bintang tertawa mendengar itu.


"iya sekarang bilangnya gak mau, pas nanti jatuh cinta nangis nangis pengen dicintai! " ucap Bintang, Binar kesal langsung memukul Bintang pelan.


"amit amit, gak bakal gue nangis gara gara tuh bos songong! " saut Binar kesal, Bintang tertawa karena puas menggoda adiknya. tapi kemudian Binar berpikir tentang perkataan Bintang, yang mengatakan kalau melihat bosnya itu tidak asing. itu yang Binar rasakan dulu saat pertama kali melihat pria itu, ada perasaan mengatakan kalau ia pernah bertemu sebelumnya. sampainya dirumah mereka berdua tidur di satu kasur, mereka melihat langit langit kamar mereka. Bintang mengangkat sebuah gelang disana, dan kemudian melihat kearah Binar yang bersamaan saling melihat.


"aku merindukannya, bagaimana keadaannya ya! " tanya Bintang, Binar menghela nafas dan merebut gelang itu.


"ngapain lo mikirin dia, iya kalau dia mikirin kita juga. paling juga di udah lupa sama kita, sudah jangan ditunggu pria seperti itu! " ucap Binar membuang gelang itu, Bintang terkejut dan langsung mencari gelang yang dilempar Binar.


"kenapa kamu melempar gelangnya, kamu tahu kan hanya barang itu pemberian Raka yang terakhir! " ucap Bintang sedih dengan mencari gelang itu, Binar yang melihat itu merasa bersalah dan membantu Bintang mencari gelangnya.


"sampai kapan lo mau nunggu Raka, emangnya dia punya rasa yang sama lo? "

__ADS_1


"aku gak tahu, yang aku tahu aku akan menyimpan rasa ini sama Raka sampai ketemu Raka! "


"kalau dia udah nikah gimana, gue gak mau lo hancur karena laki laki! " bentang Binar, Bintang menggelengkan kepalanya dan memeluk gelang yang sudah ia temukan.


"iya aku bakal berhenti berharap kalau memang Raka sudah punya, sementara itu aku masih mau menyimpan rasa ini dulu! " ucap Bintang lalu tidur di kasurnya sendiri, Binar menghela nafasnya kemudian memeluk tubuh Bintang. ia merasa bersalah sudah marah, ia juga tidak tahu kenapa ia sangat kesal dan sangat ingin marah.


"maafin gue, gue gak maksud buat marah. gue hanya capek lihat lo inget dia terus, dan gue gak mau lo sakit hati! " ucap Binar, Bintang hanya menutup mata dan hanya mendengarkan Binar tanpa menjawab. Bintang sudah biasa dengan Binar seperti itu, Binar akan selalu marah jika dirinya menyebut Raka apalagi tentang perasaannya pada Raka.


...****************...


tidak terasa Binar bekerja sudah hampir tiga bulan lamanya, Raka dan Binar selalu menjadi rekan kerja yang baik. tapi entah apa yang dirasakan Binar beberapa waktu itu, seperti ada perasaan aneh yang mengganggu nya saat melihat Raka. jantungnya selalu berdegup kencang ketika melihat Raka, karena beberapa waktu Raka bersikap baik kepadanya. bahkan beberapa kali Raka mengajaknya makan siang hingga makan malam, Binar sampai mengatakan pada dirinya untuk tidak terlalu baper pada bosnya itu.


"ehem, ceroboh! " ucap Raka mendirikan tubuhnya, Binar langsung malu dan menocoba meminta maaf pada Raka.


"maaf RV, saya tidak dengar kalau anda memanggil! " saut Binar menyesal, Raka menghela nafas kemudian mengangguk.


"ikut saya makan siang, jangan melamun jika masih dijam kerja! " ucap Raka kemudian pergi dari sana, Binar memukul kepalanya sendiri mengutuk kecerobohannya. Binar mengikuti langkah Raka, tapi ditengah jalannya dihentikan oleh seorang pria. Binar terkejut dan hampir saja terjatuh, ia menghela nafas nya berat.


"Hai nona Binar, ingat padaku? " Binar menatap wajah pria yang bicara itu, kemudian ia teringat pria itu adalah Irfan pria yang bicara dengannya beberapa bulan laku atau saat pesta ulang tahun nenek bosnya. Binar tersenyum kemudian mengangguk, ia melihat Raka yang sudah berjalan jauh.


"maaf saya buru buru, lain kali kita bicara lagi! "

__ADS_1


"oh ayolah ini jam makan siang, bagaimana kalau kita makan siang dan sedikit mengobrol! " ucap Irfan mencegah Binar pergi, dengan kesal Binar menghela nafas karena tidak bisa melewati Irfan yang terus menghalanginya.


"maaf saya sudah akan pergi makan siang, jika anda terus menghalangi saya bagaimana saya akan berjalan pergi! " saut Binar, Irfan tersenyum melihat Binar.


"baiklah jika tidak makan siang, maka makan malam bagaimana? " ucap pria bernama Iifan itu, Binar menghela nafas dengan senyuman.


"tidak Terima kasih! " ucap Binar kemudian berlari membuntuti Raka, meninggalkan Irfan yang tersenyum penuh arti menatap kepergian Binar.


Raka yang merasa tidak ada Binar di belakangnya menoleh, ia melihat Binar berlari kearahnya. terlihat larinya itu sempoyongan, bahkan sepatu yang ia gunakan hampir saja lepas. Raka mendelik melihat itu, Binar langsung berhenti di hadapan Raka dan mengatur nafasnya. Binar tersenyum dengan senyuman merekah, Raja menghela nafas dan kemudian berpikir ia tidak habis pikir dengan gadis itu.


"apa kamu sedang balap lari? " tanya Raka dengan nada datar, Binar tersenyum menggelengkan kepala.


"aku hanya ingin membuka kan pintu untuk anda, jadi aku berlari untuk mengikuti langkah anda! " saut Binar, Raka menggeram lalu masuk kedalam mobil kemudian diikuti Binar yang duduk disebelahnya. Binar melihat Irfan yang masih berdiri disana, ia benar benar kesal bertemu dengan pria itu. kalau saja bukan teman bisnis bosnya, Binar akan memaki pria itu sampai habis.


"ada apa? " tanya Raka, Binar menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "malam ini kita akan lembur, jadi makan yang banyak agar nanti malam tidak merasa lapar dan mengganggu pekerjaanmu! " ucap Raka lagi, Binar mengangguk dengan itu. Binar yang tidak ingin terus bertemu Raka, malah harus lembur semalaman bersama bosnya itu. "apa tidak punya mulut? "


"iya RV, saya akan makan dengan banyak. saya akan minum kopi agar tidak mengantuk, kalau anda mau aku juga akan membuatkan kopi untukmu! " ucap Binar tersenyum, Raka mengangguk setuju dengan itu.


"bagus! "


...****************...

__ADS_1


__ADS_2