Blokade Hotel Hastungkara

Blokade Hotel Hastungkara
Episode 1,1: Hampir Saja,...


__ADS_3

Hampir Saja,...



Napas Fadil menderu seiring dengan berdetaknya jantung miliknya. Keringatnya keluar sebesar biji jagung. Mengalir di permukaan kulitnya yang sudah basah oleh keringat.



Aku bisa. Aku bisa. Aku bisa. Katanya dalam hati.



Suara sorakan dari sekelilingnya mulai terdengar samar. Rupanya otaknya sudah kekurangan oksigen. Dia sudah lelah, tapi terus memaksakan dirinya. Tidak, ini menentukan segalanya, batinnya lagi. Suara sorakan itu, tak lain dan tak bukan berasal dari teman-teman senior dan juga juniornya. Yang mendukungnya untuk memenangkan tinju ronde ke tiga yang sedang di jalaninya ini. Dia sangat optimis sekali untuk menang. Lihatlah, si lawan, salah satu juniornya, wajahnya sudah memucat.



Wush!



Layangan tinju dari juniornya berhasil Fadil hindari. Sementara tangan kanannya melakukan tinju ke atas untuk mengenai rahang lawan. Ia tersenyum. "Akan kuakhiri semua ini," gumamnya.



Tangan kiri Fadil dilayangkan dengan sisa-sisa kekuatan miliknya. Ia arahkan tepat ke kepala musuh.



Bug.



Sayangnya, musuhnya cepat menyadari serangan Fadil dan melakukan blok dengan kedua tangannya. Meski, serangan kuat Fadil membuat kuda-kudanya goyah, kepalanya jadi terselamatkan. Sial, batin juniornya. Ia tak menyangka senior terlemah di STIN(Sekolah Tinggi Intelijen Negara) ini memiliki pukulan sekuat itu. Kemudian, dia tersenyum licik. Tapi,..



Bug!



Kali ini pukulan Fadil berhasil mengenai kepala junornya. Langsung saja, tubuh besar juniornya roboh. Andai saja tidak ada pembatas pada arena itu, tubuh juniornya menghempas lantai dengan kuat. Tapi, tali pembatas di arena tinju itu menahan tubuhnya. Membuat tubuh besar itu memantul-mantul pelan. Sementara di luar ring, para penonton memasang wajah yang variatif. Mulai dari terkesima sampai kecewa.



Fadil tak memberikan secuilpun kesempatan musuhnya untuk bangkit. Dia segera memeluk tubuh musuhnya, menariknya kuat-kuat. Membalikan tubuhnya. Setelahnya, pukulan bertubi-tubi ia lancarkan.



Bug! Bug! Bug!



Wajah, dagu, rahang, samping kepala. Fadil menikmatinya sedikit. Beberapa darah muncrat dari mulut lawannya. Tapi, tinjunya dihentikan oleh wasit. Rupanya ronde ke tiga telah berhenti. Denting gong berbunyi tiga kali.



Dengan kecewa, Fadil mundur ke pojok ring. Duduk, istirahat sejenak. Teman-temannya memberikan minum air mineral. Ia menerimanya, meminumnya sepertiga, sementara sisanya ia guyurkan ke wajahnya. Gila, batinnya, panas. Salah satu teman dekatnya, yang juga juniornya, Kiki, mengusapkan handuk di bagian tubuhnya. Sepertinya dia juga membicarakan sesuatu, tapi telinga Fadil tidak bisa menangkapnya dengan jelas. Mungkin karena beberapa pukulan yang di terimanya di ronde-ronde yang dia lewati. Juga kurangnya oksigen yang ia bisa raup.



Gong berbunyi tiga kali lagi. Ronde empat dimulai.



Ini ronde terakhir, kata Fadil meyakinkan dirinya sendiri. Tanpa basa-basi, Fadil menyerang musuhnya.



Bug!



Berhasil. Musuhnya terkapar lagi. Dia segera menindihnya untuk mengakhiri permainan.



"Satu!" Si wasit dan penonton mulai menghitung bersama.



"Dua!" Optimis Fadil meningkat.



"Ti,... Tunggu! Si penantang berhasil lolos. Hampir saja."

__ADS_1



"Sial!" Umpat Fadil. Tenaganya tak cukup kuat menahan juniornya yang sudah terkapar. Buru-buru dia berdiri. Memasang kuda-kuda.



Entah dapat kekuatan dari mana, juniornya terlihat lebih bugar. Dia melakukan serangan. Fadil menunduk menghindar. Namun, tinju lian juniornya melayang. Pukulanya meleset. Tapi, itu membuat mata Fadil membulat.



Jangan-jangan,... Dia mengincar bahu kananku? Kalau benar bisa gawat.



Bug!



Fadil berhasil menangkis serangan juniornya. Ia melakukan serangan balik yang mengenai perut lawannya. Tak menyia-nyiakan waktu, ia mengirim serangan lagi. Namun, serangan itu di halau tangan lawannya.



Mata Fadil kembali membulat ketika tangan lain juniornya sudah mengincar bahu kanannya. Tak akan sempat untuk menghindar.



Bug!



Fadil memekik keras. Rasa sakit di bahu kanannya menjalar. Sial! Para penonton bergemuruh tak jelas mendukung siapa. Belum juga dia bisa mengatasi sakit di bahu kirinya, sebuah pukulan kuat menghantam wajahnya. Membuatnya terhantuk lantai kuat sekali.



Pusing!



Tapi, Fadil berhasil menghindar ketika lawannya hendak menindihnya.



Krak!




Kenapa? Kenapa dia tahu kelemahanku? Batinnya. Kini raut wajah Fadil seperti cucian basah, kisut. Sarung tinju di tangan kanannya mendadak serasa lebih berat sepuluh kali lipat. Parahnya, dia tak bisa menggerakkannya.



Di depan Fadil, lawannya juga sudah memasang kuda-kuda. Mendekat. Menyerang. Fadil hanya bisa menangkis dengan tangan kirinya. Karena tangan kananya benar-benar mati. Akibatnya, beberapa pukulan berhasil menyentuh wajahnya. Di luar ring, penonoton bersorak lebih keras.



Sia-sia, batin Fadil. Aku sudah tidak bisa melawan lagi. Seandainya boleh pakai kaki, aku mungkin masih bisa menyerangnya. Kepalanya sudah benar-benar kocak. Kemudian, pukulan besar menghantam hidungnya.



Bug!



Darah mengucur dari hidungnya. Sementara tubuhnya ambruk di lantai ring. Bahkan saat juniornya menindih tubuhnya, ia sudah tak bisa merasakannya. Dia kalah telak hari ini. Hampir saja dia menang tadi.



Yah, hampir saja...



***



"Teman-teman, hentikan! Sumpah, aku takut ketinggian. Kumohon, hentikan!" Pekik Fadil. Saat itu, dia berada di rumah pohon. Tubuhny di ayun-ayunkan kedua temannya, Wira dan Damar. Mereka usil mengerjai Fadil. Sekaligus mengetes rumor tentang phobia Fadil.



"Ini benar-benar nggak lucu, teman-teman. Kumohon Hentikan!" Fadil pucat pasi melihat ke bawah. Sekitar sepuluh meter dari permukaan tanah.



Kedua temannya malah tertawa seakan benar-benar mau melempar Fadil.

__ADS_1



"Dalam hitungan tiga, ya, Wir?"



"Siap!"



Mata Fadil membulat. Ia mencoba meronta, tetapi tubuhnya dipegang kuat oleh keduanya.



"Teman-teman, kumohon hentikan!"



"Satu,..."



Wira dan Damar mulai menghitung dan mengayunkan Fadil lebih kuat lagi. Rencananya, mereka akan melempar Fadil ke dalam rumah pohon yang sudah mereka beri kasur yang lebih empuk. Sayangnya, Fadil sudah berpikir kalau dirinya akan dilempar ke tanah di bawah sana.



"Dua,..."



"Teman-teman,..." Fadil mulai pasrah, suaranya merendah.



"Tiga,..."



Ternyata rencana Damar dan Wira gagal. Damar salah perhitungan. Dia melepaskan pegangannya pada Fadil lebih dulu. Sementara pegangan Wira yang mulai melonggar tidak sempat menahan tubuh Fadil.



Wush!



Kyaaa!



Bug!



Tubuh Fadil jatuh di ketinggian sepuluh meter. Tangan kananya jatuh terlebih dahulu.



"Dia jatuh. Dia jatuh." Kata Wira panik. "Kamu, sih. Seharusnya dilepaskan saat tubuhnya tepat mengarah ke rumah pohon, kan?"



Damar hanya terdiam. Dia sangat pucat.



"Kau sengaja, ya?"



***




Fadil membuka matanya lebar-lebar. Gelap. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Dia merasakan rasa nyeri di bahunya. Kepalanya masih pusing. Hidungnya terasa panas dan sakit. Dia masih telanjang dada dan memakai bokser miliknya. Dia sudah di kamarnya rupanya.



Mimpi itu? Batin Fadil. Mimpi itu adalah ingatnnya setahun yang lalu. Yah, sejak saat itu, sendi peluru di bahunya mudah lepas. Sudah berkali-kali dia ke dokter tulang. Mereka semua tak bisa menyembuhkannya dengan total. Selalu saja putus lagi. Dokter menyarankan untuk tidak menggunakan tangan kanannya berkerja lebih berat. Itu sebabnya dia memperkuat tangan kirinya.



Pikirannya melayang jauh. Mengingat pertandingan tadi. Dia tak habis pikir, kenapa juniornya itu tahu soal kelemahannya. Apa dia diberitahu seseorang? Tapi, oleh siapa? Tak ada yang tahu soal ini kecuali,...

__ADS_1



(Catatan: Hai, readers, terus panatau karyaku, ya. Kini Novel Blokade Hastungkara muncul dengan versi baru dan alur yang lebih baik. Stay tune. Jangan lupa krisarnya.)


__ADS_2