Blokade Hotel Hastungkara

Blokade Hotel Hastungkara
Episode 6.2 : ketika Lampu Kembali Menyala


__ADS_3

Kuat sekali. Apa dia bisa lepas?



Tung!



Kuncian di tubuh Fadil mengendor. Perlahan tubuh perempuan itu ambruk. Saat Fadil berbalik, dia melihat Nina berdiri dengan kedua tangan memegang teflon penggorengan. Tangannya gemetar. "Apa dia mati?" tanyanya gemetar.



Fadil menggeleng setelah mengecek nadi perempuan asing itu. Masih ada denyut di sana.



"Kamu tidak apa-apa?" Fadil bertanya.



Nina menggeleng. "Aku baik-baik saja. Sebenaranya ada apa ini?"



Fadil mengedikkan bahunya. "Aku masih belum yakin," katanya sambil menyeret tubuh perempuan asing itu. Menegakkannya. "Kemungkinan saat ini Hotel Hastungkara telah diserang."



"Tapi, bagaimana bisa?" tanya perempuan itu sedikit shok.



"Tutup pintunya dulu!" titah Fadil tegas. Dia tak mau ada teroris lain yang tidak sengaja melihat ke dalam.



Nina menutup pintu. Menguncinya. "Apa kamu juga di serang?"



"Ya. Ada seorang laki-laki yang datang ke kamarku. Dia benar-benar ingin membunuhku.



"Bisa kau ambilkan tali atau benda semacamnya?"



Nina menuruti semua omongan Fadil. Padahal beberapa hari yang lalu dia menganggap Fadil itu orang bodoh. Sekarang, bisa di bilang dia yang bodoh. Dia menemukan sepasang tali sepatu, lalu memberikannya ke Fadil.



Fadil menerima tali tersebut, mengikatkannya sama persis dengan laki-laki yang tadi menyerangnya. Lalu, memasukkannya ke dalam bak mandi.



"Kira-kira kenapa mereka menyerang hotel ini?" tanya Nina takut. Saat ini sangat banyak pertanyaan di kepalanya yang mungil itu.



"Kurasa semua ini masih ada hubungannya dengan kedatangan presiden ke sini." Fadil menjawab sesuai pemikirannya.



"Apa ... apa kita akan selamat?" Perlaha tubuh Nina bergetar. Dia sangat syok dengan keadaan beberapa menit lalu. Dia tak pernah dicekik hingga hampir tewas sebelumnya.



Fadil mendekatninnya. Memelukanya. Membelai rambut panjangnya. Menenangkan. "Aku yakin kita akan selamat. Termasuk bayimu."



Nina melepas pelukan Fadil. "Jangan bahas anak di dalam rahimku," katanya cukup kasar. Ketakutannya terganti dengan kejijikan. Dia tidak mau di sentuh pria manapun saat ini. Semua pria sama saja. Mereka hanya ingin memuaskan hasrat mereka. Setelahnya, korbannya pasti di tinggalkan.


__ADS_1


Fadil tersenyum tipis. Dia mengerti. Nina berada di masa-masa terberatnya.



Tiba-tiba lampu kembali menyala.



Keduanya mnyipitkan mata. Sama-sama menyesuaikan dengan cahaya sekitar.



"Listriknya sudah menyala."



"Tunggu!" kata Nina menyadari sesuatu. Dalam cahaya lampu, dia meliahat darah mengering di dahi Fadil. Darah itu membentuk garis panjang hingga ke dagunya. "Kau terluka?"



"Tidak apa, sudah mengering, kok." Fadil berbohong. Sebenarnya kepalanya pusing juga ada rasa nyeri di bekas lukanya. "Sebaiknya kita segera pergi sebelum ada orang asing lain."



Nina masih memandangi luka Fadil. "Kita mau ke mana?"



"Ruang makan. Aku harus menyelamatkan seseorang lagi."



Tak banyak yang Fadil ambil dari perempuan tadi. Tak ada pistol, tak ada amunisi, hanya sebuah dalaman perempuan yang anti peluru. Nina yang pada akhirnya memakainya.



Fadil membuka pintu perlahan. Kosong. Tidak apa-apa di lorong. Mereka berjalan berjingkat seperti pencuri agar tidak menimbulkan suara. Beberapa kamar menjeblak terbuka. Fadil menyarankan agar Nina tidak melihat ke dalam kamar-kamar yang terbuka tersebut. Karena penasaran, Nina melihatnya. Langsung saja, dia menjerit ketakutan. Tapi, Fadil langsung memebekap mulut perempuan itu. Dia tak mau ada orang asing yang mendengarkan mereka. Setelah Nina tenang, Nina merasakan perutnya melilit mual. Dia tak sanggup melihat darah yang berceceran di dalam kamar-kamar tersebut. Berbagai macam kematian berbeda di setiap kamar. Ada yang ditusuk pisau, kepala yang ditembus peluru, sampai wajah yang babak belur sampai-sampai tak dikenali wajahnya.



"Kamu mau permen?" tawar Fadil yang kasihan melihat Nina terus-menerus menutup mulutnya. Berusaha tidak mengeluarkannya. Tapi, bodohnya, perempuan itu masih mengintip di setiap kamar yang terbuka.




Fadil melihatnya dengan jijik.



"Kenapa?! Kau jijik?!" bentak Nina. Kemudian, memuntahkan isi perutnya lagi.



"Kau mau permen?" Fadil mengulangi tawarnnya. Dia meraup segenggam permen yang bisa dia raih dari kantongnya. Lalu, mengulurkannya pada Nina.



Nina langsung mengambil semuanya. Mengisapnya lima sekaligus.



"Kau benar-benar Ra ..."



Nina memotong ucapan Fadil lagi. "Rakus? Kau mau mengataiku Rakus, begitu?!" Entah kenapa Nina menjadi temperamental. Mungkin karena bayi yang sedang dikandungnya.



Fadil langsung membekap mulut Nina lagi. Telingannya mendengara seseorang mendekat. Dia menarik Nina masuk ke dalam kamar yang pemiliknya telah tewas tercekik. Kamar itu sangat berantakan. Pemilik sebelumnya mungkin sempat melakukan perlawanan sebelum tewas kehabisan oksigen.



Fadil menutup pintunya. Menguncinya. Menyeret sebuah laci kayu untuk menahannya.

__ADS_1



"Adha apha, Dhil?" Nina tak sempat menggerutu. Ketakutan kembali menyelimutinya.



"Ada seseorang yang mendekat."



Kemudian, dari earphonenya Fadil mendengar sesuatu.



"Tim? Tahap satu belum selesai. Ada beberapa penginap hotel yang masih hidup. Kita juga kehilangan dua kontak agen kita. Kemungkinan ada perlawanan yang cukup kuat di lantai 180. Tim Alfa dan Tim Beta, cari mereka. Kemudian habisi semuanya. Mungkin salah satu dari mereka adalah si pembocor."



"Gawat! Mereka mengincar kita. Sepertinya siapapun mereka, telah membuat beberapa tahap. Tahap pertama adalah membunuh setiap penghuni hotel. Kita akan dibunuh."



Nina terbelalak. Dia benar-benar ketakutan. "Jadhi, apha yang harus kihta lakhukhan?"



Fadil menoleh ke arah Nina. "Pertama, tutup matanya dulu." Fadil menunjuk mayat pria yang bersandar di tembok dengan mata terbuka. "Aku risih melihatnya."



Nina menarik pikirannya beberapa menit lalu. Cowok yang menyelamatkannya benar-benar bodoh. "Khau serius?"



Fadil mengedikkan bahunya. Dia benar-benar tidak bisa berpikir jika ada mayat yang menatapnya.



"Khau pikhir akhu berani melakhukhan ithu?"



"Kamu harus berani. Aku tak bisa berpikir jika mayat itu terus menatap seperti itu."



Cowok di depan Nina membuatnya benar-benar kesal. Dia sangat menyebalkan. Tapi, dia segera menurutinya. Menutup mata mayat itu perlahan.



"Sudhah, nhih. Sekharang apha yang harus kitha lakhukhan?" tanya Nina kesal. Sampai-sampai sebuah permennya hampir keluar.



Fadil berputar-putar di ruangan itu sebentar. Lalu, berhenti. "Aku tidak tahu ini berhasil atau tidak. Tapi, kita harus keluar dari sini."



Nina terbelalak lagi. "Jadhi, khitha akhan menghadhaphi merekha?"



"Ya, kita tidak bisa terus-terusan diam di dalam gua yang tak selamanya aman, kan?"



Nina mendengus. "Jadhi, ini yang bisa kau phikhirkhan?"



Fadil mengangguk enteng.



"Sial!" Nina mengumpat keras-keras. Cowok di depannya ini membuatnya gila. Dia sangat tolol, bego, bodoh, gak waras. Tapi, dia tidak bisa mengelak kalau Fadil telah menyelamatkannya dua kali.

__ADS_1



Fadil nyengir mendengar respon Nina. Tapi sebenarnya jantungnya sedang berpacu dalam adrenalin yang mengalir deras. Pikirannya berkata, ini saatnya menunjukkan kemampuan senjatanya.


__ADS_2