Blokade Hotel Hastungkara

Blokade Hotel Hastungkara
Episode 5.1 : Tragedi di Pesta Penyambutan


__ADS_3

"Dalam hitungan tiga, ya, Wir?"



"Siap!"



Mata Fadil membulat. Ia mencoba meronta, tetapi tubuhnya dipegang kuat oleh keduanya.



"Teman-teman, kumohon hentikan!"



"Satu,..."



Wira dan Damar mulai menghitung dan mengayunkan Fadil lebih kuat lagi. Rencananya, mereka akan melempar Fadil ke dalam rumah pohon yang sudah mereka beri kasur yang lebih empuk. Sayangnya, Fadil sudah berpikir kalau dirinya akan dilempar ke tanah di bawah sana.



"Dua,..."



"Teman-teman,..." Fadil mulai pasrah, suaranya merendah.



"Tiga,..."



Ternyata rencana Damar dan Wira gagal. Damar salah perhitungan. Dia melepaskan pegangannya pada Fadil lebih dulu. Sementara pegangan Wira yang mulai melonggar tidak sempat menahan tubuh Fadil.



Wush!



Kyaaa!



Bug!



***



Fadil terjatuh dari kasurnya yang empuk. Mimpi itu lagi, batinnya. Akhir-akhir ini dia sering memimpikan kejadian masa lalu tersebut. Tangan Fadil tiba-tiba merasa ngilu. Seakan baru kemarin dia jatuh dari pohon itu. Dari pada memikirkan itu, hari ini lebih patut dipikirkan. Presiden akan datang ke sini hari ini.



Persis seperti yang digosipkan, semua pegawai sibuk mempersiapkan kedatangan presiden. Beberapa lantai yang dijadikan sebagai museum ditutup. Menurut yang Fadil dengar kedatangan presiden ke Hotel Hastungkara adalah untuk melihat kemajuan teknologi yang sedang dirancang di lantai atas gedung ini.



Fadil tak bisa melakukan banyak hal pada hari itu. Lantai yang boleh di kunjungi hanya lantai 100. Ketidaksabarannya untuk melihat presiden secara langsung, membuat waktu terasa lebih lambat. Tapi, setelah melakukan latihan fisik, kebetulan sudah lama dirinya tidak latihan, kegabutannya teratasi.



"..., seratus sembilan puluh lima,..." Fadil telah menghitung push-up-nya sampai dengan hitunga tersebut dan masih terus berlanjut. Bulir-bulir keringat membasahi kulitnya. Napasnya teratur, naik turun.



Tok! Tok! Tok!



Pintu kamarnya di ketuk beberapa kali.



Fadil mengakhiri push-up-nya. Lalu, segera membuka pintu. "Eh ... Sya, kenapa?"



"B-boleh aku masuk dulu?"



Fadil mengangguk.



"D-Dil, kamu benar-benar ingin bertemu dengan presiden?" tanya Rasya memastikan.



"Tentu saja."



Rasya sedikit takut mengatakannya. Tapi, tidak ada pilihan lain. Hanya itu salah satu jalan yang bisa dipikirkan otaknya. Dia menghela napas panjang. "D-Dil, sebenarnya rencaanaku adalah memasukkanmu ke daftar pelayan pesta. Tapi, posisi itu sudah penuh. Sementara posisi lainnya tidak akan menguntungkanmu untuk melihat presiden."

__ADS_1



Fadil kecewa mendengarnya. "Jadi, maksumu aku tidak akan bisa melihat presiden?"



Rasya menggigit bibir bawahnya. Sekali lagi, dia benar-benar takut akan rencana cadangannya. "T-tapi, aku berhasil menjadi pelayan pesta ..."



"Terus aku akan menggantikan posisimu, begitu?" tebak Fadil.



"Y-ya. Tapi jika ketahuan ..."



Fadil menepuk bahu Rasya. "Oke, aku setuju. Aku janji tidak bakal ketahuan. Setelah aku melihat presiden, aku akan langsung kembali."



"K-kalau begitu, kita lakukan sekarang. Akan datang beberapa menit lagi."



***



Fadil memakai seragam pelayan milik Rasya yang pas di tubuhnya. Ternyata postur tubuh mereka tidak jauh beda. Fadil yakin penyamarannya tidak akan terbongkar. Apalagi semua pelayan diwajibkan memakai masker. Jadi, semua penampilan pelayan hampir sama satu sama lain.



Dirinya sekarang berada di lantai 188. Sebuah aula besar ada di sana. Semuanya sudah di susun dengan apik, oleh petugas dekorasi. Tapi, Fadil tidak terlalu memerhatikan semua hiasan di sana. Dia sudah tidak sabar menantikan kedatangan presiden.



Tepat setelah lagu 'Selamat Datang' dinyanyikan, pintu aula terbuka lebar. Gerombolan manusia berdatangan. Itu para pejabat.



"Sya, ayo cepat bantu sebelah sini," kata salah satu pelayan.



"B-baik." Fadil berusaha sebaik mungkin meniru logat dan suara Rasya.



Dia mulai membantu mengantarkan makanan dan minuman. Sementara, tamu terus berdatangan.




Gubrak!



Nampan minuman yang di bawanya berhamburan di karpet, membuat noda gelap di sana. Beberpa lagi mengenai baju orang yang baru saja ditabraknya. "M-maaf," kata Fadil kikuk. Dia terlalu fokus dengan tujuannya di sini. Sampai-sampai melupakan tugasnya. Aduh, Fadil benar-benar menghayati dirinya menjadi Rasya. Bahkan sampai ke tingkat kecerobohannya.



"Tidak, saya yang minta maaf. Saya tadi terlalu fokus melihat ke tempat ini."



Dug!



Tangan Fadil berhenti memunguti pecahan gelas. Jantungnya berdetak lebih keras. Dia mengenal suara itu. Fadil mendongak sedikit. Benar saja, orang yang baru saja ditabraknya adalah teman lamanya, Wira.



Ingatan lamanya kembali menganga. Rasa sakit menjalar di bahu kanannya.



Fadil buru-buru membersihkan pecahan kaca itu. Lalu, segera pergi. Dia tidak mau sampai Wira tahu bahwa itu dirinya. Tapi,...



"Hei, tunggu!"



Dug!



Gawat, apa Wira tahu bahwa itu dirinya? Orang yang dulu menjadi sahabatnya? Jika sampai Wira tahu kalau itu dirinya, apa yang harus dia lakukan?



Fadil berusaha tenang. Membalikan tubuhnya. Sekarang matanya benar-benar dapat melihat Wira dengan jelas. Tak salah lagi itu memang dia. "Sekali lagi maaf, ya, Mas," katanya.



"Tidak apa-apa."

__ADS_1



Dug! Fadil keceplosan. Wajah Wira berubah curiga. "Eh ... Sepertinya saya kenal dengan suara itu. Apakah ..."



Gawat!



"Sya," potong seorang pelayan. "Kamu melakukan hal bodoh lagi, ya?"



Ketegangan Fadil mengendor.



Pelayan itu menunduk dalam. "Maaf, ya, Tuan. Rasya memang sedikit ceroboh, orangnya."



"Enggak, kok. Saya yang salah,"



"Kalau begitu kami pergi, maaf."



Pelayan tadi menyeret Fadil kembali ke ruang pelayan. "Kalau kami capek kamu bisa istirahat dulu, Sya. Tapi jangan lama-lama, ya. Satu lagi, berhati-hatilah."



Fadil mengangguk. "Aku mau ke luar sebentar."



Pelayan itu mengangguk.



Fadil merasa lega bisa terbebas dari kejadian tadi. Tapi, sayangnya dia harus rela tidak bertemu dengan presiden hari ini. Bisa gawat jika dia bertemu dengan Wira lagi. Sudah pasti di mana ada Wira di situ pasti ada Damar. Menurut informasi terakhir tentang keduanya, mereka ditugaskan sebagai rekan kerja dalam operasi khusus. Tapi, di sisi lain, Fadil merasa kekecewaannya beberapa tahun lalu muncul kembali. Kemarahannya. Emosinya. Semuanyacampur aduk menjadi satu. Fadil belum rela dengan keadaannya sekarang.



"B-bagaimana, Dil? Sudah bertemu Pak ASN?" tanya Rasya setelah dia tiba di kamarnya.



Fadil menggeleng lemas. "Tidak, beliau belum datang."



"L-lha terus, kenapa kamu kembali? Apa jangan-jangan ..."



Fadil memotong ucapan Rasya cepat, "Tidak ketahuan, kok. Tenang saja. Mungkin hampir."



"H-ham-pir!" Rasya tambah gelagapan.



Fadil nyaris tertawa melihat ekspresi itu. Sayangnya pikirannya dipenuhi gejolak masalah. "Aku tadi sudah janji, kan? Semuanya akan baik-baik saja."



"D-Dil, aku jadi takut."



"Semuanya akan tidak baik-baik saja jika kamu tidak segera kembali."



Rasya mengangguk lesu.



Mereka berganti pakaian



***



Fadil tak bisa tidur. Pikirannya masih melayang dengan kejadian beberapa saat lalu. Apa benar dia Wira? Jika demikian, apa Damar juga ada di sini? Apa yang mereka lakukan di sini?



Fadil tersadarkan oleh ketukan pintu kamarnya yang semakin mengeras. Fadil segera membuka pintunya.



"Fadil!?" Pekik Wira dan Damar bersamaan.


__ADS_1


Kedua teman masa lalunya kini di depan matanya. Seketika tanganya merasa berdenyut. Fadil benci melihat mereka berdua.


__ADS_2