Blokade Hotel Hastungkara

Blokade Hotel Hastungkara
Episode 11: Presiden Kritis


__ADS_3

Nina berkali-kali menggosok telingannya. Ada rasa... Bukan, suara maksudnya. Suara gemerisik yang mengganggu. Dengan sebal dia meraba telingannya. "Oh, Pantesan," gumamnya kesal. Tangannya mencabut earphone yang tadi dia lupa tak ia lepaskan. Dengan kesal dia melemparnya menjauh. Toh, tak berguna juga pikirnya.


"Aduh!" erang Fadil. Earphone itu menumbuk pelipisnya. Memang earphoen itu kecil, tapi kerana terkejut dia sampai terbangun.


"Oh, maaf, Dil. Aku ... Hanya kesal," sahut Nina segera melilitkan selimut ke tubuhnya. Dia ingat masih setengah telanjang saat itu."


Fadil mengambil earphone itu, "Sudah kubilang buang saja."


Nina malah nyengir. "Sebenarnya mau kusimpan saja, tapi, earphone itu bergemerisik terus. Aku kesal, kubuang saja, deh," jelasnya berusaha tak merasa bersalah.


"Apa maksudmu bergemerisik?" tanya Fadil menatap tajam ke arahnya, lalu ke earphone di tangannya.


"Yah, kau tahulah suara-suara statis."


Mata Fadil membulat. Itu tandanya ada seseorang yang masih bicara di frekuensi lama. Nina hanya mendengar suara statis dikarenakan dia belum mengaktifkan earphone tersebut. Fadil segera mengaktifkannya, memakainya. "Sejak kapan kau mendengar suara itu?"


Sebelum Nina menjawab. Fadil melambaikan tangannya, menyuruh Nina diam sebentar. Dia mulai mendengar suara dari earphonenya. Suara bisikan yang kelelahan juga frustasi.


"...tolong datang ke lantai 135. Kamar 135TerangBulan..." Terdengar suara statis sejenak. "Siapapun kamu, aku yakin kamu pasti ingin segera keluar dari sini. Tapi, dengarkan aku, Pak Presiden sedang sekarat saat ini. Beliau kehilangan banyak darah. Aku butuh ke ruang kesehatan untuk mengambil kantong darah dan beberapa obat-obatan. Aku yakin, kamu orang hebat. Kerana mereka yang menyerangmu merasa kualahan. Jadi, tolong datang ke lantai 135. Kamar 135TerangBulan..." Terdengar suara statis lagi dan kalimat yang sama Fadil dengar lagi. Rupanya orang tersebut menggunakan mode pengulangan.


"Oh, ya ampun. Gawat, Nin! Gawat, kita harus pergi sekarang."


"Ada apa, Dil?" tanya Nina bingung. Fadil sudah melompat dari sofa. Selimutnya dia biarkan tergantung setengah di sofa. Dia melirik ke jam dinding. Sudah jam tiga. Mereka tidur kurang dari sejam.


"Sejak kapan kau mulai mendengar suara statis itu?" tanya Fadil mengambil senapannya. Pakaian anti peluru yang sempat dia lepas dan oh yeah, dia masih punya permen. Fadil mengisap satu.


"Entahlah, kurasa dari tadi saat kita masih dikejar lima teroris aneh itu. Aku tak terlalu menghiraukannya tadi."


"Kalau begitu, kita harus bergegas--Nin!" seru Fadil geram melihat Nina masih tetap terbengong di atas ranjang.


Nina memalingkan wajahnya. Rona merah terhias di sana. "Aku setengah telanjang," akunya malu-malu.


Fadil nyaris terbahak. Tapi, dia memilih menahannya. Sayangnya masih ada segaris senyum di wajahnya. Itu membuat Nina menggembungkan kedua pipinya. "Oke, aku keluar dulu. Dan jangan lupa setelan anti pelurumu."


Nina tak membalas. Wajahnya mengisyaratkan Fadil untuk segera keluar.


Fadil akhirnya terkekeh, keluar dar kamar menunggu Nina di luar.


***


Wira akhirnya memutuskan untuk langsung pergi setelah menyetel mode pengulangan di microphone miliknya. Denyut presiden nyaris sudahtidak berasa. Jika beliau tidak mendapatkan darah segera, bisa di pastikan beliau akan meninggal.


Perjalanannya menuju lantai 70 tidak terlalu sulit. Memang benar di setiap lantai akan dijaga 5 orang, tapi karena tahap pertama sudah hampir selesai, mereka yang telah menyelesaikan tugasnya hanya berdiam diri atau berpatroli ke sekitar atau hanya sekadar ngobrol Dengan rekan masing-masing.


Wira menghabisi 5 orang dalam perjalanannya ke ruang kesehatan. Justeru di lantai 70-lah yang sulit untuknya. Yeah, sebelum dia dan rekannya yang lain melakukan penyerangan. Mereka sudah dibekali soal hotel ini. Memelajari tempat-tempat penting dalam hotel. Tapi, mereka tidak diberitahu detail lainnya. Begitu pula soal ruang kesehatan, Wira harus mencari ruang lab untuk mengetes darah preseden. Setelah berkeliling dengan senapan yang terus teracung, akhirnya dia menemukan tempatnya di ujung. Kantong darah juga sudah tersediah di sebuah kamar beku di dalam lab.


"Kenapa dia belum bangun juga?" terdengar bisik seseorang dari salah satu ruangan. Langkah Wira terhenti. Tiga kantong darah AB+ berada di kantong kain di tangannya. Saat itu dia sibuk mencari ruang obat.


Kemudian, terdengar bunyi kelontangan dari dalam. Wira menyiapkan senjatanya. Tangan satunya memutar kenop pintu.


"Angkat tangan!" seru Wira menodongkan senapannya.


Klontang!


Sebuah kotak obat jatuh. Seorang pria tua, berpakaian pelayan, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "Oh, yang benar saja. Kau mau melukai orang tua, Nak?" katannya membalik tubuhnya. Wira sempat berpikir kalau orang tua di depanna inilah si Kecoa. Tapi, setelah melihat telingannya yang tak memakai earphone, Wira yakin dia bukan orangnya.


"Zaman memang tambah gila, ya? Anak muda sudah berani menodongkan senjata pada yang tua?"


"Diam!" bentak Wira kesal. Jarinya siap menarik pelatuk senapannya.


"Oh, kau mau membunuhku? Kau tak mau meminta tanda tanganku? Aku cukup terkenal waktu muda dulu, kau tahu, pemenang balap nasional rahun 2020? Itu aku. Ah, kau tak tertarik dengan balapan, ya."


Wira nyaris menarik pelatuknya. Tapi, suara tubuh terjatuh menghentikannya. Tidak, bukan tubuh orang tua itu. Melainkan tubuh seorang pemuda yang baru saja terjatuh dari ranjang dorong di pojok ruangan.


"Rasya?" panggil orang tua tersebut.


"Jangan bergerak!" bentak Wira lagi sebelum orang tua itu bergerak ke Rasya.


"Tapi, dia... Eh? Siapa itu yang datang?!"


Wira langsung menoleh ke belakang. Namun, itu hanya tipuan belaka. Orang tua yang tak lain adalah Pak Danu menyodokkan ujung senapan itu ke wajah Wira. Lalu, merebutnya. Melemparnya menjauh. Menarik tangan kanan Wira ke belakang. Membuatnya berlutut. Menguncinya.


"Oh, Shit! Kakek sialan!" umpat Wira kesal.

__ADS_1


Pak Danu terkekeh. "Untung aku masih sering melatih otot-ototku."


"Lepaskan aku!" ronta Wira kesal.


"Uhuk! Uhuk!" Rasya terbatuk-batuk.


"Baiklah, aku akan melepaskanmu. Dengan satu syarat."


"Sebutkan."


"Tolong periksa Rasya, anak itu, kurasa kamu cukup tahu soal ini."


Wira mengiyakan setelah menimang-nimang posisinya. Dia harus segera menyelamatkan presiden. Pak Danu melepaskan kunciannya.


"Dia baik-baik saja. Hanya perlu oksigen murni agar bisa pulih. Bapak bisa menemukannya di ruang 70B2. Aku habis dari sana tadi," jelas Wira. Dia memang tidak mahir soal beginian. Tapi setidaknya, dia taahu dasar-dasar penanganan pertama.


Pak Danu tersenyum. "Oh, baiklah. Terima kasih kalau begitu juga minta maaf soal tadi."


"Tidak usah, saya yang seharusnya minta maaf dan berterima kasih. Seharusnya saya tanya bapak dulu."


Pak Danu mengangguk mengerti. Dia segera memapah Rasya ke ruang 70B2 setelah mengucapkan semoga beruntung pada Wira.


Wira mengucapkan hal yang sama dan langsung mengambil obat penambah darah dan beberapa obat lain yang diperlukannya di ruangan itu.


Sekembalinya Wira dari Ruang kesehatan, posisi Pak Presiden masih sama. Tak ada tanda-tanda orang masuk ke ruangan itu. Itu membuatnya senang sekaligus kecewa. Dia senang karena tak ada musuh yang tahu dan keadaan presiden masih sama. Tapi, dia kecewa ternyata si Kecoa yang dia kira bisa dia andalkan tak kunjung tiba.


Dan ketika dianggapnya harapannya sia-sia, kenop pintu kamarnya diputar.


***


Nina keluar dengan baju yang sama yang tadi dipakainya. Wajahnya masih menunjukkan kesebalan. "Ada apa, sih?" tanyanya tanpa basa-basi.


"Kau tahu sekarang, maksudku kemarin malam. Pak presiden datang kemari, ingat?"


Nina memutar bola matanya. Berusaha mengingat. Berita itu cukup populer, dia mengangguk. Lalu, matanya melebar, "Maksudmu presiden masih di sini? Terjebak juga?"


Fadil mengangguk serius. "Tepat sekali. Dan menurutku ini ada hubungannya dengan kedatangan teroris-teroris itu, kemungkinan besar itulah alasan mereka kemari, anehnya..."


"Lantai 135. Dia kehilangan banyak darah katanya."


Nina langsung menarik tangan Fadil menggeretnya menuju lift. Ya, Fadil segera mengikuti langkah Nina. Perempuan itu benar-benar semangat sekali. Bahkan tanpa menoleh kiri-kanan saat di pertigaan atau perempatan. Bahkan dia tak akan peduli jika ada musuh yang menembaknya. Untungnya Fadil selalu mengawasi keadaan sekitar mereka. Memastikan bahwa baik-baik saja. Sepanjang perjalanan itu, Nina nyerocos banyak hal.


"Kenapa yang kudengar hanya suara statis?" tanya Nina.


"Karena kamu belum mengaktifkan earphonnya."


"Oh, iya memang apa yang dikatakan orang lewat earphone itu? Apakah orang ini dapat dipercaya-maksudku dia bukan orang jahat, kan? Menurutmu ini bukan jebakan?"


Fadil mencabut earphonnya. Memasangkannya ke telinga Nina. Mengaktifkannya, toh suara itu terus berulang. "Dengar baik-baik. Kalau soal kepercyaan, itu urusan individu. Kalau aku percaya penuh pada orang ini."


Yah, aku percaya pada orang ini karena suaranya tak asing, tambah Fadil dalam batinnya. Dia mengira itu, Wira. Masuk akal, sih. Dia juga yang bilang kan, kalau dia dan Damar bertugas untuk mengawal presiden. Tapi, kenapa dia minta bantuan? Bukankah Wira, Damar, dan beberapa teman-teman mereka lainnya akan membantu? Tak cukupkah kekuatan sebesar itu.


Pintu lift terbuka di lantai 135. Keadaannya sedikit berbeda dari yang lain. Disini tidak seberantakan lantai lainnya. Nina berhenti menarik-narik tangan Fadil seperti tambang sapi dan sapinya adalah Fadil. Dia bertanya, "Dil? Apa kita berpencar saja untuk mencari kamar 135TerangBulan?"


Fadil menggeleng. "Tidak usah, aku sudah tahu sejak awal. Lihat!" Tunjuk Fadil ke salah satu pintu terdekat. "Tiga angka pertama ini menunjukkan lantai, disusul huruf yang menandakan urutan lorong dan angka yang menandakan posisi kamar. 135, berarti itu di lantai 135, kita sudah ada di sini. TerangBulan maksudnya, Terang, jika itu huruf kemungkinan besar adalah huruf T, sedangkan Bulan, jika itu angka, sudah pasti itu satu. Hanya ada satu bulan, kan. Jadi, kita harus menuju ke kamar..."


"135T1?" lanjut Nina ragu-ragu.


"Tepat sekali," kata Fadil memetik jarinya.


"Kamu pintar juga ya, Dil."


Fadil terkekeh. Dia sedikit bangga mengakuinya. Tapi, dia merendah. "Itu hanya asumsiku, bisa saja salah, kan?"


Nina tak memedulikan kerendahan hati Fadil. Dia sudah melangkah menyusuri lorong-lorong. Mencari lorong T dan posisi 1 dari lorong.


"Ketemu!" ujar Nina girang. Fadil yang tertinggal banyak langkah di belakangnya langsung berlari mendekat.


"Biar aku dulu!" serunya sebelum Nina memegang kenop pintu. Nina menyingkir. Fadil menyiapkan senjatanya. Mengokangnya. Lalu, dengan sangat hati-hati dia memutar kenop pintu.


Brak!


Pintu terbuka lebar. Senjata Fadil teracung ke depan. Di saat yang sama Wira juga sudah menodongkan senapannya. Keduannya saling mengacungkan tepat di kepala. "Fadil!"."Wira!"

__ADS_1


Fadil dan Wira berseru bersamaan. Tapi, Fadil tak terlalu terkejut, dia sudah menduganya. "Ah, sudah kuduga itu dirimu, Wir." Fadil menurunkan senapannya. Wira juga.


"Aku tahu itu suaramu," lanjut Fadil.


Wira yang masih terkejut berkata, "Jadi, kecoa itu kamu? Maksudku, yeah, seharusnya aku tahu itu kau."


Fadil sedikit tersinggung disebut kecoa. "Kecoa? Dari mana kau dapat sebutan itu?"


"Oh, maaf!" ucap Wira terburu-buru. "Apakah kau tak ingat orang yang mengataimu kecoa sebelum aku menyebutnya?"


Fadil manggut-manggut, dia ingat Pak Tundo pernah mengatainya begitu. Yah, pasti Wira tahu dari sana.


"Tak ada yang akan mengenalkanku, nih? Atau aku hanya kacang yang- tidak kulit kacang tepatnya," kata Nina sinis yang merasa tak diabaikan. Berkacak pinggang.


Fadil dan Wira menoleh ke arah Nina.


"Siapa dia, Dil? Kekasihmu?" tanya Wira mengagumi perempuan itu.


"Namanya Nina, dan Nina ini Wira, teman sekolahku." Fadil mengenalkan mereka berdua.


Wira dan Nina saling berjabat tangan, bergantian menyebutkan nama panjang masing-masing.


"Nina Sundari."


"Wira Purnama."


Wira menyikut Fadil. "Dia kekasihmu?" tanyanya lagi sambil cengar-cengir.


Fadil tak menjawab. Jujur dia bingung mau berkata apa. Setelah kejadian di balkon itu apa mereka sudah menjadi kekasih atau belum. Untungnya, Fadil tak perlu repot-repot menjawab.


"Benarkah Pak ASN ada di sini?" celetuk Nina melongok-longok ke balik sekat tembok di sampingnya.


Wira tersadar, dia harus mengobati presiden segera. "Benar, beliau ada di sini. Yah, aku harus segera menanganinya. Eh, Dil?" tambahnya buru-buru menarik tangan Fadil. "Bantu aku, ya. Aku tahu nilaimu bagus di pelajaran medikal dasar."


Fadil mengangguk setuju.


Nina mengekor di belakang mereka.


Tubuh presiden benar-benar dingin. Mirip es batu. Fadil memeriksa nadinya, sangat-sangat lemah, pikirnya. Wira kembali dengan sekantong darah yang sudah dicairkan. Fadil membantunya memasang jalannya trasfusi darah.


"Kau sudah memeriksa darahnya, kan?" tanya Fadil memastikan.


Wira terkekeh, "Jangan meremehkanku."


Fadil tersenyum. Mengerling ke Nina. "Tolong masakkan air." Nina yang berkali-kali menggigit bibir bawahnya melihat keadaan presiden, langsung menoleh. Mengangguk.


Setelah bersusah payah mencari pembuluh darah Pak ASN yang sangat sulit, akhirnya Fadil berhasil menancapkan ujung saluran infusnya. Dan darah dari kantong mulai mengalir.


"Ngomong-ngomong ini air panas buat apa, ya?" tanya Nina melongokkan kepalanya lewat sekat tembok yang membatasi dapur.


Fadil nyengir licik. "Buatkan kopi, ya."


Nina hanya mendengus kesal. Tapi, perempuan itu menurut juga. Dia membuat dua kopi dan sebuah teh untuk dirinya sendiri.


"Apa kalian lapar?" tanya Wira setelah menggulung tisu yang penuh darah. Membuangnya.


Fadil dan Nina seperti mendengar kata-kata motivasi. Kedua mata mereka berbinar. Yah, mereka sangat lapar sejak tadi.


"Aku ada steak dan roti bakar, kalau begitu biar aku panaskan dulu," kata Wira sembari mengeluarkan makanan yang disebutkannya dari kulkas.


"Biar aku bantu kalau begitu," kata Nina saking semangatnya. Tapi, Fadil memgang tangannya.


"Tidak usah, biar aku saja. Kau bisa menjaga presiden sementara waktu."


Nina mengangguk setuju.


Fadil menyeruput kopinya sedikit. Rasa pahit dan manis yang pas menggerayangi lidahnya. Dia bangkit menuju ke dapur. Wira menyalakan kompor di sana. Steak dan roti bakar dia taruh di meja.


"Wir!" kata Fadil berjalan ke sebelahnya. Wira menuangkan sedikit minyak di teflon. "Di mana Damar?"


Klontang!


Teflon di tangannya terjatuh, minyakna menggenang di lantai membuatnya licin. Wira terkejut mendengar nama Damar di sebut-sebut. Padahal dia ingin mengubur nama itu jauh-jauh. Rasa emosi yang memanas menyusupi relung dadanya. Rasanya dia ingin mengumpat sebanyak-banyaknya dan berteriak sekeras-keranya. Tapi, yang keluar dari mulutnya adalah desahan kecewa, "Dia mengkhianatiku."

__ADS_1


__ADS_2