Blokade Hotel Hastungkara

Blokade Hotel Hastungkara
Episode 9.2 : Tragedi di Balkon


__ADS_3

Uh, tunggu saja giliran kalian!" teriak balik Fadil disusul tawa lebih keras. Di depnnya Nina melotot padanya. Seakan bicara "Apa maksudmu?" Fadil hanya tertawa menanggapinya. Toh, dia hanya mengikuti drama yang mereka buat.



Krek! Klak! Bruk!



Keduanya jatuh memantul di kasur sejenak. Ranjang itu telah roboh. Fadil masih tergelak sedikit. Nina juga, setengah tawanya masih terdengar. Berlompatan tadi mengurangi stres mereka. Sampai-sampai, untuk sejenak tadi mereka lupa bahwa hotel ini sedang diserang teroris.



Fadil mengambil papan yang paling besar. "Ayo segera pergi!" ajaknya sedikit tersengal. Tangan kirinya memeluk papan kayu. Sementara, dia menggantung senapannya di lehernya dengan tali senapan. Sehingga, kini senjata itu berayun-ayun di dadanya yang bidang.



Nina segera mengikuti Fadil keluar dari balkon. Seketika saja udara malam menerpa wajahnya. Sayangnya saat itu bulan masih sangat muda. Hanya selarik tipis cahaya yang dia lihat.



Fadil langsung menaruh papan itu melintang di ujung balkon. "Sini aku bantu," tawar Nina melihat wajah Fadil yang kesulitan.



Fadil menoleh ke arahnya. Wanita aneh, pikirnya. Mood-nya berubah terus. Kadang judes, kadang ramah, kadang... Ah sudahlah. Dia memersilahkannya memegang papan itu.



Nina mendorong papan itu sampai ke ujung balkon tetangga. Setelah memsatikan, papan itu tidak miring Fadil melompat ke atasnya. "Biar kupastikan dulu," kata Fadil sebelum Nina protes.



Nina manggut-manggut setuju. Dia melihat ke bawah, kerlipan cahaya lampu yang lebih kecil membuatnya pusing. Saat ini dia lebih tinggi tujuh puluh meter di banding dia mau melompat kemarin.



"Aman?! Sekarang giliranmu," teriak Fadil mengalahkan suara gemuruh angin. Dia sudah berdiri di sebrang papan.



Nina mengalihkan pandangannya dari bawah sana. Melihat Fadil kikuk, lalu beralih ke papan yang tak lebih dari sepuluh senti itu. Dia menelan ludah. "Hei, Nin!" teriak Fadil. Dia tahu Nina takut. "Kau takut, ya?" ejek Fadil. Sengaja dia berkata seperti itu. Dia tahu, bagi Nina segala cemoohan adalah tantangan untuknya. Dan, dia harus memenuhi tantangan itu.



Nina melotot sebal ke arah Fadil. "Kau bilang apa?! Takut?! Hm?!" Nina menaiki pagar balkon. "Maaf, kau salah orang jika berpikir demikian." Dengan santainya dia menapaki papan itu. Jantungnya ser-seran. Tapi, dia tak mau dianggap Fadil lemah, kakinya melangkah pelan-pelan. Dia merentangkan tangannya untuk memeroleh keseimbangan. "Nih, aku berani, kan?"



Fadil tersenyum puas. Caranya berhasil.



Kaki Nina langsung terasa lemas saat matanya melihat pemandangan di bawah. Sesaat omongan Fadil beberapa hari lalu terngiang di benaknya. "Tubuhmu akan hancur di sana, bahkan tak ada yang tersisa untuk di makamkan."



"Hei! Apa yang kau pikirkan?!" teriak Fadil lagi. "Dengar! Kau takut?!"



Nina menggigit bibir bawahnya. Dia masih tak mau mengakui ketakutannya. Dia mengambil napas banyak-banyak. Dengan beraninya dia menjawab dengan ketus, "Tidak! Aku hanya melihat pemandangan dari sini!"



Dia melangkah lagi. Lebih mantap. Saat sampai di tempat Fadil, tubuhnya sudah penuh keringat dingin. Tapi, dia lega sudah berhasil melewati papan tadi.



"Wih, aku salut padamu, kamu berani juga." Fadil menyemangati.



"Huh... iya dong," balas Nina nyengir.



"Kalau begitu, sekali lagi tak akan masalah, kan?"

__ADS_1



Jantung Nina mencelos. Seakan dibom senjata nulkir beribu pon. Kelegaannya terhapus seketika. "Apa?!" pekiknya. Sekali lagi? Sekali saja sudah membuat kakinya lemas seperti ini, dia harus mengulanginya lagi? Mustahil?



Fadil terkekeh. "Jika hanya berpindah sekali, jarak dengan orang-orang tadi hanya sedikit. Oh, ya. Kamar sebrang kita ini langsung lurus ke arah lift. Itu akan memudahkan pelarian kita. Kamu takut?!"



Nina menggeleng cepat. "Mana ada?! Aku tidak takut!" sergahnya.



Fadil terkekeh melihat wajahnya yang pucat. Nina memaksakan diri ikut tertawa. Tapi, yang keluar malah suara melengking yang aneh. Fadil menahan tawanya. Nina memapakkan papan itu lagi seperti tadi. Fadil berjalan lebih dulu lagi untuk memastikan. Setelah cukup aman, Fadil memberi kode pada Nina untuk lewat.



Nina mengangguk. Setelah, menghela napas yang sangat panjang, dia merentangkan tangan. Lututnya benar-benar lemas. Tapi, dia tetap memaksakannya.



Selangkah.



Selangkah lagi.



Lagi.



Dan...



Krek!




"Hei! Tak apa! Semuanya akan baik-baik saja!" teriak Fadil dari tempatnya. "Dengar!" Nina tak kunjung menoleh, dia masih menatap kayu yang hampir patah. "Nina Sundari! Lihat aku! Lihat aku!" Nina menoleh ke Fadil, seakan dia baru menyadari keberadaannya di sana. "Semuanya akan baik-baik saja! Oke! Berjalanlah kemari! Aku janji semuanya akan baik-baik saja!"



Nina ragu melihat Fadil. Kakinya benar-benar lemas. Seakan tak ada lagi tulang di kakinya.



"Nin?! Apa kau takut!"



Jantung Nina benar-benar meldak-ledak. Dia tak mau dianggap takut saat ini. Tapi, persetan. "Oke! Aku takut sekarang! Paham! Kayu ini hampir putus bodoh! Dan kau menyuruhku berjalan?!" teriak Nina marah.



Fadil terkejut, ejekannya tak mempan sekarang. Dia tambah pucat.



Krek!



"Aaa..." Nina berteriak ngeri.



"Ok, kalau begitu lompatlah. Aku akan menangkapmu!"



Nina melihat ke bawah. Sekali lagi bunyi krek, kayu itu akan benar-benar patah menjadi dua. "Dil! Fadil sialan! Aku tak bisa! Aku takut!" Dia mulai menangis ketakutan. Yeah, biarbagaimanapun, dia tetap wanita.

__ADS_1



Fadil terus berusaha meyakinkan Nina. "Nin, Lihat aku! Lihat aku!" teriaknya, "Percayalah padaku! Jika kamu melompat, kamu akan baik-baik saja!"



"Enggak, Dil. Aku terlalu takut! Aku tak bisa. Kamu paham tidak, sih?!



"Dengar! Aku pernah bilang padamu kalau kita akan keluar dengan baik-baik saja, kan?! Hei, kumohon lompatlah, Nin! Demi bayimu?!" Fadil benar-benar bingung.



Nina melihat perutnya. Dia mengelusnya perlahan. "Dil?! Kita benar-benar akan selamat dari sini, kan?"



"Ya, kita akan selamat dari sini!"



"Jika kita keluar dengan selamat, maukah kau menjadi ayah anak ini?"



Fadil bingung harus berkata apa. "Sekarang bukan saatnya untuk membicarakan itu?! Oke?! Segera lompat, Nin. Lompat!



"Jawab dulu pertanyaanku, Bodoh."



Fadil menelan ludah. Lalu, dia melihat kayu itu akan patah sebentar lagi. "Oke, aku akan menikahimu setelah aku dilantik!"



Nina tersenyum.



"Tentu. Sekarang lompatlah."



Nina memaksakan kakinya untuk melompat.



Krak!



Tumpuannya hilang. Kayu itu patah menjadi dua. Jatuh dari ketinggian 870 meter. Tapi, dia berhasil melompat rendah.



Bug!



"Aku menangkapmu!" ucap Fadil lega. "Yeah, aku berhasil menangkapmu."



Fadil menarik lengan Nina sekuat tenaga. Setelah tubuh Nina berhasil terakngkat ke atas, dia langsung mencium bibir Fadil.



Fadil terkejut. Dia tak pernah berciuman sebelumnya. Gerakan perempuan ini juga tiba-tiba. Tapi, dia membalas ciuman Nina itu dengan hangat. Menekankan bibirnya seraya saling mengisap. Setidaknnya itulah yang dirasa harus dilakukannya.



"Terima kasih," bisik Nina setelah melepas ciumannya.


__ADS_1


Fadil mengangguk kikuk.


__ADS_2