Blokade Hotel Hastungkara

Blokade Hotel Hastungkara
Episode 15: Blokade Lantai 50


__ADS_3

Sekarang Fadil berjalan lebih waspada lagi. Berkali-kali dia menoleh ke belakang. Memastikan bahwa Nina dan Presiden baik-baik saja. Dia tak mau kehilangan lagi. Kematian Wira sudah sangat super duper buruk untuknya. Tapi, dia tak ingin larut dalam kesedihan. Mentalnya sudah terlatih dalam hal seperti ini. Sudah menjadi resiko kehilangan sahabat terdekat di medan perang atau misi. Bahkan kamu harus siap kehilangan nyawamu juga. Fadil mengelus flashdisk yang diambilnya tadi di sakunya. Aman. Batinnya lega.


"Tanganmu sudah baikan?" tanya Nina hati-hati. Karena dari tadi dia melihat rahang Fadil yang terus-menerus terkatup rapat.


"Ya, sudah lebih baik. Kamu tidak usah khawatir, tetap waspada! Langsung berlindung di belakangku jika melihat sesuatu yang mencurigakan." Fadil memutar lengan kanannya yang beberapa waktu lalu dia sembuhkan. Ya, dalam keadaan darurat seperti ini dia bisa mengganti batakonya dengan benda yang beratnya setara.


Nina mengangguk sebagai balasan. Sementara Presiden terus mengekor di antara mereka berdua. Keselamatannya prioritas pertama bagi keduanya.


Tak jauh dari tempat mereka, Fadil bisa mendengar rentetan tembakan dan umpatan kesal beberapa orang. Reflek saja, dia mengangkat tangannya. Menyuruh Presiden dan Nina untuk berhenti. "Kalian tunggu sini. Oh, iya, Nin. Jangan ragu jika menggunakan pistol itu. Bapak juga, ya!" pesan Fadil yang langsung dibalas dengan anggukan. Tadi Fadil sudah memercayakan SKPI-069 pada keduanya berhubung senjata itu tidak memiliki daya tolak yang terlalu kuat. Selain itu, mereka juga, anak buah Damar tadi juga memiliki stok peluru yang bermacam dan beragam. Fadil cukup yakin mereka akan baik-baik saja.


Fadil mengendap mendekati suara-suara itu. Mengintip dari balik tikungan lorong. Matanya langsung menangkap mereka. Ada lima orang yang sedang berusaha membuka pintu. Salah seorang kesal memberondong pintu yang tak kunjung terbuka. Satu lagi menggunakan semacam gergaji mesin untuk memotong pintu itu. Tapi, yang lebih mengejutkan dibandingkan itu semua, mereka memiliki SKPI keluaran terbaru dan baru beberapa bulan lalu diresmikan, SKPI-381 (Senjata ini mampu menembus pertahanan dari baju anti-peluru). Tentu saja peresmiannya sangat rahasia.


Fadil tak mau mengambil resiko besar. Jadi, sebelum mereka menyadari keberadaan Fadil dan sebelum melakukan serangan balik, Fadil menghabisi orang-orang itu dengan cepat.


"Senjata bagus," gumam Fadil mengambil satu. Senjata itu terasa berat di tangannya.


"Pak ASN! Nina! Kalian bisa keluar!"


Rasya dan Pak Danu sayup-sayup mendengar suara Fadil di luar. Mereka saling pandang. "M-mungkinkah itu Fadil?" tanya Rasya pada diri sendiri tepatnya. Tapi, Pak Danu mengangguk atas pertanyaan itu. "Aku juga berpikir sama," katanya satuju. "biar aku pastikan dulu."


Pak Danu meletakkan roti isinya. Bernajak mendekati pintu. Dengan suara keras, namun hati-hati dia berkata, "Nak Fadil?! Apa itu kamu?!"


Fadil mendekati pintu terkejut ketika mendengar suara Pak Danu. Dia tak menyangka kalau Rasya selamat dengan orang ini. Sungguh kebetulan bukan, jika kedua kenalan hotel-nya selamat bersama-sama? "Pak Danu, itu Anda?" tanya balik Fadil bersemangat. Seakan-akan dia siap mendobrak pintu baja itu saat itu juga.


"Ya, berarti ini kamu, Nak Fadil?"


"Ya, Pak. Ini saya. Anda bersama Rasya?"


"Dia ada di ruangan ini. Kalau begitu kami akan keluar."


Rasya yang dari tadi mendengarkan buru-buru membereskan sisa makanan mereka. Lalu, ikut mendekati pintu. "D-Dil!? S-syukurlah kamu selamat," ujarnya senang.


"Aku juga senang tahu kau selamat!"


Rak-rak obat yang sempat Pak Danu palangkan di pintu berderit. Rak-rak itu bergeser sesuai dorongan Pak Danu. Rasya buru-buru ikut membantu. "Sebaiknya aku saja, kamu masih belum pulih betul," kata Pak Danu melepaskan tangan Rasya di sebelahnya.


"T-tidak, Pak. A-aku bisa melakukannya."


"Sya, istirahat saja dulu."


Dengan kesal dia melepaskan pegangannya di rak obat. Membiarkan tangan tua Pak Danu yang mendorongnya. Rasya tahu orang itu kuat. Tapi, tidak seharusnya dia melarangnya untuk membantunya.


Pintu berderit terbuka setelah beberapa menit kemudian. Keduanya langsung saling berkontak mata. Tak ada yang lebih mengejutkan Rasya dan Pak Danu ketika melihat Pak ASN di belakang Fadil yang tersenyum penuh wibawa. "Benarakah? Maksudku..." Pak Danu terabata. Matanya berbinar menelusuri setiap detail wajah Pak Presiden.


"Tidak usah kagum seperti itu. Fadil-lah yang layak dikagumi. Dia telah membantu saya sampai bisa ada di sini."

__ADS_1


Pandangan Pak Danu dan Rasya berbalik ke arah Fadil. Pemuda itu sudah bukan lagi sosok yang lugu dan polos yang terkagum-kagum saat melihat kemewahan Hotel Hastungkara beberapa hari lalu. Dia terlihat berbeda sedikit, dia tampak lebih kuat di balik wajah kotornya dan beberapa noda darah di bajunya. "K-kamu?! D-Dil!? Kamu..." Rasya tak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia tak percaya, Fadil yang terlihat lemah bisa membawa presiden hingga sekarang.


"Nak Fadil, kamu terlihat hebat."


Fadil tersenyum dipaksakan. Dia tidak bisa menerima semua pujian itu. Dia merasa tak pantas. Pikirannya penuh dengan kematian Wira beberapa menit lalu. Itulah yang mengingatkannya untuk segera pergi. Karena sekarang, dia sudah membawa semuanya. Ya, tak ada lagi orang yang dikenalnya yang hidup belum bersamanya. Mereka siap keluar dari hotel ini.


"Kita harus segera pergi," katanya sedikit kurang sopan merusak reuni kecil itu. Tapi, semuanya mengangguk setuju. Rasya masih menatapnya tak percaya. "Akan aku ceritakan setelah keluar dari sini, oke?" bisiknya yang langsung membuat Rasya terbungkam dan berhenti menatapnya.


Mereka berjalan berdua-dua di lorong yang sempit itu. Hanya Fadil yang berjalan sendiri karena jumlah mereka ganjil sekarang. Posisi ini cukup strategis karena jika ada musuh dari depan, Fadil bisa langsung menghabisinya. Tapi, kalau ada musuh dari belakang, Fadil hanya bisa mengandalkan Nina. Perempuan itu memiliki potensi dalam hal menembak. Tapi, hingga detik ini tak ada tanda-tanda musuh yang berniat menyerang mereka. Jadi, mereka bisa berjalan sedikit lebih santai. Pak Presiden berkali-kali ditanyai oleh Pak Danu. Orang tua itu mempromosikan dirinya sebagai sopir pribadi presiden. Semua kata-katanya dia lontarkan disertai beberapa candaan yang membuat Pak ASN tertawa. Dia juga menceritakan betapa hebatnya dia kala menjadi pembalap hebat. Kadang-kadang juga diselingi tips-tips mengemudi cepat. Fadil tak terlalu menghiraukan karena dia sama sekali tak pernah menginjak pedal mobil atau sekadar menyentuh setir mobil. Selama ini dia nyaman dengan duduk santai di kursi penumpang. Tapi, mendengar cerita itu, dia sedikit tertarik untuk mencoba mengendarai mobil. Sepertinya seru.


Di balakang kedua orang tua itu, Rasya dan Nina sama sekali tidak berbincang. Keduanya bingung mau bicara apa. Agar tidak terlihat kikuk, Rasya berusaha ikut nimbrung dengan percakapan Pak Presiden dan Pak Danu. Tapi, satiap ucapannya diabaikan oleh keduanya karena suaranya yang sangat kecil. Sesekali Nina tersenyum melihatnya. Tapi, buru-buru memalingkan wajah ke belakang saat Rasya mengerling ke arahnya. Saat memalingkan wajah ke belakang, dia senang bisa tersenyum lebih lebar.


"Liftnya macet lagi," ujar Fadil kesal setelah beberapa saat berusaha membuka pintu lift. Lift itu sam sekali tak bergeming meski sudah dicukit dengan benda-benda yang mereka bawa.


"Kurasa, lift ini dimatikan dari ruang CCTV. Biasanya seminggu sekali mereka melakukaannyaa untuk berbaikan atau test mingguan," jelas Pak Danu yang sudah cukup lama bekerja di tempat itu. "Kita harus lewat tangga kalau begitu."


Nina dan Rasya tampak keberatan. Yang lainnya tak mengindahkan keberatan itu. Masing-masing setuju melewati tangga. Lagi pula belajar dari kejadian beberapa jam lalu, lewat tangga lebih aman.


Setiap rungan hanya memiliki satu jalur tangga darurat. Fadil masih tetap waspada seperti sebelumnya. Pak ASN dan Pak Danu juga masih sibuk ngobrol tentang banyak hal. Pembicaraan itu menjalar ke berbagai topik. Sekarang malah membicarakan soal hutan dan tumbuhan-tumbuhan yang terdengar fantastis dan baru ditemukan beberapa dekade terakhir. Rasya yang bosan akhirnya memberanikan membuka pembicaraan dengan Nina yang juga bosan. Mereka memilih topik aman, yaitu soal perkuliahan.


Lantai-lantai berikutnya sangat sepi karena lantai-lantai itu kebanyakan merupakan museum-museum kebanggaan Hotel Hastungkara. Fadil yang capek menodongkan SKPI terbarunya sekarang menyelempangkannya di bahu. Pak Danu dan Pak ASN akhirnya berhenti bicara di lantai 61. Nina terus-terusan mengeluhkan kakinya yang capek sejak lantai 65.


"Bagaimana Pak Danu bisa bertemu dengan Rasya?" tanya Fadil yang kini mensejajari Pak Danu dan Pak Presiden.


"Anak?"


Pak Danu terkekeh melihat ekspresi Fadil yang kebingungan. "Yeah, anakku, Rasya. Bagaimana mungkin seorang ayah tinggal dia saat mendengar ledakan dari tempat anaknya?"


"Jadi, Pak Danu ayahnya Rasya?"


"B-benar," Rasya angkat bicara. "Maaf tidak memberithumu sebelumnya."


Fadil masih terkejut mendengar pernyataan itu. "Makannya aku merasa ada kesamaan antara Pak Danu dan Rasya."


Mereka terkekeh bersama-sama. Pak Danu akhirnya menceritakan soal keluarganya.


***


Si Tangan Kanan sangat kesal setelah mengetahui orang-orangnya telah putus kontak dengannya. Itu artinya cuma satu, anak buahnya telah meninggal. Karang juga sudah mengonfirmasi hal tersebut. Beberapa orang di lanti 70 berhasil menyelamatkan diri. Alih-alih memberi perintah untuk menyerang langsung mereka, Si Tangan Kanan menyuruh pasukannya berkumpul di lantai 50. Kecuali dua orang di ruang kendali CCTV. Sebelumnya kedua orang itu diperintahkan olehnya untuk membuka semua lift yang diblokir oleh Wisnu. Sayangnya Wisnu sedikit mempersulit tugas itu. Tapi, Si Tangan Kanan punya rencana. Dia menyuruh kedua orang itu untuk berhenti berusaha. "Biarkan lift itu mangkrak!" perintahnya lewat microphone. Dengan begitu, noda-noda bandel yang sedang bergerak di peta 3D-nya akan mendatang tempat ini. Saat itulah riwayat noda-noda itu akan berakhir.


Pasukannya disuruh mempersiapkan ruangan ini. Dekorasi pesta untuk noda-noda itu harus dipersiapkan sebaik mungkin.


***


Fadil menarik kesimpulan dari cerita yang baru saja dia dengarkan dari Pak Danu tentang kelurganya.

__ADS_1


Pak Danu memikah sekitar 25 tahun yang lalu. Sejak saat itu dia berhenti dari dunia balap demi isteri tercintanya. Awalnya memang mereka bisa hidup bahagia. Bahkan, belum ada satu tahun mereka menikah, Bu Danu sudah mengandung anak pertama.


Lama-kelamaan Pak Danu bosan dengan keseharianya. Uangnya perlahan menipis karena lama tak bekerja. Dia tidak diterima di perusahaan manapun. Dia hanya punya satu keahlian, yaitu menyopir. Sedangkan isterinya melarangnya menjadi sopir. Tidak ada yang lebih dikhawatirkan isteri Pak Danu selain keselamatan suami tercintanya itu.


Anak mereka lahir juga akhirnya, biaya mampu di atasi. Masalah baru seputar keuangan tak hentinyaa membelit keduanya. Hutang mereka bertebaran seperti awan. Menggelembung dan siap menghujani dengan kecaman tagihan hutang. Karena tidak kuat dengan keadaan demikian, akhirnya Pak Danu memutuskan untuk melamar pekerjaan sebagai sopir hotel. Isterinya menyetujui saat tahu Pak Danu diterima bekerja di sana. Toh, sopir hotel tidak boleh memacu kendaraan di atas 100 km/jam. Itulah yang menjadi dasar isterinya sedikit tenang.


Tapi semua itu tetap saja kurang. Biaa pertumbuhan dan pendidikan Rasya terus meningkat. Kali ini, Pak Danu diam-diam kembali ke arena balap, dia mengikuti balap liar. Awalnya isterinya senang mendapat uang yang banyak karena pekerjaan tersebut. Dia bisa membeli barang-barang yang lebih mewah dan pakaian lebih pantas. Namun, lama-lama isterinya curiga juga dan menyelidikinya.


Tak butuh waktu lama, pekerjaan gelap Pak Danu terbongkar. Isterinya marah besar. Dia langsung pergi dan tak pernah kembali sampai saat ini. Sejak saat itu, dia harus menjadi orang tua tunggal untuk Rasya.


Fadil menatap Pak Danu dan Rasya bergantian. Sepertinya Rasya tak terganggu dengan cerita itu. Dia tampak biasa. Begitu juga Pak Danu, meski cerita itu terkesan sedih, stidaknya untuk orang tua itu, wajah Pak Danu menceritakan itu semua dengan santai dan banyak gurauannya.


"Apa Pak Danu tidak sedih di tinggal pergi seperti itu?" tanya Fadil prihatin. "Maaf sebelumnya, saya hanya ingin tahu." Buru-buru dia menambahkan.


Pak Danu terkekeh pendek. Tidak, suaranya tercekat. "Ya, itu momen paling tidak enak untuk diingat. Sedih memang, tapi aku tidak mau terus-terusan berlarut dalam kesedihan seperi itu."


"B-benar, tanpa ibu, kami tetap bisa hidup bahagia, kok. Jika dia yang pergi kenapa kita harus bersedih?" tambah Rasya tergagap seperti biasanya.


Pak Danu tersenyum. Menepuk pundak anaknya. Fadil masih bingung dengan keduanya. Menatap ke depan. Jika Wira pergi kenapa dia harus bersedih? Seharusnya aku harus membuktikan bahwa aku bisa berbuat lebih baik dibanding dengannya. Ya, itu penghormatan yang terbaik. Berlarut dalam kesedihan pada orang yang tak mungkin kembali adalah hal bodoh. Begitulah Fadil menyimpulkan.


Di sebelah Pak Danu, Pak Presiden juga tampak termenung. Wajahnya menunjukkan rasa hormat pada Pak Danu. Mungkin Pak Presiden juga memikirkan hal yang sama dengan Fadil. Atau menyimpulkannya dari sudut pandangnya sendiri. Tapi yang jelas, Pak Presiden kagum pada Pak Danu akan keikhlasan atas kehilangan isterinya. Dalam hatinya dia berjanji untuk mengikhlaskan isteri dan anaknya sendiri. Dia harus membuat bangga isteri dan anaknya. Tak sadar mata Pak ASN berkaca-kaca. Pahit dan perih sekali memikirkan isteri dan anaknya itu. Sulitnya menepati janji yang dibuatnya sendiri itu. Dia merasa belum siap. Tidak, dia harus siap.


Fadil membuka pintu lantai lima puluh. Sekelebat matanya menangkap keganjilan di ruangan itu. Memang belum pasti apa ganjilnya itu, tapi tangannya sudah terentang. Membuat empat orang di belakangnya terhenti. Pak ASN yang tertunduk mengangkat kepalanya penasaran. "Ada apa, Dil?" tanyanya.


"Aku merasa ada yang ganjil," jawab Fadil meneliti setiap detail ruangan sepi di depannya. Semua mengikuti gerakan Fadil, meneliti detail hadapan mereka. Lima orang itu merapatkan barisan. Fadil meloloskan senapannya. "Itu dia," gumamnya setelah melihat tampilan di depannya bergetar samar.


Dor!


Sebuah peluru meluncur menembus tampilan di depannya diikuti suara teriakan gaip yang tak kasat mata.


"Apa itu?!" cicit Nina kembali cemas.


Sebelum tahu apa yang ada di hadapan mereka, Fadil mendorong orang-orang di belakangnya untuk kembali. "Mundur! Mundur! Kita kembali ke lantai sebelumnya!"


Meski tak tahu apa yang mereka hadapi di depan. Perintah Fadil terdengar meyakinkan dan membuat semuanya menurut.


"Kita ketahuan!"


"Hentikan mereka!"


"Sialan!"


Beberapa umpatan berdengung di sekitar kelompok Fadil. Tapi, mata mereka sama sekali tak menangkap wujud manusia sama sekali. Kemudian, rentetan peluru muncul begitu saja dari udara di sekitar mereka secara acak.


Fadil dan anggotanya tambah panik. Mereka berdesakan masuk ke pintu tangga menuju lantai 51. Peluru-peluru terus meluncur. Salah satunya tak dapat dihindari oleh Fadil. Tidak, lebih tepatnya tidak di sadari Fadil. Ya, sebuah peluru mengenai kakinya. Hal itu bersamaan pintu tangga tertutup.

__ADS_1


__ADS_2