
Kejayaan Indonesia dimulai sejak dipilihnya presiden ke sembilan oleh seluruh masyarakat Indonesia lewat pemilu tahun 2025. Pak ASN atau Ajisaka Satrio Nogo atau yang awam sapa sebagai Pak Aji. Lewat usahanya belau mampu mengubah kehidupan Indonesia yang sangat bobrok pada saat itu. Dimulai dari pembangunan karakter bangsa untuk menjadi lebih disiplin, jujur, dan toleransi terhadap sesama. Sampai, strategi pembangunan indonesia yang dirancang dengan apik. Hasilnya, pada tahun 2030 kemarin, beliau berhasil membawa bangsa Indonesia menjadi negara maju yang setara dengan Amerika Serikat dan lainnya.
Kini tak ada lagi gembel ataupun pemulung berkeliaran. Begitu pula para pedagang kaki lima yang berhenti dengan senirinya. Membuat para satpol PP di hapuskan. Mereka semua sudah hidup layak bersama keluarga mereka.
Begitu pula tata letak kota yang di bongkar ulang. Sehingga kawasan pemukiman kumuh tak lagu dijumpai. Hampir semua bangunaan bertingkat semua. Tentu saja semua itu bertujuan untuk menyeimbangkan jumlah tempat tinggal dan jumlah penduduk saat itu. Kini yang terlihat hanyalah bangunan rapi dan elok di pandang. Yang lebih penting, bencana alam seperti banjir dan tanah longsir sudah tidak di temui lagi.
Produksi dalam negrei juga demkian, semuanya diambil dan diolah sendiri oleh negeri untuk mengurangi jumlah pengangguran di tahun 2026 yang tak terhitung jumlahnya. Tingkat ekspor meningkat, sebaliknya, tingkat impor menurun.
Soal pendidikan jangan ditanya lagi. Semuanya sudah terstruktur rapi. Sehingga universitas di Indonesia mampu mencetak lulusan terbaik dan kompeten di bidangnya. Bahkan, banyak siswa luar negeri seperti Jepang, Australia, Amerika, Perancis, dan negara maju lainnya memilih sekolah di Indonesia.
Oh iya, pada tahun 2026. Karena Indonesia masuk di masa kejayaannya, Pak ASN memerintahkan membangun sebuah monumen berbentuk hotel yang kini dikenal sebagai Hotel Hastungkara. Berkat kerja keras para arsitek, kuli bangunan, dan banyak ilmuan, hotel tersebut dapat berdiri dengan gagah menyentuh langit tinggi. Segala hasil upaya Indonesia di pajang di sana. Hampir segalanya ada pokoknya. Sehingga harga sewa satu kamar hotel tersebut sangat mahal. Beberapa kamar ditinggali oleh keluarga pejabat ibu kota. Sisanya disewakan pada umum dengan harga tinggi, hanya para miliarder dan beberapa orang luar negeri yang bisa menyewa di sana. Meski demikian, tempat itu tak pernah sepi. Bahkan, jika mau sewa kamar harus pesan tiga hari sebelumnya.
Setiap tahun juga diadakan event berupa pengundian lotre yang diikuti seluruh warga Indonesia. Nomor lotre itu berdasarkan nomor NIK perorangan. Banyak hadiah dalam event tersebut. Untuk hadiah utamanya, yaitu menginap di Hotel Hastungkara selama seminggu. Event inilah kesempatan warga biasa untuk dapat menginap di hotel itu. Jadi, setiap tanggal 27 Agustus akan di tayangkan pengundian mulai dari jam tujuh sampai jam sembilan malam secara live di seluruh kanal TV nasional.
Begitu pula hari ini, tepat seminggu setelah Fadil menerima tawaran dari pria misterius itu. Dia sudah tidak cemas lagi diawasi. Meski begitu, dia belum mencertakan pertemuannya dengan pria misterius itu kepada siapapun. Apalagi hari ini hari pengundian, segala kecemasannya lebih terarah pada NIK yang di bacakan di TV.
"Eh, Ki. Aku ke kamar mandi dulu, ya?" Kata Fadil sudah tidak kuat menahan kencing. "nih, KTP-ku, perhatikan juga, ya. Siapa tahu aku menang juga."
Kiki nyengir, menerima KTP Fadil. "Siap, Kak."
Dengan cepat Fadil keluar dari ruang mahsiswa. Yah, seluruh mahasiswa berkumpul di sana untuk menonton acara pengundian live di TV besar di sana. Jadi, saat dia keluar dari sana, kesunyian segera menyergapnya.
Sampai di kamar mandi, dia langsung masuk ke salah satu toiletnya. Dia tidak terbiasa soalnya kalau harus kencing berdiri di porselin tembok biasa (catatan penulis: pokoknya tempat kencing laki-laki yang di tembok. Penulis nggak tahu namanya, hehe. Kalau ada yang tahu bisa komen di bawah). Dia lebih memilih kencing di toilet duduk yang lebih nyaman dan juga tertutup.
"Sepertinya di sini sepi." Kata seseorang yang sangat familiar di telinga Fadil, suara juniornya yang test tinju bersamanya dua minggu lalu. Fadil yang sudah menyelesaikan hajatnya menaikan kakinya ke pinggiran toilet duduk. Dia tak mau keberadaanya diketahui.
__ADS_1
"Tentu saja, mereka semua ada di ruang mahasiswa, kan. Fadil si Bodoh itu juga pasti ada di sana." Kata seorang yang juga familiar di telinga Fadil, kalau tidak salah namanya Elang. Dia juga juniornya. Fadil terdiam di posisi dan menjaga emosi.
"Yah, dia sangat bodoh."
Mereka berdua tertawa.
"Nih, bayaran kamu. Aku tidak menyangka, informasimu di ronde keempat itu sangat manjur. Apalagi berkat pil pemulih itu."
Elang tertawa senang. "Kalau ada apa-apa hubungi aku lagi, ya."
Lawan bicaranya ikut tertawa. "Ok, Bro."
"Pergi, yuk. Bau di sini."
Jadi, ini semua ulah Elang? Kata Fadil dalam hati. Emosinya memuncak. Dia tidak berpikir jernih. Dia langsung keluar dari tempatnya. "Tunggu!" kata Fadil, membara.
"Jadi, kamu yang memberitahu kelemahanku pada dia? Begitu?" teriak Fadil marah. Tangan telunjuknya menunjuk Elang sedekat mungkin.
Elang malah nyengir, ia terlihat sama sekali tidak takut. "Seharusnya kamu sudah mendengarnya dari tadi, bodoh."
Fadil semakin marah, dia menarik kerah Elang. "Kau sebut aku apa tadi!? Hah!?"
Elang menunjukkan wajah menjengkelkan. Sementara, junior Fadil satunya melarikan diri. "Kau tadi bilang apa!? Hah!?" ulang Fadil geram.
"Kenapa? Tuli? Aku bilang kamu itu bodoh. BODOH!"
__ADS_1
Pukulan tangan kiri Fadil melayang dengan kekuatan penuh. "Dasar bajingan! Kamu tidak pantas ada di sekolah ini."
Bug!
Tubuh Elang terbanting ke dinding kamar mandi. "Dasar pengecut!" ejek Elang dengan suara sedikit melambat efek pusing dari pukulan Fadil. Tangan kanannya menumpu di pinggiran wastafel. Sementara tangan kirinya memegangi dahinya yang mengucurkan darah.
Tangan Fadil sudah kembali mengepal dan siap melancarkan pukulan kedua. Tapi, layangan tangan kirinya terhenti dengan pekikan suara. "Kak, berhenti!" Itu suara Kiki.
"Eh, pengawalnya datang. Mau ngeroyok aku, nih?" Mulut Elang semakin memanasi Fadil.
"Kamu di situ saja, Ki. Aku bakal habisin dia di sini."
Fadil melayangkan pukulan lagi. Namun, untuk kedua kalinya, pukulannya terhenti di udara. Suara seseorang menghentikannya lagi. "Kalian berdua, berhenti!" Itu suara Pak Wibowo, di belakangnya ada juniornya yang kabur tadi. "Ini kamar mandi, bukan ring. Kalau mau berkelahi ke gym sana. Pilih bela diri yang mana."
Elang membuka suara lebih dulu, "Tinju, kalau kau berani, kita adu tinju sekarang."
Cih! Dia sengaja memilh tinju, karena di peraturannya tidak boleh pakai kaki. Dalam kata lain, bela diri itu yang terlemah bagi Fadil. Apalagi, baru dua minggu bahunya istirahat. Tapi, karena tersulut amarah, tanpa berpikir, Fadil menyetujuinya. "Baik, aku terima tantanganmu."
"Jangan, Kak! Jangan dengarkan dia."
"Diam kamu, Kiki," kata Fadil penuh amarah.
Elang tertawa mengejek. Meninggalkan kamar mandi.
"Seharusnya, Kakak tahu batasan, Kakak. Tidak memaksakan diri seperti ini." Kata Kiki saat berjalan menuju gym.
Fadil menyentak, "Tahu apa kamu soal batasan, Hah! Ini soal harga diri tahu!"
__ADS_1
Kiki terdiam.