
bingung dengan apa yang sedang terjadi, Fadil kembali melambaikan tanganya. Seakan bertanya, "apa yang sedang terjadi?"
Di atas sana Nina mengernyit tak mengerti. Dia mengelurkan kepalanya lebih jauh dari batas jendela, melambai sambil berteriak. "Kau menangkapnya?!"
Pak Danu sudah berjarak semeter.
Fadil yang masih kebingungan melepas SKPI-069 dari ikat pinggangnya. Mungkin seharusnya dia kembali sekarang, begitu menurutnya. Sesuai kode kesepakatan, Fadil melepas dua tembakkan. Dua tembakkan berarti, tarik aku kembali.
Kedua tembakkan itu disusul suara teriakan Nina. Yeah, Fadil yakin sekali soal itu. Tak mungkin itu karena peluru yang baru saja ia lontarkan, soalna dia mengarahkan pistolnya agak condong kedepan. Menjauh dari muka gedung.
Teriakan Nina ini memang bukan karena dirinya terkena tembakan Fadil. Tapi, tembakan itulah yang membuatnya berteriak. Kepalanya yang melongok-longok tadi hendak ditariknyam namun, kakinya yang terlalu dekat dengan batas luar malah terpeleset dan akhirnya ia terjatuh.
"Nina!" Seru Pak Danu melotot tak henti.
Tapi, kakinya sama sekali tak bergerak. Pak Danu mematung di tempat. Bergerak sedikit saja akan mengubah posisinya lebih dekat lagi dengan pinggir jendela. Pak Presiden hanya menunduk dalam. Dia sudah muak dengan cara-cara kematian itu. Tak seharusnya dia melihat begitu banyak penyiksaan seperti ini. Sedangkan Rasya hanya termenung tak berkedip. Dia tercengang.
"Sekarang semuanya tergantung pada Fadil, kita hanya bisa berharap yang terbaik."
Pak presiden dan Rasya hanya terdiam. Jika Fadil tak bisa menangkap Nina, maka semuanya telah berakhir.
Fadil yang penasaran menoleh ke atas. Yang terlihat malah tubuh Nina yang sedang terjun bebas. "Apa yang kau laku-" belum juga kalimat Fadil terselesaikan, tubuh Nina sudah benar-benar dekat. Fadil melihatnya berusaha meraih untaian kasur, tetapi tangannya tak cukup sampai untuk menangkapnya.
Bug!
Tangan kanan Fadil menangkap lengan Nina. Tentu saja diikuti dengan suara tulang rengkah dari bahunya. "Akh!" Desahnya menahan sakit. Perlahan tangan kanannya melemas, tak bertenaga, seakan kehilangan seluruh kendalinya, tangan kanan Fadil mulai mati rasa.
Nina yang ketakutan terisak. Dia benar-benar takut. "Terima kasih, Dil!"
"Kau bisa berterima kasih nanti-nanti. Tapi, dalam hitungan ketiga-"
"Dil, kita tak punya cukup waktu, ikatan tali di atas terlepas, Pak Danu dan yang lainnya berusaha menahannya."
Fadil segera mendongak. Rasanya dia melihat bayangan punggung seseorang di atas sana. "Kalau begitu pegang tanganku erat-erat. Aku tak bisa memegang tanganmu."
__ADS_1
Tangan Fadil benar-benar mati rasa. Nuina menggunakan kedua tangannya untuk berpegangan.
Tak ada waktu lagi untuk menaksir kaca yang rapuh dan seterusnya. Ketika dia melakukanna mungkin saja Pak Danu dan yang lainnya sudah terjun bebas. Jadi, tanpa pikir panjang, Fadil menembakkanan peluru apinya ke kaca di lantai 11. Dia mengubah rencana setelah kejadian ini. Tapi, sayangnya apa yang dikatakan Pak Danu benar, kaca-kaca itu benar-benar anti panas, hujan, bahkan peluru. Kaca yang baru saja menyala merah membara kini kembali seperti semula. Hanya hangus sedikit.
Fadil tak menyerah, dia mengganti pelurunya menjadi peluru bom. Bom yang akan mengerahkan ledakkannya pada satu titik. Meski kecil itu akan sangat berguna. Sekali menempel di suatu permukaan, mermukaan itu dijamin berlubang.
"Nin, kurasa hanya ini hrapan kita." Ucap Fadil muram. Tangannya gemetaran memasukkan peluru bom itu pada SKPI-069 nya.
Nina bingung hendak berkata apa. Dia sudah menyerah. Dia siap mati saat itu juga.
"Kau pegang tanganku erat-erat!"
Belum juga Nina mengangguk. Kaki Fadil menolak kaca kuat-kuat. Menolak dengan arah condong ke kanan. Secepat itu juga pistolnya mengarah ke sebuah kaca. Tiga peluru langsung menancap melingkar.
"Pegangan!"
Bom meledak sedetik berikutnya.
Booom!
Tapi, rasa sakit itu terbayar lunas ketika tiga meter persegi lubang kaca menganga di sebelah mereka. "Kita berhasil!" Seru Fadil senang.
Tapi, Nina tak memedulikanny. Dia terlalu takut saat itu. Kaarena merasa tak da waktu lagi, Fadil langsung masuk ke lubang tersebut. Dia menaruh Nina terlebih dulu. Badan perempun itu gemetar hebat. Fadil, hendak tertawa. Tapi urung, sebab dia mulai mendengar teriakan dari atas, Pak Danu sudah terjatuh disusul Pak ASN dan Rasya.
Waktu Fadil benar hanya hitungan detik. Htungan itulah dia manfaatkan untuk membuat jaring-jaring tali. Karena tangannya benar-benar putus sepertinya dan tak mungkin untuk memeperbaikinya untuk saat ini. Jaring-jaring itu ia buat dengan memasukan tali itu di banyak celah, kolong kasur, almari, dan celah-celah lainya.
Suara teriakan semakin kencang. Fadil telah siap dengan kemungkinan terburuk.
Bruk!
Ketiganya menghantam kaca dengan keras. Fadil tak bergesar sedikitpun. Jaring-jaringnya berhasil. Setelah mengikatkan ujung talinyaa pada salah satu kaki sofa, Fadil membantu mereka naik, satu per satu.
***
__ADS_1
Ledakan itu benar-benar mengejutkan is Tangan Kanan. Tapi dia senang mendengarnya, baginya itu semacam sebuah ledakan bunuh diri. Bagaimana tidak, ledakan itu sudah tentu memberinya petunjuk keberadaan mereka itu. Bahkan tanpa diperintahpun, pasukannya segera menuju lantai 11.
***
Tak butuh waktu lama, pintu menjeblak terbuka. Seorang ******* tanpa membidik langsung menembak brutal tempat Fadil. Padahal saat itu Fadil masih menolong Rasya naik ke lantai itu.
Nina meildungi Fadil
Fadil kalap membalas dengan membunuh semua ******* di lantai iu.
Pak ASN menenangkan.
Nina telah meninggal.
Mereka melanjutkan perjalanan
Sampai di lantai satu, lift masih belum berfungsi. Namun tetap saja masih ada banyak penjaga di lantai 1. Apa lagi di lantai 10 samapi lantai satu, mereka terus kucing-kucingan. Jadi n beberapa dari ******* mengejar mereka dari belakang.
Oleh karena itu, Fadil memuruskan untuk membagi tugas.
Pak Danu mengunci pintu darurat dan mencari kunci mobil untuk kabur. Rasya mengahdapi org-org di ruang cctv untuk menghalau mereka agar tetap mematikan lift.
Pak ASN dan Fadil mencoba mencari celah.
Boro-boro mendapat celah, Fadil malah sudah disambut oleh is Tangan Kanan. Dia menawarkan diri dengan sebuah duel tangan kosong. Saat itu tangan Fadil hanya kiri, yang kann benar-benar putus dan tidak bisa disambung dengan cara biasa. Jika Fadil menang duel, mereka diperbolehkan kelauar.
Saat itu Fadil berusaha mti-matian. Dan akhirna berhasil mengalahkan is Tangan Kanan. Sayangnya para antek-antek is Tangan Kanan tidak terima dan malah balik menyerang.
Saat itulah sebuah mobil ford farari menerobos lobi. "Masuk segera!" Teriak Pak Danu. Fadil tak tahu bagaimana Pak Danu dan Rasya yanf duduk disebah Pak danu bisa keluar. Dengan susah payah mereka masuk mobil.
Dari belakang rentetan peluru berhasil menghiasi kaca belakang.
Dari luar Pak ASN sudah bisa berkomunikasi dengan pengawalnya diluar. Setelah tersambung, mereka mendapat informasi bahwa keadaan diluar cukup kaacau. Saking kacaunya mereka kesulitan masuk untuk menyelamatkan presiden. Tapi untungnya, kekacauan itu sudah berbekas, Pak ASN mendapat sebuah koordinat tempat aman. Pak Danu tersenyum memacu kendaraannya lebih cepat.
__ADS_1
mohon maaf sekali jika endingnya sangat buruk. author sudah lupa sama alirnya. maklum dah hiatus berbulan bulan. sekarang mau nulis cerita baru. mohon doanya aja agar tetap fresh sampai akhir.