
Si Tangan Kanan dan pasukannya yang sudah bersiap dari tadi segera menyelinap memasuki halaman belakang hotel setelah mendapat aba-aba dari Pak Tundo.
Ada beberapaa penjaga di bagian itu, tapi dengan mudah dilumpuhkan oleh anak buah Si Tangan Kanan. Begitu pula saat menerobos pintu belakang. Bagian itu langsung bersih dari pengganggu. Bahkan penjaga di sana tak sempat menoleh untuk melihat siapa yang telah masuk.
"Tundo?! Pasukanmu sudah siap?" tanya Si Tangan Kanan setelah menghempaskan pantatnya di kursi lorong pintu belakang. Beberapa anak buahnya mengelap senjata mereka.
"Sudah dari tadi, Kau sudah selesai?" tanyanya balik, sambil menekankan kata 'kau' karena Pak Tundo belum mempunyai yang lebih tepat daripada itu.
"Kalau begitu, kerjakan tahap satu. Kami akan mengurus di pesta."
"Baiklah," balas Pak Tundo, kemudian dia mengganti frekuesi radionya yang menghubungkan ke semua pasukan miliknya. "Semuanya bersiap. Kita akan lakukan tahap satu. Wisnu? Matikan lampunya."
"Dimengerti." Wisnu mengotak-atik laptopnya sebentar. Kemudian, di layar tertulis 'seluruh daya mati?'. Ya. Seketika seluruh aliran listrik di hotel itu padam.
***
Pak Presiden bersama pengwalnya menuju lantai 135. Kata Si Pembocor mereka akan bertemu di kamar 135T1. Ya, tadi pembocor sudah mengirim lewat email khusus yang dienkripsi. Isi suratnya pun merupakan kode. Hanya beberapa orang saja yang mengeri kode itu. Presiden salah satunya.
"Lewat sini, Pak Presiden." kata seorang pelayan menunjukkan arah tempat pesta.
Presiden menggeleng. "Oh, tentu. Tapi, saya harus ke kamar saya dulu," jawabnya bohong.
"Boleh saya antar?"
"Pengawalku sudah cukup," jawabnya tersenyum. "Terima kasih tawarannya."
Pengawal itu menunduk dalam.
Kamar 135T1 terkunci rapat. Pengawal mengetuk pintu dengan irama tertentu secara berlulang. Sampai akhirnya, orang yang di dalamnya terbuka. Di dalamnya ada dua orang pemuda umur 26-an. Memakai jas rapi. Senyumannya yang mantap ketika mempersilakan Pak ASN masuk bersama para pengawalnya menunjukkan semangat muda. "Oh, mari, Pak. Silakan masuk," ajak salah seorang pemuda itu.
Presiden masuk dengan semangat. Semoga ini yang terakhir kalinya, batinnya. Beliau diarahkan untuk duduk di kursi kayu tua yang antik dengan ukiran ornamental yang indah. Presiden mengelus kedua pinggiran kursi itu sebelum akhirnya meletakkan pantatnya.
Sementara, para pengawalnya duduk di sofa yang memajang di samping kanan kiri presiden. Kedua pemuda itu duduk di sebrang presiden.
"Pak, semoga yang saya lakukan ini bermanfaat bagi kita semua," mulai seorang pemuda.
"Tunggu?! Perkenalkan nama kalian dulu," tukas presiden.
Keduanya tersenyum. "Saya Wira dan teman saya ini Damar."
"Oh, baik, Nak Wira dan Nak Damar?!" ulang presiden, sambil menekankan suara di kedua nama mereka.
"Sebenarnya saya sudah tahu sejak dulu tentang suap-menyuap ini Pak."
__ADS_1
Presiden memajukan duduknya. Mendengarkan dengan seksama.
"Ada sebuah organisasi kecil di dalam BIN, jauh di bawah lantai. Mereka menadahi orang-orang yang gagal masuk BIN dengan sejumlah bayaran. Parahnya, banyak para agen rahasia yang diwadahi lewat jalur itu benar-benar tidak memiliki bakat di bidangnya. Sehingga banyak misi-misi yang diberikan gagal total sampai korban dari warga sipil. Segala kebobrokan ini di tutupi oleh organisasi kecil ini, Pak."
"Kalian punya buktinya?"
Keduanya mengangguk. Damar mengambilkan sebuah tas koper yang terbuat dari kulit. Meletakkannya di atas meja. "Ini buktinya, Pak. Saya yang meretas," kata Wira mantap.
Saat presiden hendak mengambilnya, Damar menarik koper itu menjauh. Wajah presiden menunjukkan ekspresi bingung. "Kenapa?" tanyanya.
Damar dan Wira saling pandang. Lalu, mengangguk. "Sebenarnya nama kami juga ada di sana, Pak. Kami ingin di bebaskan dari hukuman."
Pak presiden tersenyum. Dari tadi dia sudah menduganya. "Tentu, kalian pembocor. Kalian bebas dari hukuman."
Damar dan Wira tersenyum bangga. Padahal ini pengkhianatan. Damar menyerahkan koper itu pada presiden.
Pak presiden mengeluarkan isi koper itu, dan menemukan sebuah flashdisk hitam. Dia mengecek isinya lewat handphone miliknya. Menghubungkan keduanya lewat OTG (On The Go). Setelah berhasil melihat isinya, beliau mengangguk. "Baik, ini saya terima. Kalian juga akan dibebaskan dari hukuman dan tugas kalian."
Wira mengangguk puas. Tapi, Damar terkejut, "Dibebaskan dari tugas?" ulangnya sengit.
Wira menyikut temannya. "Apa-apaan, sih? Itu sudah cukup tahu?" bisiknya tak kalah sengit.
Pak presiden mengernyit. "Bukankah kalian sendiri yang bilang, setiap misi kalian gagal total bahkan sampai menewaskan banyak warga sipil. Itu tidak bisa dibiarkan."
"Mar? Bukankah kita sudah membicarakan ini?" kata Wira frustasi dengan sikap temannya ini.
"Kita tidak membicarakan soal penghentian tugas," sentaknya sengit. "Wir? Kau tahu ini mimpi kita sejak dulu. Aku tidak mau melepaskannya begitu saja."
Wira mengacak rambutnya, kesal. "Untuk apa kita menjadi agen rahasia jika kita hanya bisa menggagalkan rencana dan melukai yang tak bersalah?"
Para pengawal mencoba berdiri dari kursinya. Berusaha melerai pertengkaran keduanya. Namun, Damar langsung menekan pemicu bom miliknya untuk mengantisipasi seramgan mereka. Seketika bom yang di pasang di kursi para pengawal meledak. Bom itu memiliki daya ledak kecil. Sehingga, hanya presiden, Damar, dan Wira yang tidak terkena dampaknya. Sementara, tubuh para pengawal terpisah antara kaki dan tubuhnya. Mati.
"Kau Gila?!" bentak Wira kesal.
"Tidak," tolak Damar. "Dengar, tak ada yang bisa merebut mimpiku."
Kemudian dia beralih ke sebuah rak buku. Mengambil gigi palsu alias microphone mininya. Memakainya.
"Kau mau apa, Mar?" tanya Wira terkejut dengan apa yang temannya lakukan.
"Pak Tundo?" Damar mulai menghubungi atasannya. Saat itu juga, Wira menerjang tubuh Damar.
Bruk!
__ADS_1
Tubuhnya menghantam rak buku. Beberapa buku berjtuhan. Terbuka di halaman secara acak. "Jangan, Mar!"
Damar mengerang, tubuhnya dikunci di rak buku seperti itu. Tapi, tangannya berhasil meloloskan pistol miliknya. Lalu, dengan menarik pelatuk pelan.
Dor!
Tubuh Wira mengendor mengunci Damar. Merosot ke bawah. "Aku tak percaya ini kau, Mar." Wira berkata tertahan. Tangannya memegangi perutny yang tertembak.
"Tenang saja. Karena kita teman, aku tak menembak bagian vital. Kau hanya akan mati kehilangan darah," balasnya sinis. Damar berbalik mendekati presiden yang masih melekat di kursinya. Ya, itu bukan kursi kayu antik biasa. Ada sistem kunci bila orang yang duduk melakukan gerakan cepat. Presiden terjebak saat mau kabur.
"Nah, Pak ASN. Jika Anda masih mau hidup. Sebaiknya turuti permintaanku itu," kata Damar tajam. Tangannya menodongkan pistol ke kepala Pak ASN.
"Saya lebih memilih mati daripada membela yang salah!" Pak ASN menjawab kesal. Dia meronta beberapa kali dari kursi sialan itu. Sayangnya kuncian dari kursi itu membuatnya tak berkutik.
"Hentikan omong kosong ini, Mar?!" teriak Wira kesal seraya mengelurkan pistolnya perlahan.
"Diam, kau Wir. Kau bukan sohibku lagi sekarang," kata Wira tajam. Lalu, dia kembali ke microphonenya. "Seperti yang Anda dengar Pak Tundo. Presdien ada bersama saya di sini. Dia berada di kamar..."
Blub!
Sebuah peluru menancap di leher Damar.
Wira masih terengah di tempatnya. Satu tangannya mengacungkan pistol yang baru saja meluncurkan peluru bius. Satu tangannya lagi menekan perutnya yang tertembak. "Sialan, kau Mar," umpatnya lega.
Dengan kualahan, dia berdiri. Mengambil alkohol dari atas kulkas. Menuangkannya di tempatnya yang terluka. Lalu, jarinya perlahan merogoh lukanya. Seketika saja matanya menyipit kesakitan. Rahangnya mengeras, menahan rasa sakit itu. Baru, setelah pelurunya tercabut, wajahnya rileks. Dia membuang pelurunya sembarang. Menuang alkohol lagi.
Dia mengeluarkan pistolnya. Mengganti ke mode jepret. Memasukkan benang jahit di tempat pelurunya.
Jret! Jret! Jret!
Tiga jepretan di perutnya. Tanpa bius membuatnya memekik tertahan berulang. Tapi, sekarang lukanya telah menutup.
"Maaf soal itu, Pak," katanya akhirnya setelah bisa berdiri dan mencuci tangannya. Yang membuat wastafel merah oleh daranya.
Pak presiden masih melongo ngeri melihat Wira yang menjahit lukanya tanpa bius. "Kau baik-baik saja, Nak?"
Wira meminum beberapa obat sekaligus. Obat penambah darah dan pereda rasa sakit. Setelahnya, dia menjawab pertanyaan presiden, "Untuk sekarang, tidak."
Tetap saja presiden mengernyit nyeri.
Wira segera melepaskan kunci dari kursi itu. "Kita harus segera pergi, Pak. Saya yakin mereka akan segera ke sini."
"Mereka?"
__ADS_1
"Akan saya ceritakan sambil jalan."