
"Wah ... " Fadil tak henti-hentinya terpesona dengan semua keindahan di hotel itu. Tinggi hotel itu sekitar satu kilometer, lebih tepatnya 987 meter. Dengan lantai yang berjumlah 200.
Mata Fadil berbinar-binar memandangi semua itu. Semua kekaguman itu meningkat berkali-kali lipat ketika masuk ke dalam lobi. Seketika udara AC yang sudah difilter sedemikian rupa menyesuaikan suhu Fadil yang kepanasan.Tapi, Fadil mencoba untuk terlihat biasa. Dia tak mau terlihat katrok. Tapi, dari tadi di belakangnya, Pak Danu sudah berkali-kali tersenyum dan menggelengkan kepala. Fadil membalasnya dengan tawa. "Aku dulu juga seperti itu, Nak," kata Pak Danu menerawang ke dalam pikirannya sendiri. Sepertinya dia teringat masa lalunya ketika pertama kali bekerja di tempat ini.
Fadil nyengir. "Hehe, saya jadi malu, Pak."
Pembicaraan itu berhenti sejenak di meja resepsionis. Fadil harus check-in dulu. Ya, tanda tangan-tanda tangan gitu. Barulah dia diberi kunci kamarnya.
"Pak Danu, sudah lama bekerja di sini?" tanya Fadil saat memasuki lift.
"Cukup lama. Sekitar dua puluh lima tahunan," jawabnya sambil memencet tombol lift. Sejenak ruang kecil yang berdinding cermin di keempat sisinya itu berguncang. Kemudian, dengan kecepatan 100 km/jam, lift itu meluncur ke atas. Tubuh Fadil terentak awalnya, membuat keseimbanganya goyah, reflek tangannya berpegangan ke baju Pak Danu. Sehingga baju rapi Pak Danu tertarik, kemejanya keluar. "Anu ... Pak, maaf. Tadi saya ... "
Pak Danu sudah cekikian dulu. "Aku jadi teringat diriku dulu, Nak Fadil. Malah mungkin lebih parah. Karena saat itu sedang banyak orang di dalam lift. Saking kagetnya saya dulu, kepala saya sampai terantuk seorang perempuan. Tentu saja itu hal yang memalukan."
Fadil menahan tawanya. Dia rasa tidak sopan menertawakan pengalaman orang itu. Tapi, Pak Danu berkata, "Kalau mau tertawa, tertawa saja."
Fadil akhirnya tertawa lepas. Pak Danu memang beda. Sopir ini sangat spesial.
Pintu lift terbuka. Di sana seorang pria telah menantinya. "Nah, Nak Fadil, ini pelayan Nak Fadil sesungguhnya, dia akan menemani segala aktivitas Nak Fadil selama di Hotel ini. Perkenalkan namanya, Rasya."
Fadil menjabat tengannya dengan senyum lebar. "Fadil Kurniawan."
Rasya terlihat terkejut melihat wajah Fadil yang penuh lebam. Ya, Pak Danu tadi juga begitu, saat pertama kali melihatnya. Tapi, Rasya menutupi keterkejutannya itu dengan langsung menjabat tangan Fadil. "Ra-Rasya Nur Ilham," balasnya sedikit gugup.
"Nah, Nak Fadil. Saya kembali dulu. Oh iya, ini," Pak Danu memberinya sebuah kartu nama. "kalau Nak Fadil bosan di dalam hotel, Nak Fadil boleh menghubungi saya."
"Terima kasih, Pak," jawab Fadil mantap.
Jabat tangan terakhir mereka, Pak Danu mendekatkan dirinya memeluk Fadil, tapi sebenarnya dia ingin membisikkan sesuatu di telinga Fadil, "Asal kau tahu, Rasya itu sedikit ceroboh. Jangan memarahinya, ya. Dia anak baik."
Pak Danu melepas pelukan itu, mengedipkan matanya sebelah. Fadil tersenyum mengangguk.
"Rasya, jaga anak ini baik-baik!"
__ADS_1
"B-baik," balas Rasya.
Setelah Pak Danu menghilang tertelan lift, Rasya mencoba membawa koper Fadil. Tapi, karena koper itu berat, koper itu terjatuh, sementara dirinya terjengkang. Fadil tidak tega untuk tertawa. Sebagai gantinya, Fadil mengulurkan tangannya. Rasya menerima uluran tangan itu dan segera berdiri. "M-maafkan saya Tuan Fadil. Saya sangat ceroboh."
Fadil tak bisa menahan tawanya ketika di panggil dengan Tuan Fadil. Padahal umur mereka tak terpaut jauh. Malah mungkin mereka seumuran. "Panggil saja, Fadil langsung."
"Tapi, ... " Rasya tampak keberatan dengan permintaan Fadil.
"Tidak ada tapi-tapian. Kalau begitu, Nih." Fadil menyerahkan kuncinya ang berupa kartu. "Antar aku ke kamarku."
Rasya mengangguk. "B-baik." Dia kembali meraih koper Fadil. Tapi, Fadil segera mencegahnya. "Kopernya biar aku saja yang bawa."
Rasya mau protes lagi, tapi Fadil menatapnya tajam. Membuatnya mengurungkan protesnya.
Koper Fadil berjenis ransel biasa, jadi tidak ada roda untuk membawanya. Sementara koper itu sangat berat. Apa lagi ada batako besar di dalamnya. Jadi, hanya mereka yang berotot tangguh yang bisa mengangkatnya.
"Kamu sudah lama bekerja di sini?" tanya Fadil saat berjalan menuju kamarnya.
Fadil sedikit terkejut mendengarnya. Tapi, dia menutupinya dengan melontarkan pertanyaan lagi. "Kenapa kamu bekerja di sini?" Wajar Fadil bertanya demikian, karena biasanya pekerjaan sebagai pelayan hanya untuk orang-orang yang berumur 40 tahunan lebih.
"K-kita sudah sampai." Rasya mengalihkan pembicaraan. Dia memasukkan kartu itu ke dalam lubang kunci dan membukanya. "K-kartu ini sebagai kartu identitas, Tuan ... "
"Eits!" Potong Fadil mengingatkan.
"M-maksudku Fadil. Jadi, kartu ini harus selalu Tu ... Fadil bawa kemanapun Fadil pergi. Agar tidak hilang, setelah masuk, kartunya di taruh sini," jelas Rasya bak seorang pelayan profesional. Setelah Rasya menaruh kartunya, semua lampu di ruangan itu menyala terang. "K-kartu ini juga berfungsi juga sebagai penyalur listrik dalam kamar."
"Aku mengerti," sahut Fadil.
"K-kalau begitu, saya tinggal dulu. Tu ... Fadil harus istirahat. Tur anda dimulai jam dua nanti. Tapi, jika keberatan, Fadil boleh meminta tur itu besok."
Sebelum Rasya benar-benar pergi, Fadil meminta jawaban atas pertanyaananya tadi. "Tunggu, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Kenapa kamu bekerja di sini?"
__ADS_1
Rasya memalingkan wajahnya, masih tidak mau menjawab. "M-maaf, saya tidak bisa menjawab pertanyaan Fadil."
Fadil mengerti. "Baiklah, kalau begitu satu lagi. Kalau bicara denganku, tidak usah terlalu formal. Aku merasa aneh."
"Baik, aku mengerti."
Rasya membalik tubuhnya, berjalan menjauh.
Fadil menutup pintu.
Kamar Fadil jauh lebih besar dibanding dengan kamarnya di asrama sekolahan. Mungkin sepuluh kalinya. Tidak banyak properti di dalamnya. Sebuah kasur ukuran besar. Sofa empuk yang di balut beludru yang menghadap langsung ke luar. Sehngga, dari ruangannya ini, dia bisa melihat pemandangan kota di luar dan mampu memperkirakan ketinggiannya sekarang. Sebuah televisi besar, radio, rak buku, almari, dan properti pelengkap lainnya. Juga ada sebuah balkon yang tidak terlalu lebar. Kamarnya dicat dengan warna-warna halus. Fadil tidak tahu bagaimana menggambarkannya. Yang jelas, semua itu tampak indah di matanya.
"Siapapun pasti betah tinggal lama disini," gumamnya sembil mulai menempatkan barang-barangnya.
Fadil langsung tertidur setelah membereskan barang-barangnya. Dia kelelahan. Biar bagaimanapun, pertarungannya kemarin dengan Elang membuat tubuhnya remuk.
***
Fadil terbangun pukul setengah satu. Perutnya keroncongan. Tadi pagi, dia hanya sarapan sedikit. Karena dia pikir, dia akan makan dulu tadi saat sampai di Hotel Hastungkara.
Fadil turun dari ranjangnya, berjalan menuju ke kulkas, berharap ada makanan di dalamnya. Tapi ternyata isinya hanya air mineral. Fadil menutupnya dengan kecewa. Dia sempat kepikiraan untuk menelpon Pak Danu, tapi dia teringat pulsanya kosong dan belum diisi. Jadi, dia memutuskan untuk mandi dulu. Mungkin dia bisa mencarinya nanti setelah mandi.
Seperti yang Fadil duga, kamar mandi di kamarnya sangat mewah. Dia bisa berlama-lama mandi di sana. Tapi, perutnya menyuruhnya untuk segera diisi. Jaid, dia mempercepat mandinya. Toh, dia bisa mandi lagi nanti.
Jam satu kurang lima belas menit, Fadil keluar dengan pakaian rapinya. Dia celingukan bingung mau kemana. Sepertinya, ini petualangan pertamanya di dalam hotel. Dia mulai menyusuri lantai 180. Berbelok ke sana ke mari.
Krucuk! Krucuk! Krucuk!
Perutnya terus bernyanyi. Uh! Menyebalkan, batinnya. Hotel bagus, kok membuat penghuninya kelaparan, dia mulai menggerutu. Kemudian, dia teringat dengan lift. Ya, dia mungkin bisa kembali ke lantai pertama dan bertanya ruang makannya. Tapi,... Tunggu.
Dimana ini?
__ADS_1
Fadil kebingungan. Dia baru tersadar, dirinya sudah menjelajah terlalu jauh. Sekarang dia tersesat.