
Tersesat? Tentu saja tidak. Fadil sangat jago dulu dalam pelajaran mengingat. Bahkan di game maze, yaitu ketika beberapa mahasiswa di masukkan ke dalam labirin di tempat yang berbeda dan mereka balapan untuk segera menemukan keluar. Dalam permainan itu, Fadil meraih rekor tercepat, yaitu lima menit lebh dua detik.
Sekarang yang dia lakukan hanyalah kembali menyusuri jalan awalnya.
Tapi, sebelum dia membalik tubuhnya, matanya melihat sebuah celah pintu yang terbuka. Ceroboh sekali meninggalkan kamar tanpa mengunci pintu, pikir Fadil. Apa ada pencuri masuk? Fadil menyapu pandang, memastikan tidak ada orang. Lalu, dengan pelan-pelan dia mengetuk pintu tiga kali.
Tok! Tok! Tok!
"Halo, ada orang?"
Tok! Tok! Tok!
"Siapapun, pintu Anda terbuka."
Tok! Tok! Tok!
Fadil semaikin curiga setelah tidak ada balasan dari dalam kamar. Untuk memastikannya, dia membuka pintu itu sedikit lebih lebar. Siapa tahu, dia bisa melihat orang di sana. Benar saja, dia melihat seorang perempuan yang terlihat sedang menikmati pemandangan di balkon. Sepertinya dia tidak mendengar ketukan maupun panggilan dari Fadil karena udara di luar sangat kencang. Apalagi di ketinggian seperti ini. Fadil tahu itu karena rambut perempuan itu dan dasternya berkibar-kibar. Fadil sedikit canggug karena masuk tanpa izin. Apalagi ini kamar perempuan.
"Maaf sebelumnya saya masuk tanpa izin. Tadi saya melihat pintunya tidak tertutup, sebaiknya ... ," kata-kata Fadil terhenti. Dia melihat perempuan itu menaiki pagar yang membatasi area balkon tersebut. Tapi, kata-kata Fadil tak berhenti karena ada adegan percobaan bunuh diri itu, itu semua karena kata-katanya tidak dihiraukan oleh perempuan itu. Dia mencoba mendekati sampai pintu menuju balkon.
"Mbak, pintu Anda terbuka!" Fadil berkata lebih keras berusaha mengalahkan gemuruh angin. Dengan jarak sedekat itu, tentu saja perempuan yang pikirannya berkecamuk dengan berbagai permasalahan kompleknya itu terkejut. Sampai-sampai dia kehilangan keseimbangannya, dan nyaris benar-benar terjatuh dari ketinggian 800 meteran.
"Apa yang kamu lakukan di sini, hah!?" balasnya dengan sedikit marah.
"Niat saya baik lho, Mbak. Kok marah?"
Siapa, sih orang bodoh yang masuk ke kamar orang tanpa izin ini? Batin si perempuan. "Kamu tahu tidak, kamu mengganggu tahu."
Fadil sedikit bingung dengan perkataan perempuan itu, "Tapi, di sini saya lihat, Mbak hanya menikmati pemandangan, kan?"
Mata perempuan itu melebar, masa orang yang sudah berdiri di ujung balkon seperti ini disebut menikmati pemandangan? Polos apa memang bodoh, sih, anak ini?
"Tapi, kalau menikmati pemandangan sebaiknya, sore Mbak. Siang-siang seperti ini, panas."
"Aku mau bunuh diri, Bodoh!" kata perempuan itu dengan nada meninggi.
"Ha?" Fadil tak percaya. Tapi, kalau dipikir lagi. Benar juga. Perempuan itu benar-benar mencoba bunuh diri.
Perempuan itu berpikir kalau cowok di dibelakangnya itu benar-benar bodoh. "Kalau kamu tidak percaya, aku lompat, nih."
"Jangan! Jangan, Mbak!" teriak Fadil sontak. Wajahnya seketika memucat. Dia mulai tahu situasinya. Dia berusaha tidak panik, tapi tidak bisa. Ada seorang perempuan yang mau bunuh diri. Apa yang harus dia lakukan? Fadil mencoba mendekat.
__ADS_1
"Berhenti! Jangan mendekat! Kalau kamu mendekat lagi, aku akan langsung melompat."
Terpaksa Fadil menghentikan langkahnya. Sial, harus bagaimana ini? Dia memutar otaknya dengan keras, sampai sebuah ide muncul. Seketika wajahnya berubah lebih tenang, "Kalau aku jadi, Mbak. Aku tidak akan melompat." Ya, dengan menakut-nakutinya. Itu cara efektif untuk saat ini.
"Apa yang kau bicarakan?"
"Pertama-tama, tubuh Mbak yang melayang di udara akan jatuh semakin cepat jika tidak memakai parasut. Dalam kecepatan tersebut, Mbak akan kesulitan untuk bernapas. Karena udara berebutan masuk ke dalam lubang hidung Mbak yang kecil."
"Kau pikir kau bisa menakutiku?" ejek perempuan itu.
Fadil tersenyum. Nyatanya, perempuan itu sedikit menjauh dari ujung balkon, jadi dia meneruskan ucapannya. "Tak lama kemudian, otak Mbak akan kekurangan oksigen. Tubuh Mbak melemas."
"Hentikan! Kau pikir aku seperti perempuan di film Titanic itu, ha? Aku tidak sebodoh itu untuk ditakuti tahu."
"Aku hanya bercerita, kok." jawab Fadil santai. Padahal jantungnya berdetak kencang. Dia segera melanjutkan. "Meski tubuh Mbak melemas di udara nanti, tenang saja, kok. Otak Mbak masih bisa merasakan pertunjukan utamnya. Jatuh dari ketinggian 800 meter ini bagaikan balon air yang di lempar dari ketinggian beberapa meter ... Blub ... Pyak." Fadil membuat gerakan tangan membentuk balon, kemudian melepaskannya, mengilustrasikan balon pecah.
"Hentikan, omong kosongmu."
"Tubuh Mbak akan hancur berkeping-keping. Sampai-sampai tak satupun dari tubuh Mbak yang bisa dimakamkan."
"Hentikan! Aku akan melompat sekarang."
Perempuan itu menatap Fadil benci. Kemudian, dia membalikan tubuhnya. Menghadap ke udara lepas. Sementara di keramaian bawah sana tak ada yang memerhatikan. Segala ucapan dari cowok itu dia ingat sedetail-detailnya. Dia tak bisa memungkiri kalau dia jadi takut. Dia tak bisa membayangkan kalau tubuhnya hancur di bawah sana, dan tak ada yang tersisa dari dirinya untuk dimakamkan. Hus! Pikirnya cepat menolak ketakutannya. Akan kubuktikan kalau aku tidak takut. Dia mulai merentangkan tangannya. Dan...
Fadil meraih tangan kanan perempuan itu sebelum hilang dari pandangannya. Untung cukup waktu, kini perempuan itu menggantung di tangan kanannya.
"Kau bodoh, ya. Sudah kubilang aku tidak akan takut mati!"
"Seharusnya, aku yang bilang seperti itu kepadamu. Karena kamu lebih bodoh dariku!"
Perempuan itu tertawa kesetanan. Tapi, tiba-tiba suaranya melengking dan berganti suara isak tangis. "Kau benar, aku memang bodoh."
"Ya, kamu sangan bodoh!" bentak Fadil kesal. Tangan kananya kembali sakit. Tentu saja karena pertarungannya kemarin itu. Dia belum pulih total.
"Lepaskan tanganku! Biarkan aku mati!" Perempuan itu mulai memberontak. Mencoba menggunakan tangan kirinya untuk melepaskan peganganku.
Krek!
"Akh!" pekik Fadil keskitan. Gawat, pergerakan perempuan itu membuat tangannya putus. Tapi, dengan cepat tangan kirnya segera menggantikan posisi tengan kanannya. "Aku tidak akan melepaskanmu. Aku tahu, aku tidak akan pernah mengerti masalahmu. Tapi, kamu harus tahu bahwa hidup itu berharga. Kamu hanya bisa hidup sekali seumur hidup. Banyak orang diluar sana yang ingin hidup lebih lama tapi tidak kesampaian. Kamu malah mengakhiri hidupmu seperti ini. Menyedihkan!"
Perempuan itu menunduk. Berpikir sejenak. Kemudian, berkata, "Tarik tubuhku."
__ADS_1
Fadil lega mendengarnya. Dia segera menarik tubuh perempuan itu. Tapi, tangan kirinya tak menyeimbanginya membuatnya kesulitan.
Bug!
Mereka berdua terhempas di balkon. Tubuh Fadil ditindih tubuh perempuan itu. Itu sangat memalukan baginya. Dia tidak pernah sedekat ini dengan perempuan sebelumnya. Sekarang tubuhnya menempel dengan perempuan yang hanya menggunakan daster itu. Dia bisa merasakan permukaan tubuh perempuan itu. Jantungnya berdetak lebih keras. Wajahnya bersemu merah.
Perempuan itu buru-buru berdiri. "Maaf!"
"Aku punya permintaan untukmu," kata Fadil setelah membenarkan posisi tubuhnya lebih santai. Jantungnya masih berdegup cukup kencang tadi.
"Apa?" tanya perempuan itu was-was.
"Jangan bunuh diri lagi."
"Aku tidak bisa janji kepada orang yang baru aku kenal. Tapi, akan aku usahakan."
Fadil tersenyum, tapi kemudian dia mengerang kesakitan. "Akh." Tangan kananya nyeri hebat.
Perempuan itu mengernyit bingung. "Kau tidak apa-apa?"
Fadil menggeleng. "Aku harus pergi."
"Tapi, ... "
Fadil sudah keluar dari kamar tersebut. Dia harus segera ke kamarnya. Mengobati tangan kanannya yang copot lagi.
Bruk!
Fadil menabrak Rasya saat di belokan lorong. "M-maaf."
Fadil mengerang lebih keras lagi.
"F-Fadil? Kamu kenapa?"
"Bantu aku ke kamarku."
"B-baik."
Rasya langsung memapah Fadil. Membantunya kembali ke kamarnya. "Kalau begitu, turnya besok saja."
Fadil mengangguk. "Terima kasih."
__ADS_1