Blokade Hotel Hastungkara

Blokade Hotel Hastungkara
Episode 12: Cerita Wira


__ADS_3

Fadil mengernyitkan dahi. Bingung dan terkejut melukis wajahnya. Seakan dia bertanya, maksudnya? Tapi, lidah Fadil terasa kelu. Mulutnya hanya terbuka sedikit dan tak ada yang keluar dari sana kecuali udara kosong.


Wira memasukkan sebuah steak di teflonnya. Bunyi ces minyak dan steak yang bersatu memenuhi dapur. Wajahnya masih muram. "Ah," desahnya kesal setelah mengerling ke belakang, memastikan tak ada yang mendengar pembicaraan itu. "Ceritanya panjang."


"Aku siap mendengarkan," sahut Fadil setelah terdiam sejenak.


Wira mendesah lagi. Membalik steak dengan spatulannya. "Baiklah, akan aku ceritakan semuanya. Kau pernah dengar soal Sindikat Merah?"


Fadil yang merasa asing dengan kata tersebut menggeleng.


"Yeah, sih." Dia terkekeh pelan. "Sindikat Merah beberapa bulan ini sudah siap menyerang secara terang-terangan negara kita. Jika kau tanya aku, apa mereka teroris yang kau lawan sebelumnya? Kurasa tidak. Yang kau lawan tadi bukan mereka. Yang itu akan kujelaskan nanti. Kita bicarakan dulu soal Sindikat Merah."


Fadil memasang telinganya lebih benar lagi.


"Tapi, jika kau tanya aku, apakah Sindikat Merah ini organisasi teroris? Ya, mereka memang teroris. Beberapa utusan dari luar negeri. Kau tahu, kan sejak Pak ASN menduduki kursi presiden, Indonesia maju sepesat apa. Beberapa kemajuan itu membuat kerugian besar bagi negara maju lainnya. Seperti ekspor emas, maksudku yang sudah dibentuk, yang pemilik besarnya adalah kita, begitu juga makanan ringan, buah kemasan, bahan bakar, senjata, dan banyak lagi."


Wira memasukkan steak yang terakhir. Memenyetnya dengan spatula.


"Sindikat Merah terdiri dari banyak Negara yang dirugikan itu, tapi ada juga yang dari dalam negeri ini. Untuk tujuan mereka yang dari dalam negeri itu tak diketahui secara pasti. Mereka mungkin sekelompok psikopat yang gila perang, yeah kau tahu."


Fadil mengingat wajah Nina yang bulat dan lucu itu ketika mendengar kata psikopat. Membayangkannya berpakaian ala teroris dan menembaki mereka yang tak bersalah dari kamar satu ke kamar lain. Dia bergidik. Mengerling Nina yang sekarang sedang mendengungkan lagu untuk Pak ASN. Itu membuatnya sedikit tenang.


"Sindikat Merah telah membangun markas mereka sejak beberapa tahun yang lalu. Mereka hanya mengganggu kecil-kecilan saat itu. Kau ingat bom viral yang meledak di sebuah Mall di Jakarta saat kita masih sekolah dulu. Nah, itu perbuatan mereka. Mereka ahli dalam merekit Bom. Kalau tidak salah korbannya lebih dari 11000 jiwa. Lima artis terkenal meninggal saat itu yang menjadi tranding topik di berita selama beberapa minggu kerena jasadnya yang tak utuh."


Fadil menggigit bibir bawahnya. "Sebegitu mengerikannya mereka?"


Wira mengangguk. Meneruskan, "Beberapa minggu lalu Sindikat Merah menuliskan surat kepada atasanku, Pak Tundo, kau pasti sudah mengenalnya, kan? Surat itu berisi permintaan bantuan untuk bergabung dengan Sindikat Merah sebagai kekuatan terakhir mereka yang dibutuhkan untuk menggulingkan prsiden."


Wira memasukkan empat roti bakar terakhir di grill pan yang sudah ia olesi mertega.


"Lalu, atasanmu mengiyakan begitu saja? Cih!" kata Fadil tak percaya.


"Tidak, Pak Tundo tidak langsung menerimannya dan tidak akan menerimanya jika bukan karena aku," sergah Wira cepat-cepat.


"Kau?!"


Wira mengangguk. Tangannya masih tetap gesit mengangkat roti panggang yang kini baunya menyerebak harum di udara. Membuat perut mereka yang keroncongan menggonggong liar. Tapi, tidak dengan Fadil, perutnya serasa sesak dengan kenyataan yang baru saja ditelannya mentah-mentah.


"Itu semua salahku," ulang Wira murung, "Kau ingat desas-desus saat kelulusan dari sekolah kita dulu, itu lho yang katanya akan ada orang asing yang mengajakmu untuk bisa lulus dengan mudah. Ingat?"


Fadil teringat pria misterius yang menghampirinya. "Yeah, aku juga diajak di kelulusanku yang kemarin. Ada seorang pria misterius, dia mengajakku ke ruang kelas yang kosong. Menawariku sebagai agen lapangan dengan sejumlah bayaran. Tentu saja aku menolak, meski aku bisa membayarnya di kemudian hari, tetap saja cara itu tidak adil. Dia mengancamku agar tidak memberitahukan ini pada siapapun, katanya dia selalu mengawasiku. Bahkan dia memberiku map kertas yang berisi kegiatanku selama ..."


"beberapa hari terkahir, yaeh. Aku juga demikian.," potong Wira ",aku juga bertemu dengan mereka pada tahun lalu. Bodohnya aku menerimanya saat itu. Tak disangka juga, Damar yang diam-diam melihaatku di ajak seseorang mengikutku. Dia juga ikut pada akhirnya. Sebulan tepat setelah pelantikan kami sudah menyelesaikan pembayarannya. Kami juga sudah sering bertugas ke sana ke mari. Mengintai atau mengawal orang-orang penting. Tapi,..." Wira menekankan kata itu karena Fadil terlihat iri dengan penugasan mereka. "Banyak tugas itu gagal dan harus ditutupi oleh pihak organisasi yang memasukkan kami itu. Semuanya tersimpan di file JE000TZ. File itu sekarang telah bocor, aku yang meretas file mereka."


Fadil teringat, Wira memang sangat pandai meretas sejak dulu. Dia cocok sebenarnya sebagai hacker topi putih. Tapi, dia lebih suka menjadi agen rahasia yang bertugas di lapangan.


"Entah kenapa saat itu aku dengan mudahnya meretas mereka. Semua ini kulakukan semata-mata karena aku muak. Aku benci melihat kematian mereka yang tak bersalah. Aku... Aku dihantui oleh bayang-bayang mereka yang mati. Yang gagal kuselamatkan. Pekikan dan jeritan mereka menghantui mimpiku, Dil. Jadi,..."


Wira menghentikan kalimatnya. Nina masuk ke dapur saat itu sambil mengendus-endus seperti anjing. "Kalian bicara apa, sih? Jika sudah selesai makanannya, ayo makan! Nanti kalau sudah dingin, sia-sia, kan sudah memanaskannya."


"Kamu ambil bagianmu saja, Nin," ujar Fadil kesal karena pembicaraannya terpotong. Tangannya menyorongkan sebuah steak dan setengah roti bakar di piring padanya. "Nih, kami makan di sini."


Nina mengangkat bahunya. Menerima piring itu. Dia benar-benar sudah lapar. "Oke, aku tak ingin dengar perbincangan sesama lelaki. Karena aku tahu, kalian membicarakan hal-hal mesum, kan?" tuduhnya sinis. Tapi, baik Fadil maupun Wira hanya menatapnya. Sampai akhirnya Nina pergi sendiri. Kembali ke dekat presiden.


"Nah, Wir. Lanjutkan!"


"Em....Ok. Karena meretas saja tidak cukup untuk membongkar rahasia busuk ini, aku menelpon bawahan presiden. Meminta pertemuan langsung dengan presiden. Karena aku yakin, kalau memberitahunya semuannya akan terbongkar secara langsung. Aku yang meminta pertemuanku dengan presiden di Hotel Hastungkara kemarin pukul 21 di kamar ini."


"Entah kebetulan atau bagaimana, bawahan presiden malah menyuruh orang-orang bawahan Pak Tundo untuk mengawal presiden di hotel ini. Aku yakin, Pak Tundo yang panik karena kehilangan file yang kucuri itu akhirnya memutuskan bergabung dengan Sindikat Merah. Entah tujuannya untuk apa, aku belum tahu pasti."

__ADS_1


Fadil manggut-manggut, menggigit roti bakarnya. "Lalu, bagaimana soal Damar yang mengkhianatimu?"


"Oh, iya. Aku hampir lupa. Itu baru saja terjadi beberapa jam yang lalu..." Wira menceritakan soal pencabutan tugas itu dan ketidakterimaan Damar. Sampai cerita dimana Dmara membunuh semua pengawal presiden.


Fadil melongo mendengarnya. Tak percaya. "Kau seriusan? Pakai bom?"


"Ya, sepertinya dia memasangnya saat aku sedang lengah. Juga kursi yang diduduki presiden saat itu. Bodoh sekali aku tidak menyadarinya. Padahal itu jelas-jelas Properti Interogasi Rahasia (PIR)-036."


Nina kembali ke dapur. Keberadaannya kembali membuat Fadil dan Wira terdiam. Sebelum Fadil bertanya alasannya ke dapur lagi, Nina sudah mendahuluinya, "Apa?! Aku hanya mau ke toilet, kok!"


Toilet memang berada di dapur itu.


"Jang..." Wira yang mau melarang malah dipelototi. "Aku nggak akan nguping obrolan mesum kalian, oke?!" Dia menjulurkan lidahnya. Membuka pintu.


Wira mengangkat bahunya. Terserah, deh, pikirnya. Sesuai dugaannya Nina menjerit keras. Fadil yang tidak tahu apa-apa segera mendekati Nina. Dan,.. Lihatlah, kamar mandi itu penuh dengan tubuh berserakan. Tak salah lagi, itulah tubuh para pengawal yang berceceran akibat ledakan PIR-011.


"Jangan marah, aku sudah memeringatkan kamu," jawab Wira tanpa memandang Nina di sampingnya yang muntah-muntah di tempat cuci piring.


Nina mengerling tajam ke arah Wira. Lalu, setelah mencuci mulutnya dia keluar dari kamar itu.


"Mau ke mana, Nin?"


"Kamar mandi sebelah!"


Fadil kembali mengambil sebuah roti bakar. Menggigitnya lagi tanpa merasa jijik walaupun telah melihat pemandangan tadi.


"Habisnya aku tadi terburu-buru. Mayat mereka kumasukkan sana, deh. Kalau Damar, dia sudah pergi ketika aku kembali," kata Wira cekikikan.


"Kamu tidak makan, Wir?" tanya Fadil melahap potongan terakhir roti bakarnya.


Wira menggeleng. "Aku tidak lapar. Semua ketegangan ini sudah mengenyangkanku."


Wira mengangguk. Berjalan cepat ke tempat presiden yang masih tertidur pulas. Mengambil koper dari kolong ranjang. Mengeluarkan laptop. "Lihat, nih!" ujarnya antusias. "Ini peretasan terhebatku sepanjang aku hidup."


Fadil membungkuk di sisinya. Memerhatikan layar laptop. Wira memasang flashdisk-nya. Lalu, membuka satu-satunya folder dalam flashdisk itu. Seketika layar laptop penuh dengan subfolder tersebut. Ada target, nama, video, dan rekaman-rekaman kegiatan gelap tersebut. Fadil mengusap wajahnya tak percaya. Ini benar-benar mirip dalam film. Bedanya, ini memang nyata.


"Ini semua data orgnisasi yang dibuat pendahulu Pak Tundo. Ya, Pak Tua itu hanya penerus saja. Organisasi ini telah ada sejak dua puluh tahun lalu."


Wira menggeser kursor, si anak panah, membuka satu per satu folder. Fadil semakin takjub melihatnya. Dia tak tahu harus bicara apa. Temannya benar-benar nekat melakukan hal besar seperti ini. "Gila!" Itulah satu satunya kata yang terlontar dari mulut Fadil.


"Barangkali memang iya. Aku gila, Dil. Tapi, ini demi kebaikan semuanya."


Fadil mengangguk. "Seharusnya kau menghubungiku sejak awal."


"Kita kan baru berbaikan kemarin."


Mereka berdua tertawa.


Wira menutup laptopnya. Keduanya terdiam. Nina belum juga kembali. Pak ASN masih tak bergerak sedikit pun. Transfusi darah masih berlangsung. "Eh, Wir. Aku merasa mereka, maksudku Sindikat Merah, telah merencanakan semua ini dengan sangat baik."


Wira menggeser dudukny lebih dekat ke Fadil. "Maksudmu?"


"Lihat saja keluar sana, bukankah seharusnya ada polisi atau wartawan yang hiruk pikuk di bawah sana. Bukankah mereka harusnya melihat kejanggalan setelah lampu hotel padam? Atau mendengar ledakan bom?"


Wira ternyata baru menyadarinya. Dia bangkit dari duduknya. Melangkah ke jendela. Manggut-manggut. "Kamu benar, Dil. Astaga, apa yang mereka telah lakukan. Aku yakin Pak Tundo tidak diberitahu soal ini. Itu artinya Sindikat Merah hanya menggunkan organisasi Pak Tundo sebagai pengalihan saja."


"Pengalihan?"


"Ini hanya spekulasiku, sih. Tapi, tak ada wartawan setelah lampu hotel ini padam? Itu nyaris mustahil."

__ADS_1


Lengang sejenak. Fadil dan Wira terhanyut dalam pikiran masing-masing. Fadil mengerling ke arah presiden beberapa kali. "Memang Pak ASN terluka kenapa?"


Wira mengalahikan pandang ke Fadil. "Oh itu, beliau ditembak saat menyelamatkan keluarganya? Beliau sangat marah ketika isteri dan anaknya ditembak di depan mata beliau sendiri."


Fadil tak terkejut mendengarnya. Sudah berkali-kali dia mendengar hal mengejutkan sampai terbiasa. Pintu terbuka, Nina muncul masih dengan muka masamnya. Dia memalingkan wajahnya pada Wira. Kemudian, duduk di sebrang mereka.


"Kamu marah, Nin? Kasian bayi kamu tahu?" kata Fadil yang disusul tawa kecilnya.


"Eh? Dia sudah hamil? Kamu... Kalian..." Wira memandang Nina dan Fadil bergantian.


"Hus..." sergah Fadil "jangan mikir macam-macam. Aku masih perjaka kok. Ceritanya panjang."


"Aku siap mendengarkan." Wira senyam senyum.


"Sayangnya ini privasi. Eh... Pak ASN sadar tuh." Nina menunjuk mata presiden yang terbuka.


"Silvi? Dira?" gumam Pak ASN. Silvi ndalah nama isterinya dan Nadira nama anaknya. "Silvi? Dira?"


"Mereka pasti baik-baik saja, Pak," kata Nina yang tidak tahu apa-apa.


Pupil presiden bergerak ke arah Nina, lalu berteriak "Tidak! Tidak! Tidak! Mereka tidak baik-baik saja. Mereka... telah pergi meninggalkanku."


Sebelum Nina menjawab, Fadil membisiki Nina tentang keadaan keduannya. Sementara Wira menenangkan presiden. "Tenang, Pak! Tenang! Sekarang yang terpenting adalah keselamatan Bapak."


Raut wajah presiden berubah marah. Otot ototnya mengejang. "Ini semua salahmu! Salahmu! Jika kamu langsung menuruti permintaanku mereka mungkin masih hidup! Yeah, ini salahmu! Dasar anak muda brengsek! Sini kau! Sini!" Presiden berusaha meraih tubuh Wira yang terlihat pasrah. Tapi, Fadil segera memegangi lengan presiden.


"Lepaskan! Biar dia tahu bagaimana rasanya mati! Lepaskan, kamu tuli, hah?! Tuli?!" bentak presiden yang terus meronta. Kini kebiwaan yang dia tunjukkan di tv dan media laiinnya tak terlihat. Pria paruh baya itu tampak kacau.


Nina tidak tahu harus berbuat apa hanya terdiam menyaksiakan semua itu.


"Pak! Pak Ajisaka Satrio Naga?! Hei?! Dengar!" bentak balik Fadil. "Saya tahu Bapak emosi isteri dan anak Bapak dihabisi di depan mata Bapak sendiri. Ya, kami tidak akan tahu apa yang bapak rasakan. Tapi, tolong bapak mengerti keadaan sekarang ini. Kita masih di perut Hotel Hastungkara dengan ratusan teroris yang menginginkan kematian Bapak."


"Biar! Biar aku saja yang mati asalkan jangan mereka! Jangan mereka!" raung Pak ASN sedih.


"Jika Bapak tewas di sini? Negara ini akan kacau, Pak. Itulah yang diinginkan mereka. Semua usaha yang Bapak lakukan sejak dulu akan sia-sia. Negeri ini akan kembali terpuruk."


Suara Pak ASN merendah. "Tapi,... Keluargaku telah mereka habisi."


"Ya, saya tahu. Setidaknya Bapak harus hidup untuk melawan. Bukan larut dalam kesedihan seperti ini."


Presiden terdiam. Berhenti meronta. Fadil melepaskan pegangannya. Beliau sudah tenang. Nina kembali duduk di pinggiran ranjang. Menawarkan makan yang langsung dijawab anggukan oleh presiden.


"Oh, iya. Di mana pakaianku?" tanya presiden setelah makan.


Wira langsung berdiri dari tempatnya. Mengambil pakaian presiden yang berlumuran darah. Beberapa ekor lalat sudah mengerumuninya. Nina menutup hidung jijik. "Ini, Pak. Penuh darah."


Presiden menerimanya. Merogoh kantong tersembunyi di jasnya. Sebuah pena. Menekan ujungnya. Menarihnya di telinga seperti tukang kayu. "Saatnya membalas!" ujarnya tersenyum senang. Namun, lama-lama senyum itu pudar. Tergantikan dengan gerutu kesal. Dia melakukan hal sama lagi, menekan ujung penanya lalu menaruh di telinganya.


"Maaf, Pak?! Apa yang sebenarnya Bapak lakukan?" tanya Fadil ingin tahu.


"Menghubungi pasukan khusus. Tapi, sepertinya jaringan di daerah sini rusak."


Wira terbelalak. "Maksud Bapak, Anda sedang menelpon?"


Presiden mengangguk.


Wira pucat.


Fadil, Nina, dan Pak ASN memandangnya bingung. Seakan bertanya, kanapa?

__ADS_1


__ADS_2