
Pikirannya melayang jauh. Mengingat pertandingan tadi. Dia tak habis pikir, kenapa juniornya itu tahu soal kelemahannya. Apa dia diberitahu seseorang? Tapi, oleh siapa? Tak ada yang tahu soal ini kecuali dua temannya itu.
Tepat setelah tragedi kecil itu, hubungan Fadil dan kedua temannya ikut mengendor. Tapi mereka sudah tahu bahwa bahu kanan Fadil mudah copot. Hingga kelulusanpun mereka tetap tak meminta maaf pada Fadil. Entah itu karena gengsi atau alasan lain, Fadil sudah tak memedulikannya. Selain itu, bukannya Fadil nggak mau memaafkan mereka, tapi hatinya sakit hati. Tepat sebulan setelahnya, meski seluruh bebatan di tangannya telah dibuka, tangannya sering copot. Dua bulan setelahnya dirinya gagal di test ujian bela diri tingkat akhir. Sehingga dia gagal untuk menjadi agen lapangan. Sebenarnya nilainya cukup untuk masuk sebagai analis, tapi dia memilih mengulang dua semester lagi di STIN. Sejak saat itu, mereka tidak pernah bertemu lagi.
Lamunan Fadil buyar ketika terdengar suara ketukan pintu. "Masuk saja," jawab Fadil.
Kiki membuka pintu kamar Fadil, selarik cahaya dari celahnya perlahan melebar. "Nyalakan lampunya, ya!"
"Kakak sudah mendingan?" Tanya Kiki mendekati tempat tidur Fadil setelah kamar tersebut terang oleh lampu.
"Lumayan," sahut Fadil setengah malas.
"Tadi, tim hanya membersihkan darah Kakak saja. Soal bahu kakak,..."
Fadil teringat, Kiki juga sudah tahu rahasianya. Apa dia yang menyebarkan rahasianya? Fadil mencoba menghapus pikiran itu dari kepalanya. Dia yakin, Kiki tidak akan seperti itu. "Yah, terima kasih."
"Tangan kakak sudah Kakak sembuhkan?" tanyanya.
Ya, soal penyembuahan, Fadil memiliki caranya sendiri. Makannya dia tak membolehkan orang lain menyembuhkan tangannya. Cara ini didapat dari dokter terakhirnya. Caranyapun efektif dan mudah. "Belum," kata Fadil. Mendudukkan diri. "kebetulan sekali kamu disini. Bantu aku, ya?"
"Siap, Kak."
Cara yang di jelaskan dokter terakhirnya itu hanya memerlukan sebuah batako (Batu bata dari semen). Fadil hanya harus berbaring di empat yang tinggi. Sementara tangan kanannya dia gantungkan sambil menggenggam batu tersebut. Memang rasanya sakit, tapi ia lebih cepat pulih dengan cara ini.
"Terima kasih, ya," ucap Fadil terengah. Tangannya telah bersatu kembali setelah menahan sakit beberapa menit.
"Sama-sama. Memang tidak sakit, Kak?"
Fadil tertawa. "Kamu nggak lihat ekspresiku waktu penyembuhan ini berlangsung?"
Kiki nyengir.
Fadil meninju pelan bahu junornya, kemudian tertawa lebih keras.
***
__ADS_1
Seminggu kemudian di berikan hasil kelulusan. Sudah bisa di tebak dia bakalan gagal menjadi agen lapangan lagi. Soalnya, test renang dia gagal, karate, perkelahian bebas, tinju, dan beberapa bela diri lainnya dia juga gagal. Pokoknya, segala aktivitas yang melibatkan kedua tangan, dia gagal. Padahal, dia mendapat nilai bagus dalam test pengendalian senjata. Tapi, tetap saja, butuh lebih dari sekadar itu untuk menjadi seorang agen lapangan.
Tak seperti tahun lalu, kali ini dia menerima jabatannya menjadi seorang analis. Sebenarnya dia ingin mengulan setahun lagi. Namun, keuangannya berkata lain. Sudah saatnya dia bekerja.
Dengan murung dia keluar dari tempat pengumuman. Tak ada alasan baginya unuk berlama-lama di sana. Berlama-lama di sana sama saja mengingatkannya pada kegagalannya. Sebenarnya, dia ingin langsung kembali ke kamarnya. Dia perlu menenangkan diri. Tapi, tiba-tiba saja ada seseorang ber-sst padanya. Seketika kepala Fadil memutar ke arah suara tersebut berasal.
Mata Fadil menangkap seorang pria lebih tua sedikit darinya. Dua empat atau dua lima, taksirnya dalam hati. Dia memakai pakaian serba hitam. Mulai dari jaket kulit hingga celana jeans yang di pakainya. Kulitnya putih bersih tidak seperti Fadil yang berkulit sawo matang. Tubuhnya proporsional seperti Fadil, tingginya juga hampir sama, kisaran 175-an. Rambutnya klimis dipotong pendek, rapi, tipis di kedua sisi dan disisir ke belakang.
Fadil mengira dia seniornya. Tapi, dia merasa sama sekali tidak familiar dengan wajahnya. Ia terkesima sejenak.
"Hei, bocah," sapanya.
Fadil terasa aneh di panggil bocah. Dirinya sudah berumur 23, lho. "Eh? Saya Fadil, Kak."
"Oh, ya. Maaf. Fadil Kurniawan, kan?"
Fadil sedikit terkejut, mendengar nama lengkapnya di sebut dengan mudah. "Kok, Kakak bisa tahu nama saya?"
"Saya sudah tahu banyak tentang kamu. Kamu mau jadi agen lapangan, kan?"
"Kalau begitu, mari ikut aku. Kita bicara di tempat lain."
Pria misterius itu memasukkan tangannya dalam saku jaket. Ia memandang sekitar, memastikan tidak ada yang memerhatikan. Kemudian, mulai berjalan. Fadil merasa kurang nyaman dengannya. Tapi, kakinya tersihir untuk mengikuti orang itu. Kenapa ini? Siapa dia?
Fadil diajak ke salah satu ruang kelas di sekolah itu. "Kurasa nggak akan ada yang mendengar ucapan kita di sini," kata pria misterius itu.
"Memang mau apa ya, Kak?" tanya Fadil ragu.
"Kau yakin, mau jadi agen lapangan?"
Fadil mengangguk. "Ya. Tentu."
"Kalau kau mau kau bisa masuk ke sana."
"Eh? Maksud, Kakak?"
__ADS_1
Pria misterius itu menggerakkan jarinya, isyarat untuk mendekat. Fadil mendekat dengan sedikit takut. "Aku bisa memasukkanmu dengan mudah, dengan satu syarat," bisiknya
"Syarat?" tanya Fadil.
Dia polos banget, deh, pikir si pria misterius itu. "Kamu harus membayar lima puluh juta."
Saat itu, Fadil menyadari bahwa dirinya sedang diajak untuk melakukan suap. Yah, dia baru ingat, ada rumor yang mengatakan bahwa di setiap kelulusan akan ada orang asing yang akan menawarkan pekerjaan yang diinginkan dengan persyaratan membayar sekian juta. Dia masih belum percaya bahwa semua ini benar adanya. Tapi, Indonesia, kan sudah maju. Segala jenis korupsi dan suap sudah dihapuskan. Kok, masih ada yah.
Sebelumnya, singkat cerita, saat ini Indonesia sudah merdeka yang benar-benar merdeka. Pemerintah di tahun 2033 ini sudah berkembang pesat. Segala jenis kecurangan di dalam pemerintahan sudah bersih, atau kelihatannya seperti itu. Soalnya kemerataan penduduk meningkat drastis. Kesenjangan sosial benar-benar hampir tak ada. Orang luar bilang, ini masa kejayaan bangsa Indonesia.
"Hm, kamu boleh bayar nanti-nanti, kok. Bagaimana?"
Fadil menelan ludah, bingung mau bicara apa. "Hm, tetap saja, Kak. Uang itu besar banget untuk aku."
"Uang ini nggak seberapa dibanding mimpimu, lho," rayu pria misterius itu.
Hatinya sudah menolak tawaran orang itu. Namun, bila dia gegabah, mungkin dia bisa berbuat lebih jauh.
"Mau atau enggak? Aku masih ada urusan lain."
"Eng ... enggak, Kak. Maaf."
"Ya sudah, kamu boleh pergi."
"Terima kasih."
Fadil buru-buru keluar ruangan itu. Memang itu tawaran yang menarik untuknya. Dia bisa jadi agen lapangan dengan mudah. Tapi, tidak seperti itu juga caranya. "Eh, bocah!" panggil orang misterius itu.
Fadil berhenti di pintu.
"Jika kamu menceritakan ini pada orang lain, aku akan menghabisimu. Ingat, aku bisa mengetahui dirimu dimanapun kamu berada." Pria itu meninggalkan map kertas di meja.
Fadil mendekat untuk melihatnya. Sementara, pria misterius itu pergi meninggalkannya.
Fadil membuka map tersebut. Seketika matanya melebar. Lihat, di map itu berisi tentang dirinya. Mulai dari ciri fisik, kegiatan sehari-hari, bahkan foto-foto yang menunjukkan peristiwa penting selama setahun ini. Pria misterius tadi tidak hanya menggertak. Fadil benar-benar sedang diawasi.
__ADS_1