
Gelap. Semuanya galap. Fadil terasa terhanyut dalam suatu sensasi yang sangat nyaman. Memang sensasi itu dipaksakan oleh suatu zat kmia yang menyebar di otaknya, tetapi tetap saja nyaman. Dia tetap dalam keadaan demikian samapai selarik cahaya membuyarkannya. Selarik cahaya yang melebar membentuk keadaan nyata di depannya sekarang.
"Maaf, Pak Presiden. Dalam hal ini pilihan Bapak sangat sedikit sekali," kata Damar yang wajahnya tampak berganda di mata Fadil karena obat biusnya. Presiden dilututkan di depan meja kayu kecil yang di atasnya sudah terdapat bulpoin dan sebuah kertas.
"Jangan, Pak. Tanda tangan Bapak lebih berarti dibanding nyawa saya!" seru Nina sengit. Dia berada di sebrang presiden. Sebuah senapan di arahkan padanya.
Presiden tampak bimbang dengan keputusannya. "Memangnya ini berkas apa?" tanya Presiden mengulur waktu. Entah untuk apa tujuannya.
"Pak, itu rahasia. Saya hanya ingin Bapak MENANDATANGANI KERTAS INI SEGERA atau perempuan di depan Bapak ini kami habisi segera."
Nina bersikeras mengatakan hal sama, "Jangan, Pak! Jangan!"
"Diam!" bentak orang yang menodongkan senapan padanya.
Presiden menggigit bibirnya, tetap bingung. "Jika ini aku tanda tangani, apakah perempuan ini akan kalian bebaskan?"
Damar mengangguk.
Tangan Presiden mulai bergerak mengambil bulpoin itu. Dia melirik kanan kiri. Ya, tak ada pertolongan lagi dari sini.
"Tidak! Jangan, Pak?!" Kini ganti Fadil yang melarang Presiden menandatangani kertas itu. Fadil sadar itu adalah kertas peresmian file JE000TZ. Jika sampai itu diresmikan hancur sudah.
Semua menoleh di ruangan itu termasuk Wira yang sepertinya baru terlepas dari cengkraman obat bius. "Ada apa, Dil?" tanyanya.
Tapi, Fadil tidak menjwabnya. Dia menatap presiden yang kini juga memandangnya setengah kaget. "Itu surat peresmian file JE000TZ, Pak, file busuk yang mereka ciptakan agar segala kegiatan busuk mereka legal. Bapak tahu, kan, mengenai file tersebut? Wira dan Damar, ya, dia yang ada di samping Bapak itu sudah menjelaskannya."
Damar tampak merah padam. Satu kedikan kepalanyaa membuat salah satu anggota Tim Rubah menendang kepala Fadil. "Jika kamu bicara omong kosong terus, kamu akan mendapatkan lebh dari itu."
Fadil terdiam sejenak, mulutnya berlumuran darah. "Aku tidak percaya ini dirimu, Mar."
Damar terkekeh jahat. "Kamu yang bodoh, Dil. Kamu yang tidak kenal aku."
"Tentu saja aku mengenalmu. Kita, kan sahabat dulu. Kemarin, kamu juga sudah minta maaf padaku, kan?"
"Oh, soal itu, ya. Ya. Ya. Ya. Jujur aku sebenarnya tidak menyesali perbuatanku itu, Dil. Asal kau tahu itu."
"Apa maksudmu, ha?!" raung Wira masih kesal dengan perbuatan Damar padanya.
Damar tertawa keras sekali. "Baiklah, mengingat hidup kalian nggak akan lama lagi akan aku akui kalau kecelakaan setahun lalu itu ulahku."
"Apa maksudmu?"
Damar tertawa lagi. "Ya, aku yang melepaskan peganganku waktu itu."
Fadil menatap tajam ke arahnya. "Jadi... Kamu... Kenapa, Mar? Aku punya salah sama kamu?"
"Enggak juga," jawabnya mencibir. "Aku hanya kesal kau jadi yang terbaik dalam angkatanku. Aku hanya tak mau kau lolos dengan mudah. Mengingat aku dan Wira pasti bakalan gak akan lulus dengan mudah."
"Jadi, semua itu sengaja?"
"Ya, juga tahun, ini. Kau kenal Elang, kan? Dia adik sepupuku. Ya, untuk berjaga-jaga jika dia melawanmu saat pertandingan. Tapi, sepertinya tidak, ya."
Fadil benar-benar emosi. Dia benar-benar ingin menghabisi damar. Otaknya sudah mendidih. Seandainya saja tangan dan kakinya tidak diikat kuat seperti ini, sudah dari tadi dia menghabisi Damar. Sahabat macam apa itu, yang iri terhadap prestasi temannya sendiri. Cih, itu namanya bajingan. "Kemari kau, brengsek."
Damar tertawa. Wira hanya melongo tak percaya. Bertahun-tahun mereka bersama, baru kali ini dia melihat karakter Damar sebenarnya. Kemudian dia ingat, Damar adalah mahasisiwa terbaik di ekstra teater. Sudah tentu dia pandai berakting.
"Oke, aku sudah menjelaskan semuanya. Kuharap kalian diam mulai sekarang. Aku harus melakukan tugasku."
Damar berbalik ke Presiden. "Nah, Pak. Silakan tanda tangani ini. Anggap saja mereka tidak ada."
__ADS_1
Tangan Presiden yang sempat terhenti oleh perdebatan kecil itu, kembali bergerak. Menuju pojok kanan bawah kertas.
"Jangan, Pak!" teriak Fadil lagi.
Kali ini Damar yang marah mendekati Fadil.
"Kenapa, Mar? Kenapa kau lakukan ini?"
Damar menendang bahu kanan Fadil hingga tubuh Fadil terjatuh. Lalu, menginjak bahu Fadil kuat-kuat. Fadil mengerang keras kesakitan. "Kenapa kau tanya, ha? Kenapa? Ini semua salah Wira." Damar mengerling ke arah Wira. "Karena dia membocorkan file. Juga dia." Damar mengerling ke arah presiden. "Karena dia yang mau membebaskanku dari tugas jika file ini disebar luaskan. Bukankah kalian dulu tahu kalau ini satu-satunya mimpiku? Cuma ini!"
"Tapi, kau... Akh... tidak perlu... Menghalalkan segala cara, Mar. Kita..."
Damar menendang kepala Fadil keras. Lalu menginjak bahu Fadil lagi hingga berbunyi krek. Ya, Bahu Fadil benar-benat copot sekarang. Seperti biasa, Fadil meraung panjang karenanya.
"Jika itu bisa membuatku mencapai mimpiku, kenapa tidak."
"Bajingan kau, Mar. Kau memang bukan sahabatku lagi!" teriak Wira yang miris melihat Fadil tersiksa seperti itu. Sayangnya dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tangan dan kakinya juga diikat kuat.
Damar tertawa liar lagi. "Sayangnya kau sudah mengatakannya tadi. Persetan dengan persahabatan."
"Kau memang sudah nggak waras, Mar."
Bug!
Damar menendang mulut Wira hingga berdarah. "Diam! Tidak bisakah kalian bersabar jika ingin ku bunuh, ha? Tenang saja, aku pastikan hidup kalian berakhir di tanganku, oke?"
Wira meludah. Giginya sepertinya goyang akibat tendangan itu. Sementara Fadil masih mengerang di tempatnya.
"Lakban mulut bejat mereka!" perintah Damar kesal. Anak buahnya langsung menurut. Damar berbalik ke presiden lagi. Setelah menghela napas dia berkata, "Ayo, tanda tangani itu. Kau mau perempuan ini aku bunuh?"
Presiden menatap Nina sekali lagi, popor senjata sudahj menempel di ubun-ubunnya dan siap meletus kapan saja. "Nyawanya tak sebanding dengan ini," ujar Presiden dingin. "Jika aku menandatangani ini. Banyak kematian yang tidak akan mendapat keadilan. Lebih banyak lagi bajingan yang bebas."
Nina lega mendengarnya. Toh, benar kata Pak presiden. Nyawanya tak sebanding. Tapi, dia kaget mendengar pernyataan presiden selanjutnya. "Tapi, aku tak mau melihat kematian lagi di depan mataku."
Dor! Dor! Dor!
***
Karena kesulitan mencari Presiden, Si Tangan Kanan membuat markas di lantai lima puluh. Kini lantai yang awalnya museum alat-alat musik tradisional menjadi penuh dengan senjata-senjata api. Mulai dari yang biasa hingga SKPI-SKPI khusus. Sebagian besar pasukannya mejaga di sana. Sebagian lagi menyisir lantai atas mencari di setiap detail.
"Bagaimana? Tahap satu sudah selesai?" tanya Si Tangan Kanan lewat microphonnya pada Pak Tundo.
"Ya, semua ruangan berhasil di bereskan," jawab Pak Tundo dari sebrang.
"Oke, Tundo terima kasih."
Si Tangan Kanan tersenyum licik. Dia mengganti salurannya ke saluran khusus yang menghubungkannya dengan semua pasukannya. "Tahap satu sudah selesai. Kalian tahu apa yang kalian lakukan setelahnya. Karang? Lacak semua penghuni hotel yang masih hidup. Petakan itu. Aku mau terima dalam lima menit. Semua sensor sudah di pasang di semua lantai, kan?"
"Siap, sudah, Pak."
Jika Pak Tundo memiliki Wisnu sebagai operator yang mengawasi dari jauh, maka Karang adalah operatornya Si Tangan Kanan. Saat ini Karang sama sekali tidak ada di hotel itu. Dia berada berkilo-kilo meter jauhnya. Di Markas Sindikat Merah. Cukup dari sana dia bisa mengawasi keadaan untuk Si Tangan Kanan dan Si Bos Utama.
Saat ini Karang ada di depan layar komputer besar. Di belakangnya, ada lima kru yang sedang membantu duduk menghadap beberapa komputers ekaligus. Ruangan itu sangat gelap. Satu-satuna pencahayaan hanya berasal dari cahaya laptop masing-masing. "Hubungkan semua sensornya!" perintah Karang pada lima anak buahnya. Belum juga dia membalikkan kepalanya kembali ke layar komputernya, anak buahnya sudah membalas serempak, "Sudah, Pak."
Karang kembali menghubungi Si Tangan Kanan dan langsung mengirim peta itu padanya. Si Tangan Kanan yang sudah duduk di depan meja yang merupakan PIR-098. Meja ini berfungsi dapat memetakan peta 2 dimensi menjadi 3 dimensi. Penggunanya dapat menyentuh hologram untuk melihat sudut pandang lain. Tepat setelah di kirim langsung oleh Karang. Meja itu penuh dengan bentuk bangunan Hotel Hastungkara sesuai detailnya. Lewat sensor panas, bangunan itu tampak warna biru di hologram, tapi di beberapa lantai ada bintik merah bergerak-gerak yang menandakan aktivitas kehidupan. Lantai lima puluh yang paling banyak karena itu markas Sindikat Merah. Lalu, di lantai 190 juga lumayan banyak karena itu markas Pak Tundo. Lalu, lantai 70 dan 1. Selebihnya hanya beberapa saja. Si Tangan Kanan segera membagi pasukannya untuk menghabisi semua yang tersisa. Kemenangannya sudah di depan mata, pikirnya.
***
Lantai 1. Ruang CCTV. Wisnu terlalu sibuk dengan penangkapan presiden di lantai 70 hingga tak memerhatikan pergerakan di lantai 50, Markas Sindikat Merah. Tapi, tiba-tiba dia menyadari ada yang menuju ke ruangannya. Segera saja dia menyiapkan senjatanya.
__ADS_1
Pintu menjeblak terbuka. Belum juga Wisnu bergeser sesenti, kepalanya telah berlubang oleh rentetan peluru dari orang asing yang tak lain anggota Sindikat Merah.
"Lantai satu beres, Pak," lapornya pada Si Tangan Kanan.
***
Lantai 190. Markas Pak Tundo. Saat itu Pak Tundo juga sedang lengah. Dia terlalu serius dengan video CCTV yang disambungkan Wisnu ke sebuah layar kaca.
Kemudian, dia mendengar rentetan peluru di belakangnya. Dia tersentak dari duduknya. Mengambil senjata sekenannya. Dari luar keributan itu semakin mendekat. "Jaga Pak Tundo!"
"Jangan biarkan mereka lolos!"
"Habisi...Akh."
Banyak pekikan, erangan, dan lenguhan kehilangan nyawa dari lorong luar. Suara senjata bersahutan dan terus mendekat. Pak Tundo membuka pintu. Belum juga dia bisa melihat siapa yang menyerang. Sebuah peluru memberondong dada dan perutnya. "Oh, Shit!" Mata Pak Tundo membalik ke atas. Senjatanya terjatuh diikuti tubuh tuanya. Terakhir telinganya menangkap kesunyian.
"Lantai 190, bersih," lapor anggota Sindikat Merah.
***
Lantai 70. Tempat persembunyian Pak Danu dan Rasya, kamar 70B2. Rasya sudah kembali seperti sedia kala. Pak Danu memastikan tempat itu akan aman dari serangan apapun sampai pertolongan datang. Tak banyak yang dia lakukan. Karena pintu ruangan itu terbuat dari baja yang sangat keras. Sudah tentu pintu itu anti peluru. Dia hanya menguncinya dari dalam juga menarih beberapa rak sekaligus di depan pintu. Memastikan ruangan itu tanpa celah. Sehingga, ketika pasukan Sindikat Merah yang akan menyerang mereka hanya menembaki pintu itu dengan kesal. Bahkan peluru mereka sama sekali tak melubangi pintu itu, justeru peluru itu yang penyok menabrak pintu baja tersebut.
"K-kita aman, kan, Pak?" tanya Rasya memasukkan sup daging kalengan yang sudah di hangatkan ke mulutnya. Di sana ada beberapa makanan dan dapur kecil. Sungguh tempat yang strategis.
"Tentu, Nak. Kita aman di sini sampai bantuan datang."
Pasukan itu melapor kesal pada Si Tangan Kanan, "lantai 70, kamar 70B2. Pintunya tidak bisa dibuka. Apa kita abaikan saja?"
"Bodoh! Aku tidak mau terima alasan apapun. Lantai yang lain saja bisa dibereskan dengan mudah kenapa lantai itu tidak bisa. Pokoknya selesaikan bagaimanapun caranya. Aku sudah bosan di tempat ini."
"B-baik, Pak."
Tak jauh juga dari tempat itu, kamar 70D6 tempat Damar dan pasukannya memaksa presiden menandatangani itu. Pasukan Sindikat Merah langsung memberondong semua yang ada di sana ketika Damar berkata, "Tugas Bapak berakhir sampai sini."
Dor! Dor! Dor!
Tubuh Damar ambruk. Nina beruntung langsung berlindung di balik sofa. Fadil berlindung di balik tubuh anak buah damar yang sudah ambruk. "Awas, Pak!" teriak Wira menyundul tubuh Presiden yang hendak di habisi. Tubuh presiden terpental yang langsung merayap ke sebelah Nina. Akibat menyelamatkan presiden, hujan peluru menembus tubuhnya.
"Wir? Bertahanlah!" pekik Fadil dalam bungkaman lakba melihat tubuh itu berusaha untuk berdiri dengan kaki tangan terikat juga jangan lupakan dengan puluhan peluru bersarang di tubuhnya. Tentu saja yang keluar hanya gumaman tak jelas. Kemudian, matanya menangkap isyarat Nina untuk mendekatinya. Ia pun merayap mendekati Nina. "Ambil pisau di pinggangku. Aku menyimpan pisau yang tadi," bisik Nina.
Mata Fadil membulat, ini harapannya. Fadil dan Nina langsung saling memunggungi. Fadil meraih pisau di pinggang Nina. Dengan kecepatan tangannya, dia memotong talinya hingga tangannya terbebas. Lalu, tali di kakinya juga tali di tangan Nina. Sampai situ dia langsung menyerahkan semua pada Nina.
"Kau bisa, kan, Nina?"
Nina mengangguk.
Pikiran Fadil sudah penuh dengan Wira. Tanpa pikir panjang, dia meraih senjata dari mayat anak buah Damar dengan tangan kirinya. Ya, pasukan rubah sempat melakukan perlawanan tadi, tapi karena serangan itu benar-benar tak terduga dan posisi mereka juga sedang terfokus dengan Fadil dan lainnya, mereka hanya menghabisi seorang dari mereka sebelum menjemput ajal masing-masing.
Fadil mengintip dari balik sofa. Menghitung keadaan. Sampai matanya membulat melihat tubuh Wira yang sudah tak bernyawa. Perutnya penuh lubang, bahkan beberapa dagingnya berceceran keluar. "Bajingan! Brengsek! Anjing!" makinya terus-terusan. Emosinya meledak-ledak. Seakan se-toren air panas mengguyur kepalanya saat itu.
Satu tangan kirinya saja sudah cukup baginya untuk menakhiri kedua bedebah yang masih hidup itu. Dengan bertumpu bahu sofa, Fadil menembak membabi buta dengan teriakan panjang. Perlawanan musuhnya sia-sia karena perlindungan dari sofa itu. Bahkan setelah keduanya menjadi mayat, Fadil mendekati mereka berdua.
Dor! Dor! Dor!
Memberondong kedua mayat itu. "Mati! Mati! Pergi ke neraka sana!" teriaknya kalap. Wajahnya merah padam. "Bajingan! Sialan! Nggak Punya Hati! Busuk! Bangkai! Mati! Mati!"
Fadil baru berhenti ketika Nina memeluk tubuhnya. "Sudah, Dil! Sudah! Apa yang kamu lakukan, tidak akan mengembalikan Wira," isaknya berusaha menenangkan Fadil.
Rentetan tembakan itu berhenti. Fadil baru sadar, pipinya telah basah dengan air matanya sendiri. Luka yang ditorehkan di hatinya kali ini benar-benar dalam. Fadil menjatuhkan senjatnya. Kedua mayat yang diberondongnya sudah tidak berbentuk. Puluhan peluru melubangi tubuh mereka. Keadaanya dua kali lebih parah di banding Wira. "Padahal kami baru berbaikan," katanya lemah. Melepas pelukan Nina dengan pandangan kosong. Berbalik ke arah tubuh Wira. Berlutut di sana. "Wir?! Wir?! Wira?! Bangun?! Wir?!" kesediahan Fadil menyebar ke seluruh ruangan itu. Nina terisak di belakang Fadil. Pak Presiden menyusut hidungnya berkali-kali teringat anak isterinya.
__ADS_1
"Kita sebaiknya lekas pergi dari sini," ujar Pak Presiden menguatkan. "Aku tahu kesedihanmu. Tapi, mungkin kau tak ingin kehilangan temanmu yang lain." Fadil menoleh ke Pak Presiden. "Untuk temanmu ini, aku akan memberi penghormatan yang layak untuknya. Namanya akan ada di istana kepresidenan."
Pak Presiden benar. Fadil tahu yang dimaksud teman lainnya adalah Rasya. Fadil langsung berdiri. Dia harus menyelamatkan Rasya sebelum terlambat.