
Fadil menahan pintu itu dengan kedua tangannya. Kakinya yang mengucurkan darah sama sekali tak sempat dia hiraukan meski sakitnya luar biasa. "Senjatamu, Nin? Ganti peluru bundar dari tas ini," teriak Fadil setengah mengerang menahan pintu yang di dobrak kuat dari baliknya. Tangan kanannya sigap melempar tas Damar yang tadi di ambilnya.
menerimanya dengan gemetar. "Oke, ketemu! Apa yang harus aku lakukan?" tanya Nina dengan menggenggam peluru bulat di tangannya dengan gemetar. Panik.
"Senjatamu. Ganti peluru dengan itu!" Fadil terus memberikan intruksi.
"Bagaimana caranya? Aku tidak pernah melakukannya."
Fadil memberi instrukis mengganti peluru SKPI-069 milik Nina sesingkat-singkatnya. Sampai bebepa menit kemudian peluru-peluru tersebut sudah terpasang. "Tembak ke sela-sela di antara dua pintunya, Nin!" Fadil sedikit minggir untuk memberi Nina sasaran tembak yang lebih pas.
"Maksudmu aku harus menembak ke arah kalian?" tanya Nina terkejut.
"Ya, cepat lakukan? Kami tidak bisa bertahan lama!" Teriak Fadil lelah. Tiga laki-laki di sekitarnya hanya membantu 60 persen dobrakan dari sisi lainnya. Wajah mereka juga sudah mulai lemas.
Nina mendekati pintu itu agar bisa menembak dengan jarak yang lebih dekat. Tetapi Fadil menghentikannya. "Jangaan terlalu dekat, Nin. Nanti, peluru itu akan kekurangan efeknya. Kamu harus menembak dari jarak lima meter setidaknya."
Nina berhenti melangkah. "Aku tidak bisa, Dil? Aku tidak bisa menemba! Bagaimana jika sasaranku meleset? Dan.... Dan mengenai salah satu di antara kalian."
"Jangan terlalui dipikirkan! Kamu ingin kita semua mati, hah!" bentak Fadil kasar. Nina terdiam. Dia munduru dengan sigap. Mengukur jarak yang sesuai di perintahkan Fadil. Perlahan dia mengangkat SKPI itu dengan kedua tangannya yang bergetar hebat. Membuat pistol itu ikut bergetar.
"Cepat, Nin! Ayolah!"
Nina memicingkan seebelah matanya sebelah. Membidik seakurat yang dia bisa. Tapi fokusnya selalu runtukh karena ketegangan dan kepanikannya.
"Nin?!" Fadil terus berseru kesal.
"Diamlah, Dil! Kau membuatku kesal tahu!"
Sebelum Fadil memprotes protesan Nina, sebuah peluru terlontar dari moncong Nina dan mendarat lima senti dari tujuan. "Bagus, Nin. Coba lagi!"
Nina menarik pelatuk pistol lagi. Sebuah peluru bulat meluncur dan lamngsung meledak 10 centi ke bawah, masih di sela-sela pintu. Peluru itu adalah peluru api, pelurunya menyebabkan benda yang dibenturnya tesengat panas beratus-ratus celsius. Dalam kata lain, jika peluru-peluru itu di tembakan di sela-sela pintu, ledakan-ledakan peluru itu secara tidak langsung aakn mengels dan menghubungkan pintu dua daun itu.
Tepat setelah pintu itu berhasil menutup sempurna tanpa celah. Fadil, Pak Danu, Pak ASN, dan Rasya melepaskan pegangannya dari pintu. Otot-otot mereka yang menegang mulai kembali seperti sediakala. Tapi tidak dengan Fadil. Kedua tangannya dengan kuat mencengkeram kaki kanannya yang tertembak. Lubangnya mengucurkan darah segar yang kini mengotori lantainya.
"Untung aku tadi membawa beberapa obat berguna dari Ruang kesehatan," ujar Pak Danu yang kini membantu Fadil bersandar di dinding.
"SKPI-069 ini juga dilengkapi dengan sistem jepret. Aku melihat temanmu tadi melakukannya. Sepertinya benang yang tersisa cukup untuk menutup lubang itu."
"Terima kasih."
Pak Danu melipat celana Fadil ke atas. Gumpalan darah yang menganga membuat Nina dan Rasya berpaling. Mereka takut-takut jijik melihatnya. "Kalau soal luka luar, aku bisa menanganinya. Aku dulu juga sering terluka akibat kecelakaan saat balapan liar." Pak Danu memulai kisah kejayaannya dalam lomba balap. Orang tua itu selalu semangat membahasnya. Fadil setengah memperhatikan setengah menghiraukannya karena rasa perih di kaki kanannya itu benar-benar tidak tertahankan. Jika dipkir-pikir, ini pertama kalinya dia mendapat luka tembak.
"Sakit?!"
Sebuah suara muncul begitu saja dan ditangkap otaknya. Tidak, bukan suara rombongannya. Bukan Nina, bukan Rasya maupun ayahnya, apalagi presiden yang kini serius memperhatikan keterampilan tangan Pak Danu. Saat itulah Fadil sadar, itu suara hatinya.
"Sakit?!"
Ulang suara itu. Dalam sisi hati yang lain Fadil mengiyakan. Tentu saja sakit, luka tembak merupakan luka yang cukup serius walaupun itu bukan di tempat vital. Apabila tidak segera ditangani bisa terkena keracunan darah. Begitulah pelajaran yang berhasil diserapnya selama di STIN.
Tiba-tiba saja air mata mengalir dari pipi Fadil. Dia sendiri tidak menyadarinya. Akhirnya dia sadar sendiri ketika tubuhnya berguncang karena terisak.
"Dil? Kenapa? Sakit, ya?" tanya Pak Danu serius. Rasya, Nina, dan Pak ASN juga bingung melihatnya. Tapi, tentu saja yang paling terkejut adalah Nina. Karena dialah yang selma ini melihat ketangguhan Fadil. Berkat ketangguhan Fadil itulah dia bisa hidup sampai detik ini.
"Dil?!" pekik Nina khawatir.
Fadil menggeleng. "Aku tidak apa-apa, kok."
Kemudian dia tersenyum getir. "Aku... Aku baru tahu kalau luka tembak itu menyakitkan."
Semua orang hening memperhatikannya. Jika saja wajah Fadil tidak terlihat serius sudah pasti Nina tertawa terbahak-bahak karena kata-kata itu.
__ADS_1
"Aku begitu naif jika tidak membunuh mereka. Padahal dengan hanya melumpuhkannya saja bukan berarti aku tidak membunuhnya. Malah bisa jadi aku membuatnya mati secara perlahan karena kehilangan banyak darah."
Fadil terisak. Pak Danu selesai menjahit luka Fadil dengan SKPI-069. Pak ASN memegang pundak Fadil yang naik turun sesenggukan. "Dil, jujur kamu memang naif. Kamu sangat polos. Aku tahu itu sejak awal kita bertemu. Tingkahmu menunjukkan semuanya. Tapi, ada satu hal yang membuatku kagum terhadapmu. Kamu tidak menyerah dalam segala masalah yang kamu hadapi. Kamu kuat dari segala aspek, Dil. Baik lahir maupun batin. Kamu telah berhasil menyelamatkan Nina, aku, Pak Danu dan anaknya. Kami berhutang nyawa padamu, Nak."
Pak ASN memperhatikan satu per satu rombongan itu.
"Soal para *** yang kamu lumpuhkan itu bisa jadi benar. Mereka bisa saja mati secara perlhan dan menakitkan. Tapi, pantaskah mereka hidup setelah apa yang sudah mereka lakukan?!"
"Pantas?!" Sergah Fadil. "Mereka juga punya keluarga, Pak. Keluarga yang sedang menunggu kepulangan mereka."
Pak ASN terkejut mendengarnya. "Yeah, akan selalu ada yang menunggu mereka di rumah masing-masing. Menyambut dengan senyuman. Tapi, relakah kamu membirkan mereka hidup untuk membunuh yang lain?" Sebelum Fadil menyergah lagi, preseiden mempercepat perkataannya. "Membunuh lebih banyak dari yang kamu pikirkan."
Isak Fadil terhenti.
"Manusia membunuh yang lain dengan banyak alasan. Manusia jahat akan membunuh untuk keinginan pribadi atau golongan, tapi manusia baik akan membunuh untuk membatasi pembunuhan lainnya, yang lebih banyak. Kamu orang baik, Dil. Dengan meninggalnya mereka kamu telah mempersempit kemungkinan orang lain terbunuh."
Fadil mendongak. Mengusap air matanya yang tersisa.
Pak ASN tersenyum. Dia menepuk-nepuk pundak Fadil sekali lagi dengan penuh penghargaan.
"Iya, Dil. Kamu anak baik. Terima kasih sudah menyelamatkanku dan anakku."
"A-aku sangat berterimakasih sekali, Teman."
"Aku juga."
Masing-masing dari mereka mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Fadil. Hal itu membuat dadanya menggebu-gebu lagi. Seakan bila diibaratkan gunung berapi, lava dalam dadanya berkelojotan mendesak keluar. Meletus. Mengobarkan semangat.
"Bodoh sekali aku menangis," kekeh Fadil. Diikuti yang lain.
"Baiklah, mari keluar dari hotel ini bersama-sama."
Sebelum Fadil benar-benar bangkit dari lantai, Pak Danu bertanya, "lewat mana? Satu-satunya jalan keluar dari setiap lantai adalah lift dan tangga darurat ini."
Benar. Fadil sudah memikirkannya dari tadi. Hanya dengan mengikuti tur hotel dua hari yang lalu, dia sudah tahu hal itu. Tapi, Fadil bukanlah orang bodoh. Dia sudah memikirkan hal ini. "Kita lewat jendela."
"Apa maksudmu?!"
Fadil mengeraskan rahangnya. "Aku tahu mungkin ini sedikit gila. Tapi, kita tidak punya pilihan lagi. Kita akan melompat lewat balkon."
Nina dan yang lainnya melotot tidak percaya. Mereka kira Fadil benar-benar gila. Tapi, setelah dipikir ulang. Benar juga. Itu satu-satunya hal logis yang bisa dilakukan.
"Tapi, asal kamu tahu! Tidak semua lantai memiliki balkon, Nak!" tegas Pak Danu, "di lantai ini mungkin bisa. Tapi, seratus lantai ke bawah tidak. Kamu juga tidak bisa memecahkannya karena kaca hotel ini terbuat dari kaca super anti peluru, ledakan, dan semacamnya. Kau mengerti maksudku? Kita tidak punya tujuan, Nak Fadil."
"Saya sudah memikirkan itu juga, Pak Danu. Kemungkinan memang tidak ada tujuan. Peluru, ledakan, dan semacamnya mungkin kurang efektif. Tapi, bukan berarti tidak mungkin. Jika kita memfokuskan pada satu titik serang kemungkinan bisa, Pak. Pertahanan kuat selalu memiliki celah, begitu guru saya pernah berpesan."
Pak ASN tersenyum. "Baiklah, Nak. Apa rencananya?"
"Kita cari seprai sebanyak-banyaknya karena kita perlu tali yang panjang."
"Semuanya dengar kata Fadil? Kerjakan!" Pak ASN menyemangati mereka. Sebelum dia sedniri ikut berpencar mencari seprai, dia menepuk pundak Fadil. "Untuk saat ini kamu istirahat saja dulu, Nak."
"Tidak, Pak. Saya tidak mau..."
"Shhhh... Ini perintah presiden. Kamu menolaknya?"
Sejenak Fadil mematung. Dia tak bisa protes lagi. Pak ASN tersenyum lebar. Lalu, pergi meninggalkannya sendiri.
"Baik, Pak. Saya akan menunggu seprai-seprai itu di kamar 50A1."
Pak ASN berlari menjauh. Memberitahu yang lin untuk mengumpulkan seprainya di kamar 50A1. Pencarianpun dimulai.
__ADS_1
Sementara Fadil mengecek kamar 50A1 sekali lagi. Mencari benda yang sesuai sebagai pengait talinya nanti. "Sepertinya cukup kuat," gumam Fadil menarik-narik salah satu kaki ranjang. Diluarpun, Fadil memastikan tempatnya sekarang ini benar-benar cocok. Sampai di beranda, angin menerpa wajahnya, dari lantai lima puluh ini masih perlu setidaknya 250 meter untuk sampai di bawah sana. Jika satu lantai memiliki 50 kamar, dan setiap kamar memiliki sebuah spray. Maka akn ada 50 spray, jika satu spray panjangnya empat meter, maka akan ada tali sepanjang 200 meter. Perlu 50 meter lagi untuk ke bawah sana. Mungkin ada beberapa selimut yang dapat dijadikan tambahan panjang, tapi sayangnya selimut disini terlalu tebal sehngga sulit membuat tali dengan itu. Tidak ada pilihan lain, jarak 50 tepat berada di lantai lima belas. Tapi, di lantai 10 mungkin akan ada beberapa penjaga karena banyak penjaga yang di tugaskan di lantai bawah mereka. Fadil menyimpulkan lantai itu cukup aman. Dia hanya menunggu seprei itu sekarang.
***
"Hahaha, Pandai juga, anak itu. Aku tidak menyangka dia bisa menyadari ilusi tadi," puji is Tangan Kanan. "Berapa sisa pasukan kita?" tanyanya pada salah satu anak buahnya yang kini berdiri tegap di depannya.
"Ada seratus orang, berkat datangnya bantuan dar markas beberapa jam lalu, Pak." Jawabna dengan nada formal.
Seperti tidak menghiraukan jawaban bawahannya itu, dia berbalik menuju jendela. Menatap tajam pemandangan diluar yang sangat-sangat dibencinya. Dari sakunya dia mengambil sebuah handfree, menghubungi bawahannya yang berhasil mengambil kendali di ruang CCTV. "Jaka, masuk. Berikan laporanmu!"
"Sepertinya kimplotan presiden sibuk merencanakan sesuatu, pak. Sayangnya penyadap di hotel ini dienkripsi. Saya perlu beberapa waktu untuk menembusnya." Jawab Jaka masih berkutat denganbtombol tombol di keybornya. Mengetikkan berbagaibkode yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang ahli IT.
"Sekarang, apa yang mereka lakukan?"
"Mereka mengumpulkan seprai, Pak. Saya rasa mereka akan membuat tali dari seprai-seprai itu."
Benar juga, seprai hotel yang halus dan lembut itu cukup baik dipakai sebagai tali. "Berapa panjang seprai itu?" Tanyanya lagi.
"Saya kira sekitar empat meter an."
Empat meter untuk setiap kasur. Setiap lantai ada enam puluh kamar. Dari sini pikiran Fadil dan si Tangan Kanan menyatu. Si Tangan Kanan tetsenyum senang mengetahui rencana lawannya. "Arahkan pasukan tersisa di sekitar lantai sepuluh," perintahnya yang langsung diikuti oleh bawahannya.
"Oh iya satu lagi, balkon hotel disini bisa ditutup kan?"
Tanpa diperintah Jaka sudahbtahu maksudnya. Dan dia tersenyum licik.
***
Kepolosan Fadil dan kurang pengalaman nya membuatnya merasa reancananyabadalah rencana yang sempurna. Padahal dia tidak tahu bahwa segrombolan tetoris sudah menunggunya. Fadil memang cerdas di banyak bidang, tapi pengalaman lebih jauh dibutuhkan saat ini. Karena pengalaman adalah guru yang terbaik.
"Kau sudah mengikatnya dengan kuat?"tanya Pak ASN yang berhasil menyatukan seprai terakhir. Tali sepanjang 200 meter telah siap. Rasya yang bertugas mengikat salah satu ujung tali pada salah satu kaki ranjang. Fadil sendiri telah mengikatkan tubuhnya pada ujung lain dari tali tersebut.
"Kau yakin, Dil?" Bisik Nina resah. Fadil yang telah mengikat kuat tubuhnya dengan tali yang terbuat dari seprai itu menarik napas panjang. "Hanya ini pilihannya, Nin. Kita tidak mungkin terus menerus disini. Mungkin saja sebentar lagi para *** itu telah memperbaiki lift dan sedang menuju kemari."
Nina memandang keluar jendela. "Kuharap kau hanya bergurau atas apa yang kau ceritakan padaku waktu itu?" Senymnya getir.
Maksud Nina adalah pertemuap pertama kalinya dengan Fadil di balkon kamarnya. Yeah, saat itu Fadil menakut-nakutinya agar Nina tidak jadi bunuh diri.
"Kau membuatku takut, Nin," Balas Fadil dengan senyum tak kalah lebar.
Nina terpaksa tertawa. Dia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.
"Baik, semua!" Kata Fadil menghadap semuanya. "Rencananya aku akan turun pertama. Sesuai aba-abaku nanti kalian bisa turun satu persatu. Satu tembakan, salah satu dari kalian boleh turun. Dua tembakkan, tarik aku. Paham?!"
Semuanya mengangguk serius. Seakan Fadil adalah pemimpin mereka. Eh... Atau memang seperti itulah nyatanya.
"Sya, sudah kau ikatkan ujung satunya?"
"S-Sudah, Dil." Ujar Rasya kikuk seperti biasa.
Fadil mengencangkan tali untuk terakhir kali. Memastikan dirinya terkat kuat. Senjata SKPI-069 dengan peluru ledak ia simpan di ikat pinggangnya. Setelah memejamkan mata sejenak, Fadil melompat dari balkon lantai 50. Melompat ke balkon lantai 49, begitu seterusnya, hingga di balkon lantai 40, balkonnya bergerak.
Tentu saja ini perbuatan antek-antek Si Tangan Kanan yang disuruh menutup balkon. Sekadar informasi, balkon di setiap lantai hotel ini dapat di buka tutup sesuai keperluan pihak hotel. Biasanya balkon akan ditutup jika sedang dilakukan pembersihan secara menyeluruh yang dilakuakan 3 bulan sekali. Biasanya pihak hotel menugaskan karawannya memebersihkan kaca-kaca hotel. Dalam keadaan tertutup itu, dinding hotel hanya menyisakan kaca licin.
Lantai balkon sudah miring 45 derajat.Di kanan kirinya tidak ada apapun lagi untuk dibuat pegangan. Fadil yang terkejut berusaha menenangkan dirinya. Berusaha tidak panik. Dengan tarkan napas kuat, kakinya siap menolak untuk terjun bebas. Saat itu dia sempat berpikir untuk menggunakan kode dua kali tembakkan. Tapi, bisikan lain membawa pikirannya untuk terus lanjut.
Di atas sana, Nina dan lainnya melongokkan kepala lewat jendela, menunggu kode dua tembakkan yang tak kunjung meletus.
"Sekarang atau tidak akan pernah," bisik Fadil langsung menolak kuat pada kaca hotel tepat ketika balkon bergerak di delapan puluh derajat.
terasa ringan diudara, sementara pandangannya terus mendekat dengan bagian bawah. Dari jauh telinganya mendengar sayup-sayup suara Nina dan lainnya yang berseru panik. Terjun dari ketinggian 200 meter sangat tidak lucu, begitu pikir mereka. Tapi, fadil benar-benar menikmati saat ini. Bahkan dia tersenyum lebar. Melupakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia benar-benar dibawa ke alam mimpi untuk sesaat. Sebelum akhirnya sensai jatuh itu berhenti dan berganti dengan rasa sakit ang menjalar disetiap ikatan tubuhnya.
__ADS_1
Di saat yang sama, karena hentakan tubuh Fadil yang terlalu kuat, ikatan di kaki ranjang mengendur. Sebenarnya ini kesalahan Rasya karena tidak mengikatnya dengan kuat. Atau mungkin salah Fadil sendiri yang menyuruh Rasya mengikatnya. Tapi yang jelas, saat ini simpul tali itu perlahan terlepas. Tak ada yang menyadarinya kecuali Rasya.