Blokade Hotel Hastungkara

Blokade Hotel Hastungkara
Episode 7.2 : Keinginan Seorang Jabang Bayi


__ADS_3

Terakhir yang di dengar Rasya dari handphonnya adalah suara tembakan.



Dor!



Jantung Rasya ikut berhenti. Tubuhnya mulai bergetar. Apa Fadil tewas? Batinnya. Saat ini dia masih di bawah meja. Merapatkan kedua kakinya. Memeluk lututnya ketakutan. Lalu, dia menyingkap sedikit taplak meja untuk melihat keadaan di luar. Tetap sama. Hanya para pejabat dan beberapa pelayan yang diikat dan dibungkam. Mereka diletakkan melingkar. Ada beberapa di lingkaran di sana. Setiap lingkaran memiliki bom yang terus menghitung mundur.



34 detik lagi.



Rasya memberanikan diri keluar dari persembunyiannya. Para pejabat yang melihatnya langsung memekik meminta tolong. Tapi, Rasya menggeleng. "Maaf, saya tidak mau mati."



"Hehashkhan hamhi! Hhhehi!"



Rasya menutupi telinganya. Berlari menjauh. Meski kakinya lemas ketakutan, dia tak berhenti. Rasya terus berlari, dan...



BOOMM!



Tubuh Rasya terlempar beberapa meter ke depan. Tak sadarkan diri.



***



Fadil yang tak berkutik akhirnya di tangkap. Begitu juga dengan Nina. Tangan mereka diikat kuat. Dua penjaga yang selalu menempelkan mulut senapan menjaga mereka dari belakang. Tiga lagi, berjalan di depan. Musuh terakhir Fadil tadi segera menghubungi temannya untuk menangkap keduanya.



"Ini semua salahmu, Dil. Seharusnya kau bisa selesakan tadi," ujar Nina cari perkara.



Fadil yang sudah menyimpan amarahnya sejak tadi, terpancing, meledak, "Apa?! Ini semua salahku?!"



"Ya, benar." Nina menatapnya tajam.



Fadil menatap tk kalah tajam. "Hei, asal kau tahu menembakkan peluru ke orang lain itu tidak mudah tahu."



"Kulihat kau menikmati membantai orang-orang tadi."



"Apa?! Kaupikir..."



Duk!



Penjaga yang menodongkan senapannya mengetukkan senjata itu ke kepala Fadil.



"Setan! Kau pikir kepalaku apa Ha?!"



Duk!



Penjaga itu memukul kepala Fadil sekali lagi. Lebih keras.



"Sialan! Awas sampai aku lepas, bedebah!"



Mereka tiba di lantai 190. Lantai yang sangat berbeda dengan bayangan Fadil. Lantai itu penuh ruang kecil-kecil yang tersusun rapi. Fadil di masukkan ke salah satunya. Sementara, Nina di masukkan di kamar sebelahnya.



Ruangan yang di tempati Fadil penuh rak yang berisi buku-buku tebal. Dia di dudukan di sebuah kursi. Seorang pria berkacamata yang terlihat ramah duduk di sebrang meja.



Pria berkacamata itu meletakkan sebuah arsip di meja. Ia tersenyum ramah pada Fadil.



Fadil memalingkan wajah. Muak melihat senyuman itu.



"Fadil Kurniawan, lahir 02 Februari 2010. Anak jenius di sekolahnya. Mulai dari SD sampai perguruan tinggi." Pria berkacamata itu membaca riwayat hidup Fadil.



"Hei! Siapa kamu?! Kamu memata-mataiku, ya?"



Pria berkacamata itu menggeleng. Dia menggeser arsip yang dilemparnya tadi mendekatkan ke Fadil. "Aku tahu dari arsip ini. Oh, iya namaku Tundo."



Fadil melihat arsip itu dan merasa deja vu. Ya, beberapa waktu yang lalu ada pria misterius yang meminta suap darinya agar bisa lolos sebagai agen lapangan.



"Kau tahu, Nak. Kau sangat berbakat. Sayangnya kau tidak lulus ujian bela diri, kan?"


__ADS_1


"Aku kagum melihatmu menembaki bawahanku. Kau tahu mereka itu agen lapangan. Kau membunuh mereka dengan tenangnya. Apa kau pernah membunuh manusia sebelumnya."



Fadil menunduk. Menggeleng. Dia baru menyadari, saat menyerang pria yang datang ke kamarnya, dia sangat takut membunuh. Tapi, saat dia hendak melarikan diri dari beberapa gerombolan teroris, dia membunuh mereka tanpa gentar.



"Hebat! Hebat!" Pak Tundo bertepuk tangan.



"Oke, kita masuk dalam pembicaraan sebenarnya. Kau tahu, sebuah arsip rahasia milik kami telah diretas seseorang."



Fadil menatap pria berkacamata yang kini telah duduk di meja, tepat di depannya. "Tidak ada urusannya denganku."



Bug!



Sebuah pukulan keras menghantam pipi Fadil. Sangat keras. Sekarang dia bisa merasakan darah mengalir di mulutnya.



"Aku belum selesai bicara, Tolol!" bentak Pak Tundo dengan mata melotot.



Karena kesal Fadil membenturkan kepalanya ke hidung Pak Tundo. Darah mengalir di sana. "Ah! Goblok!" Kacamatanya terjatuh. Fadil menginjakknya hingga hancur.



Pak Tundo menendang dada Fadil. Kursi yang di duduki Fadil roboh. Fadil memekik kesakitan. "Dasar Pak Tua sialan!"



Pak Tundo mau menginjaknya. Fadil berguling, dengan bertumpu lututnya, dia berdiri. Menendang kepala Pak Tundo keras-keras. Selagi Pak Tundo mengerang kesakitan, dia mengambil pecahan kacamata Pak Tundo. Menggesekkannya berkali-kali sampai talinya lepas.



Berhasil! Syukurnya dalam hati. Fadil segera melumpuhkan Pak Tundo dengan pukulan kiri mautnya.



"Pak Tua yang merepotkan," katannya setengah terengah.



Kenop pintu di putar. Fadil melompat ke belakang pintu.



"Pak, Anda baik-baik saja?" kata seseorang membuka pintu sedikit.



Fadil menggebrakkan pintu itu. Membuat seseorang tadi terantuk kepalanya. Fadil melucuti senjatanya.



Dor!




Dor! Dor! Dor!



Tiga lagi di lorong langsung di lumpuhkan juga.



Fadil hampir saja berlari kembali ke tempatnya tadi. Tapi, telinganya menangkap jeritan perempuan sialan itu dari kamar sebelah. Sebenarnya bisa saja dia pergi meninggalkannya. Tapi, entah karena bodoh atau apa, dia masuk ke kamar tempat Nina di sekap.



"Hei, bro. Berhenti di tempatmu." Seorang laki-laki yang bertelanjang dada menekankan sebuah pisau di leher Nina ketika Fadil masuk.



"Mau kau apakan dia?" tanya Fadil berhenti di tempat.



Laki-laki itu tertawa. Kemudian dengan ganasnya dia mencium leher Nina. "Lepaskan, bajingan! Kau sudah meninggalkanku, kan?"



"Mana ada? Aku hanya pergi sebentar, Nina Sayang." Lidahnya mulai menjilati leher putih Nina.



Fadil yang jijik melihatnya memalingkan wajahnya. Tapi, dia cukup terkejut karena laki-laki itu mengenali Nina. "Hei, kalian sudah saling kenal?!"



"Dia yang menghamiliku, Dil. Ah." Pisau itu mulai melewati kulit leher Nina.



"Lepaskan, dia! Atau aku tembak."



Sungguh tak terduga. Laki-laki itu melepaskan Nina. Pisaunya dia taruh di lantai begitu saja. Dengan beraninya, tangannnya memegang ujung senapan Fadil. Mengarahkannya tepat di dahi. "Nah, sekarang kau bisa menembakku dengan mudah," katannya dengan seringai lebar yang menjijikkan.



Fadil tersenyum. Kenapa tidak?



"Jangan, Dil!" teriak Nina dari belakang. "Jangan membunuhnya!"



"Dia hampir membunuhmu, Goblok!"



Crash!

__ADS_1



Laki-laki itu memuntahkan darah dari mulutnya. Darahnya muncrat menodai wajah Fadil. "Oh, Shit! Yang benar saja," keluh Fadil memejamkan matanya. Ada darah masuk ke matanya.



"Rasakan itu bajingan," kata Nina ketus. Mencabut pisau dari tengkuk laki-laki itu. Lalu menusukkan lagi di beberapa tempat. Samapai yang terakhir menusukkannya di anunya. "Sekarang kau tahu bagaimana rasanya di tusuk di daerah itu."



Fadil ngeri melihat Nina. Apa dia psikopat? batin Fadil.



"Kau tahu, Nin. Apa yang sama dari kita?" tanya Fadil setelah berjalan menjauh dari tempatnya tadi.



Nina merobek sebuah kain dari salah satu mayat di lorong itu. Mengikatkannya di lehernya. "Apa?!" tanyanya lebih ketus.



"Kita sama-sama telah membunuh orang. Padahal beberapa jam yang lalu, kita sama-sama mengkhawatirkan orang yang baru kita lukai."



Nina terkekeh jahat. "Kali ini beda. Kau tahu ibu hamil itu biasa ngidam?"



Fadil mengangguk.



"Bayiku ingin membunuh ayahnya," jawabnya enteng.



Fadil menelan ludah. Bayi psikopat. Jika besar, pasti dia menjadi pembunuh bayaran. "Jadi, masih mau kembali ke temanmu?" tanya Nina dengan suara biasa.



Fadil bingung mau menjawab. "Ehm, ya. Kita ambil hand phone-ku dulu. Jika temanku tidak menjawab. Kita langsung keluar dari sini."



Nina menghela napas panjang. "Baiklah."



Earphone Fadil bergemerisik lagi. Sepertinya ada informasi lagi. "Ergh ... Semuanya, ganti frekuensi cadangan. Ada kecoa yang juga memakai saluran ini."



"Dimengerti." Jawaban yang serupa bermunculan berulang kali sampai akhirnya suara statis itu hilang.



Fadil melepas earphonnya. "Pak Tua tadi sepertinya belum mati."



"Siapa?"



"Orang yang tadi hampir membunuhku. Dia pikir aku seorang peretas berkas mereka."



Nina masih tak mengerti.



"Orang tadi mengendalikan seluruh pasukan di sini."



"Bagaimana kau bisa tahu?"



Fadil menarik tangan Nina, menaruh earphonna di sana. "Ini earphone yang menghubungkan mereka semua. Sayangnya mereka telah berganti frekuensi."



Nina manggut-manggut, sok paham. Lalu, memasangnya di telinga.



"Tak ada suaranya, lho." Fadil mengingatkan.



Nina mengedikkan bahunya. Tak peduli.



"Hei! Mereka di sana!"



Fadil dan Nina berbalik. Teroris itu muncul lagi. Keduanya menghela napas kesal. Kapan semua ini akan berakhir?



"Dil, kau tahu harus apa, kan?" kata Nina sudah bergerak ke belakang Fadil.



Fadil mengangguk. "Yeah, kita ..."



"LARI!"



Nina tidak diberi kesempatan untuk terkejut. Tangannya langsung ditarik kuat oleh Fadil.



"Kau bisa menembak mereka, kan? Cuma tiga orang tahu," rutuk Nina.



"Peluruku habis, asal kau tahu."

__ADS_1



Nina terdiam.


__ADS_2