
Kesadaran Damar belum benar-benar kembali pulih ketika dia membuka matanya. Akibatnya dia hampir terjatuh saat hendak berdiri. Untung tangan kanannya yang cukup memiliki reflek baik langsung memegangi pundak PIR-036. Sebagai penyangga tubuhnya. Mayat para pengawal presiden tak berubah. Wira dan presiden telah meninggalkan ruangan itu.
"Kalian tidak akan lolos," gumamnya. Dengan terhuyung-huyung dia berjalan ke pintu. Dia berniat kembali ke markas. Dia harus melapor dan meminta bala bantuan.
Langkahnya terseok-seok. Beberapa kali dia menghubungi Pak Tundo tapi tak ada jawaban. Dia pikir microphone-nya rusak. Oleh karena itu dia memutuskan untuk menghampiri Pak Tundo saja. Dia masih belum percaya kalau Wira merelakan pekerjaan yang sulit di dapatnya dengan mudah seperti itu. Apa dia tidak punya otak? Damar mengutuk dan memaki Wira habis-habisan. Senjatanya di ambil juga lagi.
"Goblok!" senggrong Pak Tundo di salah satu kamar di lantai 190 setelah Damar menghantam. "Ini, ini akibatnya jika memberontak dariku. Bodoh!"
Bug!
Bogem mentah Pak Tundo menghantam sisi kepala Damar yang sedari tadi tertunduk.
"Sa-saya akan memperbaiki kesalahan saya, Pak," balas Damar memegangi daerah yang terpukul.
"Sebiknya memang begitu," sahutnya memandng satu-satunya pintu di ruangan itu. Dia menonaktifkan microphone miliknya. Lalu, tersenyum. "Setidaknya kita sudah tahu pembocornya. Itu informasi berguna. Kalau begitu kita harus melancrakan tahap kedua."
Damar menaikan kepalnya sedikit. Dia melihat seringai senang Pak Tundo. "Ya, tangkap presiden dan suruh dia melegalkan berkas kita sebelum pasukan sindikat bodoh itu membunuh presiden."
***
Fadil, Nina, dan Pak ASN memandang Wira bingung. Seakan bertanya, kanapa?
"Kenapa, Wir?" tanya Fadil akhirnya setelah ruangan itu sunyi sejenak.
"Jaringan dalam Hotel Hastungkara sudah diblokir."
Nina masih belum mengerti. "Apa maksudnya itu?"
Fadil mengerling ke arahnya. "Maksudnya, kita tidak bisa melakukan atau menerima panggilan dari luar hotel. Bahkan, bisa jadi sinyal yang baru saja dipicu oleh alat canggih presiden telah memberitahu lokasi kita."
Nina yang akhirnya mengerti kembali resah. "Uh, jadi, kita harus segera pergi, nih?"
Fadil mengangguk. Wira meraih barang-barangnya. Memakai segela perlengkapannya kecuali pakaian anti-peluru. Dia menyerahkannya pada Pak Presiden. "Nyawa Bapak lebih berarti dibanding saya." Sebenarnya Pak Presiden telah menolak. Namun, setelah dipaksa Nina dan Fadil. Akhirnya, Presiden mau memakainya juga.
"Kalau begitu kamu jaga di belakang saja, Wir. Aku akan memimpin sampai kamu mendapatkan setelan anti-peluru."
Wira mengangguk setelah menambah beberapa peluru di senapannya.
"Kita ke mana ini?" tanya Nina sebelum mereka keluar kamar.
"Sebaiknya langsung keluar hotel. Jika hanya gedung ini yang di blokir jaringannya, di luar aku bisa menghubungi bantuan segera," usul Presiden.
Fadil teringat Rasya. Apa dia baik-baik saja? Nina yang melihat Fadil menunduk menepuk bahunya. "Kenapa, Dil?"
"Tidak apa-apa. Hanya saja, kau tahu temanku yang sebagai pelayan."
"Oh iya. Jadi, kita harus kembali ke lantai kita? Mengambil handphone-mu."
Fadil bimbang. Itu yang di pikirannya sekarang. Rasya, keadaanya belum pasti. Presiden, beliau harus segera keluar dari sini.
"Bagaimana semua setuju?" tanya Wira sudah siap berangkat. Kopernya dia tinggalkan. Hanya flashdisk pentingnya yang dia ikat di ikat pinggangnya.
"Bagaimana kalau kamu dan Pak ASN duluan? Kami harus kembali ke lantai dulu soalnya," celetuk Nina.
Fadil segera menyergah. Memelototi Nina. "Tidak! Maksudku, kita langsung saja keluar dari hotel ini."
"Apa ada barang yang ketinggalan?" tanya presiden tenang.
"Ya, Fadil perlu menghubungi temannya yang juga..."
Fadil membekap mulut Nina. "Hehe, tidak, kok, Pak. Kita bisa langsung berangkat."
Nina melepas bungkaman Fadil. "Lalu, bagaimana dengan nasib temanmu itu? Kau biarkan saja dia mati?"
Fadil menatap tajam ke arahnya.
"Siapa nama temanmu?"
"Ra-Rasya."
__ADS_1
"Rasya? Dia pemuda kurus itu, kan?" ujar Wira mengingat seorang pemuda yang baru saja dia periksa.
"Eh? Bagaimana kau tahu? Ya, dia memang kurus."
"Dia ada di lantai 70 bersama seorang pria tua. Keadaannya tidak terlalu baik. Aku bertemu dengannya saat mengambil kantung darah untuk Pak Presiden."
"Kalau begitu, kita mampir ke lantai 70 sebentar kalau begitu. Baru keluar dari hotel ini." Pak Presiden segera menambahkan sebelum Fadil protes lagi. "Rencana ini tidak dapat diganggu gugat."
Beban Fadil terasa berkurang sekarang. Sekarang dia tahu keadaan Rasya. Tapi, siapa kiranya pria tua yang menyelamatkan Rasya?
Brak!
Pintu menjeblak terbuka. Disusul tembakan beruntun dari tiga senapan. Fadil mendorong presiden dan Nina untuk bertiarap di balik ranjang. "Menunduk!"
Sial! Mereka kalah cepat. Seharusnya mereka langsung pergi tadi, bukannya malah berdebat dan berdiam diri. Wira menembak dua teroris terdepan dan Fadil menembak satunya. Tiba-tiba mata Fadil terbelalak melihat senapan milik teroris itu jatuh. Bukan karena itu merupakan Senjata Khusus Pasukan Istimewa (SKPI)-006. Tapi, efek dari senjata itu jika terjatuh. Senjata itu akan meledak jika pemiliknya menjatuhkannya. Senjata yang beresiko, tapi juga yang terbaik untuk keadaan seperti ini.
"Tiarap!"
Fadil menubruk tubuh Wira yang belum menyadari SKPI itu. Sementara Pak Presiden dan Nina pasti aman di balik ranjang itu.
Bom! Bom! Bom!
Jarak ledaknya dapat disebut kecil, tapi tidak dengan kekuatannya. Pemiliknya yang tergeletak mati di dekatnya kini kehilangan beberapa bagian tubuhnya. Lenyap. Lantai langsung retak dan daun pintu menjadi serpihan kayu kecil-kecil.
"Apa itu SKPI?" tanya Wira.
"Ya, SKPI-007 tepatnya. Berani sekali mereka menggunakan senjata itu."
Di luar langkah kaki berat dan banyak bergedebugan. Fadil dan Wira segera mengokang senjatanya. Pak Presiden dan Nina mendekat di belakang mereka. "Dalam hitungan ketiga ya, Dil?! Kita langsung memberondong mereka."
Fadil mengangguk antusias.
"Satu, Tiga."
Wira melompat keluar kamar. Menembak acak orang-orang di hadapannya. Meski menggerutu, Fadil ikut melompat di sisinya. Ikut memberondong musuh "Brengsek kau, Wir!" katanya seraya menunduk.
Wira baru menjawab ketika musuh terakhir di lorong itu tertembak kepalanya. "Hehe, sudah lama kita tidak begini," katanya terkekeh. Fadil menyikutnya ikut terkekeh. Ya, pada masa sekolah dulu, saat ada latihan tembak berkelompok, Fadil, Wira dan Damar selalu menjadi satu tim.
***
Pak Tundo sedang merawat lukanya akibat pukulan Fadil saat itu. Dari pantulan kaca dia bisa melihat ada darah kering di bibirnya yang tebal. "Anak Muda sangat berbakat," gumamnya. "Tapi, bodoh." Dia tersenyum miring.
"Pak, Tundo!" ujar Wisnu lewat microphone. Pak Tundo memberinya tugas untuk mencari pergerakan Presiden sejak awal lewat kamera CCTV. Namun, dia seorang diri sangat sulit melakukan tugasnya itu. Ada ratusan kamera di sana dan hanya sedikit kemungkinan dia bisa menemukan presiden dari ratusan layar kecil itu. Bahkan jikapun dia sempat melihatnya dia mungkin tak menyadirinya. Soalnya rekaman kamera itu hanya menunjukkan sebagian kecil. Seandainya sekali saja dia menemukannya. Pasti tak bisa lepas dari pantauannya. Beberapa menit lalu, dia mengalami keajaiban itu sendiri. Sebuah sinyal khusus terekam laptop canggihnya. Saat ditelusuri, eh, matanya melihat presiden dengan Wira dan beberapa orang lainnya dari sebuah kamar. Dia mendapat kesimpulan kalu, Wiralah yang membicorkan file itu. Sebab itulah dia buru-buru menghubungi Pak Tundo.
"Oh, Wisnu? Kuharap kau menyampaikan kabar bagus. Aku sedang kesal saat ini."
Mata Wisnu masih tertuju ke layar lebar di depannya. Sesekali mengubah tampilnnya. Mengikuti peregerakan Pak presiden saat ini yang tertangkap beberapa kamera CCTV. "Saya tahu kemungkinan pembocornya, Pak?"
"Ah...Sialan!" pekik Pak Tundo, tak sengaha tangannya menekan ebih keras bibirnya. "Maaf Nu, maksudku, kalau soal itu aku juga tahu. Damar sudah memberi tahuku setengah jam yang lalu, kalau itu saja berita darimu jangan ganggu aku dulu, oke. Aku punya urusanku sendiri."
"Satu lagi, Pak," tambah Wisnu buru-buru. " Saya sudah tahu keberadaan Pak ASN."
"Sungguh," Mata Pak Tundo berbinar senang. Lalu, buru-buru berbisik, padahal mereka sudah melakukan percakapan ini lewat frekuensi khusus. Hanya mereka berdua yang tahu. Tak mungkin ada orang lain yang akan menguping mereka. "Kau tidak memberitahukan pada mereka, kan? Maksudku Sindikat Merah."
Wisnu tersenyum. "Tidak, Pak. Tentu saja tidak." Pak Tundo memang menyuruhnya untuk tidak memberitahu Sindikat Merah soal ini. Pasalnya, beberapa jam lalu. Pak tundo mendapat ide. Daripada membunuh presiden lebih baik melegalkan file itu sekalian. Oleh karena itu, Wisnu diberi tugas untuk menemukan Presiden sebelum Sindikat Merah dan menghalangi pergerakan Sindikat Merah bila mereka menemukan keberadaan Presiden lebih dulu.
"Bagus kalau begitu," kata Pak Tundo membuang kapas yang sudah berwarna merah. Dia beranjak dari depan cermin. "Dimana Pak ASN sekarang?"
"Lantai 135T1. Kalau ada pergerakan akan saya hubungi."
"Kerja bagus, Nu."
Wisnu bangga dengan kerjanya. Dia semakin antusias dan fokus memerhatikan mereka.
Di sisi lain, Pak Tundo memanggil Damar ke ruangannya. "Duduk!"
Damar menarik salah satu kursi, mendudukinya. Dengan tak sabar dia bertanya, "Ada apa, Pak? Apa sudah..."
"Ya, jika yang kau maksud itu keberadaan Presiden. Wisnu telah menemukannya."
__ADS_1
"Dimana Pak? Saya akan segera ke sana," ujar Damar tak sabar.
"Aku percayakan tugas ini padamu. Pasukan Rubah akan bersamamu. Pastikan jangan membunuhnya sebelum menandatangani berkas ini."
Pak Tundo memberikan sebuah map cokelat. Isinya berupa pelegalan atau peresmian file JE000TZ. Damar menerimanya. Mengangguk mantap. "Baiklah, akan saya lakukan yang terbaik."
Pak Tundo tersenyum miring. Menyuruhnya keluar dari ruangan. "Satu lagi, gunakan frekuensi 99,9. Frekuensi itu langsung terhubung dengan Wisnu. Dia yang akan memeberitahumu keberadaannya presiden."
Damar mengagguk, lalu keluar dari ruangan itu. Empat orang bersenjatakan lengkap berdiri berjajar di luar. Ya, merekalah tim Rubah. Damar sama sekali tak mengenal mereka, tapi dia harus memimpin pasukan ini. Dia menghela napas berat. Demi mendapat kepercayaan yang baru dari Pak Tundo, apapun akan dia lakukan.
Keempat anggota Rubah mengangguk padanya. "Ini, Pak," kata yang paling tinggi dan gagah dari keempatnya. Menyerahkan senapan biasa dan ransel yang penuh dengan peluru.
"Bukan, Pak. Oke?! Panggil saja Damar." 'Pak' adalah panggilan yang aneh menurutnya.
"Baik, Damar." Keempatnya menjawab serempak.
Damar menggeleng. Memasukkan map di tanganya ke dalam ransel bercampur dengan setumpuk kotak kardus amunisi. "Baiklah, ayo kita berangkat."
Damar memimpin.
"Nu?! Di mana presiden sekarang?!" tanya Damar setelah mengubah salurannya ke frekuensi 99,9.
Dari sebrang Wisnu yang mengambil langkah pertama, yaitu mengirim beberapa pasukan untuk mencegah presiden kabur, tersentak mendengar earphone-nya berbunyi. Kendati dirina telah diberitahu oleh Pak Tundo bahwa Damar akan menghubunginya secepatnya. "Ya, mereka masih di lantai 135. Aku berusaha menahan mereka. Jadi, cepatlah!" jawabnya setelah mengirim tiga orang lagi menghadang presiden.
Damar mengangguk. Menoleh ke anak buahna. "Kita ke lantai 135!"
Anak buahnya membalas dengan anggukan mantap.
Masalah kedua Wisnu datang sebelum masalah menghadang presiden kelar. Lima orang anggota Sindikat Merah yang berasal dari lantai 134 hendak naik ke lantai 135. Dengan panik, dia memblokade lift-lift di lantai itu. Namun, sayangnya mereka lebih memilih tangga untuk menaiki lantai selanjutnya. Tentu saja tak ada cara untuk memblok daerah tangga.
Saat itu rombongan Pak Presiden sudah berhasil menghabisi orang-orangnya. Pasukan selanjutnya baru aakan datang sepuluh menit lagi. Sementara anggota Sindikat Merah bisa sampai lebih dari itu. Tapi, tunggu... Lihatlah salah satu rombongan Pak Presiden kesulitan membuka lift. Yeah, tentu saja itu tidak akan berhasil. Kan, dia yang menonaktifkan lift itu. Tapi, lift itu bisa membuat mereka kabur dari lantai 135. Artinya, anggota Sindikat Merah tak akan tahu keberadaan mereka.
Tangan Wisnu yang masih menempel di rambutnya karena habis mengacak-acaknya kembali bergerak di keyboard laptopnya. Kembali mengaktifkan lift itu. Pintu lift berdesing terbuka. Rombongan presiden langsung masuk. Wisnu mengganti layarnya ke CCTV yang merekam keberadaan mereka di lift 7. Salah satu dari mereka menekan tombol 70.
"Batalkan ke lantai 135," kata Wisnu pada Damar. Dia memandang ke arah lain. Mengistirahatkan matanya.
"Kenapa?" tanya Damar yang sudah di depan lift.
"Mereka ke lantai 70. Hadang di lift 7. Mereka akan keluar dari sana. Waktumu kurang dari 3 menit. Segeralah! Akan kuusahakan memeperlamabat lift mereka."
Damar dan pasukannya sudah masuk, lift. Menekan tombol 70 juga. "Waktu kita kurang dari 3 menit. Kita harus bergegas."
Meski tak tahu maksud pembicaraan Damar, Tim Rubah mengangguk patuh. Menyiapkan pertarungan mereka.
"Oh, iya. Ada yang membawa SKPI-069?"
"Bagus," kata Damar setelah melihat semua pasukannya mengangguk. Pertanyaan retoris sebenarnya. Karena SKPI-069 itu senjata wajib agen lapangan. "Siapkan peluru bius kalau begitu."
***
Fadil dan yang lainya berhasil masuk dalam lift. Wira menekan tombol 70. Fadil sudah bersiap menerima hentakan yang biasa dia rasakan setiap menaiki lift ini. Tapi, di detik-detik berikutnya dia tak merasakan hentakan itu. Lift yang ditumpanginya berjalan lebih pelan daripada biasanya, begitulah kesimpulannya. Tadi, saat membuka pintu lift, dia juga mengalami kesusahan. Timbul tanda tanya besar di kepalanya, ada apa ini? Matanya jelalatan menyapu ruang sempit itu. Sampai matanya menangkap sebuah kamera CCTV di pojokan. Mungkinkah? Mungkinkah mereka di awasi.
"Ada apa, Dil?" tanya Wira yang melihat kecemasan Fadil.
"Apa mungkin kita sedang di awasi?" jawab Fadil menunjuk CCTV.
Wira menembak CCTV itu hingga hancur. "Nah, bisa lebih baik, kan?"
Fadil mengangguk. Di belakangnya, Nina sudah melotot ke arah Wira. "Apaan, sih? Suaranya sangat keras tahu? Kalau latihan tembak nanti kalau ada musuh."
Wira menimpuknya dengan gagang senapannya pelan. "Kau tak lihat, aku menembak apa?"
"Di copot saja bisa, kan?"
Wira hanya nyengir. Sampai, Fadil menyikutnya. "Siapkan senjatamu, Wir."
Pintu lift kembali berdesing terbuka setelah 3 menit yang terasa panjang. Fadil bersiap menodongkan senjatanya. Begitu juga Wira. Tapi, gerakan mereka terhenti ketika melihat siapa yang sedang menanti mereka.
"Damar?!" pekik Fadil.
__ADS_1
Di saat yang sama peluru bius menancap di leher Fadil dan lainnya.