
Wira tidak mau memakai alat rahasianya lagi sebenarnya. Tapi, demi memantau pembicaraan yang lainnya, dia memakai earphone dan microphone-nya. Dia mengaktifkan ke frekuensi yang sama pada earphone-nya. Sementara, microphonnya sengaja tidak dia aktifkan. Tak lupa koper yang berisi berkas rahasia dia ambil juga.
"Maaf, Pak. Biar saya dulu," kata Wira masih sopan saat Pak Presiden hendak keluar dari pintu. Dengan penuh waspada dia membuka pintu itu. Aman. Kepalanya berputar, lalu mengangguk. Memersilakn Pak ASN untuk keluar.
Presiden melihat mayat pengawalnya yang berserakan dengan muram. "Terima kasih sudah menjagaku sejauh ini," gumamnya menunduk dalam. Ia berbalik setelahnya, terdiam.
"Ayo, Pak!" kata Wira gusar, nadanya sedikit membentak.
Presiden mengambil senjata Damar, yang mana pemiliknya sedang tertidur kena obat bius saat ini. Dia melepas mode pengamannya. Mengacungkannya pada Wira. "Bagaimana aku bisa memercayaimu?"
"Ha?" Wira bingung dengan ucapan presiden. Tapi, dia maklum. Presiden ini orangnya sangat hati-hati. Dia hanya memercayai orang yang terpercaya di antara orang terpercaya.
"Temanmu baru saja memberantas pengawalku. Bagaimana aku bisa memercayaimu?" Pak ASN tak menggeser seinci pun bidikannya.
"Bukankah Bapak telah melihat perdebatan kami? Lalu, aku juga telah melumpuhkan temanku itu."
Pak ASN berpikir sejenak. Menimang-nimang keputusannya. "Bagaimana kalau semua ini hanya jebakan. Kau dan Dia!" Tunjuknya ke arah Wira, lalu Damar. "Kalian bersekongkol untuk membunuhku, kan?"
Lorong mulai bergemuruh oleh hentakan langkah kaki yang cukup banyak. Wira melihat lorong. Dari ujung matanya menangkap orang-orang yang bukan dari regunya bergerak mendekat. Wira melepas tembakan.
Dor! Dor! Dor!
Kena dua. Satunya meleset melubangi dinding. Pak ASN yang terkejut mendengar ledakan pistol Wira melongokan kepalanya ke ambang pintu. "Siapa mereka?" tanyanya.
Wira yang sibuk baku tembak dengan mereka tidak menjawab. Tangannya langsung menggaet tangan presiden sekenanya. "Lari, Pak! Lari."
Ini pertama kalinya bagi Pak ASN berlari diiringi hujan peluru. Sangat berbeda dari biasanya. Hujan flash kamera sudah biasa, tapi hujan peluru benar-benar baru untuknya.
Wira menembaki lampu yang menerangi tempat itu. Untuk mengurangi jarak pandang musuhnya. "Sini, Pak!" teriaknya berusaha sopan, tapi gagal. Yang terdengar malah seperti bentakan. Tangannya kembali menyeret Pak ASN. Mendorongnya ke depan. Membiarkannya maju dulu. "Di perempatan depan, kita belok kanan. Akan ada lift setelahnya. Kita bisa kabur dengan itu!" Wira memberi pengarahan. Matanya nyalang ke belakang seperti mata anjing yang melihat penjahat mengendap.
Hujan peluru akhirnya berhenti ketika mereka berdua berhasil masuk lift dan pintu lift menutup setelah Wira menekan tombol nomor satu berulang kali. Napas mereka saling buru. "Anda tidak apa-apa, Pak?"
Tangan Pak ASN berpegangan di dinding lift. Kepalanya menunduk. Napasnya kembang kempis parah. Tapi, dia menggeleng sebagai jawabannya.
"Bagus kalau begitu," kata Wira duduk di lantai lift. Menyandarkan punggungnya di sana. Dia mengecek pelurunya. Tinggal tiga. Sial, batinnya. Padahal dia butuh peluru banyak sebentar lagi. Matanya mengerling pada pistol yang masih di pegang presiden.
"Kita mau ke mana?" tanya Pak ASN sebelum Wira berkata. Napasnya agak mendingan. Dia memerosotkan tubuhnya di samping Wira.
"Lantai satu, saya akan membawa Anda pergi dari sini." Wira menunjuk tombol nomor satu yang berkedip berulang.
"Tidak! Kita harus ke lantai 192. Isteri dan anakku ada di sana." Pak ASN berjingkat dari duduknya, melompat ke jajaran tombol lift. Tapi, sebelum tangannya menekan angka 192, tangannya ditarik Wira.
"Tidak bisa, Pak!" ujar Wira tegas. "Keselamatan Bapak lebih penting."
Pak ASN menepis tangan Wira. Melotot padanya. "Kau pikir keselamatan keluargaku tidak penting begitu?!" Jarinya menunjuk-nunjuk ke atas tempat keluarganya berada. "Kamu memang tidak pantas di angkat sebagai agen lapangan memang!"
Wira menunduk. Yeah, dia benar-benar tidak pantas sebagai agen lapangan seperti ini.
***
Fadil kembali menutup pintu setelah memastikan keadaan luar. Para penjaga itu masih menunggu di pintu sebelah. "Oke," katanya mengisyaratkan Nina untuk mendekat. "Kita akan berlari tepat di hitungan ketiga. Ingat berlari tanpa henti sebelum masuk lift. Mengerti?"
Nina mengangguk. Sejak kejadian di balkon beberapa waktu lalu, dia memutuskan untuk memercayai Fadil. Jadi, mulai saat ini dia akan menuruti semua perkataan calon suaminya itu.
__ADS_1
"Bagus!" Fadil mencengkeram kenop pintu kuat. Bersiap menjeblaknya terbuka. "Satu,..."
"...,dua..."
"...,tiga!"
Pintu terbuka lebar. Nina yang sudah mengambil awalan di hitungan kedua langsung berlari sekuat tenaga. Fadil segera mengikuti. Tentu saja di belakang mereka, para penjaga yang baru menyadari kebodohan mereka karena menunggu hal yang konyol segera mengejar.
Keduanya bernapas lega saat pintu lift berhasil menutup. "Kita langsung ke lantai 1?"
"Tidak, kita ke lantai 180. Aku mau menyembuhkan tanganku dulu," kata Fadil tangan kirinya memegangi bahu kanannya yang sekarang mati rasa. "Bukankah tadi juga sudah kubilang kita harus mengambil handphone-ku dulu."
Nina nyengir. Lalu, mengangguk. Menekan angka 180.
***
Tepat setelah mendapat kabar dari Pak Tundo tentang keberadaan presiden, Si Tangan Kanan membagi pasukannya menjadi tiga. Dia dan lima orang lagi akan mengejar presiden. Tiga orang bertugas menghabisi keluarga presiden. Sisanya mengurusi bom yang baru saja mereka pasang di sekitar pejabat penting.
***
(Catatan Penulis: kuharap kalian tidak melupakan yang satu ini.)
Ledakan dari bom para pejabat penting tidak terlalu berpengaruh pada lantai-lantai di atasnya (lantai 111-200). Tapi, tetap saja, ledakan itu berhasil membuat pingsan Rasya yang tak tahan panas.
Tak jauh dari tempat Rasya pingsan, Pak Danu, sopir hotel tergopoh-gopoh memasuki ruangan tersebut. Kedaannya sangat kacau menurutnya. Mirip seperti mobil balap yang meledak di arena karena kepanasan. Dia rasa itulah penggambaran yang cocok. "Rasya!" pekiknya melengking. Tepat matanya beradu dengan tubuh Rasya yang baik-baik saja, dia langsung berlari mendekat. Mengecek keadaannya. Napas panjang nan lega keluar dari paru-paru tuanya saat mengetahui Rasya baik-baik saja. Tanpa menunggu lama, dia mendirikan Rasya. Memapahnya untuk diseret bersamanya. Meski keadaan Rasya baik-baik saja, mereka harus ke ruang kesehatan (lantai 70). Jika ada keluhan lebih, dia bisa memberinya obat segera. Lagipula, disanalah tempat teraman untuk saat ini.
***
"Jika kau ingin mendapat kepercayaanku, sebaiknya kau membantuku menyelamatkan keluargaku, mengerti?!" sentak Pak Presiden berang. Lift bergerak naik ke lantai 192.
Pintu lift terbuka. Kamar keluarganya tak jauh dari lift. Sehingga baik telinganya maupun telinga Wira mendengar jeritan tangis isteri dan anak presiden. Pak Presiden langsung melompat bangkit dari duduknya. Berlari ke kamar keluarganya. Wira mengikuti di belakangnya.
Pintu kamar itu terbuka lebar. Mata Pak Presiden membulat. Tepat saat dirinya masuk, dua letupan senjata api memecahkan kepala keduanya.
Pak presiden melenguh marah. Dia menembak tiga orang tersebut tepat di kepala. Sayangnya, dua tembakan meleset. Menyambar vas bunga di belakang mereka. Pecah.
Memang kedatangan Pak ASN yang terbilang tiba-tiba mengagetkan mereka. Tapi, saat mereka tahu itu Pak ASN, mereka segera menghujani peluru dan menghubungi atasan mereka, Si Tangan Kanan. "Presiden ada di lantai 192," katanya lewat microphone kecil. Peluru yang baru dilepasnya mengenai Pak ASN.
Pak ASN mengerang kesakitan. Tapi, kemarahannya membuatnya terus menembakkan peluru dari pistol miliknya. Tentu saja tembakan itu mudah dihindari oleh keduanya. Tapi, tidak dengan tembakan Wira setelah beberapa saat berikutnya. Peluru Wira menancap di leher salah satunya, satu lagi di pelipis, tembuk ke belakang.
"Oh, Tuhan," gumamnya penuh kejut mengetahui keadaan keluarga presiden. Sedangkan si presiden berusaha merangkak mendekati isteri anaknya yang telah bersimbah darah.
"Voni?! Lina?! Tidak! Tidak! Kalian..." Tangis presiden pecah. Tangannya merengkuh kepala isterinya ke dalam pelukannya. "Maaf! Maafkan aku!" Isaknya tak henti-henti.
Wira hanya melongo menyaksikannya. Tapi, dia segera mengelap pipinya saat menyadari cairan mengalir di sana. Dalam hati dia berkata, inikah yang disebut cinta keluarga?
Wira segera kembali fokus dengan rencananya. Memastikan presiden keluar dari tempat ini segera. Kelompok Sindikat Merah(SM) pasti akan segera ke sini segera. Wira mengambil senjata salah satu anggota SM juga amunisi yang cukup banyak. Menyimpannya di kantong jasnya.
Wira menoleh ke arah presiden yang masih memeluk kepala isterinya. Mendekatninya. "Pak kita harus segera pergi!" ajak Wira memegang pundak Pak Presiden. Tangis Pak Presiden mereda sebentar. Sepertinya dia mau memarahi Wira karena mengajaknya pergi. Tapi, bola mata Pak Presiden mengarah ke atas. Lalu, tak sadarkan diri.
"Oh, Shit," pekik Wira melihat darah presiden keluar banyak. Tangannya sudah bergerak untuk menangani luka di perut presiden. Tapi, jika dia melakukannay, pasukan SM akan segera kesini dan menghabisi presiden dan dirinya. Jadi, dia mengambil ikat pinggan miliknya. Membulatkannya di perut presiden agar tak keluar terus. Lalu, dengan penuh usaha, dia memapah Pak Presiden ke luar dari kamar penuh derita itu. Ya, setidaknya untuk Presiden. Pada akhirnya, Wira menggendong tubuh presiden. Karena saat dia memapah tubuh beliau, langkah mereka meninggalkan jejak darah yang sangat mudah terlacak. Wira membawanya kembali ke lantainya, 135. Dia berpikir musuh tak akan kembali ke sana.
***
__ADS_1
Fadil segera mencari batako miliknya yang dia sembunyikan di bagian bawah lemari. "Aha," serunya saat menjumpai batakonya.
"Kamu mau menyembuhkan tanganmu dengan batako itu?" tanya Nina memiringkan kepalanya bingung.
Fadil mengangguk mantap. Menghempaskan tubunya di sofa. Bersiap melakukan penyembuhannya. Dia memindahkan batakona ke telapak tangan kanannya. Lalu, secara pelan menggenggamnya. Rasa sakit langsung menderanya tanpa ampun. Erangan tertahan berulang kali keluar dari mulutnya.
Nina meringis sendiri menyaksikannya. Sesekali bertanya, "Kau tidak apa-apa, Dil?" tanya Nina masih meringis sendiri.
"Tid ...Akh. Tidak," jawabnya suatu kali.
Sakit di bahunya mulai terasa enakan setelah terdengar bunyi krek pelan di patahnnya. Napasnya naik turun normal secara statis. Keringat mengalir di pelpisnya. Batakonya dia lepas begitu saja. Membuat gempa kecil di sekitar mereka. "Sudah lebih baik?" tanya Nina berhenti meringis.
Fadil mengangguk lega. "Yeah, sudh enakan sekarang." Fadil menghentakan tunuhnya untuk berpindah ke posisi duduk. "Tapi, aku masih butuh istirahat sebentar. Kamu tidak keberatan, kan?"
"Enggak, kok." Nina segera menyahut cepat. Tangannya bergoyang berkali-kali, mengisyaratkan baik-baik saja.
Fadil mengangguk. Dia mengambil air mineral dari kulkas, meneguk setengah. Lalu, kembali duduk di sofa dengan selimut bersih dari lemarinya. "Kalau begitu aku tidur dulu."
"Eh... Apa kita akan baik-baik saja, bermalam di sini?"
Fadil tertawa kecil mendengar kekhawatiran Nina. "Maksudmu para teroris itu?"
Nina mengangguk
"Tenang saja, mereka tidak akan menyisir tempat yang sudah pernah mereka sisir," ucapnya tersenyum.
"Ehm... Oke, aku juga akan tidur."
Nina mematikan lampu. Dia melirik Fadil sejenak. Fadil sudah menutupi tubuhny dengan selimut. Dengan cepat Nina melepas pakaian luarnya. Lalu, langsung melompat ke kasur. Membungkis dirinya dengan selimut.
Semua lak-laki memiliki mata dewa soal yang seperti itu. Yeah, Fadil sempat mengintip tadi. Biar bagaimanapun, dia ingin tahu Nina lebih dalam lagi. Maksudnya... Ah sudahlah. Sebelum dia memikirkan hal yang macam-macam. Bisa gawat jika dia kebablasan. Apalagi situasi juga sangat mendukung. Sepi. Yeah, sangat bodoh memikirkan hal seperti itu saat ini. Seharusnya dia memikirkan bagaimana caranya keluar dari tempat ini dengan aman. Tapi, pikirannya melayang lagi saat teringat Rasya. Apa dia baik-baik saja? Apa bom itu membunuhnya? Oh, bagaimana juga dengan Kiki? Apa pendapatnya jika mengetahui dirinya ikut terjebak dalam hotel yang sesak oleh teroris ini? Ah psti dia tahu soal ini. Sekarang saentero negri sudah mengetahuinya malah. Pasti berita tentang hotel ini menjadi tranding topik di acara berita atau media cetak.
Tiba-tiba ada yang mengganjal otaknya. Dia menyadari sesuatu yang seharusnya dia sadari sejak tadi. Jika berita tentang serangan hotel sudah tersebar, kenapa belum ada bantuan datang ke mari hingga detik ini?
Fadil menatap lamat-lamat keluar lewat jendela besarnya. Sepi. Tak ada hiruk pikuk di sana. Paling tidak banyak wartawan yang berkeliaran di bawah sana atau kelap-kelip sirine mobl polisi atau lagi, ada helikopter yang memantau keadaan. Apa mungkin berita ini belum tersebar? Soalnya terlalu ramai keadaan di luar sana.
Karena memikirkan hal ini dan hal itu, Fadil jadi kesulitan tidur. Dia masih tidak percaya jika berita ini belum tersebar. Akhirnya dia bisa tidur pada pukul dua. Itupun karena otaknya sudah sangat kelelahan karena di suruh berpikir sangat keras. Dia juga bermimpi buruk. Di mimpinya dia sedang di lempar oleh Wira dan Damar. Bukan dari pohon sepuluh meter seperti biasanya, melainkan dari balkon kamarnya sekarang. Saat dia terjatuh, muncul Nina di sampingnya ikut terjun bebas sambil mengelus-elus perutnya yang sudah sangat besar. Lalu, pyar...
Fadil bangkit dari tidurnya. Dia sadar itu mimpi. Jam masih menunjukkan pukul dua lebih sedikit. Tapi, dia tak yakin untuk bisa terlelap lagi.
***
Wira langsung membereskan luka Pak ASN. Mengeluarkan pelurunya dan menjahit lubangnya. Meski demikian, Pak ASN tak kunjung sadar. Ya, dapat dipastikan belau kekurangan banyak darah segar. Denyut jantungnya juga terus melemah, Wira sudah mengeceknya tadi. Jika terus begini, Pak ASN akan meninggal.
Wira membereskan pakaian Pak ASN yang beberapa menit lalu dia lucuti. Pakaian itu penuh dengan darah. Wira beberapa kali menutupi hidungnya karena jas dan kemejanya sangat bau amis. Jika saja dia tidak terbiasa dengan hal yang seperti ini, sudah pasti dia sudah muntah-muntah seperti ibu hamil. Sayangnya, dia pernah mengalami yang lebih buruk daripada ini.
Kemudian, dia bingung kelanjutannya. Antara membawa presiden ke ruang kesehatan atau membiarkannya tetap di sini. Jika dia membawa presiden yang tak sadarkan diri, itu hanya akan merepotkan saja bila dia bertemu musuh. Tapi, jika dia meninggalkan presiden di sini sendirian, apakah presiden akan baik-baik saja? Bagaimana jika ada yang tiba-tiba masuk dan melihat keadaan seperti ini? Jika itu orang biasa mungkin dampaknya tidak akan parah, tapi jika itu salah satu anggota SM? Dia tak bisa membayangkannya. Lagi-lagi dia dihadapakan dengan pilihan yang membingungkan.
Wira sadar sekarang. Dia tak bisa melakukan ini sendiri. Tiba-tiba telinganya menangkap sesuatu dari earphonenya. Pak Tundo yang bicara. Sepertinya dia marah sekali.
"Ergh ... Semuanya, ganti frekuensi cadangan. Ada kecoa yang juga memakai saluran ini."
He? Kecoa? Tidak pikir Wira. Tak mungkin dirinya. Pak Tundo hanya ditugaskan untuk menyapu bersih lapangan bukan untuk membereskan presiden atau hal semacamnya. Jikapun dia dianggapnya begitu, toh dia juga sudah tahu kalau dirinya juga tahu saluran frekuensi cadangan, kan? Dia berkesimpulan siapapun yang disebut kecoa oleh Pak Tundo adalah seseorang yang tidak tahu frekuensi cadangan. Yang jelas bukan dari kelompoknya maupun kelompok SM. Lalu siapa? tanyanya.
__ADS_1
Wira mengerling ke arah Pak Presiden yang sudah dia baringkan di atas ranjang beberapa waktu lalu. Wajah presiden benar-benar pucat sekarang. Beliau benta-benar kekurangan darah.
Yah, Wira tahu sekarang, apa yang harus dia lakukan. Dia harus meminta bantuan si Kecoa.