Blokade Hotel Hastungkara

Blokade Hotel Hastungkara
Episode 4.1 : Pertemuan di Ruang Makan


__ADS_3

Esoknya Fadil bangun dengan sedikit lebih segar. Mungkin karena obat yang diberikan dokter kemarin. Ya, memang awalnya Fadil menolak mati-matian saat mau dipanggilkan dokter karena dia bisa mengatasi masalahnya sendiri. Bahkan dia sempat membentak Rasya.



"Tinggalkan aku sendiri!" bentak Fadil saat sudah sampai di depan pintu kamarnya kemarin.



Wajah Rasya memucat karena khawatir. "T-tapi tanganmu harus segera diobati."



"Oh iya, kamu mau menolongku, 'kan?" tanya Fadil sambil merdam emosinya.



Rasya mengangguk gagap.



"Tolong jaga perempuan di kamar 18F." Ya, Fadil masih mengjhawatirkan perempuan itu. "Kalau begitu, terima kasih." Fadil menutup pintunya segera sebelum Rasya memprotes permintaannya.



Tapi, ternyata Rasya benar-benar mengkhawatirkannya. Dia bersikeras memanggil dokter hotel untuk memeriksanya pada pukul 4. Rasya juga ikut masuk ke kamarnya dengan membawa nampan berisi banyak makanan. Dia juga meminta maaf karena tadi seharusnya setelah mengantar Fadil ke kamarnya, dia mengantar Fadil ke ruang makan. Ya, kecerobohannya itu ada untungnya juga. Karena dia berhasil menggagalkan suatu upaya bunuh diri.



Tentu saja saat dokter memeriksa tangan Fadil, tidak ada kelainan di sana. Tangannya sudah kembali seperti sedia kala. Dokter itu memberikan suatu obat yang membuatnya lebih segar pagi ini.



Tok! Tok! Tok!



Pintu kamarnya di ketuk. Fadil tahu itu Rasya karena matanya menangkap jam dinding yang menunjukkan pukul delapan, waktu perjanjiannya kemarin untuk mulai tur. Tepat waktu, batin Fadil. Dia sudah selesai berberes untungnya. Setelah memastikan dia sudah rapi di depan cermin, dia keluar dari kamarnya. Dia menemukan Rasya dengan setelan khas pelayannya.



"K-kamu sudah siap?" katanya. Sejak kemarin dia sudah memakai bahasa yang membuat Fadil nyaman.



Fadil mengangguk.



Tur pun dimulai.



***



Hotel Hastungkara terdiri dari 200 lantai. Tur itu sangat mengandalkan lift untuk berpndah-pindah lantai. Meski sudah ada dua puluh lift di gendung pencakar langit itu, tetap saja ada kalanya orang-orang yang menggunakan lift harus memerlukan waktu untuk memakainya dan bahkan berdesakan saat di dalam lift.



Mengingat bangunan itu merupakan sebuah monumen sekaligus sebuah hotel, hampir seluruh lantai merupakan museum atau kamar sewa. Hanya lantai 190-200 yang dijadikan sebagai kantor pegawai dan suatu tempat penelitian BMKG dan Badan Astronomi Indonesia.



"S-sudah waktunya makan siang," kata Rasya saat di lantai 120, lantai museum binatang langka. Lantai terakhir tur mereka. Karena lantai di atasnya hanya kamar sewa sampai lantai 189.



"Apa?" tanya Fadil yang kurang mendengarkan. Dia terlalu fokus memandangi suatu spesies katak yang terluhat unik di matanya.



"Sudah waktunya makan. Kita kembali ke ruang makan, lantai seratus."



Fadil mengangguk.



Mereka berhasil ke lantai seratus setelah menunggu lift sekitar sepuluh menit. Pengunjung hari ini sangat ramai. Hampir setiap sudut lorong museum penuh pengunjung bersliweran. Beberapa ber-selfie di dekat pajangan museum.


__ADS_1


"D-Dil, aku kembali ke tempatku, ya?"



Fadil mengernyit. "Kamu tidak lapar?"



"N-nanti saja. Aku belum lapar."



Fadil mengangguk. Mengerti.



Seperti itulah hubungan mereka. Sedikit lebih akrab. Fadil merasa punya teman baru di sini. Begitu juga yang dirasakan Rasya.



Rasya berbalik, berjalan kembali ke lift. Tapi, kakinya tersandung kakinya sendiri. Membuatnya terjatuh. Kemudian, buru-buru bangkit sambil berpegangan wadah tempat sampah di dekatnya. Bukan malah berdiri, kakinya terpeleset dan isi tempat sampah itu berhamburan.



Fadil menyaksikannya dengan tersenyum. Menggeleng-gelengkan kepala. Dia benar-benar ceroboh, batinya. Kakinya mendekati Rasya, membantunya berdiri dan memasukkan sampah ke tempatnya. "M-maaf merepotkan."



Fadil hanya tertawa.



Rasya membalas tawa itu dengan renyah. Dia pergi dan menghilang di balik lift.



Ini kedua kalinya Fadil ke tempat ini. Sebenarnya kurang cocok kalau di sebut ruang makan. Karena tempat itu terbagi seperti warung di pinggir jalan, ada warung makanan tradisional, makanan luar negeri, jajanan khas daerah, buah-buahan, dan aneka makanan lain. Pengunjung tinggal mengambil sesukanya, semuanya prasmanan. Sementara di setiap pojok lantai akan ada kursi dan meja tempat untuk makan. Jadi, pengunjung bisa makan sambil menikmati keindahan dari ketinggian lima ratus meter.



Fadil sendiri lebih memilih pemandangan yang mengarah langsung ke utara. Karena dari jendela sanalah dia bisa melihat pemandangan laut yang biru. Ombak yang menggulung-nggulung dan berkecipak. Dia seakan bisa mendengar semua itu.



Di meja yang sudah dipilihnya kini menyisakan beberapa piring makanan. Dia tidak memilih untuk segera pergi dari tempatnya. Menikmati kopi panas di siang hari sambil menikmati pemandangan jauh di luar sana lebih enak untuk saat ini. Lagipula turnya tadi membuatnya lelah.




Fadil beranjak dari duduknya bersama kopinya meski tinggal sedikit. "Apa aku boleh duduk di sini?"



Perempuan itu menoleh pelan. Memandangi Fadil lamat-lamat. Setelah tahu itu Fadil, cowok yang menolongnya kemarin, dia mengangguk.



"Terima kasih, soal kemarin, ya," katanya dengan nada pelan.



"Tidak masalah. Apa perasaan, Mbak lebih baik?"



Perempuan itu mengambil cangkir teh, menyesapnya sedikit, lalu menaruhnya kembali. "Kurasa begitu."



Fadil yang canggung di posisinya sekarang ikut menyesap kopinya di tetes terakhir. Dia berpura-pura menyesapnya lebih lama. Sampai-sampai endapan kopinya dia sesap sampai dia tersedak.



"Kamu tidak apa-apa?"



"Kenapa Mbak mau bunuh diri?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutnya yang setengah terbatuk.



Tapi, perempuan itu tidak terlalu terkejut, dia menjawab dengan enteng, "Aku hamil."

__ADS_1



Fadil terkejut. Apa peristiwa kemarin membuatnya hamil? Wajahnya kembali bersemu merah saat mengingatnya. Saking malunya, Fadil memasukan lagi bibir cangkirnya ke mulutnya. Aku tidak melakukan apapun. Tidak sama sekali. Dia meyakinkan dirinya.



"Orang yang kukenal di hotel ini telah menghamiliku."



Fadil terdiam.



"Sayangnya dia kabur kemarin. Setelah mengetahuinya, aku langsung kembali ke kamarku dan langsung ingin bunuh diri. Sebab itulah mungkin pintuku tak sempat kukunci.



"Tapi, kemarin kamu menyadarkanku. Kalau aku mati, dia yang kesenangan. Sekarang aku akan menuntut balas. Enak saja bermain denganku dan tidak mau tanggung jawab."



Fadil tidak tahu harus berkomentar apa. Cangkir masih melekat di bibirnya.



"Kamu kenapa, sih?" Perempuan itu tampak kesal. Dia menarik lengan Fadil yang memegang cangkir. Kemudian, sebentuk senyum terukir di wajahnya. Dia tertawa kecil.



"Ha? Kanapa?" tanya Fadil bingung.



Perempuan itu mengeluarkan tisu dari tas kecilnya. "Lab mulutmu dengan ini, dasar kekanakan."



Fadil menyadari isi cangkirnya telah tandas. Semua endapannya masuk ke mulutnya, sebagian lagi melekat di bibirnya. "Mbak ini masih bisa mengataiku, aku sudah menolongmu tahu," kata Fadil setelah membersihkan kotorannya.



Perempuan itu masih tertawa kecil. "Maaf, deh. Kamunya juga, sih."



Fadil ikut tertawa akhirnya. Dia senang perempuan itu bisa tertawa. Giginya yang putih dan rapi membuat senyumanya sangat manis. Fadil tak bisa mengelak, dia perempuan yang cantik.



"Sebaiknya kita kembali saja. Sudah sepi," kata perempuan itu. Benar lantai seratus nyaris kosong. Menyisakan para petugas dan dua pelanggan di pojok utara.



"Ayo, kembali Mbak ..."



Perempun itu memotong ucapan Fadil. "Kau tahu, aku masih 25. Kurasa umur kita tidak jauh beda."



Fadil megedikan bahunya. "Aku memanggil begitu bukan berarti kamu tua. Aku memanggil begitu karena kita belum kenal."



"Namaku Nina Sundari."



"Fadil Kurniawan."



Mereka berjabat tangan.



"Sekarang tak ada alasan untukmu memanggilku dengan Mbak."



Fadil terkekeh.

__ADS_1



Mereka meninggalkan tempat itu bersama.


__ADS_2