
Beberapa jam sebelum semua itu dimulai. Beberapa blok tak jauh dari lokasi Hotel Hastungkara. Dua kubu, Sindikat Merah dan sebuah kumpulan orang yang telah terlibat suap (Anggota BIN yang masuk secara ilegal dan orang-orang yang terlibat) mempersiapkan diri mereka masing-masing. Sementara, pemimpin masing-masing mendiskusikan strategi penyerangan di sebuah ruangan tertutup dan hanya berpenerang lampu bohlam. "Berapa yang kamu punya?" tanya Si Tangan Kanan yang mewakili Bos Utama setelah semuanya berkumpul.
"Lima untuk setiap lantai. Jangan lupa, mereka sudah terlatih..." Ucapan Pak Tundo dipotong cepat.
"Kamu terlalu banyak bicara."
Pak Tundo menutup mulutnya rapat-rapat. Dia melhat utusan bos utama itu dengan ngeri. Wajahnya penuh bekas luka. Dari tangannya tergembar jelas tato-tato yang mengerikan. Dia yakin, seandainya Si Tangan Kanan ini membuka kaos hitamnya, lebih banyak tato lagi akan terlihat. Tentunya lebih mengerikan.
"Begini rencananya." Si Tangan Kanan menggelar peta bangunan Hotel Hastungkara.
***
Presiden telah berpindah beberapa kendaraan sejak beliau diturunkan di bandara khusus. Delapan pengawal setianya berjalan masing-masing dua di setiap sisi. Khusus dua pengawal di samping, mereka memegang sebuah payung anti peluru untuk menghidari peluru yang tak terduga.
"Kamu sudah membereskan jalannya?" tanya Presiden saat memasuki mobil jemputan terakhir.
Salah satu pengawalnya mengangguk. "Tidak perlu, Pak. Kedatangan Anda sangat dirahasiakan."
Presiden itu tersenyum getir dengan keangkuhan pengawalnya itu. Kemudian, beliau berkata, "Kalau begitu, semoga kamu mendapat pelajaran baru nanti."
Pengawalnya menelan ludah.
***
Si Tangan Kanan telah menjelaskan rencananya. Para Sindikat Merah akan berfokus pada presiden. Sementara, anggota Pak Tundo akan membereskan kecoa-kecoa kecil pengganggu. "Sesuai rencana, perintahkan salah satu pasukanmu untuk mematikan alarm dan kamera CCTV saat tiba di. Pasukanku akan lewat belakang. Semua dimulai pukul sembilan tepat."
"Ya, aku punya seseorang yang diandalkan untuk mekakukan...."
Si Tangan Kanan meninggalkan ruangan itu. "Dasar banyak omong," gumamnya.
Sombong sekali, batin Pak Tundo. Dia kesal, dua kali bicara selalu di potong. "Padahal, situ yang nyerocos panjang-panjang," gerutunya.
Tiga mobil hitam-hitam yang elegan segera keluar dari sebuah rumah penginapan. Sisanya diangkut dengan mobil box. Agar tidak dicurigai, mobil-mobil box itu keluar terakhir bergantian dengan selang waktu sepuluh menit.
"Wisnu?!" Panggil Pak Tundo setelah mobil memasuki jalan tol.
Wisnu berhenti mengotak-atik laptopnya yang berbentuk koper kecil. Kepalana berputar ke arah atasannya. "Ya, Pak?"
"Kau bisa mematikan alarm dan kamera CCTV di sana?"
__ADS_1
Wisnu tersenyum geli. "Itu sudah keahlian saya, Pak."
Pak Tundo ikut tersenyum. Kemudian, raut wajahnya berubah serius. "Kalau begitu, lakukan itu untukku. Tidak, untuk kita."
Wisnu mengangguk mantap. Pak Tundo memberikannya sebuah setelan jas yang sangat kontras dengan pakaian oblong yang dipakai Wisnu. "Pakai ini. Penampilanmu akan lebih baik."
***
Mobil yang dinaiki Pak ASN memasuki halaman hotel pada pukul delapan malam kurang beberapa menit. Halaman itu sudah penuh sesak dengan para wartawan. Inilah yang maksud presiden harus dibersihkan. Dia sedang tidak mau menampilkan wajahnya di depan publik. "Lihat?!" kata Pak Presiden pada pengawalnya yang angkuh tadi. "Banyak orang, kan?"
Pengawalnya hanya melongo melihat banyaknya wartawan di luar sana.
"Semoga ini menjadi pelajaran buatmu." Presiden keluar dari mobil dengan senyuman memesonannya. Melambaikan tangan. Flash kamera mulai menyinari wajah presiden. Banyak pertanyaan yang dilontarkan di sana. "Oke satu pertanyaan saja," kata Pak ASN masih tersenyum lebar.
Seorang wartawan perempuan dengan jaket hijau langsung menerobos. Tangannya mengacungkan sebuah alat rekam. "Apa tujuan Pak ASN kemari?" tanyanya lantang. Berusaha mengalahkan ratusan ocehan lainnya.
Presiden mengangguk. "Pertanyaan bagus. Kedatangan saya ke sini untuk melihat perkembangan penelitian di hotel ini. Masih rahasia. Jadi, kalau sudah selesai pasti akan segera di publikasikan." Presiden mengedipkan matanya. "Semoga hasil penelitian ini dapat mengubah hidup negeri ini menjadi lebih baik lagi."
Pengawal presiden kembali ke posisinya. Beberapa orang pimpinan Pak Tundo ikut membantu meminggirkan para wartawan.
Tak jauh dari mereka, Ibu Negara dengan anggun mendekati suaminya. "Selamat datang, Sayang," sambutnya dengan suara merdu. Dia ikut mencium pipi Pak ASN lembut. Lalu, memeluknya.
"Bagaimana kau bisa tahu?!" bisik Sang Presiden pada isterinya.
"Tak ada rahasia yang tidak terungkap, Sayang."
Pak ASN terkekeh. Melepas pelukan isteri dan anaknya. Meski sangat rindu dengan keduannya. Dia tak bisa berlama-lama. Ada tugas yang menunggunya. "Hei, Sayang. Ikut ibu dulu, ya. Ayah mau pergi sebentar."
"Ayah, segera kembali, ya?" balas anaknya dengan senyum manis. Lalu, berbalik memeluk kaki ibunya.
Pak ASN tersenyum. Mengangguk. "Aku akan segera kembali." Beliau melambaikan tangannya. Pengawalnya kembali mengiringi. "Kau dengar tadi, isteriku bicara apa?" kata Pak ASN setelah memasuki lift.
Pengawalnya menunduk. "Maafkan segala kebodohan saya, Pak."
"Bagus!"
***
__ADS_1
Wisnu telah berganti dengan pakaian yang diberikan Pak Tundo. Sedikit sesak, tapi dia biarkan. Tangan kanannya menenteng laptop koper miliknya. Tak ada yang mencurigainya, karena hampir seluruh penghuni hotel berpakaian demikian.
Kantor Keamanan, tempat tujuannya sekarang berada di lantai satu. Jadi, cukup baginya berjalan sebentar.
Di pintu kantor itu, berdiri dua orang penjaga yang asyik membicarakan sesuatu. Wisnu menghela napas pelan. Sudah lama dia berkutat di dalam kurungan. Ototnya perlu sedikit perenggangan. "Permisi, saya sedang mencari kamar mandi," ujar Wisnu sesopan mungkin.
Keduanya berhenti tertawa. "Oh, disebelah sana, Mas," jawab salah satunya seraya menunjuk lorong di sebelah kanan.
Wisnu meraih tangan yang masih terulur itu. Menariknya ke belakang. Lalu, mencekiknya dengan tangan satunya. Penjaga satunya yang cukup terkejut dengan serangan tersebut hendak menyerang, membantu temannya. Sayangnya, sebuah tendangan telak memukulnya mundur. Wisnu meloloskan sebilah pisau dari lengan jasnya. Menancapkannya ke tengkuk penjaga yang dia kunci.
Pisau itu berlumuran darah, Wisnu langsung mencabutnya. Ia beralih mengurusi penjaga satunya. Dengan sedikit gaya, dia memutar pisau itu di tangannya. Lalu,...
"Sial!"
Pisau itu terjatuh. Penjaga itu melompat untuk mengambilnya. Tapi, Wisnu menendang pisau itu hingga menancap di dahinya. "Akh... Sial!" umpatnya. Darah menetes dari tangannya. Gaya memutar pisau itu melukainya. Padahal dia jago saat masih sekolah.
"Ada masalah, Nu?" tanya Pak Tundo dari earphone di telinagnnya.
"Aku bisa mengatasinya," jawab Wisnu yang kini sudah membereskan mayat dua penjaga. Dia menaruhnya di sebuah lemari sapum
"Kalau begitu, segera selesaikan!"
"Dimengerti."
Setelah mengelap lukannya, dia mengetuk pintu Kantor Keamanan. Lalu, masuk begitu saja.
Setidaknya ada lima orang di kantor itu yang terkejut. "Ada yang bisa kami bantu?" celetuk seseorang pada akhirnya.
"Oh, tidak. Kurasa aku salah ruangan."
"Eh? Bukannya ada penjaga?" kata seseorang lagi. Curiga.
Wisnu menutup pintunya. Mengeluarkan pistol revolver miliknya yang sudah usang. Lalu, menjeblak pintu itu lebar-lebar. Di kepalanya terekam jelas posisi orang-orang di kantor itu. Langsung saja, lima peluru bersarang di kepala masing-masing tanpa meleset satupun.
"Menyenangkan juga," gumamnya tersenyum lega. "Aku harus lebih sering kerja di luar ruangan, nih. Semoga Pak Tua itu mengizinkanku keluar dari sangkarnya."
Wisnu segera membuka laptopnnya. Menghubungkannya dengan kabel di kantor yang sebagian besar berupa monitor layar CCTV. "Aku sudah terhubung," kata Wisnu setelah mengotak-atik laptopnya sebentar.
"Langsung matikan alarm dan CCTV-nya segera!" perintah Pak Tundo.
__ADS_1
Wisnu mengotak-atik lagi laptopnya. Jendela-jendela baru muncul bergantian. Akhirnya sebuah tulisan, Matikan CCTV dan Alarm. Yes. Sukses.