Blokade Hotel Hastungkara

Blokade Hotel Hastungkara
Episode 6.1 : Pertarungan Hidup dan Mati


__ADS_3

Fadil langsung menggulingkan tubuhnya ke balik ranjangnya tepat setelah mendengar dobrakan pintu. Jadi, saat seseorang yang membawa senjata laras panjang itu berhasil mendobrak pintu kamarnya. Dia tak bisa melihat Fadil.



Siapa dia? Batin Fadil. Kenapa dia membawa senjata ke kamar ini? Fadil sangat yakin itu berarti buruk. Setidaknya untuknya. Dia mungkin akan di bunuh.



Awalnya Fadil merasa tenang karena orang itu tidak mengetahui keberadaanya. Sayangnya orang itu tidak bodoh. Dia masuk dan memastikan. Bahkan sempat meraba kasur Fadil. Tentu saja dia merasakan panas tubuh Fadil yang tertinggal. Fadil berusaha tenang. Tapi bekas Fadil berguling tadi menyebabkan kusut di seprai dan itu menunjukkan tempat persembunyianya.



Dengan perlahan orang tak dikenal itu berjalan mendekati tempat persembunyian Fadil. "Apa penghuni kamar ini bersenjata?" Bisiknya melalui radio yang diselipkan diantara lubang giginya.



"Tidak. Tapi, dia cukup berbahaya. Labih baik, habisi dia. Kita tidak memerlukan banyak sandra." Orang itu mendengar lewat earphon yang berbentuk seperti alat bantu dengar.



"Baik, perintah dimengerti."



Fadil tak mendengar ucapan orang itu. Yang dia bisa dengar hanya geraman tak jelas disertai langkah kaki yang mendekat. Apa yang harus aku lakukan? Batin Fadil cemas. Bagaimana keadaan Rasya? Wira? Damar? Tidak, bukan saatnya memikirkan mereka. Aku harus hidup dulu.



"Angkat tangan!" Perintah orang itu setengah menyentak.



Bug!



Fadil menyeruduk kaki orang asing itu. Membuatnya terjatuh. Senjatanya jatuh beberapa meter dari mereka. Fadil langsung menindihnya. Kini dia bisa melihat orang asing itu seorang pemuda. Umurnya mungkin tak terlalu jauh dari dirinya. Rambutnya panjang tersusun rapi. Dia memakai setelan hitam-hitam. Atasan anti peluru dan celana kantong yang penuh amunisi. Tangannya terbungkus sarung tangan yang berlubang di setiap lubang jarinya. Sepatunya juga terlihat sangat keras. Siapapun dia, sudah pasti dia orang jahat. Dia bukan orang hotel



"Siapa kamu?!" bentak Fadil setengah berteriak.



"Akh ..." Orang itu menyentakkan tubuhnya. Badan Fadil terlempar menabrak ranjangnya.



Sebelum orang itu meraih senapannya, Fadil menyepak senjata itu menjauh. Sebagai gantinya, orang itu mengirim pukulan Fadil terhempas menjauh. Tak sampai di situ, orang itu berniat menginjaknya. Fadil berguling, menghindar.



Pemuda yang menjadi lawannya benar-benar tangguh. Fadil sama sekali belum memberikan serangan. Dia bukan orang biasa. Tapi, Fadil tak mau mati di tangannya.



Fadil mengambi vas bunga. Melemparnya. Pemuda itu menghindari dengan mudah. Vas bunga itu hancur berkeping-keping menghantap tembok. Tapi dia benar-benar tidak berharap vas itu mengenai lawannya. Dia hanya membutuhkan pengalihan sejenak untuk mengambil senapa yang tak jauh dari tempatnya. Ketika pemuda itu menyadari siasat Fadil. Dia langsung menghantam tubuh Fadil. Sejenak mereka bergulat saling tindih dan saling berguling.



Pemuda itu berhasil meraih senapannya. Sayangnya senapan itu memiliki tali, dan tali itu masih di tangan Fadil. Dengan cerdasnya pemuda itu menganyam sebuah simpul untuk mencekik leher Fadil.



Fadil meronta, berusaha menarik balik. Sayangnya tak bisa, kedua tangannya ikut terbelit. Tenggorokkannay memanas. Dia tak mendapatkan udara.



Kek. Kek. Kek.

__ADS_1



Fadil butuh udara, kepalanya serasa mau meledak. Dengan sisa tenaganya dia mendorong pemuda itu ke belakang.



Bruk!



Pegangan tangan pemuda itu mengendor setelah tubuhnya menabrak rak buku. Fadil meronta lebih keras. Lepas.



"Uhuk ... Uhuk ...!" Hidungnya berusaha menghirup udara banyak-banyak.



Dia masih merasakan cekikan di lehernya. Pemuda itu benar-benar bajingan, pikirnya.



Fadil menendang tubuh lawannya. Sayangnya kakinya tertangkap di udara. Pemuda itu menariknya. Lalu menghantamnya dengan gagang senapan dengan keras.



Kepala Fadil berdenyut. Jarinya meraba di sana. Dia bisa merasakan cairan hangat. Cih! Pemuda itu tidak main-main dengannya. Dia sudah tidak berniat menghabisinya dengan peluru tapi dengan siksaan.



Fadil bangkit dan langsung menubruknya hingga menghantam rak buku lagi. Beberapa buku berjatuhan. Jatuh terbuka di halaman secara acak. Pemuda itu memekik. Fadil mengangkat tubuhnya, lalu membanting tubuh itu. Belum cukup, Fadil memukulinya sampai tak sadarkan diri.



Napasnya terengah-engah. Baru kali ini dia bertarung antara hidup dan mati. Eh? Apa dia mati? Fadil takut jika orang itu benar-benar mati.




Fadil menggeledah semua barang yang dimiliki pemuda itu. Dia memakai semua jarahan darinya. Termasuk beberapa butir permen yang ada di salah satu sakunya. Bahkan dia sudh menghisapnya satu.



Untuk tubuh pemuda yang pingsan itu, Fadil mengikat tangan dan kakinya menjadi satu lalu memasukkannya di bak mandi.



Untuk lukannya, dia tidak tahu harus apa. Dia membiarkn luka itu mengering. Tapi, dia meminum obat pereda nyeri dari obat yang di berikan dokter kemarin.



Fadil langsung menelpon Rasya, mencari tahu apa yang sedang terjadi.



Tut! Tut! Tut!



Rasya tidak mengangkatnya. Fadil semakin khawatir. Banyak orang penting dan kuat di sini. Kenapa bisa ada teroris masuk? Tapi, sepertinya teroris ini bukan teroris biasa. Fadil sedikit tahu setelah duel dengan salah sati dari mereka.



Fadil keluar dari kamarnya. Gelap segera memberingkusnya. Matanya berusaha menyesuaikan. Hanya sedikit penerangan di sana, yaitu dari setiap kamar sewa. Itupun dari intipan cahaya rembulan. Seluruh kamar sewa terbuka pada saat itu.



"Bagaimana, Gabriel? Kau seudah menghabisinya?" tanya seseorang lewat aerphone yang di pakai Fadil.

__ADS_1



Fadil terdiam. Ucapan orang di sana itu meakinkannya, bahwa dirinya memang mau di bunuh. Dia harus sangat hati-hati. Persiapan musuh lebih matang.



Dor!



Suara tembakan. Di susul lengushan paanjang seorang pria. Di sisi lain, Fadil juga mendengar teriakan melengking yang diakhiri suara cekikan. Fadil sudah tidak bertanya lagi, ada apa ini? Semuanya sudah jelas. Hotel Hastungkara di serang besar-besaran.



Jumlah erangan kesakitan, isak tangis, teriakan, semua tercampur menjadi satu membuat dada Fadil sesak. Dia tidak bisa melawan mereka semua sekaligus. Dia hanya sendiri saat ini. Oh iya, kalau dia berhasil menemukan rombongan Wira dan Damar, pasti dirinya akan aman. Tapi, untuk saat ini dia harus menyelamatkan perempuan yang mau bunuh diri dulu. Ya, jika ingin menyelamatkan seseorang, perempuan itu yang akan dia lakukan. Entah mengapa demikian, dia merasa harus menyelamatkannya.



Fadil menyusuri lorong pelan-pelan. Sambil pikirannya menerawang, mengingat tempat kamar gadis itu berada.



"Kumohon, Jangan! Jangan!" Fadil bisa mendengar suara Nina dengan keras di balik pintu di sebelahnya. Fadil langsung menendang pintu itu sampai terbuka lebar.



"Hentikan!" Fadil berdiri di depan pintu seperti sesosok pahlawan.



Orang yang akan menghabisi Nina ternyata seorang wanita. Raut wajhn berubah terkejut ketika Fadil masuk kamar. Posisi tngan kanannya mencengkeram leher Nina yang ditumukan di tembok. Bahkan perempuan itu telah mengngkatnya cukup tinggi. Sehingga kaki Nina tidak menentuh lantai sampa jarak setengah meter



Wajah Nina tampak kesakitan. Banyak oksigen yang belum menglir di darahnya. Kakiny menendang-nendang ke udara berusaha mengenai orang yang mencekiknya. Tapi sia-sia. Tendangan itu melayang secara acak. Jikapun mengenai lawannya, sudah tentu tendangannya lemah.



Perempuan asing itu melepas cekikannya. Tubuh Nina terjatuh begitu saja. Ia langsung terbatuk-batuk. Lalu, segera menghirup napas dalam-dalam.



Dengan beraninya perempuan itu mendekati Fadil. Sungguh menedihkan, pikir perempuan itu. Meremehkan.



Fadil menata senapannya. "Jangan mendekat atau aku tak akan takut menghabisimu."



Perempuan yang juga memakai setelan hitam-hitam itu berhenti di tempat. Pakainnya yang ketat menunjukkan setiap lekuk tubuhnnya yang seksi.



Bruk!



Gerakan reflek gadis itu membuat tubuh Fadil terjatuh. Senjatanya terlempar jauh. Tanpa menunggu seperkian detik, perempuan itu memutar tangan kanannya.



"Akh ..." Fadil memekik kesakitan.



Lutut belakang Fadil ditendang. Fadil jatuh berlutut. Kemudian, lengan kekar perempuan itu menarik lehernya ke belakang. Membuatnya tercekik. Sial, batin Fadil. Tubuhnya terkunci.


__ADS_1


Kuat sekali. Apa dia bisa lepas?


__ADS_2