
"Ada apa itu, Ki?" tanya Fadil heran. Demokah?
"Entah, Kak. Aku juga tidak tahu."
Suara sorakan itu semakin keras dan keras. Arahnya menuju ke gym tempat mereka. Kemudian, pintu utama gym terbuka. Tara, teman seangkatan Kiki, berlari cepat ke arah mereka dengan wajah berseri-seri. "Kak Fadil! Kak Fadil!" teriaknya sampai suaranya menggema di ruangan itu. Di belakan Tara, hampir seluruh mahasiswa ikut menyoraki nama Fadil. Tentu saja itu semua membuat Fadil bingung. Ada apa ini? Kenapa mereka menyorakiku? tanya Fadil dalam hati. Apa mereka melihat pertandingan tadi? Mana mungkin, ya, kan?
Tapi, begitu melihat wajah Fadil yang penuh darah dan keringat, sorakan semua orang berhenti. Semua yang ada di gym saling terkejut. "Eh?" Tara terkejut melihat wajah Fadil yang penuh darah dan keringat. "Kenapa, ini, Kak?"
"Kak Fadil terluka, seperti yang kau lihat," ujar Kiki masih dengan raut wajah bingung. "seharusnya kami yang bertanya, ada apa ini sebenarnya?"
Mata Tara jelalatan melihat di belakang Kiki dan Fadil. Mata itu menangkap wajah Pak Wibowo dan Saga (kru Elang) sedang mengobati Elang. "Kak Fadil habis berkelahi?" tanya Tara lagi.
"Eh, ditanya malah tanya balik," balas Kiki geram.
Tara nyengir. Menggaruk kepalanya. Kemudian, ujung bibirnya saling tertarik ke atas. Senyum. "Selamat, Kak Fadil! KAKAK MENANG LOTRE HADIAH UTAMA!!!"
"Apa maksudnya?" tanya Fadil mengerling ke arah Kiki yang tadi dia serahi untuk memerhatikan KTP-nya juga. Bukannya sekarang Kiki ada di sini?
Kiki nyengir. "Maaf, Kak. Tadi karena Kakak tidak cepat kembali, aku menitipkan KTP Kakak ke Tara."
"Ya, dan tepat setelah itu, pengumuman hadiah utama. Nomor Kakak cocok seratus persen dengan nomor pemenang," tambah Tara masih tersenyum lebar.
"Jadi, aku menang, nih!" tanya Fadil masih belum yakin.
Tara dan orang-orang di belakangnya mengangguk. Seketika juga, Fadil tersenyum. Di susul dengan pelukan senang yang tadi menyorakinya. Membuat tubuhnya kini terjepit.
"Fadil! Fadil! Fadil!" Sorakan kembali menggema di gym. Kali ini benar-benar keras. Fadil tersenyum senang. Dia tadi berhasil mengalahkan Elang. Sekarang, dia menang lotre? Hati Fadil serasa melayang.
"Fadil! Fadil! Fadil!"
Seandainya tubuh Fadil tidak terluka, mereka pasti akan mengangkat tubuhnya. Tapi, dalam keadaan seperti ini, Fadil malah dipapah menuju kamarnya. Tapi, itu yang terbaik untuknya sekarang.
***
"Terima kasih, ya, Ki," ujar Fadil setelah menyelesaikan bahunya yang patah. Lukanya juga sudah di obati. Menyisakan lingkaran-lingkaran lebam di wajahnya. Sekarang, wajahnya sangat mirip dengan macan tutul.
__ADS_1
"Kakak, seperti siapa saja."
Fadil tertawa. "Eh ... Aku masih belum percaya kalau aku menang."
Kiki ikut tertawa. "Oh iya. Kakak berangkat besok, kan?"
Fadil mengangguk. "Ya, tadi operatornya bilang begitu." Fadil mengingat kejadian tadi, setelah bersalaman dengan ratusan mahasiswa, tentu saja dengan tangan kirinya, dia langsung ke kamar dan menelpon operator penyelenggara undian. Karena pemenang harus mengonfirmasikan nomornya. Besok akan ada mobil yang akan menjemputnya tepat pukul tujuh. Huh, dia sudah tidak sabar. Pihak sekolah juga telah mengizinkannya. Lagi pula, kurang dua hari lagi, sekolah diliburkan. Mahasiswa yang lulus juga baru bulan depan pelantikan. Tak ada alasan untuk menahan Fadil ke Hotel Hastungkara. Mengingat STIN merupakan sekolah yang ketat.
"Kalau begitu, Kakak harus membereskan barang-barang, Kakak, sekarang juga."
"Besok pagi saja. Aku capek."
Kiki tak memedulikan Fadil. Dia sudah melangkah ke almari. Mengambil koper besar di atas almari. "Uh, koper ini kotor sekali," kata Kiki meniup permukaan koper. Seketika debunya semburat ke wajahnya. Membuatnya bersin-bersin. "Hatchi ... hatchi. Parah sekali."
Fadil tertawa. "Sudah kubilang besok saja, Bandel."
"Orang yang menunda pekerjaan lebih parah lagi."
Fadil terkikik mendengar sindiran Kiki. "Ok, deh. Sekarang juga aku siapkan." Fadil turun dari kasurnya. "Maklum, sudah empat tahun tidak pernah kubersihkan. Kamu lap saja sebentar. Nanti juga mengkilat lagi."
Fadil mengambil semua bajunya yang ada. Karena dia tidak akan kembali tahun depan. Bisa dibilang, ini malam terakhirnya di kamarnya ini. Sudah empat tahun dia tinggal di sini. Sayang juga. Tapi, Hotel Hastungkara berkali lipat lebih baik dari tempat ini.
"Ini, Kak. Sudah bersih." Kiki menaruh koper itu terbuka di dekat almari.
Fadil memindahkan pakaian dan barangnya segera. Menumpuknya rapi di dalam koper. Dia hanya mensakan pkin untuk besok.
"Eh ... Kak? Kakak tidak membawa batako ini?" tanya Kiki setelah Fadil menutup kopernya.
"Memangnya tanganku bakal copot di sana? Pelayanannya, kan sangat tinggi. Aku nggak bakalan angkat berat."
"Ya, buat jaga-jaga." Kiki meyakinkan.
Fadil mengangguk. "Baik. Aku akan membawanya."
Dalam hati dia berpikir, akan terjadi apa, sih, disana?
__ADS_1
***
Esoknya, mobil Tarantula, jenis mobil limosin yang khusus di buat di Indonesia, jemputan dari Hotel Hastungkara terparkir jelas di parkiran. Semua mahasiswa memandanginya, takjub. Kiki di layani seperti raja dari sebuah kerajaan Eropa. Kopernya dibawakan oleh sopirnya. Pintunya juga dibukakan. Wajah Fadil seketika disapu oleh AC yang aromanya manis.
Setelah si Sopir kembali di depan kemudi, mobilpun perlahan bergerak. Halus, lembut, tanpa goncongan yang tidak menyenangkan. Fadil membuka jendela mobilnya. Melihat lingkungan yang sudah nyaman di matanya selama empat tahun terakhir. Terakhir juga melihat Kiki. Saat perpisahan tadi, Kiki memeluknya lama sekali.
"Hati-hati, ya, Kak?" kata Kiki menahan tangis.
"Pasti, Ki. Kamu juga, hati-hati."
"Kalau ada apa-apa langsung telepon aku, lho."
"Pasti."
"Nanti kita akan ketemu lagi, kan?"
Fadil mengangguk. "Pelantikan bulan depan kita akan bertemu lagi."
Berpisah dengan sahabat memang sangat sulit.
Mobil Tarantula itu sudah keluar dari rimbunnya lingkungan sekolah. Pemandangannya berganti dengan jajaran toko-toko dan bangunan rumah di kanan kiri jalan. Fadil menikmati semua itu. Meski secuil hatinya masih tertinggal di belakang.
Perjalanan itu tidak bisa dibilang membosankan. Karena segala fasilitas ada di dalam mobil itu. Mulai dari DVD, radio, televisi, sampai kamar mandi ada di sana. Selain itu, makanan dan minuman tersedia di meja kecil di depan dia duduk. Rasanya seperti bukan di mobil, batinnya. Ini lebih mirip seperti ruangan kecil yang mewah. Fadil tak bisa membayangkan Hotel Hastungkara nantinya. Mobil jemputannya saja semewah ini, apalagi hotelnya nanti.
Sopir jemputannya juga ramah. Dia menceritakan banyak hal pada Fadil. Sesekali di selingi dengan bercanda yang membuatnya tertawa lepas. Menurut cerintanya, sopir itu, dulunya mantan pembalap profesional. Tapi, sejak dirinya dilarang oleh isterinya setelah menikah, dia terpaksa jadi sopir di Hotel Hastungkara.
Fadil sama sekali tidak bisa bosan. Karena kalau dia jenuh melihat suasana mobil, dia tinggal melihat keluar jendela. Menyaksikan indahnya tatanan kota. Bangunan tinggi yang berbentuk macam-macam. Air mancur. Patung monumen. Juga aneka taman yang indah yang penuh bunga.
Indonesia benar-benar telah berubah, batinnya. Karena novel lawas yang sudah banyak dia baca tidak ada yang menggambarkan hal seindah ini. Tak ada satu pun. Catatan sejarah juga menggambarkan demikian. Dia tak sanggup membayangkan dirinya hidup di zaman sebelum keindahan ini ada.
"Dek, sudah sampai," kata Pak Danu, nama sopir itu.
Fadil membuka matanya. Rupanya dia ketiduran. "Maaf, Pak. Kenapa?"
"Sudah sampai."
Fadil terkejut setengah menyesal karena melewatkan banyak pemandangan. Tapi, penyesalannya menjadi tak berarti setelah keluar dari mobil itu. Karena matanya sudah penuh dengan pemandangan luar hotel yang sangat mewah. Tak kalah menakjubknnya, Hotel Hastungkara kini sudah di hadapan matanya. Menjulang tinggi menyentuh awan. Membuat mulutnya menganga takjub.
__ADS_1
"Nah, Dek. Selamat datang di Hotel Hastungkara." Sambut Pak Danu yang menyeret kopernya.