Blokade Hotel Hastungkara

Blokade Hotel Hastungkara
Episode 5.2 : Lampu Mati


__ADS_3

Kedua teman masa lalunya kini di depan matanya. Seketika tanganya merasa berdenyut. Fadil benci melihat mereka berdua.



"Ehm ... boleh kami masuk?" tanya Damar setelah saling terdiam satu sama lain.



Fadil membuka pintunya lebih lebar lagi. Kepalanya masih menunduk. Dia berusah meredam emosinya yang kini tengah berkecamuk seperti badai.



Fadil sudah menebaknya sejak tadi. Wira pasti langsung mengecek daftar nama di resepsionis setelah mencurigai kalau Fadil ada di hotel ini. Setelah menemukan nama Fadil dan kamarnya, Wira mengajak Damar menuju ke kamar Fadil. Ada hal yang seharusnya mereka bicarakan sejak lama.



"Wah, kamu sudah jadi kaya, ya? Bisa menginap di hotel mewh seperti ini," kata Wira berusaha melonggarkan suasana canggung ini.



"Tidak, kok," sahut Fadil pelan "aku menang lotre."



Mereka tidak terlalu terkejut mendengarnya. Mungkin telah banyak berita yang lebih super duper yang meraka temukan setelah masuk sebagai agen lapangn. Jadi, kemenangan lotre seperti ini tidak terlalu menarik.



"Oh, jadi kamu yang menang?" tanggap Damar. Wira menyikut Damar yang hanya menanggapi seperti itu. "Eh, maksudku wah. Hebat. Selamat, Dil!"



Fadil menghela napas. Kemudian, berkata tajam "Mungkin menang lotre memang tidak menarik. Jadi, jangan memaksakan diri untuk terkejut seperti itu."



"Ka-kamu masih marah, ya, Dil?" tanya Wira serius.



"Sedikit." Fadil memalingkn wajahnya.



"Itu, kan sudah lama, Dil. Jangan diingat terus, dong," sahut Damar.



Kali ini kepala Fadil benar-benar mendidih, dengan suara lebih keras dia membalas, "Apa kau bilang?! Ha?! Kau pikir aku bisa lupa jika tanganku ini sering lepas?!"



Tangan Wira menghalangi Fadil untuk mendekati Damar. "Dil, tenangkan dirimu?"



"M-maaf. Aku salah," kata Damar menunduk.



Fadil menepis tangan Wira. "Sekarang kalian baru mau minta maaf. Setahun lalu, setelah aku keluar dari rumah sakit, kenapa kalian tidak meminta maaf?"



"Ka-kami takut, Dil. Kami ..."



Ucapan Wira dipotong Fadil, "Sekarang kalian tidak takut lagi? Kalian pikir aku bisa memaafkan kalian setelah menghancurkan mimpiku?"



"Kau benar. Kami memang salah. Kami minta maaf."



"Mungkin disini aku yang paling bersalah, aku benar-benar menyesal dan minta maaf padamu," tambah Damar.



Fadil tidak menjawab. Dia belum bisa memaafkan kedua temannya. Hatinya terlalu sakit.



"Oke, kalau begitu. Sebutkan permintaanmu, agar kami bisa dimaafkan. Kamu mau potong tangan kami? Silakan?"



Fadil terdiam. Mereka benar-benar serius. Ya, mungkin memotong tangan mereka akan jadi balasan yang setimpal. Tapi, apa seperti itu sahabat? Saling balas jika salah satu penah tersakiti? Apa ini yang disebut persahabatan? Biar bagaimanapun, mereka telah melalui banyak hal bersama selama beberapa tahun. Tapi, kejadian itu tak bisa dia maafkan. Fadil mendekati mereka berdua. Memberikan pukulan tangan kirinya yang mematikan.



Bug!



Bug!



"Bodoh. Bodoh. Bodoh."



Fadil langsung memeluk keduanya yang mengernyit kesakitan akibat pukulannya. "Kalian bodoh. Aku memaafkan kalian. Aku memaafkan kalian."

__ADS_1



Wira dan Damar tak mengerti akan perubahan temannya yang begitu drastis. Apalagi pukulan kilat Fadil tadi masih mengejutkan mereka. "Dari dulu, hanya itu yang ingin kudengar dari kalian. Aku ..."



Air mata menitik perlahan di mata mereka. "Sungguh?" Wira belum percaya akan semudah ini. Apa benar dari dulu, Fadil hanya menginginkan ucapan minta maaf? Bisa saja dia menuntut dirinya dan Damar ke polisi.



"Kau pikir ini akting?"



"Kami benar-benar menyesal." Damar mengeratkan pelukan.



"Betul." Wira menyetujui.



Sudah hampir setahun mereka tidak bertemu karena tragedi yang menyebabkan persahabatan mereka rekah. Kini bertemu dengan saling memaafkan adalah momen yang berharga.



"Terima kasih, Dil. Kami pikir kamu tidak akan memaafkan kami selamanya."



Fadil melepaskan pelukannya. "Kita, kan sahabat. Mana mungkin aku tidak bisa memaafkan kalian."



Damar dan Wira tersenyum.



"Eh? Maaf, ya. Aku memukul kalian."



Keduanya tersenyum kecut. Karena pukulan itu benar-benar sakit. "Pukulanmu sangat keras, Dil. Lain kali kalau memukulku, kira-kira, ya."



Fadil tertawa. "Eh, kalian, kan, agen lapangan. Bagaimana pekerjaan kalian?" Fadil mengubah topik yang lebih menyenangkan untuknya.



Wira terkekeh. "Tak terlalu menarik. Kita selalu hampir mati, hehe."



Tiba-tiba ada panggilan masuk dari handphone Damar. "Sebentar, ada telepon."




Damar mengangkatnya dibalkon.



"Oh, iya, Wir. Kalian kenapa ke sini? Ada tugas, kah?"



Wira mengangguk. "Kami hanya disuruh menjaga presiden."



"Lho, kenapa kalian malah di sini?"



Wira tertawa nakal. "Kami menyelinap sebentar."



Fadil ikut tertawa. "Kamu sama seperti dulu, ya."



Pembicaraan mereka terhenti. Damar memberi isyarat pada Wira untuk segera pergi. "Kita harus pergi sekarang." Wajah Damar memucat. Wajah Wira juga ikut memucat.



"Dil, kami pergi dulu."



Fadil yang masih bingung hanya mengangguk.



"Dil, hati-hati, ya?" bisik Wira sebelum beranjak dan mengikuti Damar keluar kamarnya.



Fadil masih bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa wajah mereka pucat? Dan apa maksud perkataan Wira bahwa dirinya harus hati-hati? Apa mungkin ada yang terjadi di pesta?



Entah kenapa perasaan Fadil menjadi tak enak lagi. Dia cemas dengan sendirinya. Karena khawatir ada apa-apa dia menelpon Rasya.

__ADS_1



"Sya, apa di sana baik-baik saja?" Tanya Fadil setelah telepon mereka saling terhubung. Kemarin, Rasya telah membelikannya pulsa.



"Y-yaa, baik-baik saja. Hanya tambah ramai saja. Memang kenapa, Dil?"



"Tidak, perasaanku tiba-tiba saja tidak enak."



"M-mau kuantarkan sesuatu?"



"Tidak. Bisa kamu perhatikan semua orang yang ada di sana?"



"B-bisa."



"Apakah ada yang mencurigakan?"



Rasya memutus hubungan. Dia tidak bisa mengamti lebih dekat jika sambil menerima telepon. Dia mengambil senampan gorengan, berpura-pura mengantarkannya ke sana. Sementara, matanya mengawasi kanan kiri. Memperhatikan bila ada yang mencurigakan. Ehm ... Sepertinya semuanya baik-baik saja. Tapi, presiden kok tidak segera datang, ya? Batin Rasya. Padahal saat itu sudah jam sembilan malam.



Bruk!



Rasya menabrak pinggir meja. Nampan yang di bawahnya tumpah. Dia segera membereskannya. Yah, sepertinya hanya itu yang aneh. Rasya berbalik.



Bruk!



Sekali lagi napannya jatuh, gorengannya berceceran. Kali ini mengenai seorang pria besar. "Eh ... M-maaf, Pak. Saya tidak sengaja."



Rasya berjongkok membereskan lagi. Orang itu ikut berjongkok, "Aduh!" Pekiknya tiba-tiba.



"K-kenapa, Pak?"



"Tidak ada apa-apa?"



"S-saya bisa membereskannya sendiri, kok, Pak. Terima kasih sebelumnya."



Pria itu tertawa, "Mungkin aku sudah tua."



Pria itu berlalu.



Rasya hanya tersenyum. Tapi, senyumnya tiba-tiba menghilang. Matanya menangkap sesuatu yang diselipkan orang itu di punggungnya. Sebuah senjata laras panjang. Bukankah senjata dinas saat ini hanya pistol revolver biasa? Tapi, ...



Tiba-tiba semuanya gelap.



***



Pikiran Fadil berkecamuk lagi. Dia masih menunggu laporan dari Rasya. Menilik dari seberapa lama dia menunggu, Fadil semakin yakin, ada sesuatu yang sedang terjadi di hotel saat ini. Apa jangan-jangan kedatangan presiden soal melihat perkembangan penelitian itu hanya pengalihan? Wira dan Damar juga di sini, kan? Mereka disuruh mengawal presiden, kan? Mengawal dari apa? Hotel ini sudah memiliki pertahanan yang cukup jika hanya untuk melindungi presiden saja.



Tiba-tiba semuanya gelap.



Lampu padam seketika.



Pintu kamarnya menjeblak seketika.



Seseorang berdiri di depan pintu. Tangannya membawa senjata laras panjang.


__ADS_1


Fadil masih bingung. Tapi, satu pertanyaan terjawab. Inilah yang dimaksud Wira agar dirinya berhati-hati.


__ADS_2