Blokade Hotel Hastungkara

Blokade Hotel Hastungkara
Episode 2.2 : Tantangan


__ADS_3

Pertandingan tinju dilaksanakan alakadarnya. Pak Wibowo sebagai wasit merangkap sebagai juri. Kiki sebagai kru Fadil merangkap sebagai pemukul gong. Sementara, si pengadu itu sebagai kru Elang.



Setelah satu sama lain saling bersiap dengan boxer dan sarung tinju mereka. "Kakak yakin, nih?" Tanya Kiki di persiapan terakhir.



"Aku harus memberinya pelajaran berharga hari ini," jawab Fadil berapi-api sambil melakukan pemanasan terakhir. Tatapannya tak sekalipun terlepas dari wajah Elang yang cengar-cengir tidak jelas.



Kiki menghela napas pasrah. Dia sudah tidak bisa mengubah pemikiran seniornya. Sekarang yang bisa dia lakukan hanyalah mendukung apa yang dia lakukan saat ini. Ya, dia harus berguna dalam keadaan ini.



Ronde pertama pun dilamulai setelah gong berbunyi. Tanpa pikir panjang, Fadil mengirim pukulan kuat pada Elang. Tentu saja itu terlalu dini. Elang sudah siap dengan tameng dua tangannya. "Pukulanmu sangat pelan, lho," ejek Elang.



Fadil terpancing dan mengirim pukulan lebih banyak lagi. "Sialan, kau!" teriaknya, tak henti mengirim pukulan bertubi. Sayangnya semua itu sia-sia. Elang dengan mudah melewatinya. Tentu saja, sebenarnya Elang sering tanding tinju di luar sekolah, jadi dia memiliki banyak pengalaman tinju dari sana. Tapi, Fadil tak mengetahui itu. Dia lebih termakan omongan Elang. Padahal, asal kalian tahu, satu kali pukulan tinju memerlukan banyak tenaga yang besar. Karena sarung tinju itu sebenarnya sangat kuat. Jadi, ketika main tinju, seharusnya mengeluarkan pukulan sedikit yang berkualitas agar stamina tetap terjaga. Mungkin itulah yang disebut strategi.



Beberapa menit telah berlalu, ronde pertama segera berakhir. Fadil sangat lelah. Tangannya pegal-pegal, apa lagi tangan kanannya yang belum sembuh total, kini terasa sakit. "Kenapa? Sudah capek?" ejek Elang terus-terusan. Sekali lagi, Fadil mengirim pukulan bertubi. Karena sudah lelah, tangannya hanya memukul udara. Elang tertawa, "Sudah cukup?" tanya Elang mengejek.



Fadil yang kelelahan tak mendengar dengan jelas. "Kalau begitu, giliranku?" kata Elang. Dengan kekuatan yang masih penuh, Elang melayangkan pukulannya. Tapi, sebelum mengenai kepala Fadil, gong berbunyi tiga kali. Ronde pertama berakhir. Alhasil, pukulan itu terhenti di udara.



Fadil kembali ke tempatnya dengan terhuyung. Kiki segera memberikan tambahan oksigen. "Kak, dengar!" bisik Kiki.



Fadil hanya melirikkan matanya. Wajahnya terlihat kepayahan, napasnya kembang kempis, dan jantungnya berdetak kesetanan.



"Jika, Kakak bertarung seperti tadi, aku yakin Elang bisa menang dengan mudah."



Fadil masih menghirup oksigennya. Tapi, dia mengerti. Kiki benar, pikirnya. Lihatlah, di sudut sebrang, Elang masih segar bugar, staminanya masih penuh. Sementara dirinya telah kepayahan, kehilangan banyak tenaga. Kalau dipikir lagi, Elang sama sekali belum mengeluarkan pukulannya, atau setidaknya hampir sekali di akhir tadi.



"Kak, Kakak mendengar aku!" tanya Kiki meninggikan suaranya.



Fadil melepaskan penutup oksigennya. Dia rasa sudah cukup. Napasnya tidak seburuk tadi. "Ha-ha ... Aku dengar, kok," jawab Fadil berusaha tersenyum. "terima kasih, Ki. Emosiku lepas tadi."



Kiki membalas senyum itu. "Sama-sama, Kak. Nih, minum dulu." Menyerahkan sebotol air mineral yang langsung diteguk habis oleh Fadil.



Gong kembali berdentang tiga kali dan ronde kedua pun dimulai.



Fadil memasang kuda-kuda. Di sisi lain Elang, masih dengan wajah cengar-cengirnya, mulai mengejek lagi, "Kenapa tidak menyerang? Capek?"



Amarah Fadil perlahan kembali mengalir. Tapi, di luar ring, Kiki mengingatkan, "Ingat omonganku tadi, Kak!?"



Fadil mengangguk samar.



"Kalau begitu, aku akan serius sekarang," kata Elang tersenyum.



Fadil bersiap dengan tamengnya, memperhatikan setiap gerakan lawan.



Elang mengirim pukulan pertamanya, lalu yang kedua, ketiga, dst...



Pertahanan Fadil tak bisa bertahan lama, dia kehilangan banyak stamina. Sementara, pukulan Elang benar-benar kuat. Membuat Fadil kesakitan. Tapi, tunggu! Fadil memelajari sesuatu, semua pukulan Elang terfokus pada satu titik, bahu kanan Fadil.



Bug!



Akhirnya sebuah pukulan Elang berhasil menembus pertahanan Fadil. Pukulan itu meleset ke dada Fadil. Elang mengirim pukulan lagi. Fadil menunduk menghindar. Tapi, gerakan itu sudah terbaca, sehingga Elang sudah mengirim pukulan ke atas mengenai dagu Fadil ditambah pukulan di perut dan di akhiri pukulan keras di bahu kanan Fadil.



Krek!



"Kak Fadil!" pekik Kiki di luar ring.

__ADS_1



Tidak, bahu Fadil belum copot, tapi nyaris. Butuh satu sentakan lagi untuk mencopotkannya. Biar bagaimanapun, bahunya tetap saja sakit. Tapi, dia tak mau sampai lawanya mengetahuinya. Karena jika lawannya tahu, lawannya akan mengalihfokuskan serangan. Itu hanya akan mempersulit dirinya. Jadi, saat tubuh Fadil terhempas ke belakang, dia menggigit bibir bawanya kuat-kuat.



"Sudah selesai?" tanya Elang puas.



Fadil berusaha menjawab dengan suara biasa, "Tentu saja belum." Dia bangkit lagi dan menyiapkan kuda-kudanya. Sendi pelurunya berderak seperti pintu tua. Tapi, itu tak meruntuhkan semangat Fadil. Dia optimis untuk menang. Dia sudah berkata kalau akan memberi pelajaran pada Elang hari ini.



Elang menyerang lagi. Fadil menghindar. Untuk saat ini dia tidak berpikir untuk menyerang. Dia mengumpulkan tenaga di tangan kirinya. Toh, ronde kedua akan segera berakhir.



Elang mengirim pukulan berantai. Fadil menghindari dengan mudah karena tahu apa yang diincar lawannya. Tapi, tak disangka sebuah pukulan tiba-tiba mengincar perutnya. Fadil mengarahkan tangan kirinya di sana. Namun, itu ternyata hanya sebuah tipuan, pukulan Elang berbelok ke sasaran utamanya.



Bug!



KRAK!



Kali ini, bahu Fadil benar-benar copot.



Bug!



Pukulan keras menghantam perutnya.



Bug!



Pukulan keras menghantam wajahnya.



Pukulan Elang yang terakhir terhenti lagi oleh suara gong yang berdentang. Ronde kedua berakhir



"Tangan Kakak, tidak apa-apa?" Tanya Kiki khawatir.




Kiki menyerahkannya. Tangan kanan Fadil bergetar hebat. Dia tak bisa menggerakkannya. Botol itu terjatuh, dan airnya menggenang di sekitar. "Sebaiknya, Kakak berhenti saja. Ini sudah batas, Kakak," kata Kiki mengingatkan.



"Enggak, Ki. Aku tidak mau kalau harus berhenti seperti ini. Ambilkan air lagi sana," jawab Fadil ketus.



Kali ini, Fadil menerimanya dengan tangan kiri. Meneguknya setengah.



Kiki memperhatikan seniornya dengan cemas. Dia berpikir kalau seniornya ini benat-benar bodoh.



Ronde ketiga dimulai.



Fadil dan Elang sama-sama memasang kuda-kuda. Berputar di ring, menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Meski cukup lama, mereka melakukan hal itu, akhirnya Elang menyerang lebih dulu dengan pukulan gandanya. Fadil menunduk menghindar. Kemudian, dia menyadari sesuatu. Celah. Perut Elang terbuka lebar. Hal itu membuatnya lengah sehingga Elang mengenai wajahnya.



Bug!



Pukulan kedua berhasil dikirim dan mengenai pipi Fadil.



Yang ketiga mengenai rahangnya.



Keempat, perut.



Kelima, perut.



Perut lagi dan lagi hingga sebuah cairan muncrat dari mulut Fadil.

__ADS_1



Tubuh Fadil menghantam lantai ring dengan kuat.



"Satu,..." Pak Wibowo mulai menghitung.



"Dua,..."



Fadil belum menyerah. Dia bangkit dengan terhuyung-huyung.



"Apa, hah? Jurus mabuk? Iya?" ejek Elang. Kemudian, dia mengirim pukulan ganda lagi. Itulah yang ditunggu Fadil. Dia tahu celahna sekarang. Fadil langsung mengirim pukulan ke perut Elang.



Bug!



Fadil menambah pukulan lagi dan serangan balik pun dimulai.



Bug!



Sebuah pukulan tangan kiri Fadil mengenai wajah Elang.



Ya, menyerang kepala lebih efektif dibanding menyerang perut.



Bug!



Satu lagi pukulan. Elang tak bisa berkutik. Satu lagi. Satu lagi. Lagi. Lagi. Lagi.



Kini Fadil bisa melihat darah mengucur di wajah Elang yang berjerawat. Kemudian, pukulan pamungkasnya. Dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya di tangan kirinya dan memukul wajah Elang sekuat-kuatnya.



Bug!



Tubuh Elang roboh. Menghantam lantai ring dengan keras.



"Satu,..." Pak Wibowo mulai menghitung lagi.



"Dua ... Tiga."



Gong berbunyi tiga kali. Permainan selesai, Fadil menjadi pemenangnya.



Kru Elang langsung masuk ke ring. Dia langsung membantu Elang. Kiki juga ikut masuk ring karena tubuh Fadil hampir roboh. Jadi, Kiki memapahnya.



"Tidak apa-apa, kok, Ki. Aku baik-baik saja," kata Fadil tersenyum penuh kemenangan.



"Selamat, Kakak menang."



Fadil tersenyum lagi.



"Hei, tadi aku cuma main-main tahu," kata Elang tidak terima dengan kekalahannya.



"Kau tahu apa yang lucu?" tanya Fadil tersenyum mengejek. "kau baru saja dikalahkan olehku dengan satu tangan saja."



Kiki ikut tertawa. "Sudah, Kak. Ayo kembali. Urusan kita di sini sudah selesai."



Fadil menganngguk. "Ya. Sudah selesai."


__ADS_1


Tiba-tiba telinga semua orang di gym mendengar keributan dari luar ruangan. Suara sorakan yang sangat ramai oleh banyak orang. Fadil dan Kiki saling pandang. Dalam hati mereka bertanya-tanya, ada apa ini?


__ADS_2