Blokade Hotel Hastungkara

Blokade Hotel Hastungkara
Episode 7.1 : Lorong Dua Ujung


__ADS_3

Dari luar terdengar banyak gerombolan orang-orang yang mendekat. Fadil memastikan pelurunya sudah penuh. Ini sangat berbeda dari latihan tembak sebelumnya. Meski dia pandai mengenai sasaran, baik yang tidak bergerak maupun yang bergerak. Tapi, sasarannya kali ini bukan sasaran biasa. Mereka semua manusia. Sama seperti dirinya.



Fadil meminggirkan laci yang tadi dia but untuk menghalangi.



"Hanya kamar ini yang belum di periksa," kata seseorang di luar sana dengan suara tegas.



"Ya, kamar kuadran 1 sudah di pastikan aman."



"Kuadran 2 juga aman."



"Kuadran 4 juga aman."



"Ya, di kuadran 3, ini kamar terakhir."



"Semua! Bersiap."



Terdengar suara senapan-senapan dengan bunyi. Ceklek.



Fadil menelan ludahnya. Mereka mendekat. "Nin, tetap di belakangku. Apapun yang terjadi ..."


"Hei, kau jangan menakutiku, ya. Aku tak takut untuk menendang itumu," sahut Nina ketus.


Fadil tertawa kecut. Dia menunduk, berdoa. Memejamkan mata seraya menghitung jarak langkah yang mendekat. "Satu...


"Dua...



"Tiga!"



Dor! Dor! Dor!



"Aaa!" Nina menjerit ketakutan.



Beberapa peluru lolos masuk ke kamar menembus pintu kayu. Beberapa lubang terlihat di sana.


Mendengar teriakan Nina, para teroris yang berada di luar langsung menjeblak pintu masuk. Fadil yang siap di belakang laci yang di letakkan tepat di depan pintu melumpuhkan 3 orang yang masuk terlebih dulu ke dalam kamar. Dua tepat mengenai jantung. Yang satu lagi tak sengaja mengenai kepalanya. Darah menciprat di dinding kamar. Fadil ngeri melihatnya. Tapi, dia berusaha kuat. Dia tak mau mati di sini.



Dua orang lagi yang hendak masuk segera mundur. Menembak dari balik dinding.


Dor! Dor! Dor!



Fadil membalas tembakkan itu.



Dor! Dor! Dor!



Sial bagi sebuah kepala yang tak sengaja mengintip. Sebuah peluru masuk ke dalam matanya.



"Jika begini, dia yang di untungkan," kata seseorang di antara mereka.



Seseorang dari mereka mengambil sebuah granat tangan dari kantongnya. Melepaskan pengammannya. Yang lainnya mengangguk, mundur. Menjauh.


Fadil yang merasa aneh ketika tak ada serangan lagi, meninggikan kepalannya sedikit. Saat itu matanya menangkap sebuah benda yang mirip bola terlempar ke arah mereka. "Oh, sial!" Fadil langsung menangkup tubuh Nina. Lalu mendorong tubuhnya tiarap menjauh dari titik jatuh granat.


Bom!



Granat itu meledak. Laci tadi berhamburan menjadi serpihan-serpihan kayu kecil. Separuh kamar tersebut terbakar.



Punggung Fadil terasa terbakar karena terkena paparan bom tersebut. Tapi, jelas punggungnya baik-baik saja. Setelan anti pelurunya saja yang rusak. "Oh sialan." Dia mengumpat lagi ketika merasakan panas yang menyengat dari punggungnya meski memakai setelan ant peluru.


Nina terbatuk. Saat menyadari Fadil menindih tubuhnya lagi, dia langsung menendang Fadil. "Kau pikir apa, hah? Menindih orang seenaknya. Dasar mesum!"



"Kau tidak tahu. Kita hampir saja..."



Dor! Dor! Dor!



Fadil menembak ke belakang, dua orang jatuh terkapar.



"Mati," lanjutnya.

__ADS_1



Nina tak membalas. Dia membuang muka.


Daya ledak granat itu sangat kecil. Tapi efeknya benar-benar luar biasa. Laci yang dia gunakan sebagai tameng tadi telah hancur berkeping-keping. Bagian bawah kasur juga habis separo. Fadil tak bisa membayangkan jika dia terkena ledakan itu.



"Ayo pergi!" ajak Fadil akhirnya. Lawannya sepertinya melarikan diri. Bukan, mereka pasti mencari bantuan. Dia harus cepat menemukan Rasya. Lalu, keluar dari hotel sialan ini.


Nina yang masih sebal, terpaksa berdiri. Mengikuti langkah Fadil.



Mereka kembali di lorong hotel. Kali ini benar-benar sepi. Tapi, tetap saja Fadil masih toleh kanan kiri. Was-was terhadap keadaan sekitar.


Akhirnya mereka sampai di lift. "Kita lewat tangga saja," usul Fadil. Lift ini terlihat tidak aman. Banyak darah menggenang di sekitarnya.


"Kakiku capek, tahu," keluh Nina mengurut kakinya.



Fadil tidak tahu harus bagaimana. Jujur dia sedikit menyesal menyelamatkan perempuan itu. Andai saja sebelumnya dia tahu bakal begini. "Kalau kamu mau segera ditembak silakan saja," ujarnya ketus.



"Oke, aku menurut. Terima kasih juga untuk yang tadi."



Fadil mengangguk. Perempuan aneh, pikirnya. Biar dia judes, dia selalu berterima kasih padanya.


Mereka kembali berjalan. Fadil memimpin. Nina berlarian kecil untuk menjajari langkah Fadil yang lebar-lebar.



Dert! Dert! Dert!



Handphone Fadil berbunyi. Ada panggilan dari Rasya. Tanpa menunggu, Fadil langsung mengangkatnya. "D-Dil, kamu tidak apa-apa?" tanya Rasya terdengar panik.


"Siapa?" tanya Nina disebelah Fadil.



Fadil melambaaikan tangannya, mengisyaratkan agar Nina diam dulu. "Seharusnya aku yang tanya begitu, apa kau baik-baik saja?"



"A-aku? Yah, aku masih hidup. Banyak orang bersenjata di sini."



Fadil melirik kanan kiri. Memastikan ... Astaga, jantungnya berdenyut lagi. Di sebrang lorong, seorang teroris melihat Fadil kaget. Kemudian, teroris itu berteriak, "Di sana? Mereka ada di sana." Tanganna tak berhenti menunjuk.


"Dil, mereka datang."



Fadil mencari celah. Ya, ampun. Mereka terjebak. Ini lorong dua ujung. Tidak ada belokan lagi. Sial.



"Shit." Fadil mengumpat kesal. Dia memberikan handphonnya pada Nina. "Pegang ini. Jangan sampai putus. Dan tetap di belakangku.


Dor! Dor! Dor!



Setidaknya ada lima orang yang menembak secara acak di depannya. Nina jongkok di belakang kaki Fadil. Dia menutup telingannya karena takut. "H-halo, Dil? Jawab?"



"Sialan, kau!" umpat Nina melampiaskan kemarahannya pada Rasya.



Fadil tak bisa memedulikan itu. Dia terlalu fokus dengan sasaran tembaknya.


Dor! Dor! Dor!



Suara tembakan yang bersahutan memantul di lorong tersebut. Membuat telinga mereka benar-benar cumpleng. "Kita lari, Nin! Lari!"


Fadil mendorong Nina untuk berlari. Karena jika terus begini, mereka akan mati.


Nina berlari sempoyongan. Fadil berlari mundur sambil menembaki musuh.



Dor! Dor! Dor!



Tumbang satu.



Ceklek!



Pelurunya habis. Fadil berhenti sebentar, mengisi pelurunya. Sementara, tubuhnya menari menghindari peluru. "Nin, tiarap!" teriak Fadil setiap ada peluru yang meluncur.



Dor! Dor! Dor!



Tiga tumbang.



"Dil, ada sesuatu yang ingin temanmu bcarakan padamu," kata Nina.

__ADS_1



Fadil yang geram dengan cewek itu, membentak, "Kau tak lihat sedang apa aku?"



Dor!



"Shit!" Fadil lebih sering mengumpat sekarang. Musuh terakhirnya ini sangat pandai menghindar.



"Dil, dia tak punya waktu."



"Shit, laudspekernya nyalakan."



Fadil mengisi pelurunya lagi saat lawannya juga mengisi peluru, jarak mereka masih belasan meter.



"Sya, apa yang ingin kamu bicarakan?!" teriak Fadil kesal.



"K-kalau aku mengganggu tidak jadi, deh."



"Jangan membuang waktu, Sya? Katakan saja!"



Ceklek. Pelurunya sudah penuh.



Dor! Dor!



Peluru yang sia-sia.



"A-ada banyak bom di sini. Bom waktu."



Fadil tercengang mendengarnya, "Bom?!"



Dor! Dor! Dor!



Fadil menghindarinya dengan mudah. "Nin, menunduk!"



"B-bomnya akan meledak semenit lagi."


Fadil menelan ludahnya. Dia kehilangan fokus. Saat fokusnya kembali, sebuah peluru sudah menhantam dadanya.



Dub!



Fadil terpelanting ke kanan. Peluru susulan lainnya berhasil meleset dari tubuhnya. Tapi, sebuah peluru mengenai perut Nina.


Nina mundur beberapa langkah sebelum jatuh berlutut karena kesakitan. Handphonnya terjatuh. Masih dengan loadspeker yang menyala.


Fadil tak bisa berkutik. Di depannya musuhnya berhasil mengisi peluru lagi. Tangan orang itu telah mengelus pelatuknya.



"D-dil? Adakah yang bisa aku lakukan?"



"Halo? Halo?"



"Oh, tuhan."



"D-Dil, kau masih di sana?"



"A-aku benar-benar ketakutan, Dil"



"A-aku tidak mau mati."



"D-Dil, jangan bercanda."



"K-kumohon, jawablah."



"...hiks."

__ADS_1



Terakhir yang di dengar Rasya dari handphonnya adalah suara tembakan.


__ADS_2