
Mata Grey masih menatap Missa tajam, dan kepala lelaki itu terus menunduk semakin dekat ke arah Missa hingga helaan napas panas mereka beradu di udara.
Jantung Missa berdetak tak terkendali, berdentam memukul-mukul rongga dadanya hingga seolah hendak meloncat keluar dari sana.
Didorong oleh perasaannya yang campur aduk, Missa akhirnya memejamkan matanya rapat-rapat, dengan tubuhnya yang gemetar dia terus menutup matanya.
tidak terjadi apa-apa.
Dengan penuh rasa ingin tahu, Missa sedikit membuka matanya dan mengintip ke arah Grey dari sela-sela bulu matanya yang panjang.
"Apa ini yang kau lakukan ketika masuk ke kamar laki-laki, kau hanya pasrah?" Tiba-tiba Grey melontarkan kata-kata pada Missa, diiringi sedikit senyuman mengejek.
Seketika itu juga, rasa panas langsung membakar pipi Missa karena malu, membuat wajahnya merah padam.
Tangan Missa langsung bergerak, berusaha mendorong tubuh Grey yang masih mendesaknya. Sayangnya, dorongan Missa tentu saja kalah kuat dengan tubuh Grey yang tak terpengaruh olehnya, tetap bergeming bagaikan tembok batu.
"Akulah yang harus bertanya kepadamu! Dasar mesum! Kenapa kau mendesakku ke pintu?" dengan marah Missa mengangkat kaki, lalu menginjak sekuat tenaga kaki Grey yang tak sempat menghindar, membuat Grey langsung mengaduh kesakitan.
__ADS_1
"Wah, sakit juga, ternyata kau cukup kuat. Itu hanya peringatan ketika kau masuk ke kamar pria, apa kau tidak takut saat mengetuk pintu kamar ini? Yang benar saja kau pergi kekamar seorang pria."
Mendengar hal itu, Missa langsung mencoba meredam amarah dan menatap Grey dengan polosnya sambil sedikit mengulaskan senyum dan mengatakan. "Untuk apa takut, seorang bodyguard pasti akan melindungi kliennya."
mata Grey membesar, dia pun langsung membalikkan badannya. "Untuk apa kau kesini?"
"Aku hanya ingin memintamu untuk menemaniku jalan-jalan, jangan salah paham, aku melakukan ini karena aku tidak diperbolehkan keluar tanpa pengawasan, aku akan menunggumu diluar," jawab Missa yang lalu langsung pergi keluar tanpa menunggu jawaban dari Grey
Grey tersenyum mendengar permintaan Missa.
Sudah kubilang, kau takkan bisa keluar rumah ini, tanpa aku di sampingmu.
beberapa menit kemudian Grey menemui Missa, lalu mereka pergi ke sebuah pusat perbelanjaan kota dengan menggunakan sebuah mobil yang disetir oleh Grey, sesampainya di sebuah pusat perbelanjaan kota, wajah Missa berubah kegirangan, dia melihat sekeliling dengan bahagianya, lalu berlari menuju sebuah tempat permainan sambil menarik tangan Grey.
Missa memilih permainan dance revolution, permainan pertama yang dia ingin mainkan dan dia juga mengajak Grey untuk memainkannya. Grey kebingungan saat permainan dimulai, karena tidak pernah memainkan permainan seperti ini sebelumnya, dia melihat gerakan Missa yang sangat lincah mengikuti sebuah musik, dia pun mencoba menirunya, namun karena Grey tidak terbiasa, gerakannya begitu kaku, hingga membuat orang-orang yang lewat tertawa karena melihatnya.
Karena merasa banyak orang yang tertawa, Missa mencoba melirik kearah Grey, menyaksikan gerakan Grey yang sangat kaku, membuat Missa ikut menertawakannya. Melihat hal itu Grey mengerutkan keningnya, dia sedikit geram, dan lalu turun dari arena dance revolution.
__ADS_1
Grey pun berdiri dibelakang arena dance revolution Missa, sembari menunggu Missa menyelesaikan dancenya. Dia terus menonton gerakan Missa yang begitu lincah mengikuti iringan musik, rambut panjang lurus Missa berayun kesana kemari mengikuti gerakan tubuhnya.
Seperti boneka yang sedang menari.
Mata Grey tak mampu berkedip, dia terpukau melihat gerakan Missa.
Tidak lama kemudian permainan itu selesai, Missa turun dari arena, dan menghampiri Grey. "Hey ayo kita main street basketball, dan bertaruh, siapa yang mencetak score paling sedikit, harus mentraktir," ajak Missa pada Grey.
"Baiklah, tapi kenapa kau bisa memainkan permainan disini, bukankah kau dulu tahanan rumah," tanya Grey.
"Aku pernah kesini sekali bersama ibuku, lalu ibuku membelikan beberapa arena permainan yang ada disini dan menyediakannya dirumah, jadi aku tidak lupa bagaimana memainkannya, tapi sekarang permainannya sudah tidak tersedia dirumah karena sudah rusak dan diletakkan di gudang," jawab Missa dengan wajah yang sedikit sedih.
Lalu Grey menggandeng tangan Missa dengan lembut "Ayo kita mainkan semua permainan yang ingin kau mainkan."
Mendengar perkataan Grey, Missa menjadi semakin semangat, wajahnya tersenyum lebar, dia siap menjelajahi semua arena permainan.
Mereka langsung berjalan menuju permainan berikutnya, sesampainya di arena street basketball, ada 4 slot tersedia, Grey mengambil slot pertama, Missa mengambil slot kedua, Missa dan Grey bersiap diposisi masing-masing, namun tanpa diduga, seseorang ikut mengambil slot ketiga yang tepatnya berada disamping Missa, Jack Silvester ketua dari Singa Perak.
__ADS_1
To Be Continue...