
Grey!
Sejenak Missa terhanyut akan kehangatan ciuman Grey, namun tidak lama dia tersadar, bunyi klakson-klakson terus berdentingan, Missa mendorong tubuh Grey, Memundurkan wajahnya dan melayangkan tangannya mendarat tepat ke pipi pria yang menciumnya itu.
"Kau Brenggsek! Itu adalah ciuman pertamaku!" Missa Meneriaki Grey, Dengan sedikit air mata mengalir di matanya.
Belum sempat Grey berkata-kata, tiba-tiba seseorang mengetuk jendela kaca mobil. Grey yang menyadari hal itu langsung menjalankan mobilnya.
Disepanjang jalan sampai tiba dirumah mereka tidak saling bicara dan langsung menuju kamar masing-masing. Ada rasa canggung diantara mereka yang sulit dijabarkan dengan kata-kata.
Aku sudah sering mencium wanita, tapi kenapa, aku merasa ini berbeda.
Pipi Grey sedikit memerah memikirkan hal itu.
***
Tidak lama kemudian Bi Ijum memanggil Missa dan Grey berkumpul dikamar Axel, untuk menyambut kepulangan Axel. Dia terlihat sehat, luka-luka ditubuhnya sudah pulih, walau ada sedikit jahitan yang tersisa.
"Terima kasih banyak atas kebaikan nyonya, dan biaya perawatannya."
__ADS_1
"Tidak perlu dipikirkan Axel, aku sangat senang kau akhirnya pulang dari rumah sakit."
Mengingat kejadian di Universitas Z, memang membuat beberapa anak mengalami trauma dan ketakutan, bahkan ada yang pindah dan keluar dari Universitas itu. Axel mengepal tangannya, dia merasa dunia tidak seaman yang dia bayangkan, dia sangat lemah, dia menatapkan matanya ke arah Grey, seakan membandingkan dirinya yang lemah.
"Grey, aku mohon, ajari aku menembak dan beberapa bela diri!"
Seketika keadaan menjadi hening, semua mata menatap ke arah Axel.
"Besok. Besok datanglah padaku, aku akan mengajarimu," jawab Grey dengan penuh keseriusan.
"Tidak! Grey, Axel baru keluar dari rumah sakit, dia masih terluka!" Missa menampik kehendak Grey dengan tegas.
"Dalam dunia ini, yang lemah akan tersingkir."
"Hentikan! Missa pergilah ke kamarmu!" Sambil memasang raut wajah yang sedikit marah, Ibu Missa meminta putrinya itu untuk pergi, Missa sedikit kecewa dengan ibunya yang memihak Grey, dia pun pergi menuju kamarnya.
"Hmm, maafkan aku, baiklah aku harus pergi mengurus dokumen, Bi Ijum siapkan makanan untuk Axel," seketika raut wajah marah dari ibu Missa hilang berganti senyum saat mengatakan itu, dan dia bergegas meninggalkan kamar Axel.
"Saya juga permisi tuan-tuan," sambil menundukkan sedikit wajahnya Bi Ijum juga meninggalkan tempat itu, hingga meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
***
Maafkan ibu Missa, kau memerlukan orang-orang yang kuat disekitarmu, jika Grey bukan penyelamatmu, maka tidak salahnya untuk menaruh harapan pada Axel. Meski harapan itu hanya 10% bahkan jika hanya ada 1% pun, aku akan memperjuangkannya untukmu.
Dengan sedih dan meneteskan air mata, Ibu Missa mengatakan itu dalam hatinya, sambil duduk dikursi ruangannya sendirian.
***
Disisi lain di markas Singa Perak.
"TuㅡTu an Jack, informasi gadis itu tidak bisa dilacak. Saat saya mencoba menembusnya saya malah mendapatkan kode-kode yang tidak jelas dan bahkan kode-kode itu seperti mengolok saya 'payah'," ucap seorang lelaki suruhan Jack, dengan sedikit ketakutan dan wajahnya mengeluarkan keringat dingin karena rasa takutnya.
"Kode itu memang benar, kau 'payah' kau bahkan tidak bisa mendapatkan informasi seorang gadis," jawab Jack dengan wajah yang sangat datar dan dingin.
"Sepertinya seseorang sudah mengambil datanya dan menggantinya dengan kode-kode tidak jelas itu."
"Kalau begitu, kau mati saja, kau tidak berguna, X , Leon, bunuh dia."
sesuai perintah Jack, X dan Leon langsung menyeret tubuh pria itu keluar dari ruangan Jack untuk dibunuh.
__ADS_1
"TIDAAAAKKKK!!!" Pria itu berteriak dengan keras, wajahnya sangat ketakutan, namun semua itu sama sekali tidak membantunya, dia tetap akan dibunuh.
To Be Continue...