
Jack yang kala itu tengah fokus membaca laporan diruangannya, tidak lama fokusnya terhenti karena ada suara orang yang mengetuk pintu.
"Masuklah."
X memasuki ruangan Jack sambil membawa potongan rambut Missa ditangannya. Setelah berdiri di depan meja kerja Jack, X memperlihatkan potongan-potongan rambut Missa yang ada di tangannya itu.
"Jack, apa harus seperti ini, ini sudah sangat berlebihan!"
Jack menatap kearah tangan X yang penuh dengan rambut, ekspresinya tetap tenang, seakan tidak peduli dengan potongan-potongan rambut yang diperlihatkan oleh X.
"X apakah wanita itu sudah makan?"
"Kurasa belum," jawab X.
Jack mengambil telepon yang ada disampingnya, ia menelepon seseorang untuk diminta mengantarkan makanan ke ruangannya, tidak lama pengantar makanan itu datang membawa makanan lengkap, ayam bakar, nasi dengan berbagai sayuran, dan beberapa hidangan penutup, setelah mengantar makanan orang itu langsung pergi.
Jack berdiri, mengambil piring seng yang tersedia, dia memasukkan nasi, paha ayam, dan sayuran ke piring itu.
"X, ikutlah denganku, dan jangan lupa ambil 1 botol minuman, saat kita melewati dapur nanti," jelas Jack pada X.
X mengangguk, dia mengikuti apa yang di katakan oleh Jack, ternyata Jack membawa X ke tempat Missa. Sesampainya di sana Jack membuka pintu ruangan Missa, dia melihat Missa tengah duduk dengan tatapan kosongnya, tidak menunggu waktu lama Jack langsung melemparkan piring berisi makanan itu dengan kasarnya ke hadapan Missa, semua isi di dalam piring itu berhamburan ke lantai, Mata Missa seketika membesar melihat makanan-makanan yang berceceran itu, dia merangkak dengan cepat, tangannya mengambil makanan-makanan yang ada di lantai dan dengan lahap memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya seperti kerasukan setan.
"Kau lihat X, dia hanya gadis gila," ucap Jack yang lalu pergi meninggalkan tempat itu. X yang masih tertinggal dengan perlahan berjalan ke arah Missa, X menundukkan badannya dia menatap Missa yang makan dengan lahap tanpa merasa jijik. X membuka botol minuman itu dan mengarahkannya ke arah Missa. "Apa kau haus?" Ucap X seraya mengumbarkan senyum tulusnya pada Missa.
Missa berhenti melahap makanan ketika mendengar ucapan X, dia menatap ke arah X dengan linglung, matanya menatap wajah X lalu menatap minuman yang ada ditangan X lalu menatap wajah X lagi setelahnya menatap minuman yang ada di tangan X begitu seterusnya hingga berlalu hampir 1 menit lebih, akhirnya Missa mengulurkan tangannya dengan pelan mencoba mengambil minuman yang ada di tangan X.
"Ambillah," ucap X sekali lagi meyakinkan Missa untuk mengambilnya.
Missa yang tadinya nampak ragu-ragu akhirnya mengambil minuman itu, dan meminumnya dengan cepat, sampai airnya tumpah-tumpah dari mulutnya dan membasahi baju lusuhnya.
__ADS_1
"Kau sangat haus ya?" Tanya Axel.
Missa hanya diam saja, setelah selesai minum dia kembali mengambil makanan-makanan yang ada di lantai dan melahapnya seperti orang kerasukan.
X pergi meninggalkan ruangan Missa dengan raut wajah sedih, tidak di sangka Leon sedang mengawasinya daritadi, X dan Leon saling bertatap muka, Namun Leon sama sekali tidak mengomentari perbuatan X, dia hanya diam dan pergi begitu saja.
***
Sore itu Grey sedang memberi bunga di makam ibu Missa, ditemani oleh Locky di belakangnya.
Aku belum menemukan Missa, mayatnya juga tidak ada, aku rasa dia masih hidup, hanya saja aku tidak tau dimana ... meskipun kau sudah tiada ... sesuai janjiku, aku akan memastikan dia hidup.
Setelah itu Grey berdiri.
"Locky, kirim mata-mata ke tempat Kenzo, karena ada kemungkinan dia membawa Missa pergi saat ledakan terjadi," ucap Grey.
"Baik bos," balas Locky.
"Sedang apa kau di sini?" Tanya Grey dengan wajah sinis.
"Aku dan Nyonya Camelia dulunya kami adalah tetangga, orang tuaku berteman baik dengan Nyonya Camelia, tentu saja aku akan mengunjungi makamnya," jawab Rick dengan santai sambil berjalan ke arah makam ibu Missa, dan menaburkan bunga.
"Jadi kau tetangga, Prof. Zelel, kau pasti tahu kejadian 9 tahun yang lalu," ucap Grey.
"Aku tahu pun, aku tidak akan memberikanmu informasi apapun dan ... sebaiknya kau cepat temukan Missa, karena aku juga sedang mencarinya," kata Rick lalu dia berdiri mendatangi Grey dan meletakkan tangannya di pundak Grey sambil mengatakan. "Jika aku menemukan Missa, aku tidak akan menyerahkannya padamu, ini makam sebaiknya aku pergi, aku tidak mau ribut disini."
Grey menggertakkan giginya, jari-jemarinya mengepal erat sampai urat-urat di tangannya keluar, rasa kesal memenuhi kepalanya, namun dia harus menahan semua emosi.
***
__ADS_1
"Aaaaaaaaa!!!"
Malam harinya Missa mengamuk, ia menggedor-gedor pintu dan memukul-mukul dinding sampai tangannya lecet dan berdarah, Ayah Jack yang kala itu datang mengunjungi Jack mendengar hal itu, segera memanggil dokter spesialis dan menyuruh dokter itu menyuntikkan obat penenang ke tubuh Missa. Dokter dan perawat datang dengan cepat, perawat itu langsung menangkap dan menahan tubuh Missa tapi karena Missa begitu tidak tenang dan meronta-ronta dengan kuat akhirnya jarum suntik itu malah menusuk lengan perawat.
"Ahhh," perawat itu menjerit kesakitan.
"Ma ... maafkan aku!" Kata dokter itu.
"Kalian benar-benar tidak berguna!" Ucap Ayah Jack, yang lalu menendang tubuh Missa, Missa jatuh terguling ke lantai tubuhnya tidak mampu bangun lagi, tak lama Jack, X dan Leon datang. Wajah Jack sedikit panik melihat ayahnya yang berdiri di ruangan itu.
"Ayah ... " Belum sempat Jack berkata, ayahnya langsung melayangkan pukulan dengan keras, meninggalkan warna merah di pipi kanan Jack.
"Mau sampai kapan kau menyimpan wanita gila ini?" Tanya ayah Jack dengan nada yang keras.
"Sampai aku menemukan keberadaan Micro Chip itu," jawab Jack.
"Aku beri waktu 2 hari, jika kau tidak menemukan Micro Chip itu, aku akan mencincang-cincang tubuh wanita ini!" Ucap ayah Jack yang lalu pergi.
Susana mendadak hening setelah ayah Jack pergi, Jack pun memandangi Missa yang tersungkur kaku di lantai, tidak ada rasa iba sama sekali berbeda dengan X yang merasa sedih melihat Missa yang selalu di siksa.
"Cepat suntik gadis itu, sebelum dia mengamuk lagi, dan setelah selesai kalian boleh pergi," ucap Jack memerintah dokter tadi.
Dengan cepat sang dokter menyuntikkan obat penenang ke tubuh Missa dan lalu pergi bersama perawat itu.
"Leon temui aku di ruanganku," perintah Jack.
Jack dan Leon pergi, Leon sekilas menatap ke arah X yang masih berdiri memandangi Missa, namun Leon meneruskan langkahnya mengikuti Jack.
Setelah semua orang pergi, X berjalan ke arah Missa, ia merobek baju kaosnya dan mengelap luka-luka di tangan Missa dengan pelan, Mata Missa masih terbuka, ia menatap lirih ke arah X sambil meneteskan air matanya.
__ADS_1
To Be Continue...