
"Target sudah mendekat, cepat tangkap wanita itu dan jangan sampai terluka!" Perintah pria paruh baya itu. Ya, pria paruh baya itu adalah Felix kepercayaan tuan mudanya.
"Siap tuan...!" Jawab serempak anak buah paruh baya itu. Mereka semua bergegas mendekati wanita cantik yang sepertinya sedang menunggu taksi. Keberuntungan berpihak kepada anak buah Felix, karena situasi di situ kebetulan sangat sepi.
Empat para pengawal itu mendekati wanita cantik dengan pakaian dan kaca mata serba hitam jalan serempak dengan gagah berani. Tubuhnya yang kekar besar dengan wajah dingin tanpa senyuman, membuat siapa pun yang melihatnya akan takut gemetaran.
"Nona, segera ikut kami jangan sampai tuan kami menunggu." Kata Boni dengan tubuh kekarnya membuat wanita cantik itu terlonjak kaget dan kebingungan. Wanita cantik itu melihat ke semua orang yang berpakaian serba hitam ciri kas pengawal dengan kebingungan.
"Siapa kalian?! Saya tidak kenal dengan kalian?" Kata Vallen sedikit gemetar. Ya, wanita cantik tadi Vallen Nastya.
"Tidak benar, orang ini pasti mau meculikku!" Batin Vallen dan mencari celah untuk kabur.
"Jangan banyak tanya, sebaiknya Nona cepat ikut kami, kalau tidak...!" Belom selesai berucap Vallen sudah teriak minta tolong dan lari.
"Sial... cepat kejar nona itu!" Perintah Boni.
"Tolong... tolong... ada penculikan... hmm... hmm...! Belom lari terlalu jauh, mulut Vallen sudah di bekap pakai sapu tangan yang di kasih bius membuat Vallen tidak sadarkan diri.
"Cepat bawa wanita ini ke mobil!" Perintah Boni pada salah satu rekannya.
"Apa yang kalian lakukan, kenapa nona ini pingsan? Tanya Felix pada Boni.
"Maaf tuan, Nona ini tadi teriak dan berontak, kami terpaksa membius nya, tapi tenang aja nanti malam juga sudah sadar." Jelas Boni dengan hati-hati.
"Ok! Jalankan mobilnya!" Perintah Felix pada sang sopir.
Disinilah Vallen berada, di sebuah mansion mewah dan megah terkulai lemas tak berdaya, karena pengaruh obat bius.
"Emm... panas sekali..." Vallen mulai mengerjapkan matanya perlahan.
"Ah... kepalaku sakit sekali... dimana ini?!" Vallen memegang kepalanya yang merasa sakit. Samar-samar Vallen melihat seseorang yang duduk dengan angkuhnya memandang ke arah Vallen dengan tatapan membunuhnya.
"Siapa kamu? Kenapa panas sekali disini? Apa ACnya rusak?" Tanya Vallen dengan suara lirihnya dan belum sepenuhnya sadar.
"Hai wanita babi! jika kau masih malas-malasan, aku akan menaikan suhu ACnya menjadi 1000 derajat, dan memanggang mu hidup-hidup dan kujadikan sate untuk santapan makan siangku.
"Di panggang hidup-hidup? Di jadikan sate? Apa maksudnya? Jelas-jelas ACnya bisa 1000 derajat, kenapa panas sekali?" Gumam Vallen dalam hati dan masih memikirkan ucapan kata-kata laki-laki tadi.
__ADS_1
"*Tampan sekali... siapa dia? cuaca panas begini tapi dia masih tetap cool?!"
"Eh... sepertinya tidak asing? Pernah lihat dimana ya*...?" Gumam Vallen dalam hati. Dengan tidak tahu malunya pikirannya sudah traveling ke mana-mana dengan melihat pria tampan di hadapannya. Tanpa dia sadari laki-laki yang dari tadi mengamati sedikit geram dan berjalan mendekati Vallen dengan menodongkan senjata api di kepalanya.
Seketika membuat Vallen terlihat kaget dan sadar sepenuhnya, bahwa nyawanya sedang terancam.
"Si... siapa kamu? Apa yang akan kamu lakukan?!" Tanya Vallen dengan tubuh bergetar ketakutan.
"Heh... wanita babi, dimana kau menyembunyikan keprawananmu? dan juga dimana anakku yang kau lahirkan?" Tanya laki-laki itu dengan tatapan dinginnya.
"Keperawananku? anaknya? apa dia gila?" Batin Vallen yang kebingungan namun juga menahan tawa.
"Ke... keperawananku selalu ku jaga tuan! Namun masalah anak saya tidak mengerti maksud anda?!" Dengan tubuh bergetar Vallen mencoba menjawab pertanyaan konyol itu.
"Bagus, sekarang cepat berikan itu padaku!" Gertak laki-laki itu dengan menempelkan senjata api tepat di keningnya.
"Tidak! Dia benar-benar gila! menodongkan pistol dengan meminta keprawanku?! Batin Vallen berkecamuk campur takut dan ingin menendang laki-laki itu yang bersikap kurang ajar.
" Maaf tuan, saya tidak bisa memberikan barang berharga ini, silahkan tuan mencari wanita lain!" Kata Vallen menundukkan wajahnya.
"Heh... wanita sialan...! Kau sudah melahirkan anakku dan sekarang kau tidak memberikan keperawanmu padaku?"
"Anak? Anak siapa? Siapa yang pernah melahirkan?" Setenang mungkin Vallen menjawab pertanyaan itu.
"Masih tidak mau mengaku! 5 tahun yang lalu kau melahirkan anakku! Dimana anaknya sekarang?"
"Maaf tuan, mungkin anda salah orang! Saya tidak kenal anda. Saya tidak perna hamil... pacaran saja tidak pernah, bagaimana mungkin bisa punya anak!
Jadi..." belum selesai Vallen berucap, sudah di potong oleh laki-laki tersebut.
"Vallen Nastya, 23 tahun yatim piatu tinggal di kota S, pernah kuliah di kampus Abadi...
" Eh... semua yang di katakan benar. Bagaimana orang gila ini tahu semuanya?!"
"Ta... tapi tuan, saya benar-benar tidak kenal Anda..."
Senjata api yang dipegang laki-laki itu di todongkan dan berjalan menuju ke arah dagu dan mengangkatnya. "Kau pikir aku bodoh?! Serahkan keperawanmu dan berikan anak yang kau sembunyikan!"
__ADS_1
"Dasar orang gila... "
"Ja...jangan harap anda bisa mengambilnya keperawanaku tuan, da...dan sa...satu lagi aku tidak pernah melahirkan, kau bisa membuktikannya sendiri!" Dengan terbata-bata Vallen menjawab pertanyaan orang aneh itu yang belum tahu siapa namanya.
"Kau menantangku? Baik aku akan mencari yang namanya perawan, dan membuktikan bahwa kau pernah melahirkan anak ku!"
Fu Lan seketika mendorong Vallenke tempat tidur dan menindih nya.
"Cowok gila...! Apa yang kau lakukan?" Tanya Vallen mencoba berontak dari kungkungan Fu Lan.
"Mencari sembunyi nya keperawanmu dan membuktikan bahwa kau pernah melahirkan anakku!" Dengan lihainya Fu Lan mengunci tangan Vallen di atas kepala dan menyibak baju Vallen dan melihat perutnya.
"Apa? Tidak, kau benar-benar gila... sam...
hm... hm... " Belum selasai Vallen berucap Fu Lan membekap mulut Vallen dengan ciumannya.
"Berisik! Kau tidak pernah melahirkan anak, lalu bekas luka ini?" Mata Vallen membulat besar campur takut dan kesal menjawab pertanyaan Fu Lan.
"Ini bekas oprasi empedu. Mana ada oprasi secar sekecil ini?" Jawab Vallen dengan ketus.
"Kalau begitu kau pasti melahirkan secara normal. Aku mau periksa sendiri sekalian melihat yang bentuknya perawan!" Bisik Fu Lan tepat di telinga Vallen. Membuat Vallen bergidik ngeri.
Tangan Fu Lan mulai berjalan menyuri kain yang menutupi barang antik milik Vallen.
"Hah? Apa yang kau lakukan? Ini... periksa seperti apa? Periksa pun tidak perlu tangannya nakal, dasar mesum! Lagian kau terlalu dekat, tidak perlu naik ke atas tubuhku! Kau sangat berat..."
**Bersambung...
Penasaran kelanjutannya?
Jangan lupa tinggalkan Jejak
1.Like
2.Coment
3.vote
__ADS_1
4.Hadiah
Sebanyak-banyaknya. Dukungan kalian semangat author. Terima kasih... 😘😘**