
Vallen menyerahkan dokumen tersebut dengan bibir yang mengerucu, sangat cantik dan mengemaskan bagi Fu Lan. Sedangkan Fu Lan jangan di tanya lagi, dia tersenyum penuh kemenangan dengan gaya angkuhnya.
"Karena aku baik hati, kamu aku kasih 1 persyaratan." Kata Fu Lan menunjuk 1 jari.
"Gak boleh main kekerasan." Jawab Vallen cepat.
"Ok!" Jawab Fu Lan puas.
Akhirnya Vallen Nastya resmi menjadi pacar Fu Lan, meskipun dengan cara di paksa. Vallen pasrah menerima itu, yang penting baginya saat ini Fu Lan tidak menyakitinya secara fisik.
"Felix, buatkan salinan semua isi surat kontrak ini, biar dia menyimpannya." Perintah Fu Lan dengan senyum merekahnya.
"Baik tuan muda."
"Hah? semua isi kontrak?" Tanya Vallen bingung.
"Nona, ini isi semua surat kontraknya. Dari nomer 7 sampai ke 246." Felix menyerahkan setumpuk kertas dengan senyum tanpa dosanya.
"Apa? Se... semuanya sampai 247?!" kata Vallen terbata. Ia mematung tak percaya dengan semua tumpukan kertas di depannya.
"Vallen, yang kamu tanda tangani tadi cuma sebagian dari isi kontraknya. Pasti kamu gak sadar kan, banyak halaman kontrak yang hilang?" Senyum Fu Lan dengan wajah tanpa dosanya.
Vallen segera mengambil dokumen yang ia tanda tangani tadi dan membacanya.
Halamannya 5 langsung loncat ke 246? Dasar licik! Vallen menganga tak percaya melihat lembaran yang di sembunyikan Fu Lan.
"Fu Lan, dasar penipu! Kamu curang?!" Teriak Vallen marah.
"Hehe...nipu? Bagiku, kamu yang paling berharga cuma tubuhmu doang!" Seringai Fu Lan licik.
"Kamu!" Vallen sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Nafasnya naik turun menahan bom waktu yang kapan pun siap meledak.
"Nona, jangan khawatir tentang isinya, selama kamu jadi milik tuan muda dan mentaati peraturan, bagian yang kurang tidak akan berpengaruh." Tutur Felix lembut.
"Apa? Peraturan? Aku cuma minta 1 persyaratan sama dia, masa dia punya peraturan 246 untuk aku? Atas dasar apa?" Protes Vallen tak terima.
"Huh! Karena aku adalah Fu Lan. Aturannya terserah aku lah!" Kata Fu akan eneteng bersedekah dada dengan senyum kemenangan.
__ADS_1
Vallen sudah tak tahan lagi dengan sikap sombongnya Fu Lan, ia meremas polpain yang ia bawa sampai patah. Rahangnya mengeras menatap Fu Lan tajam. Meskipun begitu tapi di mata Fu Lan Vallen tambah imut dan menggemaskan.
"Kamu...dasar brengsek!!" Vallen melayangkan buku pada Fu Lan, namun sayang dengan sigap Felix langsung menghadang serangan dari Vallen. Fu Lan menjulurkan lidahnya mengejek Vallen.
"Felix, kasih tahu dia, kalau dia berani memukul ku, apa hukumannya?" goda Fu Lan mengedipkan sebelah matanya.
"Di cium di bibir sampai 200 kali." Jawab Felix enteng. Tubuh Vallen bergetar membayangkan bibirnya di cium Fu Lan 200 kali, bisa-bisa bibirnya seperti bebek, panjang.
"Tuan Fu Lan, karena perjanjian baru di buat, kontraknya aku bawa pulang dan aku pelajari satu persatu." Vallen membungkukkan badannya memberi hormat.
Aku harus merendahkan diri, dia seorang pasien jiwa, tidak bisa menang melawannya. Aku yang waras lebih baik ngalah, dari pada ikut gila.
"Baik, di hafalkan, aku akan tes." Jawab Fu Lan datar.
"Baik." Pasrah Vallen, wajah masih merah padam menahan kesal.
"Kamu boleh pergi." Usir Fu Lan santai dengan membaringkan tubuhnya di atas brankar.
Gadis ini suka kebebasan, aku tidak boleh terlalu mengikatnya, kadang kalanya dia harus di kasih santai sedikit agar tidak berontak. Kalau sudah mengerti kemauan cewek ini, akan lebih mudah mengendalikan. Senyum Fu Lan terus mengembang dengan angan-angan yang ia ciptakan sendri.
"Nona, biar supir yang akan antar kamu." Felix membukakan pintu.
*
*
*
Matahari sudah mulai terbenam, gadis cantik itu tengah asik berendam air jangan dengan busa yang melimpah. Semua kejadian ini membuatnya sangat stres dan tertekan. Dengan cara berendam tubuhnya akan merasa lebih rileks.
"Ah...segarnya, setelah berendam 1,5 jam baru bisa hilangin bau Fu Lan." Gumam Vallen dengan mengeringkan rambut basahnya.
"Aku sudah resmi jadi milik Fu Lan, kedepannya aku gak tahu harus hilangin bau Fu Lan pakai cara apa?! Kedepannya Fu Lan akan sering menyentuhku." Vallen melirik tumpukan kertas yang ada di atas nakas.
"Aku gak tahu pemikiran paranoid itu, bisa-bisanya ia membuat peraturan sebanyak itu, Jangan-jangan semua ceweknya punya 1 buku yang sama seperti ini?!" Vallen membaca satu persatu-satu peraturan yang Fu Lan buat. Matanya membulat membaca salah satu aturan yang di buat Fu Lan.
"Fu Lan kampret! Ini cowok beneran mengidap gangguan jiwa ya? Masa gak boleh bersentuhan dengan orang lain meskipun itu perempuan? Kalau gini terus, bagaimana aku bisa membuktikan kalau aku tidak pernah hamil? Periksa dokter cewek juga gak bisa dong!" Umpat Vallen. Saat sedang serius membaca, tiba-tiba alarm HP Vallen berdering.
__ADS_1
Selamat ulang tahun tuan, sekarang umur anda 23 tahun. Bunyi dering HP Vallen. Vallen membekap mulutnya dan menatap layar ponselnya.
"Ternyata hari ini ulang tahunku?" Vallen masih tak percaya. "Sejak Helmi hilang ingatan, aku tidak pernah merayakan ulang tahunku lagi. Dulu waktu masih kecil kami sering merayakan ulang tahun bersama di bawah pohon, meskipun tanggal ulang tahu kami beda, tapi Helmi selalu ngajuin tanggalnya agar sama denganku. Dan memberikan semua kado dari keluarganya."
Bayangan masa lalu terlintas di benak Vallen begitu saja. Baginya Helmi sudah melekat di hatinya dan susah untuk di buang.
"Vallen, nanti rumah kita juga harus ada pohon besarnya, jadi bisa bikin rumah pohon untuk merayakan ulang tahun bersama. Tidak akan di bawah pohon lagi" Celoteh Helmi waktu kecil.
"Rumah kita?" Tanya Vallen memastikan.
"Tunggu kita tumbuh besar, dan kita akan menikah. Kita bisa bikin rumah sendiri." Senyum Helmi tulus.
Vallen menitikkan air matanya mengingat semua manis bersama Helmi. Kenangan terindah yang sulit di lupakan. Bahkan mereka punya cita-cita untuk menikah dan hidup berdua selamanya.
Sekarang Helmi sudah gak butuh pohon untuk merayakan ulang tahun lagi bersamaku. Dia sudah bahagia bersama Vivi, dan bakal punya anak dan hidup bahagia. Aku sudah tidak di butuhkan lagi. Vallen menghembuskan nafasnya kasar. Air matanya terus mengalir membasahi pipi putih mulusnya.
"Mikir apa sih aku ini! Gak akan ada yang ngerayain ulang tahunmu lagi Vallen Nastya, gak ada yang ingat..." Gumam Vallen setelah sadar dari lamunannya.
Ting tong... ting tong... terdengar bunyi bel rumah.
"Siapa sih malam-malam begini bertamu?! Seharusnya gak yang cari aku kan?!" Gumam Vallen berpikir.
Jangan-jangan mama papa atau teman kerjaku ingat ulang tahunku?! Apa mungkin...
Bersambung....
Jangan lupa dukung author, dan tinggalkan jejak
1.Like
2.Coment
3.Vote
4.Hadiah
yang banyak ya... biar authornya semangat.
__ADS_1
Maaf ya author gak bisa up sering-sering...tapi tetap di usahakan ya...!!!